Bab 3: Sang Maestro Seni Teh
Tak lama kemudian, Ke Zhen'e yang mendengar suara siulan datang bersama Guo Fu melintasi hutan menuju ke sana.
Melihat kedatangan mereka, Guo Fu segera berlari dan memeluk Huang Rong sambil merengek manja. Setelah merengek beberapa saat dan membicarakan hal-hal yang tidak relevan, Guo Jing mulai mengerutkan kening.
Takut dimarahi ayahnya, Guo Fu mengalihkan pembicaraan dan berkata kepada Yang Guo, "Hei! Pergilah petik bunga untukku, lalu anyam menjadi mahkota bunga agar bisa kupakai!"
Setelah berkata demikian, ia melihat tangan kiri Yang Guo yang menghitam dan pakaiannya yang compang-camping. Ia pun memajukan bibirnya dengan jijik, "Sudahlah, sudahlah. Tanganmu kotor, pakaianmu pun kotor. Kalau kau petik bunga, bunganya malah akan ikut bau karena dirimu."
Melihat putrinya berbicara seperti itu, Guo Jing hendak meledak marah. Namun, Yang Guo segera mengaktifkan mode aktingnya. Ia memasang raut wajah rendah diri, lalu tersenyum getir, "Benar, aku memang kotor. Bunga yang kupetik pun pasti ikut kotor. Nanti kalau aku mengotori bajumu, kau pasti akan marah lagi. Sebaiknya aku menjauh saja agar aroma tubuhku tidak menempel padamu."
Sambil berkata demikian, Yang Guo mundur perlahan dengan wajah canggung dan senyum yang dipaksakan. Matanya bahkan berkaca-kaca, dan ia secara refleks merapikan lipatan pakaiannya yang lusuh. Ia tampak persis seperti seorang anak malang yang sensitif dan rendah diri.
Dalam kisah aslinya, Yang Guo memang sensitif dan rendah diri sehingga kata-kata Guo Fu melukainya, yang memicu konflik pertama di antara mereka. Namun, Yang Guo saat ini bukanlah Yang Guo yang dulu. Bagaimana mungkin ia bisa begitu mudah jatuh mentalnya?
Menghadapi gadis manja yang kurang cerdas seperti Guo Fu, seseorang harus bersikap tegas sekaligus pandai membujuk. Bersikap tegas saja tidak cukup, seperti Yang Guo di kisah aslinya. Hanya membujuk saja juga tidak cukup, seperti Da Wu dan Xiao Wu. "Seni teh" alias kepiawaian bersikap manipulatif dan sok lugu adalah hal yang harus dipelajari oleh kaum yang lemah.
Yang Guo menatap Guo Fu. Gadis itu mengenakan gaun sutra berwarna hijau muda, dengan kalung mutiara di lehernya. Kulit wajahnya putih mulus bagaikan krim yang seolah bisa mengeluarkan air, matanya berbinar, dan alisnya lentik.
'Benar-benar calon jelita. Selain agak bodoh, tidak ada masalah besar. Tapi terlalu pintar juga tidak baik, nanti lelah saat berinteraksi,' pikir Yang Guo. Menurutnya, Guo Fu tidak punya niat jahat, ia hanyalah gadis kecil yang lucu untuk digoda. Ada perasaan seperti kembali ke masa sekolah menengah.
"Hm, untung kau sadar diri," ujar Guo Fu. Ia bahkan tidak menangkap nada sindiran dalam ucapan Yang Guo. Ia hanya mengangguk angkuh, mengira Yang Guo takut padanya.
Melihat Guo Fu yang merasa bangga diri, Huang Rong menghela napas dalam hati. Ia menyadari bahwa putrinya itu sama sekali tidak mewarisi kecerdasannya; benar-benar seorang gadis yang kosong. Di saat yang sama, Huang Rong menatap Yang Guo dengan tajam. Ia tahu bahwa ucapan Yang Guo barusan pasti akan memancing kemurkaan Guo Jing.
Benar saja, melihat sikap Guo Fu dan raut wajah Yang Guo yang begitu rendah diri, kemarahan Guo Jing meluap. Ia tidak memahami kelok-kelok sindiran tersebut, ia hanya merasa bahwa Guo'er telah terbiasa ditindas sehingga menjadi begitu rendah diri dan menyedihkan.
Jika ini masalah sebelumnya, mungkin ia bisa membiarkannya karena ia sedang tidak ada di tempat. Namun sekarang, putrinya sendiri yang menghina Yang Guo, bagaimana mungkin Guo Jing bisa menoleransinya?
Oleh karena itu, Guo Jing segera membentak, "Fu'er! Mengapa kau begitu tidak sopan? Cepat minta maaf pada Kakak Yang-mu!"
Meskipun manja, Guo Fu paling takut pada ayahnya. Melihat Guo Jing begitu marah, ia terkejut dan segera bersembunyi di belakang Huang Rong. Huang Rong hendak menengahi, namun Yang Guo mendahuluinya.
"Paman Guo, jangan marah. Semua ini salahku. Seharusnya aku tidak membuat kalian marah. Aku pergi saja," ucap Yang Guo dengan mata berkaca-kaca. Ia membungkuk hormat kepada Guo Jing dengan berat hati, lalu berbalik pergi sambil menoleh ke belakang setiap beberapa langkah.
Inilah kualitas seorang ahli "seni teh". Yang Guo benar-benar melakukan teknik mundur untuk maju.
Hati Guo Jing semakin merasa iba sekaligus marah. Ia segera menarik Yang Guo kembali dan berkata, "Guo'er, jangan bicara sembarangan. Mana mungkin ini salahmu? Ini karena aku kurang mendidik anak."
