Bab 27: Guruku yang Tak Tahu Malu (1)
Keesokan harinya, ketika senja mulai turun.
Lin Jingbian baru saja mengantar seorang pelanggan, menghitung pemasukan bulan ini, hatinya berbunga-bunga. Ia sedang bersiap masuk dapur untuk memasak ketika seseorang masuk.
Lin Jingbian menengadah dan tertegun sejenak.
Lu Weizhen menyapu rambut panjang di samping telinganya dan tersenyum padanya.
Mendadak Lin Jingbian merasa ingin mimisan. Tapi tentu saja ia tak boleh, itu akan dianggap kurang sopan. Ia buru-buru mengalihkan pandangan dan berkata, “Nona Lu, mencari guru saya? Beliau ada di belakang.”
Lu Weizhen mengulurkan kantong plastik di tangannya ke arahnya. Lin Jingbian menerimanya dengan bingung. Lu Weizhen berkata, “Tolong simpan dulu di dapur, nanti saya akan memasak.”
Perasaan Lin Jingbian seperti pengamat yang tiba-tiba mendapat kabar mengejutkan—gadis itu sudah seberani ini, kalau guru masih juga jomblo karena usahanya sendiri, maaf-maaf saja, memang pantas hidupnya begitu...
Ia langsung menjawab, “Baik! Silakan ke belakang. Di toko masih cukup sibuk, jadi saya tak ikut.”
Lu Weizhen: “...”
Padahal saat itu di toko hanya ada mereka berdua.
Lin Jingbian berdeham pelan.
Pipi Lu Weizhen memerah.
Keduanya pura-pura tenang tak terjadi apa-apa.
Sandal hak tinggi Lu Weizhen menjejak lantai kayu, menimbulkan bunyi pelan dan nyaring, langkahnya anggun menjauh. Lin Jingbian mencuri pandang ke punggung indah itu, dalam hati berujar: Guru benar-benar...
Dua puluh enam tahun diam, sekali bertindak langsung menggemparkan.
Sebenarnya, begitu Lu Weizhen melangkah masuk ke halaman, Chen Xiansong sudah mendengarnya. Cuacanya hampir sama seperti kemarin, waktunya pun tak jauh berbeda. Serasa ada sehelai bulu yang melayang di depan mata sepanjang hari—ringan, tak perlu dipikirkan, tapi kini ia sungguh jatuh ke tanah. Chen Xiansong tak bisa menggambarkan perasaannya, ia pun tak menoleh.
Hari itu ia tidak seperti biasanya yang di rumah tak mengenakan atasan. Ia memakai kaos abu-abu kusam yang sudah basah oleh keringat dan terkena debu, melekat erat di tubuhnya. Karena membungkuk, garis bahu dan pinggangnya tampak jelas.
Pandangan Lu Weizhen pun kembali tertarik, lalu jatuh pada tangannya—tangan besar yang memegang alat, punggung tangan yang agak gelap dan kasar, namun sangat cekatan.
Ia berjalan mendekat, gerakan Chen Xiansong pun terhenti.
“Itu kayu yang kau temukan di gunung?” tanyanya.
“Bukan,” jawab Chen Xiansong. “Ini beli.” Ia pun menoleh ke atas.
Di depannya, cahaya terang menyilaukan.
Lu Weizhen mengenakan gaun terusan lengan ruffle warna lotus, kulitnya tampak seputih salju dan bersinar lembut. Tubuhnya berlekuk indah, pinggang ramping dan pinggul bulat, bagaikan setangkai bunga bersih yang sedang mekar di hadapannya. Rambut hitam legam terurai di pundak, beberapa helai jatuh di tulang selangka. Hari itu ia melepas kacamata berbingkai hitam dan menata poni ke belakang, menampakkan alis dan wajah bersihnya.
Wajah Chen Xiansong tetap tanpa ekspresi.
Detik berikutnya, tangannya terpeleset, ujung alat tajam langsung melukai punggung tangan kirinya, meninggalkan garis luka panjang dan tipis, darah pun merembes keluar.
Lu Weizhen tertegun.
Chen Xiansong melempar alatnya dan berbalik masuk ke dalam rumah.
Lu Weizhen buru-buru mengejar, “Tidak... tidak apa-apa?”
“Tidak apa-apa.” Ia masuk ke sebuah ruangan di pojok kanan halaman, mengambil kain kasa dari laci, sekadar mengusap darahnya. Lu Weizhen ikut masuk, cepat-cepat melirik sekeliling. Ruangan itu luas, sekitar 40-50 meter persegi, lantai kayu tua berwarna cokelat gelap, jendela-jendela setengah terbuka menambah nuansa kuno dan tenang. Ada ranjang besar kayu polos, meja belajar, dan lemari pakaian. Di dekat pintu, terdapat meja teh bergaya klasik. Lu Weizhen tiba-tiba paham, inilah ruang hidupnya.
