Bab 60: Naga Biruku (2)
Xu Zhiyan kembali menatapnya dari atas hingga bawah dengan saksama, matanya menyipit sedikit: "Sebenarnya ada apa? Kenapa kau jadi kurus seperti ini?" Wajahnya berubah: "Siapa yang berani menyakitimu? Selain ibumu, siapa pun bisa kubuat menyesal."
Lu Weizhen mendorong motornya ke depan, "Tidak ada apa-apa, aku sibuk mencari uang."
Xu Zhiyan menyusul, "Benarkah? Kenapa aku agak tidak percaya, ya? Tadi kau terlihat..." Ia terdiam sejenak.
Namun Lu Weizhen mengalihkan pembicaraan, "Kau tinggal di mana? Mau aku antar?"
Tadi kau terlihat seperti orang yang kehilangan jiwanya—kalimat itu kembali ditelannya, Xu Zhiyan menatapnya heran, "Aku sudah sampai di Kota Xiang, malah kau yang tanya aku tinggal di mana? Mau mengantarku naik apa?" Ia menatap sepeda listrik kecil itu dengan jijik, bahkan menendangnya pelan, "Ini yang kau sebut mobil mewah?"
"Ada-ada saja, kenapa kau tendang? Ini alat cari nafkahku, kalau rusak, awas saja kau!" Lu Weizhen memarahi.
Xu Zhiyan mendengus, akhirnya tidak menendang lagi.
"Lu Banxing, kau lupa ya, empat tahun lalu, lima tahun lalu, enam tahun lalu... setiap ke Beijing, siapa yang menemanimu main, makan, dan selalu membayar semua tagihan?"
Lu Weizhen terdiam.
Xu Zhiyan lantas langsung duduk mengangkangi sepeda listrik itu, "Antarkan aku, aku mau menginap di rumahmu."
Lu Weizhen diam saja, "Aku baru ganti kerja, lagi tidak punya uang, sekarang ngontrak bareng Gao Sen dan Xu Jialai, tidak ada kamar kosong."
Xu Zhiyan memandangnya heran, "Aku datang, tentu kau harus kasih kamarmu untukku."
"Lalu aku tidur di mana?"
Xu Zhiyan, "Ranjitku bisa untuk berdua."
"Pergi sana." Lu Weizhen berkata, "Kau bukan tak punya uang, mending nginap di hotel bintang lima, toh nanti tinggal aku buatkan laporan biar diganti. Rumah kontrakan kami jelek, sempit, dan tua, kau pasti tidak betah."
Namun Xu Zhiyan hanya tersenyum, "Tiga tahun terakhir ini, di luar sana, segala susah sudah kualami, tempat kotor kumal pun sudah pernah kutinggali. Rumahmu meski hanya kandang anjing, aku tetap pulang ke rumah sendiri!"
Lu Weizhen benar-benar tidak tahu harus berkata apa, tapi juga tidak mungkin membiarkan orang ini di jalanan, pun dia tidak akan bisa mengusirnya. Orang ini bisa menemukan rumahnya hanya dengan mengikuti bau. Akhirnya ia hanya bisa mengajaknya pulang.
Lu Weizhen ikut naik sepeda listrik, Xu Zhiyan bersiul ringan. Akhirnya Lu Weizhen pun tersenyum juga, lalu memutar gas dan melaju ke dalam gelap malam.
Baru saja keluar dari gang, Xu Zhiyan sudah lemas dan merebahkan kepalanya di bahu Lu Weizhen, sambil bersenandung kecil. Lu Weizhen seperti dipeluk seekor anjing besar di punggungnya, menggertakkan gigi, "Jangan bersandar."
Xu Zhiyan malah seperti anak anjing kecil, berbisik, "Banxing, aku akhirnya benar-benar sudah pulang."
Bahu Lu Weizhen yang tadinya tegang perlahan melunak, ia berkata, "Baguslah kalau sudah pulang."
Lalu Xu Zhiyan menggesekkan telinganya ke pipi Lu Weizhen.
Lu Weizhen menutup matanya, "Singkirkan wajah kotormu itu dari mukaku!"
—
Namun, saat Xu Zhiyan akhirnya berdiri di dalam kontrakan mereka, wajahnya langsung berubah masam.
"Serius, kau tinggal di sini?"
Lu Weizhen berkata, "Kan sudah kubilang tempatnya jelek."
Xu Zhiyan, "Maaf, aku tadi menghina kandang anjing."
Lu Weizhen, "Keluar, belok kiri, dua ratus meter, ada hotel, bintang lima."
Xu Zhiyan, "Sebenarnya kadang tinggal di kandang anjing itu juga nyaman."
Saat mereka berdebat, Gao Sen dan Xu Jialai sudah berdiri berdampingan di hadapan mereka, terutama Gao Sen, begitu tegak lurus, hanya kurang memberi hormat seperti di militer saja. Mereka berdua diam-diam mengamati sang Pangeran Kedua yang namanya sudah terkenal itu.
