Di bawah langit malam yang luas, pepohonan hijau saling bernaung. Seorang pria tinggi berdiri, mengenakan pakaian serba hitam dengan pedang terselip di pinggang, alis dan matanya tajam seperti bilah.
Cahaya keemasan senja perlahan-lahan menelan jendela barat kantor.
Keheningan memenuhi ruangan, menyisakan kegelisahan yang tak terucap. Setiap kali jam pulang kerja mendekat, suasananya selalu seperti ini.
Lu Weizhen mengetikkan angka terakhir di komputer, mengklik “simpan berkas”, lalu menghela napas perlahan dan meregangkan tubuh. Ia melirik waktu, masih ada sepuluh menit sebelum pulang.
Kepala bagian Zhou yang duduk di depan secara diagonal berdiri, membawa dua lembar laporan, berjalan ke meja Lu Weizhen, tersenyum penuh arti, “Xiao Lu, laporan ini besok pagi dibutuhkan Manajer Zhu, kamu kerjakan, ya.”
Tak ada yang melihat ke arah mereka.
Lu Weizhen tak langsung menerima laporan itu.
Senyum Kepala Zhou sedikit menghilang, “Ada masalah?”
Lu Weizhen sendiri sudah lupa ini kali keberapa, tiap kali menjelang pulang kerja, Kepala Zhou selalu melemparkan pekerjaan kepadanya. Apalagi dua lembar laporan ini, ia sendiri melihat dengan mata kepala bahwa tadi siang Manajer Zhu yang memerintahkan Kepala Zhou untuk mengerjakannya.
Sayangnya, Kepala Zhou adalah atasan langsungnya, sudah sepuluh tahun bekerja di perusahaan. Sementara Lu Weizhen, baru saja lulus kuliah, bekerja belum dua bulan, masih hijau.
Mengingat dompetnya yang tipis, Lu Weizhen memaksakan senyum, “Kak Zhou, saya ada urusan hari ini, apa bisa Kakak kerjakan sendiri?” Suaranya semakin pelan, terdengar lemah dan sedikit mengiba, kepalanya pun tertunduk, hanya menyisakan poni tebal dan kacamata hitam tebal yang terlihat.
Ucapannya itu... Wajah Kepala Zhou