Bab 3 Takdir Kematian (Awal Baru, Mohon Dukungannya!)
Ucapan aneh itu membuat alis Ho Yuhau mengernyit, sementara pemuda itu mengira telah berhasil membujuknya. Namun, sebelum ia sempat melanjutkan bicara, peristiwa selanjutnya membuatnya tertegun di tempat.
Mata Ho Yuhau tiba-tiba memancarkan cahaya emas mawar, dan di dahinya muncul kilau emas yang unik, bagaikan cahaya fajar yang baru merekah. Meskipun tidak terlalu menyilaukan, cahaya itu secara naluriah membuat pemuda itu menyipitkan mata. Dari kilauan itu, perlahan terbuka sebuah mata vertikal.
“Mata Takdir!?”
Seolah baru menyadari sesuatu, pemuda itu menjerit histeris, tak mampu lagi menyembunyikan ketakutannya.
“Kau bukan seorang penjelajah dunia! Kau... kau adalah Ho Yuhau!”
Mata vertikal itu memang merupakan Mata Takdir yang lahir bersama jiwa Ho Yuhau saat reinkarnasi; alat dewa yang menjadi milik pribadinya. Lawannya mengenali benda itu tidaklah mengejutkan bagi Ho Yuhau. Dari sikap pemuda itu sejak tadi sudah jelas, ia memiliki pengetahuan yang tidak wajar tentang dirinya. Padahal sebelum ini, ia dan Dai Huabin sama sekali tidak memiliki hubungan apa-apa. Sikap provokatif para pengawal barusan juga terlihat jelas merupakan hasil hasutan orang ini, sengaja menargetkan dirinya.
Andai saja ia tidak kebetulan terlahir kembali, mungkin saja nyawanya sudah melayang di tangan para pengawal, dan orang ini... dengan pengetahuannya yang begitu dalam, mungkinkah ia juga tahu tentang kondisi ibunya?
Memikirkan hal itu, kilatan pembunuhan melintas di mata Ho Yuhau. Sejak menyadari dirinya terlahir kembali, betapa berharganya kesempatan ini hanya ia sendiri yang tahu. Namun baru saja kembali, sudah ada yang hendak menghancurkan segalanya. Orang seperti ini, bagaimanapun juga, tidak boleh dibiarkan hidup.
Akan tetapi, sebelum itu, ia harus memahami dulu apa sebenarnya yang dimaksud penjelajah dunia yang disebutkan lawannya.
Merasa terancam oleh niat membunuh yang sama sekali tidak disembunyikan Ho Yuhau, tubuh pemuda itu bergetar hebat. Ia akhirnya berhasil mengumpulkan sedikit tenaga dan berusaha melarikan diri. Namun, sedetik kemudian, ia merasakan cubitan kuat di tengkuknya yang langsung membuatnya kehilangan keseimbangan, tubuhnya terhempas keras ke tanah.
Getaran hebat membuat kepalanya pening, lalu suara derak bertubi-tubi terdengar di telinganya. Rasa sakit yang menusuk dari keempat anggota tubuhnya membuatnya berteriak pilu. Hanya dalam beberapa detik, keempat persendiannya sudah terlepas dari tempatnya.
“Jangan... jangan bunuh aku! Aku masih berguna! Aku bisa... aku bisa membantumu melawan Tang San!”
Namun Ho Yuhau sama sekali tak menggubrisnya. Andai bukan karena ingin menghindari fluktuasi mental yang terlalu kuat akibat rasa sakit, sehingga bisa mengganggu langkah selanjutnya, ia pasti sudah menggunakan cara yang jauh lebih kejam.
Ia pun mengangkat tangan satunya, menempelkan ke dahi pemuda itu, dan mulai melantunkan mantra misterius dengan lancar.
Bukan hanya Sumber Dosa dan Mata Takdir, setelah reinkarnasi, jiwa atau kekuatan mental Ho Yuhau juga jauh lebih kuat, cukup untuk menopang dirinya melancarkan beberapa sihir kematian.
Potongan-potongan kenangan terlintas di benaknya. Walau terputus-putus, namun cukup untuk memahami siapa lawannya.
Nama pemuda itu adalah Yu Ming. Sama seperti Tang San, ia juga berasal dari dunia lain dan menyeberang ke Benua Douluo. Jiwanya menempati tubuh seorang anak pelayan di Kediaman Adipati. Bahkan sebelum menyeberang, Yu Ming telah mengetahui kisah hidup Ho Yuhau di kehidupan sebelumnya, sehingga ia langsung mengenali Mata Takdir.
Setelah melintasi dunia, di ruang mental Yu Ming muncul sebuah roh bela diri unik. Setelah atributnya dipastikan, roh itu bisa terus berevolusi dengan menyerap kekuatan binatang jiwa yang memiliki atribut serupa.
Terpukau oleh kejutan ini, Yu Ming yang mulai merasa dirinya istimewa segera menetapkan atribut es untuk roh bela dirinya. Ia berencana, dengan pengetahuan tentang alur dunia, suatu hari nanti akan memperoleh kekuatan binatang jiwa es seperti Kalajengking Kaisar Es dan mengembangkan rohnya.
Bahkan, demi mencegah “pemilik asli” menghalangi jalannya, ia ingin membunuh Ho Yuhau di Kediaman Adipati sebelum waktunya. Untuk itu, sejak setahun lalu Yu Ming telah mendekati Dai Huabin, berharap bisa membunuh Ho Yuhau lewat tangan orang itu.
