Bab Dua: Pertemuan Pertama
Meskipun kuliah di jurusan pendidikan, Su Yue tak ingin menjalani hidup membosankan sebagai guru di Kota S setelah lulus. Sejak tanpa sengaja melihat Kota A yang dipenuhi suasana khas perkampungan air Jiangnan dalam kelas apresiasi film, hatinya bergetar. Jembatan kecil di atas aliran air, kuil kuno di pegunungan, air terjun di lembah, bangunan tua yang sederhana—semuanya membuatnya terus membayangkan dan merindukan tempat itu. Su Yue diam-diam memutuskan, apa pun yang terjadi, ia harus pergi ke sana, dan secepat mungkin!
Karena itu, saat masa magang di tahun keempat, ketika teman-teman sekamarnya masih ragu hendak ke mana, ia langsung memilih Kota A tanpa ragu. Ia pun membagikan semua pujian yang pernah ia dengar dan lihat tentang kota itu kepada mereka.
Kota A terletak ribuan kilometer jauhnya, dan baik Shen Dan, Xu Qiu, maupun Qian Lingling belum pernah ke sana. Cerita Su Yue membuat mereka tertarik. Kebetulan, Shen Dan punya sepupu jauh yang telah lama bekerja di Kota A dan bisa membantu mencarikan tempat tinggal. Rasanya, keberuntungan benar-benar berpihak pada mereka.
Namun sehari sebelum keberangkatan, Shen Dan menelepon dan berkata ia tidak bisa ikut karena keluarganya tidak setuju. Ia sudah mencoba menghubungi sepupunya berkali-kali, tapi tak berhasil. Ia merasa bersalah, namun tak bisa berbuat apa-apa lagi. Semangat yang semula berkobar di hati mereka pun mendadak meredup, namun karena segala sesuatu sudah dipersiapkan, Su Yue, Xu Qiu, dan Qian Lingling akhirnya tetap memutuskan untuk pergi ke Kota A.
Awal yang kurang baik seolah menjadi pertanda akan datangnya berbagai kesulitan.
Kota A ternyata tidak seindah yang mereka bayangkan. Cuacanya lembap, hujan turun hampir setiap hari, dan udara di awal tahun baru ini begitu dingin menusuk tulang. Harga-harga di sana juga tidak murah, sehingga mereka tak berani sembarangan membeli makanan. Tempat tinggal mereka sangat kecil, selain kamar mandi yang sempit, gelap, hanya cukup untuk satu orang, tanpa air panas, kamar tidur pun nyaris tak menyisakan ruang setelah dua ranjang kecil untuk tiga orang diletakkan di dalamnya. Pakaian yang sudah dicuci hanya bisa dijemur di lorong gelap yang tak pernah mendapat sinar matahari, seolah tak akan pernah benar-benar kering...
Hari-hari itu, mereka semua tidak bahagia. Su Yue masih berusaha mencari pekerjaan ke bursa tenaga kerja, sementara Xu Qiu dan Qian Lingling malah menghabiskan hari-hari di warnet, setidaknya di sana hangat. Mereka bahkan sempat membicarakan untuk pulang saja, karena merasa tak ada yang baik di situ. Su Yue tak berani bicara. Ia merasa bersalah telah membawa mereka ke situ untuk menanggung semua kesulitan ini, hingga tak sanggup menahan mereka. Namun, ia juga tak sanggup mengiyakan ajakan pulang.
Ia telah menentang keluarganya, menempuh ribuan kilometer demi mencari pekerjaan di sini. Ibunya bahkan sudah mencarikan pekerjaan yang gajinya cukup bagus, tapi ia menolak. Kini ia hanya bisa terus melangkah, menahan segala perasaan.
Karena telah mengirim banyak lamaran, Su Yue pun setiap hari bolak-balik ke berbagai perusahaan untuk wawancara. Ada perusahaan yang menolaknya, ada pula yang ia sendiri tak cocok, atau alamatnya terlalu sulit ditemukan. Namun pada akhirnya, datang juga hari di mana Su Yue berhasil mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan yang saling memuaskan kedua belah pihak.
Hari itu, Su Yue pulang dengan hati gembira, dan kebetulan Xu Qiu dan Qian Lingling tidak pergi ke mana-mana. Mereka menunggunya pulang, koper mereka sudah rapi terletak di atas tempat tidur, karena memang tak ada tempat lain untuk meletakkannya.
Hati Su Yue tercekat, tak menyangka akan mendapat kejutan seperti itu. Tapi ia tahu mereka sudah mantap dengan keputusan mereka, maka ia tak menahan mereka lagi. Setelah makan malam, bertigalah mereka menuju terminal. Ketika bus mulai berjalan, Su Yue tak kuasa menahan tangis. Ia sendiri pun tak tahu pasti sebabnya.
Beberapa hari setelah teman-temannya pergi, Su Yue benar-benar merasa sangat sedih. Sendirian di negeri orang, sedang sakit, malam hari yang sunyi, menerima infus di rumah sakit, Su Yue sempat berpikir untuk menyerah dan pulang.
Itu adalah malam di mana ia belum diangkat sebagai pegawai tetap, tapi sudah harus lembur berkali-kali.
