Bab Empat Puluh Enam: Kenangan yang Tak Dapat Dikejar Kembali
Suatu hari, Yan Yuxuan berkata ingin mengajaknya keluar untuk bertemu beberapa temannya. Hari itu, akhirnya dia memberanikan diri berkata pada Yan Yuxuan bahwa ia bisa menemaninya pergi, tapi hanya kali ini saja. Setelah itu, jangan pernah mencarinya lagi, dan dia pun tidak akan menemuinya lagi.
Yan Yuxuan hanya tersenyum, tak memberi jawaban pasti.
Hari itu, mereka semua berkumpul di vila Yan Yuxuan di pinggiran kota, minum-minum dan bermain kartu, suasananya sangat meriah. Awalnya, Xu Hailu hanya duduk diam di samping, minum minuman ringan dan makan camilan. Namun setelah para perempuan lain yang datang bersama mereka mulai minum alkohol, dia beberapa kali menolak ajakan minum, membuat raut wajah Yan Yuxuan tampak tak senang. Ia pun ragu. Mengingat Yan Yuxuan selama ini cukup baik padanya, dan ini juga pertemuan terakhir mereka, dia akhirnya meneguk beberapa gelas, berniat segera pergi setelah minum.
Sejak kecil, ia cukup kuat minum, hanya saja tak pernah memperlihatkannya, jadi ia yakin akan dirinya sendiri. Ia pun sangat berhati-hati, memperhatikan bahwa minumannya dituangkan dari botol yang sama dengan yang lain. Namun, seberapa waspada pun, ia tetap lengah. Belum habis dua gelas, kepalanya mulai terasa pusing dan akhirnya ia pingsan.
Saat kesadarannya kembali sedikit, ia mendapati dirinya terbaring di atas ranjang besar, tanpa sehelai benang pun, begitu pula Yan Yuxuan. Ia ingin mendorong tubuh Yan Yuxuan yang menindihnya, namun tubuhnya sama sekali tidak bertenaga. Setelah itu, ia merasakan sesuatu memasuki tubuhnya. Air matanya pun mengalir. Ia mendengar, seolah ada suara di hatinya berkata, “Kau sudah selesai, Xu Hailu. Kau dan Gao Ziming sudah berakhir.”
Saat itu, ruangan sangat terang. Ia memejamkan mata, tak ingin mendengar, tak ingin merasakan, namun tubuhnya tetap merespons, karena ia memang pernah berhubungan sebelumnya. Tiba-tiba, ia mendengar Yan Yuxuan di atas tubuhnya berkata tanpa alasan, “Kau datang di waktu yang tepat.” Tubuhnya menegang, pikirannya kosong, ada firasat tak jelas melintas di benaknya, namun sebelum sempat ia renungkan, secara naluriah, ia menoleh ke kanan—dan melihat Gao Ziming berdiri di ambang pintu, menatap mereka.
Air matanya semakin deras. Ia ingin berkata sesuatu, tetapi tidak tahu harus bicara apa!
Ekspresi Gao Ziming tampak seperti campuran keterkejutan dan kenyataan yang sudah diduga.
Lalu ia mendengar suara dingin Gao Ziming berkata, “Sekarang dia milikmu!”
Setelah itu, Gao Ziming pergi.
Xu Hailu tertawa seperti orang gila! Su Yue menunduk, tak tahu harus berbuat apa. Ia belum pernah mengalami hal seperti ini, tak tahu harus menghibur bagaimana.
Xu Hailu melanjutkan ceritanya.
Setelah itu, ia pernah mencari Gao Ziming, namun lelaki itu dengan tegas mengatakan hubungan mereka takkan mungkin lagi. Gao Ziming pun mulai berpacaran dengan perempuan lain. Xu Hailu marah dan membalas dendam pada mereka, namun Gao Ziming tak pernah memarahinya, hanya menatapnya dengan pandangan aneh seperti dulu. Hal itu membuat Xu Hailu selalu merasa Gao Ziming masih menyimpan perasaan, masih ada harapan bagi mereka.
Namun, setelah lulus kuliah, jejak Gao Ziming tak pernah bisa ia temukan lagi. Ia pun terpaksa kembali mencari Yan Yuxuan.
Saat itu, di sisi Yan Yuxuan sudah ada perempuan lain.
Yan Yuxuan memberitahunya kemana Gao Ziming pergi. Dia juga mengungkap latar belakang keluarga Gao Ziming, dan mengatakan bahwa jauh sebelum kejadian itu, Gao Ziming sudah tahu kalau Xu Hailu bermain di antara dua laki-laki sekaligus.
“Tapi kenapa dia tidak putus lebih awal denganmu?” Yan Yuxuan tertawa sambil merangkul pacar barunya, lalu pergi.
Hati Xu Hailu hancur. Su Yue mendengarnya berkata,
“Su Yue, kau lihat sendiri, utang harus dibayar. Kini aku benar-benar kehilangannya selamanya, tak ada lagi kesempatan.”
