Bab Ketiga: Hidup Hanya untuk Bertahan dan Menjalani Kehidupan
Semasa kuliah, Tang Guo selalu merasa dirinya sangat beruntung. Ia memiliki orang tua yang menyayanginya, dan bahkan bertemu dengan pacar yang tampan, luar biasa, serta bersikap penuh pengertian seperti pria idaman. Namun, semua kebahagiaan itu bisa hancur dalam sekejap. Ia mencintai Ju Locheng, namun pada saat itu, dengan kebanggaan dan harga dirinya, bagaimana mungkin ia rela menjadi sekadar pengganti? Andai saja ia tidak pernah tahu, mungkin ia bisa bertahan. Tapi setelah mendengar kebenarannya, mana mungkin ia bisa terus berpura-pura bodoh?
Akhirnya Tang Guo memilih pergi. Sebelum naik pesawat, ia hanya mengirim satu pesan singkat kepada Ju Locheng: "Kita putus saja." Setelah itu, ia mematikan ponsel, mencabut kartu SIM, dan membuangnya ke tempat sampah di dekatnya. Saat itu, ia pergi dengan penuh kebanggaan. Kini, bagaimana mungkin ia muncul lagi di hadapannya? Walau tadi Ju Locheng tidak mengenalinya, bukan berarti keberuntungan itu akan selalu berpihak padanya.
Betapa ironis, dulu ia pergi tanpa pamit, kini harus berhadapan lagi demi urusan ganti rugi. Tang Guo tahu pikirannya ini terdengar terlalu sentimental, namun ia tidak peduli jika dipandang rendah oleh orang lain—hanya Ju Locheng, di hadapannya ia tidak boleh kehilangan harga diri. Meski Ju Locheng sekarang, sekalipun mengenalinya, mungkin sudah tak punya waktu untuk menertawakannya.
Chu Bei dengan hati-hati mengamati wajah serius Tang Guo, tak berani bicara lebih banyak. Walau sebelumnya Tang Guo pernah marah karena beberapa hal, tapi belum pernah semuram dan sepatah hati ini, bahkan cenderung tak sabar. Chu Bei mengemudikan mobil ke pusat perbelanjaan terdekat, memarkirkan mobil, lalu sekali lagi menatap Tang Guo sebelum berbicara lagi.
"Istriku, aku tahu di saat seperti ini, kejadian ini pasti bikin kamu makin stres. Tapi sungguh, aku nggak sengaja, aku juga nggak mau mobil itu kenapa-kenapa. Uang muka rumah saja harus jual rumah lama di kampung, mana mungkin aku sengaja cari masalah dan harus bayar ganti rugi?" Kata Chu Bei sambil menarik lengan baju Tang Guo, "Jadi jangan marah ya, nanti aku janji kerja lebih giat, biar bisa beliin kamu banyak lipstik!"
Tang Guo menatap Chu Bei yang tampak serius mengakui kesalahan, lalu menghela napas. "Aku nggak marah. Soal ini... kamu bicarakan baik-baik, gimana harus ganti rugi, ya jalani saja. Aku akhir-akhir ini sibuk... Kamu membujukku juga nggak serius, aku juga nggak pakai make up, beliin banyak lipstik buat apa?"
"Eh?" Chu Bei menepuk kepalanya sendiri. "Istriku kan udah cantik alami, mana butuh lipstik. Cuma, di internet sering bilang, masalah perempuan itu bisa selesai pakai lipstik. Kalau satu nggak cukup, ya dua. Makanya aku bilang mau beliin lipstik. Yuk, aku ajak makan di hotpot favoritmu!"
"Restoran itu mahal sekali. Mau gimana pun, ganti ruginya pasti jutaan, kamu nggak bisa hemat sedikit?" Tang Guo hanya bisa menggeleng melihat semangat Chu Bei yang berubah begitu cepat. Benar-benar anak laki-laki yang tak pernah punya beban. "Keluarga ibumu cuma punya rumah dan tanah di kampung, dia juga nggak punya pensiun. Apa kamu mau bikin ibumu jatuh miskin? Ibumu memang memanjakanmu, tapi kamu sudah kerja empat tahun, satu rupiah pun nggak bisa disisihkan. Gajimu lima-enam juta sebulan, semua habis buat makan, minum, dan bersenang-senang. Kalau anakku seperti kamu, aku pasti sudah stres berat!"
