Bab Sebenarnya: Masa Lalu
Akhir-akhir ini, keadaan di kampung halaman juga kurang baik. Ibu menelepon Su Yue, memberitahukan bahwa Su Tao kembali berkelahi dengan orang lain.
Sejujurnya, Su Yue sama sekali tidak terkejut.
Su Tao adalah adik tiri Su Yue, mereka seayah tapi berlainan ibu. Dalam ingatan Su Yue, adik laki-lakinya itu selain pemalas dan suka makan, hobinya hanya satu: berkelahi. Namun, meski begitu, Su Tao tetap menjadi anak kesayangan ayah mereka—dijaga seolah takut jatuh, dimanja seolah takut menghilang. Su Tao berkelahi bukan sekali dua kali, jadi Su Yue tidak panik.
Hanya saja, kabar kali ini berbeda: Su Tao justru yang dipukuli orang sampai cukup parah, bahkan sampai harus dirawat di rumah sakit.
Su Yue langsung tahu alasan ibunya menelepon. Pasti ayahnya lagi-lagi meminta uang padanya.
Su Yue merasa ini sungguh ironis. Sejak kedua orang tuanya bercerai dan ia diputuskan pengadilan untuk ikut ibunya, baik uang sekolah setiap semester maupun biaya hidup sehari-hari, semuanya ibunya yang susah payah carikan. Beratnya masa-masa itu hanya mereka berdua yang tahu. Setelah masuk universitas, selain berhemat, ia juga harus bekerja paruh waktu dan mengambil berbagai pekerjaan sampingan, hanya demi menutupi biaya kuliah yang tinggi dan kebutuhan bulanan. Saat orang lain menikmati indahnya masa kuliah, ia justru setiap hari dirundung kecemasan soal uang. Selama empat tahun kuliah, ia nyaris tak pernah ikut kegiatan bersama teman-teman, karena memang tidak punya waktu. Orang-orang mengira ia sombong karena parasnya yang cantik, tinggi, dan terkesan dingin, padahal siapa yang tahu beban hidup yang ia pikul! Ia bahkan tak punya waktu menjelaskan berbagai kesalahpahaman itu.
Padahal, seharusnya hidupnya tak perlu sesulit itu.
Sesuai keputusan pengadilan, ayahnya seharusnya memberikan uang nafkah dua juta rupiah setiap bulan. Namun, ayahnya sama sekali tidak pernah menunaikan kewajiban itu. Ibunya pun enggan merendahkan diri untuk memohon. Lagi pula, mereka sudah bercerai. Beberapa kali saat pulang ke kampung untuk menemui kakek-nenek pun, ia selalu mendapat perlakuan dingin. Yang terdengar di telinganya hanyalah keluhan dari perempuan itu tentang kekurangan uang, sedangkan ayahnya selalu diam saja. Maka, seperti ibunya, Su Yue pun tak pernah sekalipun meminta uang dari ayahnya.
Kabar yang ia dengar, anak yang memukul Su Tao adalah korban yang selama ini sering dibully Su Tao, anak itu tak pernah membalas. Tiba-tiba kali ini berani melawan, membuat semua orang terkejut. Su Yue yakin, pasti kali ini Su Tao sudah keterlaluan.
Anak itu yatim piatu, tak punya orang tua, bahkan sanak saudara pun tak peduli. Tentu saja tak ada yang bisa membayar biaya rumah sakit Su Tao, jadi akhirnya ia hanya bisa ditahan beberapa hari lebih lama di kantor polisi.
Su Yue merasa itu adalah balasan yang setimpal.
Ia bilang pada ibunya untuk tidak memberikan uang pada mereka, ia sendiri juga tidak akan memberi. Di seberang telepon, ibunya hanya bisa menarik napas berat.
Namun, Su Yue tak menyangka malam itu ayahnya sendiri meneleponnya. Selama bertahun-tahun, jumlah telepon dari ayahnya bisa dihitung dengan jari, dan hampir semuanya hanya demi anak lelakinya. Apakah kali ini juga begitu?