Malam sebelum pernikahan, Gao Ziming tiba-tiba bermimpi akan masa lalunya bersama Xu Hailu.
Saat kelas satu SMA, ibunya meninggal, dan ayahnya segera menikah lagi. Kesedihan waktu itu tak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata.
Sejak kecil, ia dibesarkan oleh ibunya. Ayahnya sibuk berbisnis di luar, tak pernah mengurusnya. Saat ia mulai besar, ayahnya baru mencoba mendidiknya, tapi sudah terlambat. Saat kelas tiga SMP, ibunya divonis kanker stadium akhir. Ayahnya memang lebih sering di rumah dibanding sebelumnya, tapi tetap saja jarang, bahkan sesi kemoterapi bulanan ibunya seringkali tidak dihadiri. Baru kemudian ia tahu, ayahnya punya perempuan lain di luar, itulah sebabnya enggan pulang.
Sejak itu, ia sangat membenci ayahnya, terlebih lagi membenci perempuan-perempuan yang seperti rubah penggoda.
Masa itu ia sedang dalam fase pemberontakan, setiap hari tawuran dan berkelahi, melakukan apapun yang menyenangkan hatinya. Akhirnya ia dikirim ke rumah kakek dan neneknya di desa, alasannya untuk menyegarkan suasana, dan di sana ia bersekolah di SMA unggulan sebagai siswa pindahan.
Suatu hari, saat berjalan sambil melempar kaleng bir kosong ke tanah, ia mendengar suara seorang gadis berteriak, “Berhenti!” Ia tak menyangka suara itu untuknya, jadi terus berjalan. Tapi suara itu kembali terdengar, “Berhenti! Anak laki-laki berbaju hitam dan celana hitam, rambut pirang itu!” Ia menunduk, berhenti, dan sadar memang dirinya yang dimaksud. Suara itu kembali berkata, “Iya, betul, kau! Jangan pergi!”
Ia menoleh dan melihat seorang gadis berponi kuda, memegang buku kecil sambil menunjuk padanya. “Buang sampah sembarangan, dikurangi satu poin; sekarang jam istirahat siang, tidak berada di kelas, keluyuran di sekolah, dikurangi satu poin. Rambut dicat pirang, dikurangi satu poin—” Lalu ia mulai memeriksa Gao Ziming, seolah mencari lagi pelanggaran lain.
Awalnya, Gao Ziming malas meladeni, tapi akhirnya ia justru melangkah ke depan gadis itu, membiarkannya memeriksa dengan saksama.
Gadis itu malah jadi agak malu, mundur satu dua langkah sebelum bertanya, “Kelas, nama!”
Gao Ziming tak menghiraukan dan langsung pergi.
Gadis itu terdiam…
Beberapa waktu kemudian, ia kembali bertemu gadis itu. Ia pun tahu namanya Xu Hailu, dari kelas 6 sebelah, cantik, pintar, kesayangan guru, panutan murid-murid lain. Tapi juga suka memerintah orang seenaknya.
Waktu itu, sebagian besar harinya dihabiskan di warnet, hampir tak pernah masuk sekolah dan tak ada yang berani mengatur. Suatu pagi, setelah semalaman di warnet, ia keluar dari bilik, mengambil semangkuk mie instan di kasir, juga beberapa telur teh, lalu hendak pergi. Tiba-tiba terdengar suara familiar agak ragu-ragu bertanya, “Hei, teman, mau tanya, kenapa ya headset ini dipakai dari tadi tak keluar suara?”
Gadis di sebelahnya juga memakai headset, jelas tak mendengar. Gadis itu tampak kebingungan, memandangi sekeliling warnet, tak tahu harus minta tolong ke siapa. Warnet di desa saat itu belum terlalu ramai, dan jelas gadis itu jarang datang, bahkan mungkin baru pertama kali?
Gao Ziming awalnya tak mau peduli, melangkah ke arah biliknya, tapi akhirnya ketahuan juga. Melihat mata gadis itu berbinar, ia memanggil, “Hei, teman, tolong dong?”
Saat Gao Ziming tetap berjalan, gadis itu makin keras berseru, “Hei teman, yang baju abu-abu, celana jins, rambut pirang, aku juga dari SMA yang sama, kita pernah ketemu, ingat kan?”
Gao Ziming terdiam, sadar dirinya jadi pusat perhatian. Pemilik warnet, Zhou Ming, tersenyum padanya, “Ayo, bantuin teman sekelasmu!”
Gao Ziming hanya menghela napas.
Ia langsung menemukan penyebab headset gadis itu tak berbunyi: volume di ikon speaker ternyata dimatikan semua.
Dan bila kau sudah memperhatikan seseorang, di mana-mana kau akan menemukan bayangannya.
Akhir pekan, di alun-alun kota, ia melihat Xu Hailu bersama teman-teman sebayanya, mengenakan gaun indah dan riasan tipis, menari dengan bimbingan guru di hadapan semua penonton.
