Bab 157 Ini seperti aksi akrobatik, kan?
Brak!
Di tengah raut terkejut semua orang, Ferrari itu tiba-tiba melesat dan merapat ke mobil ketiga, memaksanya membanting setir sedikit ke kiri.
Itu arah menyalip yang tidak bijaksana. Seharusnya ia merapat dari sisi kiri; dengan begitu, mereka tak akan terancam terperosok ke lereng jurang.
Aksi Ferrari itu membuat banyak penonton di depan layar raksasa berteriak-teriak. Bahkan, mereka mengira sang pembalap telah melakukan kesalahan yang sangat bodoh.
Melihat manuver itu, Luo Chuchu kembali menjerit. Ia berteriak, “Hu Chen, jangan terburu-buru! Kita hampir sampai di garis finis. Setelah tiba, kita masih bisa segera kembali tanpa kehilangan banyak waktu. Kalau kau sampai celaka, semuanya justru akan semakin buruk.”
“Diam. Tenanglah…” bentak Hu Chen pelan.
Ia menginjak pedal gas dalam-dalam. Ferrari itu melesat bagai anak panah lepas dari busurnya, membentuk lintasan yang anggun, lalu menyusup maju. Namun, manuvernya belum berakhir setelah berhasil masuk. Ia terus merapat, mendesak mobil peringkat ketiga ke arah dinding gunung di sisi kiri.
“Dia keterlaluan. Apa dia mau menabrak? Mau mati bersama pembalap peringkat ketiga?”
“Dia benar-benar sengaja memancingku. Memangnya aku mudah ditindas?” Pembalap peringkat ketiga itu juga bertemperamen keras. Ia pun mencoba memutar setir. Kedua mobil kini hanya berjarak sekitar sepuluh sentimeter; kaca spion mereka hampir beradu.
Wus!
Tepat saat keduanya nyaris bertabrakan, Hu Chen melihat lawannya tak punya ruang untuk menghindar dan malah membalas dengan sengit. Ia segera memutar setir untuk menjauh, lalu kembali merapat. Setelah beberapa kali melakukan manuver provokatif seperti itu, pembalap tersebut jelas mulai kehilangan kesabaran.
Wus!
Mobil itu mendadak menghantam ke arah Ferrari, berusaha memaksanya keluar jalur.
Hu Chen mengerem mendadak, lalu menginjak gas dalam-dalam, memutar setir, dan melesat maju. Dalam sekejap, ia menyelip ke jalur kiri.
“Ah, ternyata tujuan sebenarnya adalah menyelip ke jalur kiri. Tadi dia sengaja melakukan itu,” ujar seseorang di depan layar raksasa.
Orang lain mengernyit bingung. “Kalau begitu, kenapa tidak langsung saja masuk ke jalur kiri tadi? Aku benar-benar tidak mengerti orang ini.”
Seorang di sebelahnya berkata, “Kalau dia langsung melakukannya, efeknya mungkin tidak akan sejelas ini. Setidaknya sekarang lawannya tak akan kembali merangsek dan berusaha menabraknya.”
Jalan pegunungan di depan sedikit melebar, tetapi tetap tak cukup untuk tiga jalur. Jelas pembalap di sebelah kanan merasa dipermainkan Hu Chen hingga murka. Ia kembali memutar setir, hendak menabrak.
Namun, Hu Chen kembali mengerem mendadak. Sesaat kemudian, ia memutar setir, berpindah jalur, dan melesat ke sisi kanan.
Pemandangan itu membuat orang yang tadi menjelaskan seolah ditampar oleh perkataannya sendiri.
“Gila, dia benar-benar tak mengikuti aturan main! Sebenarnya apa yang ingin dia lakukan?”
Banyak orang kebingungan. Mereka tak mengerti apa tujuan Hu Chen melakukan semua itu. Ia hanya terus memancing pembalap peringkat ketiga. Apa untungnya bagi dirinya yang berada di peringkat keempat?
Di depan, pembalap peringkat pertama dan kedua masih melaju berdampingan tanpa tergesa-gesa, jarak mereka tak lebih dari setengah panjang mobil.
Tatapan Hu Chen terus tertuju pada posisi kedua mobil terdepan. Ia kembali merapat sedikit. Mobil sport di sebelah kiri itu entah karena ulah Hu Chen sebelumnya yang terus mengusiknya, atau sebab lain, tampak semakin gugup. Sekali lagi, mobil itu berbelok mendekat.
Bukan hanya lawannya, Luo Chuchu yang duduk di kursi penumpang Ferrari pun menatap Hu Chen dengan pandangan penuh keluh kesah. Apa sebenarnya tujuan semua ini? Apa dia baru akan berhenti setelah membuatnya muntah?