Su Yue duduk sendirian di sudut yang agak sepi. Satu deret kursi itu hanya diisi olehnya dan seorang perempuan lain. Di seberangnya, hanya ada seorang lelaki yang juga sedang diinfus dan memakai masker. Area infus lain lebih ramai—ada siswa berseragam sekolah, balita yang masih mengenakan popok, lansia beruban, pasangan muda-mudi atau suami istri yang saling mendukung. Siswa itu satu tangan diinfus, satu tangan lagi sibuk menulis di atas meja sempit, di sampingnya duduk ibu yang memandang lembut atau ayah yang kaku dan diam. Anak-anak kecil ada yang terlelap di pelukan orang tua, ada pula yang menangis keras dengan wajah merah, digendong ibu atau neneknya, sementara ada yang mengangkat sendiri cairan infus berjalan di belakang. Ada pula yang duduk manis menikmati camilan sambil menonton ponsel atau iPad. Para lansia ada yang tertidur, ada pula yang seperti anak-anak, menonton film animasi yang diputar di dinding putih. Suara-suara itu tak pernah benar-benar berisik, sering kali justru tertutup oleh tangisan histeris anak-anak dari ruang nebulizer di sebelah. Biasanya tak lama kemudian, satu dua anak keluar, entah dengan isak tertahan atau langsung memeluk erat orang tua mereka. Rambut di dahi basah, pipi merah, masih tampak bekas tangisan. Hampir tak ada yang keluar dengan wajah bahagia.
Menyaksikan dan mendengar semua itu, entah kenapa, Su Yue justru teringat potongan-potongan kenangan masa kecil yang sudah samar.
Saat itu ia berumur empat atau lima tahun, tubuhnya lemah, sering demam di tengah malam. Keluarga mereka tidak punya banyak uang, setiap kali sakit, ayahnya harus menggendongnya ke klinik di kota kecamatan. Jalanan itu gelap, licin, sulit dilalui. Jika hujan, tanahnya becek dan mudah tergelincir. Ayahnya selalu memeluknya erat, sementara ibunya memayungi mereka. Di sepanjang jalan hanya terdengar suara langkah kaki dan helaan napas berat...
Tak ingin larut dalam kenangan, Su Yue kembali mengamati sekeliling, lalu pandangannya beralih pada pria yang duduk serong di depannya. Pria itu mengenakan kaus Polo hitam sederhana, celana panjang hitam, dan sepatu kulit hitam. Penampilannya biasa saja, namun dari kasat mata, bahan pakaiannya tampak bagus dan jelas tidak murah. Wajahnya tak terlihat jelas karena masker, namun Su Yue tetap merasa pria itu punya aura berbeda. Ia tengah menatap laptop di hadapannya.
Sementara itu, Ren Chen, meski menatap komputer, pikirannya melayang entah ke mana. Ia bahkan tak menyadari ada yang memanggil. Baru saat seorang perawat berseragam putih berjalan ke arahnya dan berteriak kaget, "Aduh, darahnya balik!" barulah ia sadar. Perawat muda itu lantas dengan cekatan mencabut jarum infus, menekan bekasnya dengan kapas, lalu memberikannya pada Ren Chen sambil tersenyum, "Untung saja, cuma sedikit bengkak. Tahan lima menit, sampai darahnya berhenti baru boleh dilepas. Nanti di rumah kompres pakai handuk hangat atau irisan kentang mentah di bagian yang bengkak. Untung ada pacar kamu yang memanggil kami, dia sendiri masih diinfus tapi tetap mengangkat cairan infus dan mencari kami. Perhatian sekali, ya! Cantik pula!" katanya, lalu menoleh ke arah Su Yue yang baru keluar dari kamar mandi sambil menunjuk, "Itu dia! Pacar kamu cantik, lho!"
Ren Chen mengikuti arah pandangan perawat dan melihat seorang gadis berambut panjang yang membawa cairan infus. Ia mengenakan kaus putih lengan pendek, celana jins warna biru, dan sepatu putih kecil. Kulitnya putih, tanpa riasan, wajahnya tampak lelah, tetapi tatapan matanya yang terangkat seketika membuat siapa pun terkesima. Ia amat cantik dan menawan.
Ren Chen kembali menoleh ke perawat tanpa ekspresi dan mengucapkan terima kasih.
Sebelum ke kamar mandi, Su Yue sudah memastikan perawat akan mencabut jarum infus pria itu. Namun setelah keluar, ia tak bisa menahan diri untuk kembali melirik ke sana. Tadi ia sudah beberapa kali memanggil pria itu, tapi entah kenapa, ia tidak mendengar sama sekali, padahal jaraknya dekat. Saat melihat cairan infusnya sudah habis, Su Yue yang memang ingin ke kamar mandi, segera memanggil perawat, lalu buru-buru ke toilet. Untunglah, jarumnya sudah dicabut. Su Yue tersenyum tipis ke arah sana, namun tak disangka, justru bertemu tatap dengan pria itu. Matanya indah, seperti bunga persik, namun saat itu justru tampak hitam, dalam, dan dingin menusuk. Su Yue yang sedang demam merasa tubuhnya semakin menggigil.
Setelah berpikir sebentar, ia memilih duduk di tempat lain, bukan di kursi semula.
Waktu pun berjalan semakin lambat. Suhu ruangan yang hangat membuatnya mengantuk, namun setiap kali hendak tertidur, ia harus bergegas ke kamar mandi. Begitulah, antara sadar dan setengah tidur, hingga akhirnya sekitar pukul sembilan malam infusnya baru selesai. Saat hendak pulang, Su Yue tanpa sadar kembali melirik ke kursi tadi, namun pria itu sudah tak tampak lagi.