Namun, karena saat itu Ho Yuhau belum membangkitkan roh bela diri, dan di dalam Kediaman Adipati masih banyak orang yang menanti perkembangan, bahkan Nyonya Adipati pun tidak berani bertindak langsung, hanya bisa menekan pelan-pelan.
Yu Ming pun tak bisa berbuat banyak, hanya bisa menunggu waktu, berharap bisa menyingkirkan Ho Yuhau dalam dua hari ini.
Takdir mempertemukan mereka. Pada hari kebangkitan roh bela diri, mereka bertemu dengan Ho Yuhau yang baru bereinkarnasi...
“Ada satu pertanyaan ingin kutanyakan padamu.”
Setelah membaca kenangan itu, tatapan Ho Yuhau kembali jatuh pada anak itu. Mata Ho Yuhau yang dalam membuat Yu Ming merinding.
“Walaupun aku tak begitu paham mengapa kebencianmu begitu besar padaku...”
Ho Yuhau berhenti sejenak, nada bicaranya agak aneh, “Tapi, apakah semua penjelajah dunia seperti kalian memang suka sekali mengendalikan takdir orang lain?”
Dipikir-pikir memang aneh. Sebelum menyeberang dunia, hanyalah orang biasa yang bahkan membunuh ayam pun tak sanggup. Tapi setelah menyeberang, langsung berubah total, demi mendapatkan kekuatan yang bisa membuat mereka berkuasa, bahkan membunuh orang tak bersalah pun rela.
Perubahan yang begitu ekstrem, nyaris seperti pengambilalihan tubuh oleh jiwa jahat. Kalau tak tahu, pasti mengira dirasuki roh jahat...
Melihat lawannya hanya bisa membuka-tutup mulut tanpa sanggup menjawab, Ho Yuhau menghela napas, menggeleng pelan.
“Dari ingatanmu, aku tahu kau sangat membenci orang yang dulu mengatur hidupku. Tapi terus terang, kau sebenarnya tak ada bedanya dengan dia, bahkan mungkin lebih buruk...”
Begitu ucapan itu terlontar, Mata Takdir di dahi Ho Yuhau tampak mengalami perubahan aneh.
Tatapan mata vertikal itu membuat Yu Ming dilanda ketakutan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, seolah ada bagian dari tubuhnya yang tidak ia mengerti, telanjang di hadapan Ho Yuhau, bahkan jiwanya pun mulai gemetar.
Pengalaman Ho Yuhau juga terasa aneh. Setelah bereinkarnasi, Mata Takdir seolah berevolusi. Ketika mengaktifkan kemampuan itu, ia merasakan sudut pandang baru di dalam pikirannya.
Dalam sudut pandang itu, dunia di depannya seperti dilapisi filter abu-abu, segala sesuatu tampak seragam dalam warna kelabu. Namun, setelah menatap Yu Ming beberapa saat, di tubuh lawannya mulai muncul garis-garis terang mencolok seperti retakan, yang saling bersilangan dan akhirnya berkumpul di bahu kirinya.
Merasa kekuatan mentalnya cepat terkuras, mata Ho Yuhau berkilat. Tanpa ragu lagi, ia menggoreskan belati di sepanjang garis di lengan pemuda itu.
Sesuatu yang aneh terjadi. Mata pisau tidak merobek kulit, melainkan menembus seperti mengiris bayangan. Saat Ho Yuhau menggores garis itu, lengan lawannya membusuk dengan sangat cepat dan berubah menjadi abu.
“Tanganku... tanganku...”
Melihat lengan bajunya yang kosong, Yu Ming diliputi ketakutan yang belum pernah ia rasakan.
“Kemampuan ini... kupikir akan kuberi nama Takdir Kematian, bagaimana menurutmu?”
Baru mencoba-coba saja, Ho Yuhau sudah paham kira-kira efek dari kemampuan ini. Mata Takdir yang bereinkarnasi bersamanya kini bisa melihat esensi kematian makhluk hidup. Dengan menghancurkan garis-garis itu, ia dapat menghapus eksistensi mereka.
Bukan hanya melihat garis membutuhkan konsumsi kekuatan mental, bahkan saat membelah garis dengan Belati Harimau Putih, Ho Yuhau merasakan kekuatan mentalnya terkuras lebih cepat lagi.
Ia bisa merasa, kekuatan lawan juga sangat berpengaruh. Jika lawan terlalu kuat, bisa-bisa kekuatan mentalnya langsung terkuras habis.
Mendengar candaan Ho Yuhau yang tenang, Yu Ming menatapnya dengan kemarahan membara. Setelah bertemu tatapan acuh tak acuh itu, tubuhnya bergetar hebat, lalu darah segar memenuhi matanya.
“Ho Yuhau, kau hanyalah pecundang yang seumur hidup hanya menjadi anjing Tang San!”
Menyadari tak ada harapan baginya, Yu Ming yang belum pernah menghadapi situasi hidup-mati akhirnya hancur secara mental. Ia meraung seperti binatang, melampiaskan segala kebencian yang menyesakkan dadanya.
“Begitu banyak orang membantumu, tapi kau justru mengecewakan mereka! Kau memang pantas mati!!!”