Hu Chen tak menghentikan manuvernya. Setiap kali lawannya merapat, ia mengurangi kecepatan lalu kembali berakselerasi. Setelah beberapa kali mengulanginya, pembalap peringkat ketiga itu sudah benar-benar marah. Ia mengayun-ayunkan setir ke kiri dan kanan untuk mencegah Ferrari menyelip.
Akibatnya, Ferrari yang semula melaju sejajar kini tertinggal sepenuhnya di belakang mobil ketiga.
Wus!
Jalan semakin lapang, tetapi tetap hanya dua jalur, dengan ruang kosong yang paling-paling cukup untuk setengah mobil.
Tatapan Hu Chen semakin dingin. Ia tak menghiraukan tatapan dan raut kesal Luo Chuchu. Ia terus mengayunkan mobil ke kiri dan kanan, berulang kali mempercepat lalu memperlambat laju, mencoba beberapa kali.
Banyak orang yang menyaksikan adegan itu merasa pembalap Ferrari sedang menggali lubang untuk dirinya sendiri. Sebenarnya ia ingin menyalip atau melakukan apa?
Bukan hanya para penonton yang kebingungan. Kedua pembalap terdepan pun menatap kaca spion dengan heran, mengamati persaingan antara mobil ketiga dan keempat. Mereka seolah-olah sedang menonton pertarungan dari kejauhan.
Hu Chen merapatkan bibir dan menarik napas dalam beberapa kali. Pemandangan di depan mulai terasa akrab. Dahulu, ia dan Ye Fei pernah melakukan manuver berbahaya di tempat itu. Ia tak tahu apakah kondisi medan di sana sudah berubah akibat pembangunan, bahkan tak yakin tempat itu masih ada. Kalau ternyata sudah tak ada, berarti semua usahanya selama ini sia-sia dan ia malah menjadi bahan tertawaan.
Wus!
Hampir tanpa ragu, begitu papan penunjuk tikungan muncul di depan, sekitar seratus meter dari sana, Ferrari kembali bersiap menyelip. Kali ini, Hu Chen bertekad masuk dari jalur kiri.
Bahkan ketika lawannya mengarahkan mobil untuk mendekat hingga nyaris menabrak bodi Ferrari, Hu Chen tak mundur. Ia justru terus berakselerasi dan melesat maju.
Pada layar raksasa, sistem kamera pengawas menangkap kedua mobil yang nyaris bersentuhan. Kalau mereka tak segera menjauh, kaca spion kedua mobil akan bertabrakan.
Pemandangan itu sungguh menegangkan. Banyak orang mengepalkan tangan, menanti siapa yang akan mengalah.
Jarak mereka semakin dekat. Seolah-olah waktu berjalan lambat, kedua mobil melaju dengan kecepatan yang hampir sama. Mereka nyaris bertabrakan—delapan puluh sentimeter, enam puluh sentimeter, empat puluh sentimeter.
Kedua mobil berdekatan, jarak antara sisi bodinya hanya sekitar empat atau lima sentimeter. Namun, karena posisi mereka tidak sejajar, kaca spion kedua mobil saling berselisih. Kalau mereka melaju berdampingan, kaca spion itu pasti akan pecah bertabrakan.
“Gila, ini aksi akrobat?”
“Bagaimana mungkin dia bisa melakukannya?”
Banyak orang tak percaya pada pemandangan di layar raksasa.
Sayangnya, pemandangan itu tak berlangsung lama. Ferrari tiba-tiba menunjukkan sisi garangnya. Hu Chen tetap tak mengurangi kecepatan, tak mundur, dan tak membelokkan setir ke kiri. Sikap nekat itu membuat pembalap di mobil sebelah kanan panik. Sebelumnya ia sudah beberapa kali berani mengambil risiko, tetapi kini ia tak lagi punya nyali untuk melakukannya sekali lagi. Jika Ferrari tak menghindar, ia akan dianggap melanggar aturan karena sengaja menabrak lawan, dan hasilnya bisa dibatalkan.
Mereka terus bertahan dalam posisi itu, tetapi jalan pegunungan tak memberi banyak waktu untuk bimbang. Tak lama kemudian, mereka tiba di tikungan.
Hu Chen tidak memperlambat laju. Sebaliknya, ia malah menambah kecepatan.
Tiga puluh sentimeter, dua puluh sentimeter, sepuluh sentimeter.
Luo Chuchu menutup mulut sambil menjerit. Ia memperingatkan Hu Chen, “Kaca spionnya akan bertabrakan!”
“Masih berapa jauh jaraknya?”
Hu Chen bertanya dengan tenang.