Bab 29: Lili Manis, Bangunlah, Ya?
Salju besar tengah mendekat, langit tetap kelabu.
Universitas Qingli.
Lin Tu khawatir Lan Siche akan bosan, jadi ia mengajak bocah kecil itu berjalan-jalan di kampus.
Saat melewati tepi danau, Lan Siche tiba-tiba berhenti, lalu menatap bayangannya di air.
“Hai, ternyata bersama kakak kandung bisa membuat keajaiban, ya.”
Lin Tu mengusap kepala berbulu bocah itu.
“Sudah mulai merespons dunia luar? Nanti Kakak Lin Tu harus menghadiahi Siche boneka Barbie raksasa warna pink.”
Lan Siche hanya diam.
Setelah duduk sebentar bersama bocah itu di tepi danau, Lin Tu—yang memang tak bisa diam—merasa ingin berdiri dan bergerak.
Melihat sekitar sepi, dan bocah itu hanya duduk tanpa bergerak, Lin Tu pun bangkit untuk berjalan.
Kakinya kesemutan.
“Lin Tu!”
Suara yang familiar terdengar dari kejauhan.
Lin Tu menoleh dan melihat Xi Rou, dikelilingi oleh sekelompok mahasiswa dan mahasiswi.
“Hai, Kak Rou, kenapa datang ke sini?” Lin Tu yang memakai masker berlari menghampiri.
Lin Tu tidak ingin merepotkan, apalagi dikenali oleh orang Qingli, jadi setiap kali ia di Qingli—terutama ketika mengasuh anak—ia selalu memakai masker.
“Ada urusan, tak disangka…” Xi Rou menatap kerumunan di sekitarnya, lalu tersenyum.
Lin Tu mengerti, “Memang pesona Kak Rou luar biasa, lihat saja adik-adik kelas ini sampai terpesona.”
“Benar sekali, Kak Xi Rou adalah dewi kami! Selamanya!”
Kerumunan itu ramai seperti burung pipit yang riang.
Keributan itu membuat kepala Lin Tu berdengung.
Meski begitu, Lin Tu tipe yang menyukai keramaian, dan dengan cepat ia bisa akrab dengan semua orang.
“Lin Tu? Nama itu kenapa terdengar familiar?”
“Aku ingat, bukankah presdir Songli Group yang terkenal sombong itu bernama sama?”
“Iya, dia paling suka menghamburkan uang.”
Alis Lin Tu berkedut, “Cuma kebetulan namanya sama, hehehe.”
Sombong, lalu kenapa? Menghamburkan uang, terus kenapa?
Memangnya uang kalian yang dipakai?
Xi Rou hanya tersenyum dan kadang menimpali.
Sebagian besar waktu ia hanya mendengarkan, atau sesekali menatap ke arah Lan Siche yang duduk diam di tepi danau.
Kondisi Siche memang sudah jauh membaik.
Ia berpikir demikian.
Tiba-tiba—
Seorang gadis dengan wajah pucat berlari ke arah danau!
Seolah mengerahkan seluruh tenaga, ia hanya berlari tanpa memperhatikan sekeliling.
Rambutnya acak-acakan, bajunya penuh cat.
Satu kakinya bersepatu, satunya lagi telanjang.
Ia berlari dalam kepanikan yang luar biasa!
Di belakangnya, sekelompok pria dan wanita berpakaian modis tersenyum sinis dan penuh maksud buruk.
Memandang gadis itu seperti memandang mainan.
Wajah mereka penuh kejahatan.
Mereka tidak mengejar, hanya berjalan santai seperti biasa.
Namun bagi gadis yang berusaha kabur sekuat tenaga itu, tiap langkah mereka seperti mengancam nyawanya!
Xi Rou langsung mengetahui itu adalah aksi perundungan.
Namun teringat sesuatu, ia menoleh pada Lin Tu.
Melihat Lin Tu masih asyik bercakap dengan mahasiswa dan belum menyadari kejadian di tepi danau, Xi Rou kembali menoleh pada Lan Siche yang duduk diam.
Anak lelaki kecil itu seolah tak mendengar atau merasakan apa pun, matanya tetap menatap bayangan di air, bahkan tidak sadar bahaya sudah mendekat.