Ternyata benar.
Ayahnya berkata bahwa kaki kanan Su Tao patah, harus dioperasi, untung operasinya berhasil, tetapi masih harus dirawat di rumah sakit beberapa waktu.
Mereka benar-benar sudah kehabisan uang.
Su Yue terdiam lama, lalu bertanya, “Ayah, menurut Ayah, aku sudah bekerja lima tahun atau sepuluh tahun? Gajiku sebulan satu, dua, atau tiga juta? Apakah aku harus menabung semua uangku untuk Su Tao tanpa sedikit pun menggunakannya sendiri?”
Di ujung telepon, ayah Su Yue terdiam tak bisa berkata-kata.
“Kenapa Su Tao berkelahi lagi kali ini?”
“Ayah, kalau Ayah tidak mau mengurus Su Tao, aku takut suatu saat nanti ia akan melakukan kejahatan yang lebih besar.”
Ayahnya akhirnya menarik napas berat, “Memang seharusnya ia harus dikendalikan.”
Menjelang akhir pembicaraan, ayahnya berkata, “Su Yue, sempatkanlah pulang. Ayah tahu Ayah banyak salah padamu, tapi Ayah sudah tua...” Setelah berkata demikian, ia menutup telepon.
Panggilan itu membangkitkan banyak kenangan lama yang sungguh tidak ingin Su Yue ingat lagi.
Konon, di masa mudanya, Ibu Su adalah perempuan cantik yang langka, disenangi banyak orang di sekitar, bahkan di antara mereka ada yang kondisi ekonominya cukup baik. Namun, takdir berkata lain, akhirnya ia justru menikah dengan Ayah Su yang di segala hal hanyalah orang biasa.
Mereka pernah melewati masa-masa bahagia. Namun, selama Su Yue bisa mengingat, yang paling sering ia saksikan adalah ayahnya tiba-tiba marah tanpa sebab, melempar dan merusak makanan yang ibunya susah payah siapkan, lalu membanting pintu dan pergi. Ibunya hanya bisa menangis pelan di sudut ruangan. Lama-lama, Su Yue sadar penyebab keretakan hubungan orang tuanya adalah dirinya sendiri—karena ia terlahir sebagai perempuan.
Di generasi mereka, pemikiran lama masih begitu mengakar. Semua keluarga merasa wajib memiliki anak laki-laki, sedangkan ayahnya satu-satunya anak di keluarganya yang tidak memiliki putra, sehingga merasa rendah diri. Padahal, saat melahirkan Su Yue, ibunya mengalami kesulitan, tubuhnya pun melemah, bertahun-tahun kemudian tak kunjung hamil lagi.
Ibunya selalu merasa bersalah pada ayahnya, bertahun-tahun hidup dalam penyesalan, bahkan Su Yue sendiri pun tumbuh dengan perasaan berdosa, selalu bersikap diam dan tak berani bicara keras di rumah. Namun ayahnya tampak tidak pernah menghargai itu.
Saat Su Yue berusia tujuh atau delapan tahun, ia mendengar kabar dari orang lain bahwa ia punya adik laki-laki yang sudah masuk TK. Saat itu ia heran, mengapa orang lain tahu, sementara ia sendiri tidak pernah bertemu atau mendengarnya? Ia bahkan pernah pulang dan bertanya pada ibunya, kapan ibu melahirkannya adik, ke mana adiknya pergi. Ia masih ingat betul tatapan putus asa dan sedih di mata ibunya saat itu; sejak saat itu, ia tak pernah lagi menanyakan hal serupa.
Baru ketika ia lebih besar dan mendengar banyak cerita dari orang lain, ia mulai mengerti. Saat itu, ayahnya pun sudah jarang pulang ke rumah.
Ia masih ingat pernah bertanya sekali pada ibunya, mengapa ayah jarang di rumah, ke mana ia pergi. Ibunya tampak tak menyangka ia akan bertanya seperti itu. Setelah lama terdiam, ibunya berkata ayah sedang dinas ke luar kota, pekerjaannya terlalu sibuk, ia diminta untuk lebih pengertian. Waktu itu, sudah banyak gosip beredar, dan setelah mendengar itu, Su Yue tidak pernah lagi bertanya.