Di dinding, tergantung beberapa lukisan tinta bergaya abstrak, tak jelas menggambarkan apa. Di dekat ranjang, tergantung tas pinggangnya.
Lu Weizhen menarik kembali pandangannya, menatap lukanya, “Sakit tidak?”
Chen Xiansong enggan menjawab, tapi karena ia terus menatapnya, akhirnya ia berkata, “Tak terasa.” Namun, ia mencari nafkah dengan tangannya, jadi harus hati-hati. Ia mengambil yodium dan kapas, membersihkan luka dengan cepat. Meski tidak dalam, lukanya cukup panjang, lalu ia mengambil kain kasa.
Lu Weizhen melihatnya menutup luka dengan beberapa lapis kain kasa, lalu berusaha memasang plester dengan satu tangan, ia berkata, “Biar aku saja.”
Chen Xiansong segera menghindar ke samping, “Tak perlu.”
Lu Weizhen malah mengitari ke sisi lain, kembali mengulurkan tangan, kali ini Chen Xiansong tak bergerak. Lu Weizhen dengan lembut menahan dua ujung kain kasa, berkata, “Tadi aku sudah cuci tangan sebelum masuk.”
Tangan gadis itu sangat berbeda dengan Lin Jingbian, halus dan putih, menekan punggung tangannya seperti salju lembut yang jatuh di atas batu keras.
Chen Xiansong dengan cepat menempelkan plester, lalu menurunkan tangannya, “Selesai.”
Sudut bibir Lu Weizhen melengkung, ia cepat-cepat menarik tangannya. Melawan monster kadal saja ia tak terluka, tadi malah ceroboh melukai diri sendiri.
“Hari ini ke sini mau apa?” Chen Xiansong menatapnya.
Lu Weizhen seperti murid yang melakukan kesalahan, menunduk, “Makan.”
Ruang itu sunyi beberapa detik.
Chen Xiansong, “Pergilah ke depan dulu, aku masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.”
“Oh.” Lu Weizhen berjalan ke halaman depan, menoleh, melihat Chen Xiansong memang sudah kembali beraktivitas di halaman, tampak kokoh seperti gunung.
Chen Xiansong menatap serat kayu di depannya, menghaluskan perlahan, tiba-tiba ia terhenti dan tersenyum kecil.
Lu Weizhen langsung masuk ke dapur.
Lin Jingbian memang murid yang cekatan dan tahu diri. Sayuran yang dibawa Lu Weizhen sudah dicuci dan dipotong rapi olehnya.
Lu Weizhen berkata, “Kamu istirahat saja, kali ini aku yang masak.”
Lin Jingbian, “Baik, terima kasih.” Ia jelas tak akan menolak. Lihat saja, Nona Lu pergi ke halaman belakang, lalu masuk dapur, guru tak mencegah, kenapa ia harus mencegah?
Soal pria-pria lajang tua lain ia tak tahu, tapi bagi gurunya, tak mencegah berarti membiarkan, tak mencegah berarti menginginkan.
Ngomong-ngomong, kalau masakan Nona Lu ternyata enak, itu jadi nilai tambah lagi. Begitu cocok untuk merawat guru yang sehari-hari berjuang hidup dan mati. Lin Jingbian berpikir girang.
Tiba-tiba ada seorang Lu Weizhen jatuh dari langit ke halaman kecil mereka. Guru kini punya wanita di sisinya, Lin Jingbian sampai sekarang masih merasa seperti bermimpi, sampai dua hari ini ia jadi ikut senang.
Lin Jingbian mundur ke samping, bersiap membantu. Melihat sikap tenang Lu Weizhen, ia yakin masakannya pasti hebat.
Namun, yang ia lihat adalah Lu Weizhen berdiri lama di depan kompor, tak bergerak, malah menunduk menatap ponsel.
Lin Jingbian ragu, “Nona Lu, apakah...”
Lu Weizhen, “Aku sedang mencari resep.”
Lin Jingbian, “...”
Guru, sebenarnya perempuan itu pandai atau tidak itu tidak penting, asal punya niat saja sudah cukup. Kita tak boleh menuntut terlalu banyak, asal perempuan saja sudah cukup.
Akhirnya, Lu Weizhen meletakkan ponsel, menatap sayuran di atas meja, mengangguk puas, mengenakan celemek, menyalakan kompor.
Lin Jingbian, “Kamu... sering masak?”
Lu Weizhen melirik datar, “Pertama kali.”
Lin Jingbian, “...Semangat.”