Xi Rou memperkirakan jaraknya menuju danau.
Tidak mungkin, secepat apa pun ia, tetap tak akan sempat.
Saat sedang memikirkan hal itu, mata Xi Rou menampakkan kegelisahan.
Gadis yang sudah seperti orang gila itu pun menabrak Lan Siche.
Ia benar-benar tidak melihat bocah itu.
Dan kemudian—
Byur!
Air danau memercik tinggi.
Lan Siche dan gadis itu sama-sama tercebur ke air yang dingin.
“Siche!”
Teriakan panik Lan Sili terdengar.
Lin Tu pun menoleh ke arah danau.
Ketika melihat kejadian itu, pikirannya sempat blank dua detik, lalu ia berlari secepat mungkin!
Tapi ternyata ia kalah cepat dari Lan Sili.
Benar, walaupun jaraknya sama, gadis itu lebih dulu melompat.
Saat ia tiba, Lan Sili sudah terjun ke danau.
“Siche, Siche jangan takut, Kakak datang menolongmu, Kakak datang menolongmu!”
Walaupun Lan Sili terus mengucapkan kata-kata itu, tubuhnya yang terendam di air kaku tak bergerak.
Saat bersentuhan dengan air, ia merasa darahnya membeku.
Ia teringat kejadian sembilan tahun lalu.
Teringat ketakutan akan kematian.
Ia sangat takut air.
Trauma masa lalu itu masih membekas dalam-dalam.
Tapi itu adiknya,
Adik kandungnya!
Ia pernah bersumpah akan melindungi Siche, bahkan dengan nyawanya sendiri!
Siche sudah sangat malang, tubuhnya kecil dan kurus, terjatuh ke air pun hanya diam, tidak memberontak, begitu penurut.
Dunia seolah ikut menjadi sunyi.
Lan Sili tidak lagi mendengar suara apa pun.
Ia hanya secara mekanis mendekati Lan Siche dan memeluknya erat.
Bahkan saat Lin Tu ingin mengambil anak itu, ia tetap mendekap, tidak mau melepaskan.
“Lan Sili! Lan Sili!”
Lin Tu memanggil keras-keras gadis yang matanya hampir kehilangan fokus itu.
“Lan Sili, sadarlah! Serahkan Siche padaku! Aku akan membawanya ke dokter secepat mungkin! Aku janji dia tidak apa-apa! Aku bersumpah!”
Benar, Siche tidak boleh kenapa-kenapa, ia tercebur, udara sangat dingin, harus segera ke dokter.
Tapi tubuhnya sudah tak bisa bergerak.
Ketika Lan Sili perlahan melepaskan tangan, Lin Tu segera mengangkat Lan Siche dan meloncat ke darat.
Sambil berlari ke klinik, ia berteriak ke arah Xi Rou di kejauhan, “Kak Rou, tolong urus gadis itu!”
Setelah itu, Lin Tu baru merasa lega pergi.
Namun Xi Rou masih berdiri terpaku, tampak benar-benar terkejut, hanya memandang sosok yang masih berdiri di air danau.
Walaupun para mahasiswa di sekelilingnya memanggil-manggil, ia tetap tak bereaksi.
Saat itu juga.
Lan Sili masih terendam di danau, kedua tangannya masih dalam posisi melindungi adiknya.
Tak ada yang tahu apa yang ada di pikirannya.
Tak ada yang tahu kenapa ia belum naik ke darat, kenapa masih berdiri di air sedingin itu.
Semua orang, seperti Xi Rou, terdiam ketakutan, tak satu pun yang berani membantu.
Padahal mereka tahu gadis cantik itu dilindungi oleh Raja Malam.
Padahal bisa saja dengan membantu, mereka mendapat perhatian dari Raja itu.
Lan Sili tidak lagi merasakan dinginnya air danau.
Dunianya yang semula sunyi mulai menjadi kacau, segalanya berputar.
Seolah-olah ia terseret ke pusaran hitam tak berdasar, makin lama makin dalam.
Terus, terus jatuh ke bawah.
Namun ia tak bisa bergerak.
Bahkan untuk bersuara pun tak mampu, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik lehernya kuat-kuat.
Menariknya ke dalam jurang.
Hingga ia nyaris tak bisa bernapas.