Pangeran Kedua terkenal bukan hanya karena wajahnya yang tampan, bakat luar biasa, dan statusnya yang terhormat. Semua orang asing di Kota Xiang tahu, Pangeran Kedua adalah orang yang selalu kalah melawan Kepala Lu, konon bertarung belasan tahun pun tak pernah menang—tentu cerita itu bukan beredar dari orang Beijing, tapi dari Kepala Li pendahulu mereka, yang saat makan bersama anak buahnya, ‘tanpa sengaja’ selalu menyelipkan cerita itu. Namun mereka berdua tak menyangka, ternyata hubungan dua orang ini secara pribadi sangat dekat.
Saat itu Xu Zhiyan menoleh kepada mereka, memperlihatkan senyum yang anggun dan sopan, “Tadi aku cuma bercanda dengan Banxing. Tempat ini cukup baik, maaf sudah merepotkan.”
Lu Weizhen memandangnya sinis.
Xu Jialai dan Gao Sen serempak merasa tersanjung.
Xu Jialai, “Tidak merepotkan sama sekali, kami senang Anda datang.”
Gao Sen, “Kedatangan Anda adalah kehormatan bagi kami, salam hormat pada Anda dan kepada Komandan Agung.”
Mata Xu Zhiyan menyipit senang, ia puas memiliki dua pengawal Lu Weizhen yang begitu penurut, lalu melirik Lu Weizhen sekilas. Namun ekspresi Lu Weizhen tetap datar, hanya sedikit tersenyum, tapi entah mengapa selalu ada rasa asing yang tak terkatakan. Ia tiba-tiba teringat, dulu ia dan Banxing selalu terasa sangat dekat. Kini, meski Banxing berdiri di sampingnya lagi, tetap terasa ada jarak di antara mereka, juga dengan siapa saja.
Kenapa bisa begitu?
Dalam perjalanan pulang tadi, Lu Weizhen sudah lebih dulu mengabari Xu Jialai dan Gao Sen. Maka saat ini Xu Jialai berkata, “Tuan Muda, malam ini Anda tidur saja di kamar Gao Sen, dia tidur di ruang tamu.”
Xu Zhiyan menolak, “Tak perlu.”
Belum sempat ketiganya merespons, Xu Zhiyan sudah melangkah masuk ke salah satu kamar. Saat masuk tadi, ia diam-diam sudah memperhatikan itu kamar Lu Weizhen. Xu Jialai dan Gao Sen masih belum paham apa yang terjadi, Lu Weizhen sudah melesat mengejar ke dalam kamar.
Karena ruangnya sempit, kecepatan naga besar pun tak bisa diandalkan, Lu Weizhen terlambat menariknya. Sepatu Xu Zhiyan sudah terlepas, dengan cekatan ia naik ke kasur, membentangkan tangan dan kaki, lalu menatap Lu Weizhen sambil tersenyum lebar.
Lu Weizhen berkata, “Turun!”
“Tidak mau~”
“Turun sekarang!”
“Tidak mau~”
Bahkan, ia menarik selimut milik Lu Weizhen, memeluknya, lalu berguling di atas kasur.
Lu Weizhen mengusap alisnya, lalu berbalik keluar kamar. Sudahlah, demi menghargai ia tidak pulang tiga tahun, nanti setelah ia pergi, semua sprei dan selimut bisa dibuang, ganti baru saja.
Keluar dari kamar, Xu Jialai dan Gao Sen tentu mendengar kegaduhan di dalam, Xu Jialai menahan tawa, “Malam ini tidur saja sama aku.”
Lu Weizhen menjawab, “Tidak perlu, aku tak biasa tidur sama orang, aku tidur di sofa.”
Xu Jialai dan Gao Sen serempak, “Biar kami saja yang tidur di sofa, kau pakai kamarku.”
Lu Weizhen berkata, “Sudahlah, aku juga tak biasa tidur di ranjang orang, sudah diputuskan.”
Xu Zhiyan benar-benar betah di dalam kamar itu, lama tak keluar, Lu Weizhen juga tak peduli. Setelah selesai bersih-bersih, ia masuk lagi ke kamarnya dan tertegun sejenak.
Entah sejak kapan orang itu sudah tertidur, satu tangan masih mencengkeram ujung selimut, menekannya di perut. Satu kakinya menjuntai ke bawah jendela, matanya terpejam rapat, terdengar dengkuran lembut, tidurnya amat pulas.
Ia benar-benar tampak berbeda dari tiga tahun lalu, meski umurnya dua tahun lebih tua dari Lu Weizhen, tiga tahun lalu masih tampak seperti remaja tampan. Kini tubuhnya lebih tinggi dan berisi, kulit yang dulu putih bak giok kini lebih gelap, garis wajahnya pun lebih tegas, makin menyerupai pria dewasa. Maka tak heran, tadi di jalan, Lu Weizhen tidak langsung mengenalinya.
Namun, baru bersama beberapa menit saja, sifat aslinya langsung muncul, di tubuhnya masih tinggal bocah bandel dan manja itu.
Lu Weizhen menatapnya sejenak, mematikan lampu, menutup pintu perlahan, lalu keluar dari kamar.