Namun sejak itu entah kenapa, Su Yue selalu merasa takut—di jalan, di sekolah, di rumah, terlebih saat ayahnya di rumah. Padahal prestasinya selalu bagus, wajahnya pun cantik, tapi hidupnya seperti genangan air yang tak pernah beriak.
Ketika Su Yue masuk SMP, ketakutan itu jadi nyata. Orang tuanya akhirnya memutuskan untuk bercerai.
Sejak perceraian itu, ia hidup berdua saja dengan ibunya. Ayahnya sangat jarang menjenguk, dan sekalipun datang, selalu tergesa-gesa dan diam-diam.
Sebelum bercerai, ibunya hampir tidak pernah bekerja, keluarga besarnya pun tak bisa diharapkan, hanya ada kakek nenek yang sudah renta dan seorang kakak perempuan yang menikah jauh di Kota X. Untuk bertahan hidup, ibunya terpaksa kerja di pabrik, berangkat pagi buta, pulang larut malam, bertahun-tahun lamanya.
Su Yue pernah bertanya, mengapa ibu begitu bersusah payah, bukankah pengadilan memutuskan ayahnya harus menafkahi setiap bulan? Ibunya hanya tersenyum simpul, tak berkata apa-apa.
Baru kemudian ia tahu, ayahnya hanya memberikan beberapa bulan, lalu berhenti sama sekali.
Dalam celah waktu yang sempit, Su Yue menggigit bibir menahan perih dan perlahan tumbuh dewasa. Setiap hari ia pergi dan pulang sekolah sendirian, memasak sendiri, makan sendiri, tidur sendiri. Ibunya pergi kerja sejak pagi buta dan baru pulang tengah malam, bahkan tidak sempat mengurusnya. Ia merasa hidup sangat berat, bukan hanya secara fisik dan pelajaran, tapi juga mental. Dalam masa-masa paling berat, pernah sekali ia diam-diam mencari ayahnya, ingin bertanya kenapa tak pernah menengok atau mengirim uang, ingin menceritakan betapa beratnya beban ibu dan dirinya yang kesepian.
Namun ia malah terkejut melihat ayahnya mengenakan celemek, rajin memasak, sementara perempuan lain santai menonton TV dan makan buah di ruang tamu, dan anak laki-lakinya asyik bermain komputer di kamar dengan headphone. Suasana itu benar-benar bertolak belakang dengan kehidupan keluarganya dulu. Selama beberapa jam di rumah baru ayahnya, ia hanya ditanya soal nilai pelajaran, selebihnya ayahnya tenggelam menikmati kehidupan barunya. Meski istrinya acuh tak acuh, ayahnya tetap berusaha menyenangkan dan menggoda, anak lelakinya tak peduli pada nasihat untuk mengurangi bermain komputer, namun tetap diperlakukan penuh kasih sayang.
Sejak hari itu, ia sadar cinta ayahnya bersyarat—jika saja ibunya memberikannya anak laki-laki, jika saja ia terlahir sebagai anak laki-laki.
Su Yue tidak pernah menceritakan pada ibunya bahwa ia pernah ke sana dan melihat semua itu. Uang dua ratus ribu yang diam-diam diberikan ayahnya saat ia pulang, ia tabung di bank dan hingga kini tak pernah disentuh.
Pengalaman itu selalu mengingatkan Su Yue bahwa ia tak bisa bergantung pada siapa pun, hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri. Ia bertekad, kelak harus sukses dan menghasilkan banyak uang, agar ibunya tak perlu lagi menderita, dan mereka yang pilih kasih menyesal.
Ia pun tak pernah lagi mengganggu kehidupan mereka.
Kini, setelah akhirnya bisa mandiri, dengan alasan apa mereka berani mencarinya lagi? Apa hak mereka?
Su Yue memilih untuk tidak peduli dan terus bekerja seperti biasa.