Setelah berkata begitu, Guo Jing menatap Guo Fu dengan dingin, "Jika kau tidak meminta maaf pada Kakak Yang-mu, mulai hari ini aku tidak menganggapmu sebagai anakku!"
Mampu membuat Guo Jing mengucapkan kata-kata setegas itu membuktikan bahwa ia benar-benar marah besar. Huang Rong melihat itu pun tidak bisa berkata apa-apa lagi, lalu ia berkata pada Guo Fu, "Masih tidak mau mendengarkan ayahmu?"
Guo Fu sangat ketakutan melihat sikap ayahnya. Kini melihat ibunya pun tidak membelanya, ia merasa sedih dan dengan terpaksa berkata, "Maafkan aku."
Melihat sikapnya yang tidak tulus, Guo Jing hendak menegur lagi, namun Yang Guo menahannya. "Paman Guo, adik ini sudah meminta maaf, biarlah masalah ini selesai sampai di sini."
Mendengar ucapan Yang Guo, Guo Jing tahu bahwa jika ia terus mendesak, Yang Guo akan merasa tidak enak, sehingga ia tidak melanjutkan lagi. Namun, Guo Jing tetap sangat menyukai Yang Guo. Ia sudah terbiasa dengan kenakalan dan sifat keras kepala Guo Fu, kini melihat Yang Guo yang begitu pengertian, perbedaannya sangat mencolok. Ditambah rasa bersalah karena merasa tidak mampu membimbing Yang Kang dulu, Guo Jing kini sangat ingin mencurahkan seluruh ilmu yang dimilikinya kepada Yang Guo.
"Fu'er, lain kali jangan bersikap tidak sopan lagi, mengerti?" Nada bicaranya kini tidak lagi marah, melainkan hanya sebuah peringatan.
Melihat Guo Jing tidak lagi marah, Guo Fu merasa lega dan segera menjawab, "Baik, Ayah."
Setelah itu, Guo Fu melirik Yang Guo. Ia tidak menyangka Yang Guo akan membelanya barusan. Amarahnya pun mereda. Ia berpikir bahwa pemuda ini ternyata tidak terlalu buruk, dan untuk sementara ia akan memaafkannya. Sebenarnya, Guo Fu tidak membenci Yang Guo, bahkan sejak pertama kali bertemu ia sudah memiliki kesan yang baik. Hanya saja kepribadiannya sebagai gadis manja membuatnya bersikap demikian.
Harus diakui, kelebihan utama Yang Guo bukanlah bakat bela diri, melainkan paras dan pesonanya. Sepanjang buku, Yang Guo sangat layak disebut sebagai "penggoda". Siapa pun yang melihatnya akan memuji ketampanannya, lalu terjebak dalam pesonanya. Pantas saja ada ungkapan bahwa sekali bertemu Yang Guo, maka seumur hidup akan tersesat dalam cintanya.
Cheng Ying, Lu Wushuang, Gongsun Lu'e, Guo Xiang, dan yang lainnya belum perlu disebutkan. Bahkan Guo Fu pada akhirnya merasa bahwa rasa sukanya pada Yang Guo mungkin melebihi rasa sukanya pada Yelu Qi. Sungguh canggung.
Huang Rong merasa sedikit lega setelah masalah itu selesai. Sejujurnya, ini adalah pertama kalinya ia kalah dalam adu kata-kata, benar-benar dibuat tidak berkutik oleh kepiawaian "teh" Yang Guo. Harus diakui bahwa Yang Guo sangat pandai berpura-pura malang, otaknya berputar sangat cepat, jauh di atas level Guo Fu. Taktik meminjam tangan orang lain untuk menyerang ini benar-benar dimainkan dengan sangat lihai.
Hal ini mengingatkan Huang Rong pada Yang Kang yang licik dan tidak tahu malu, yang beberapa kali hampir membunuh mereka. Hal ini membuatnya mulai waspada.
'Anak ini sangat cerdas, bagaimana jika suatu hari nanti ia tahu penyebab kematian Yang Kang? Jangan-jangan kita justru sedang memelihara harimau di rumah sendiri!'
Wajah Huang Rong tampak tenang, namun dalam hatinya ia mulai berpikir untuk merencanakan sesuatu agar Yang Guo bisa ditempatkan di tempat lain.
Guo Jing tidak memikirkan hal itu. Ia maju dan memperkenalkan Yang Guo dan Guo Fu satu sama lain. Karena baru saja dimarahi, Guo Fu tidak berani bersikap manja lagi. Ia dengan patuh memanggil "Kakak Yang" dan memberi hormat. Yang Guo pun dengan sikap penuh hormat membalas salam tersebut, yang membuat Guo Jing semakin merasa iba.
Hanya Ke Zhen'e yang sedikit mengernyit saat mendengar bahwa Yang Guo adalah putra Yang Kang, namun ia tidak mengatakan apa-apa. Ketika Guo Jing memperkenalkan Ke Zhen'e kepada Yang Guo, Yang Guo dengan sopan memberi hormat dan memanggilnya "Kakek Ke". Ke Zhen'e hanya mengangguk tipis dan bergumam pelan tanpa bicara banyak. Jelas sekali bahwa ia masih memiliki prasangka terhadap Yang Guo sebagai putra Yang Kang.
"Hal-hal lain akan dibicarakan nanti. Kondisi Guo'er yang keracunan cukup serius, harus segera diobati."
Mereka pun pergi bersama ke penginapan untuk mengambil obat dan meraciknya demi mengobati racun di tubuh Yang Guo.