Seperti kembali ke hari itu, sembilan tahun lalu.
Selain kematian, ia tak merasakan apa-apa.
Ayah, Ibu, Lili takut sekali.
Ayah, Ibu, tunggu Lili, jangan tinggalkan Lili, Lili akan segera menyusul kalian.
Kak Tampan…
Kak Tampan, kenapa engkau tidak datang menolong Lili?
Kenapa kau belum juga datang?
Jika kau tak datang, kau tak akan pernah melihat Lili lagi.
Dan Lili pun… tak akan pernah melihat Kak Tampan lagi.
Karena Lili… sebentar lagi akan mati.
Gadis di tengah danau itu perlahan menutup matanya, tubuhnya yang ringkih perlahan tenggelam.
Air danau yang dingin kini bagaikan monster pemangsa, menelan kaki, lalu tubuh gadis itu.
Kini monster itu hendak menelan seluruh tubuhnya!
Ketika seluruh tubuh Lan Sili telah tenggelam, sesosok tinggi besar langsung menerobos masuk ke danau sebelum siapa pun sempat bereaksi!
“Lan Sili—”
Byur!
Di tengah keheningan, air danau kembali memercik tinggi.
Tak lama kemudian, semuanya kembali sunyi.
Lalu, suara panik seorang pria terdengar berulang-ulang.
“Lan Sili!”
“Lan Sili!”
Di tepi danau, Ye Chen Yu yang basah kuyup menekan dada Lan Sili berkali-kali, lalu menyalurkan udara dari mulut ke mulut.
“Lan Sili, sadarlah! Dengar tidak!”
Tetesan air jatuh dari rahang pria itu ke mata gadis yang terpejam, dingin.
Di pusaran hitam tak berdasar itu, tubuh Lan Sili terus jatuh.
Ia ingin menyelamatkan diri, ingin naik dan pergi dari sana.
Tapi ia tak mampu, tak bisa mengendalikan tubuhnya.
Seolah belenggu seberat ribuan kilo membelenggu erat.
Haruskah menyerah?
Tidak, ia masih punya Siche, Siche menunggunya.
Ia masih punya dendam yang harus dibalas.
Lan Sili mulai berjuang, walaupun tubuh dan jiwanya sudah remuk redam.
Memang, tubuh dan jiwanya sudah lama hancur.
Tak ada yang menolongnya.
Sama seperti waktu itu, seberapapun ia berharap, tak ada yang datang.
“Lan Sili! Lan Sili, sadarlah! Aku takkan biarkan sesuatu terjadi padamu, jadi tolong, sadarlah!”
Sayup-sayup, terdengar suara panik yang mendesak.
Lalu, bibirnya terasa hangat.
Sesaat kemudian, dadanya yang sesak mulai terasa lega.
“Lili, tolong, keluarkan airnya! Keluarkan, nanti kau akan baik-baik saja! Keluarkan!!”
Keluarkan airnya?
Pantas dadanya terasa sesak.
Benar, Siche tercebur, ia ingin menolong,
Tapi karena ia sangat takut air, akhirnya ia pun tenggelam.
Air danau masuk ke tubuhnya, menyesakkan napasnya.
Jika ia mengeluarkan air itu, ia akan selamat?
Asal menuruti suara itu, ia akan hidup?
Saat itu, Xi Rou yang terus berdiri di tempat akhirnya tersadar, lalu berlari ke tepi danau.
Karena terlalu terburu-buru, ia hampir terjatuh, untunglah para mahasiswa di sampingnya sigap menahan.
Melihat pria itu berulang kali memberi napas buatan pada Lan Sili,
Melihat matanya yang biasanya hitam kini memerah karena panik,
Melihat wajahnya yang selalu dingin kini berubah menjadi penuh derita, cemas, takut, tak berdaya.
Semua emosi pria itu seolah menular pada semua orang.
Seperti apa cinta yang sedalam itu?
Seolah, jika Lan Sili tidak selamat, pria itu juga rela mengakhiri hidupnya.
“Lili, tolong, dengarkan aku, keluarkan airnya. Kau tidak boleh meninggalkanku lagi, jika kau pergi sekali lagi, aku juga tak akan sanggup hidup… Lan Sili, sadarlah, bangunlah, kumohon…”