Hadiah Aneh
Aku kembali menerima pot tiga warna, memancing seruan takjub dari rekan-rekan di sekitarku. “Lagi-lagi dari Huang Ziyi, bukan?” “Bu Guru Mu, menurutmu, keluarga Huang Ziyi itu bisnis pembibitan ya? Setiap tahun pansy tiga warna, luar biasa, tahun ketiga pun tak pernah absen.” Hahaha!
Aku pun ikut-ikutan tertawa, meski dalam hati aku merasa mereka lebih tahu daripada diriku sendiri—siapa yang mengirim, sudah berapa kali, aku pun mesti berpikir keras dan menghitung dengan jari. Padahal, tahun ini telah memasuki tahun keempat, mereka keliru.
Pandangan mataku melayang pada sekumpulan mawar, anyelir, bakung, dan kaktus yang berserakan di atas meja kerjaku. Di antara semua itu, pot pansy tiga warna itu tampak mencolok sekaligus memesona.
Aku adalah guru Bahasa Indonesia di sebuah sekolah dasar. Anak-anak sekarang, sejak taman kanak-kanak, sudah tahu bahwa Hari Guru adalah hari untuk memberikan bunga kepada guru mereka. Setiap tahun, selain setengah hari libur sebagai bentuk apresiasi, guru akan menerima beraneka ragam hadiah dari murid-muridnya. Tentu saja, aku bukan tipe guru yang memaksa siswanya memberi hadiah. Namun, dikelilingi sekumpulan anak yang berebutan menyodorkan hadiah dan mengucapkan kata-kata manis, ah, betapa hati kecilku dipenuhi kebanggaan yang tak terkatakan.
Masih teringat Hari Guru pertamaku ketika aku resmi membimbing satu kelas. Saat membaca pagi, kulihat banyak murid menyembunyikan bunga segar atau hadiah kecil di laci meja mereka. Dalam hati, aku berharap paling tidak akan menerima sebatang dua tangkai bunga, atau selembar kartu ucapan pun sudah cukup. Namun, tak kusangka hingga pelajaran usai, aku tetap melangkah ke ruang guru dengan tangan kosong.
Saat pulang, di tengah perjalanan, aku tiba-tiba bertemu Huang Ziyi—saat itu usianya baru tujuh tahun. Ia menggendong ransel besar, sambil mengadang jalanku dengan pot pansy hitam di tangannya. “Bu Guru Mu, ini untuk Ibu.” Seketika hatiku tergetar haru. Dari sudut mataku, kulihat deretan pansy bermekaran di taman pinggir jalan. “Kalau kamu memberikan bunga hasil mencabut dari taman kota pada gurumu, harusnya Ibu serahkan kamu ke kantor polisi!” Namun, Huang Ziyi tak bergeming. “Cih, aku hanya lihat guru-guru lain dapat hadiah, takut Ibu jadi iri.” “Iri? Tentu saja, iri karena aku mendapat tanaman liar dari pinggir jalan...” “Bu Guru, traktir aku es krim, ya?” Ia buru-buru memotong ucapanku.
“Mana bisa begitu, kamu tukar bunga liar dengan es krimku?”
Sejak hari itu, setiap tahun Huang Ziyi selalu memberiku pansy tiga warna. Namun, tak pernah lagi dalam pot hitam karet.
Sore itu, saat aku hendak pulang, kusadari Huang Ziyi diam-diam mengikutiku dari belakang. “Mau minta aku traktir es krim lagi, ya?” tanpa menoleh, aku berhenti mendadak, penasaran apa ia akan menabrakku. “Bukan, Bu Guru. Ibu ini cuma tahu es krim, tidak mau yang lain?”
‘Mau’ diucapkannya seperti ‘tidak ada’. Anak bandel ini! “Yang lain? Setiap tahun juga pansy tiga warna, selain es krim, yang lain tak pernah ada.”
Tatapannya menengadah kepadaku, penuh harap, bahkan ada gurat kesedihan. Kesedihan? Aku sempat meremehkan pikiran itu—anak seusia itu mana mungkin bersedih? Tapi, ya... tahun ini ia sudah sepuluh tahun.
“Bu Guru, bolehkah kali ini Ibu juga memberiku sesuatu?” Wajah kecilnya menengadah, suara memohon namun setengah memerintah.
Anak kecil satu ini, ada-ada saja idenya hari ini. Walaupun sejak tahun lalu aku tak lagi mengajarnya, ia selalu mencari-cari alasan menemuiku: pinjam buku, pinjam pulpen, tisu, bahkan meminta aku menjahitkan celananya yang robek saat pelajaran olahraga. Pernah kubawa ia makan di rumah, dan ia pun menyombongkan diri sebagai ‘pengawal bunga kecil’ versiku. Huh, melompati genangan air saja masih harus kugendong.
“Kalau begitu, tahun depan kamu beri aku hadiah yang lain,” aku pun menawar layaknya pada anak kecil.
“Tak ada tahun depan lagi.” Ia menunduk, bergumam pelan. “Aku sebentar lagi pindah sekolah. Tahun depan, aku juga sudah masuk SMP.”
Benar juga, pindah sekolah, naik ke SMP—kesadaran itu menyesakkan hatiku dengan perasaan kehilangan. Anak-anak di sekitarku satu per satu tumbuh besar, hanya aku yang tetap kekanak-kanakan, enggan beranjak dewasa.
“Ibu malah melamun.” Huang Ziyi tampak tidak puas dengan reaksiku. Melihat tinggi badannya yang belum sampai bahuku, aku tak tahan mengusap kepalanya, “Anak bandel, di sekolah baru nanti jangan jadi penyendiri. Dan, belajarlah yang rajin.”
“Nilai-nilaiku selalu bagus, Ibu tak perlu khawatir. Coba pikirkan dirimu sendiri, sudah setua ini belum juga menikah.”
“Apa maksudmu setua ini belum menikah? Memangnya Ibu sudah tua?” Aku membelalakkan mata. Andai saja ada orang yang tepat, siapa yang mau menunggu sampai umur 26 masih sendiri? “Kupikir telingamu gatal, atau tubuhmu gatal?” Aku meraih telinga Huang Ziyi, menggelitik tubuhnya, membuatnya berputar-putar menghindariku.
Akhirnya, aku membawanya pulang, dan ia dengan bangga menyantap iga sapi masak kecap buatan ibuku.
Mengenang ucapannya tentang usiaku, aku tanpa sadar menyisir rambut panjang yang sedikit bergelombang dengan jemari. Bersandar malas di kepala ranjang, aku merenung, apakah aku memang telah menua? Dalam lamunan, jemariku terlalu kuat menarik, hingga beberapa helai rambut tercabut, membuatku meringis. Saat berbalik, sikuku mengenai sesuatu yang dingin.
Sebuah liontin giok Yunli, sebesar kuku, bertali benang merah berhias butir-butir batu delima. Begitu indah, giok berhias benang merah, betapa cerdiknya si bocah Huang Ziyi ini, hendak mengikat janji denganku lewat benda itu.
Sejak hari itu, aku tak pernah lagi bertemu anak bandel itu. Nomor teleponnya kosong, seolah-olah ia tak pernah hadir dalam hidupku empat tahun silam. Hanya saja, dari mana liontin itu berasal?