Chu Bei menjawab asal saja, "Iya, iya, sudah, jangan ngomel lagi. Nanti anak kita biar kamu yang didik, pasti nggak kayak aku, gimana?"
Tang Guo menutupi dahi dengan tangan. "Sudahlah, ibumu saja nggak urus kamu, apalagi aku. Yuk, makan."
Tang Guo sering bertanya-tanya, apakah keputusannya menerima cinta Chu Bei lalu menikah dengannya adalah pilihan yang benar. Sebenarnya, ia tidak benar-benar mencintai Chu Bei. Setelah tahu dirinya hanyalah pengganti di mata Ju Locheng, ia kehilangan keberanian untuk mencintai lagi. Ia memilih bersama Chu Bei hanya karena... usianya sudah pantas menikah. Kebetulan Chu Bei datang dan mengejarnya. Walau banyak kekurangannya, ia tetap seorang pria; bisa mengganti lampu yang rusak, mengatasi pipa bocor, dan membantu banyak hal keseharian.
Tang Guo dan Chu Bei bertemu di acara perjodohan, saat itu Tang Guo hanya menemani temannya, tak menyangka Chu Bei malah menaruh hati padanya dan mulai mengejar. Chu Bei bekerja di perusahaan asing di kawasan bisnis sebagai staf pemasaran, posisinya cukup baik, lulusan universitas ternama, meski tak bisa dibilang sangat tampan, tapi cukup menarik. Singkatnya, ia punya modal yang layak.
Tang Guo sendiri lulusan master dari Parsons School of Design, cukup dikenal sebagai desainer di luar negeri. Namun di dalam negeri, gelar saja tak cukup, apalagi tanpa pengalaman kerja di perusahaan. Jadi, sepulang ke tanah air, ia hanya bisa mulai dari bawah dengan gaji tiga juta sebulan, entah kapan bisa jadi desainer utama, bukan sekadar asisten.
Teman-temannya menyarankan agar ia menerima Chu Bei. Walau latar belakang keluarga Chu Bei biasa saja, tapi dia punya potensi. Dulu Tang Guo tak pernah membayangkan harus memikirkan soal... kondisi realistis seperti ini. Ia selalu bermimpi tentang cinta yang sempurna, hanya tentang saling mencintai.
Tang Guo akhirnya menerima Chu Bei karena suatu malam, lampu di apartemennya tiba-tiba mati. Walau sudah tinggal sendiri sejak usia dua puluh, urusan ganti lampu tetap jadi masalah. Baru sebulan ia kembali ke tanah air, nomor kontak di ponselnya pun sedikit, selain Chu Bei, lainnya perempuan semua. Entah kebetulan atau takdir, saat itu Chu Bei meneleponnya. Begitu tahu keadaannya, Chu Bei datang hanya dalam lima menit dan mengganti lampu.
Sebagai ucapan terima kasih, Tang Guo mentraktir makan. Ternyata diam-diam Chu Bei sudah membayar. Saat Tang Guo ingin mengganti uangnya, Chu Bei tersenyum cerah, "Makan kali ini kamu utang saja, jadi aku ada alasan untuk mengajakmu keluar lagi."
Karena kalimat itulah, Tang Guo berpikir, kalau tak bisa menemukan yang ia cintai, mungkin memilih yang mencintainya pun tak apa. Akhirnya ia menerima Chu Bei. Namun, setelah benar-benar dekat, ternyata Chu Bei tidak seperti pria dewasa yang sigap menolong di malam gelap. Rumahnya penuh sampah, baju kotor menumpuk, saat musim panas sampai tercium bau tak sedap. Ia juga suka main gim, membeli perlengkapan mahal tanpa pikir panjang. Meski jabatan kecil, gaji lima-enam juta plus bonus bisa delapan juta sebulan, namun cara ia menghabiskan uang, tidak pernah ada sisa. Bahkan kartu kredit pun utang.
Yang paling membuat Tang Guo kesal adalah, setiap kali ada masalah, Chu Bei selalu memasang wajah tak bersalah seperti hari ini. Kalau dinasihati, ia hanya mengiyakan tanpa sungguh-sungguh, dan lain kali tetap saja diulangi.