Ling Shan disfarçou-se de homem para cobrir a identidade secreta do irmão, que era um agente infiltrado, e foi para a universidade em seu lugar. No trem, ela conheceu Qiansheng e Su Zhi, tornando-se b
“Qiansheng, kau anak durhaka! Ibumu meninggal saat melahirkanmu. Ayahmu membesarkanmu sendirian dengan menarik gerobak, tapi kau malah membakar rumah tua kalian dan membiarkan ayahmu mati terpanggang di dalamnya! Kau memang pantas disiksa ribuan kali dan disambar petir!” Kilatan petir menyambar.
Qiansheng tiba-tiba terbangun, keringat membasahi kemejanya. “Ternyata hanya mimpi.” Qiansheng menepuk dadanya, lalu mengambil botol air mineral di atas meja kecil dan meneguknya.
“Maaf, itu airku,” ucap Su Zhi dengan suara pelan dan ragu, teringat pesan neneknya untuk selalu bersabar saat menghadapi orang asing.
Qiansheng memandang botol di tangannya, lalu melirik gadis di depannya. Bulu matanya panjang, kulitnya putih, wajahnya seperti boneka porselen, sangat menggemaskan. Tiba-tiba, ia melihat kancing di dada gadis itu kurang satu, bra hitamnya tampak samar-samar. Wajah Qiansheng memerah, darah mengalir dari hidungnya.
“Kamu, dasar mesum!” Su Zhi melihat Qiansheng menatap dadanya lekat-lekat, spontan menutupi dada dengan tas.
“Kancingmu…” Qiansheng malu-malu menunjuk ke dada Su Zhi.
Su Zhi belum menyadari kancing bajunya hilang, ia menampar wajah Qiansheng. “Tak tahu malu!”
“Maksudku, kancingmu jatuh!” Qiansheng memegangi pipinya dengan kesal.
Su Zhi buru-buru merapikan kemejanya, “Maaf.” Ia menunduk, mencari kancing yang hilang, namun tak juga ditemukan. Akhirnya ia berjinjit hendak mengambil koper di atas, satu tangan memegang kemeja, satu tangan lainnya susah payah.
“Kalau mau, pakai saja punyaku!” Qiansheng memberikan k