Ia juga melihat Xu Hailu mengikuti seorang wanita paruh baya, berjalan dengan patuh tanpa berani berkata apa-apa.
Di toko buku dekat gerbang sekolah, ia menyaksikan Xu Hailu berdebat sengit soal harga dengan pemilik toko.
Saat perayaan ulang tahun sekolah, Xu Hailu naik ke panggung sebagai perwakilan siswa teladan. Sebelum ia bicara, tepuk tangan sudah ramai terdengar!
…
Pertemuan mereka yang lebih dekat terjadi tidak lama setelah masuk kelas dua SMA. Saat itu cuaca sedang tak menentu, kadang dingin, kadang panas. Ada yang sudah memakai jaket tipis, ada pula yang masih mengenakan rok.
Hari itu, ia kembali ke sekolah untuk mengambil sesuatu. Saat lewat kelas sebelah, ia mendapati Xu Hailu belum juga pulang, padahal jam pulang sudah lama lewat, kebanyakan siswa sudah pulang makan ke rumah. Ia ingat, Xu Hailu adalah siswa pulang-pergi, rumahnya dekat sekolah.
Setelah mengambil barang, saat melewati pohon beringin di samping kelas, entah mengapa ia bersembunyi di balik pohon, mengintip diam-diam. Saat itu, kelas baru saja selesai dibersihkan, semua jendela terbuka lebar. Xu Hailu duduk di bangkunya, tampak gelisah, lama sekali baru akhirnya berdiri dan berjalan pelan ke luar. Saat sampai di depan pintu kelas, ia menoleh ke kiri dan kanan, sangat hati-hati, seolah takut ada yang melihat sesuatu. Cara berjalannya pun aneh, sulit dijelaskan. Begitu dipastikan tak ada orang, ia berbalik dan berlari menuju toilet—di celana putih tiga perempat yang ia kenakan, terlihat jelas noda merah yang tak bisa disembunyikan. Gao Ziming langsung paham.
Ia bersiul menuju gerbang sekolah, melihat di luar sudah banyak penjual makanan kaki lima. Banyak murid asrama membeli makanan di sana. Beberapa sudah membawanya kembali ke dalam sekolah.
Ia berpikir sejenak, lalu kembali, dan benar saja, Xu Hailu masih duduk di bangkunya. Ia menunduk di atas meja, bergumam, “Bagaimana ini? Bagaimana aku pulang?”
Ia mengetuk meja Xu Hailu, gadis itu terkejut dan mengangkat kepala. Gao Ziming meletakkan jaket yang tadi ia lepas ke atas mejanya, lalu pergi keluar. Sebelum pergi, ia berkata, “Cepatlah!”
Wajah Xu Hailu seketika memerah seperti disapu bedak merah.
Ia mengenakan jaket panjang menutupi lutut itu, keluar kelas mengikuti Gao Ziming sampai ke gerbang sekolah. Di persimpangan menuju rumah masing-masing, Gao Ziming mengangguk padanya dan pergi. Ia mendengar Xu Hailu berteriak dari belakang, “Terima kasih! Pasti nanti aku cuci dan kembalikan!”
Tahun itu, baju itu tak pernah dikembalikan, malah menjadi kenang-kenangan cinta pertama mereka.
Gao Ziming sendiri tak pernah tahu apa yang membuatnya tertarik pada Xu Hailu. Sampai akhirnya ia sadar, semua itu hanya karena Xu Hailu menyukainya, bukan karena latar belakang, tapi karena dirinya sendiri.
Di sekolah, ia adalah anak aneh, murid yang dianggap malas dan sulit diatur guru. Di sekolah itu, rata-rata siswanya berprestasi, dan yang kurang pintar pun setidaknya punya sikap disiplin dan rajin belajar. Tak seperti dia, jarang masuk kelas, nilai buruk, tapi segalanya dilakukan semaunya: minum, merokok, dan tak pernah patuh pada siapa pun.
Mereka hanya bisa diam-diam bersama.
Awalnya, hubungan mereka baik-baik saja. Xu Hailu tak peduli pada urusan Gao Ziming, ia pun tetap menjalani hidup seperti biasa. Tapi suatu hari, Gao Ziming berkelahi hingga terluka, dahinya dijahit beberapa jahitan, tangannya terkilir. Xu Hailu jadi takut. Perlahan, perubahan mulai terjadi. Sering kali, Xu Hailu menatapnya dengan ragu, ingin bicara namun urung juga.
Hingga menjelang akhir tahun kedua SMA, Gao Ziming menghilang beberapa hari, lalu kembali dengan luka baru. Untuk pertama kalinya, mereka bertengkar.
Xu Hailu menangis, bertanya kenapa Gao Ziming harus terus berkelahi, tidakkah ia tahu betapa Xu Hailu selalu cemas dan takut terjadi apa-apa padanya. Ia bertanya, mengapa Gao Ziming tak bisa seperti siswa lain, belajar tenang di sekolah, berjuang demi ujian masuk universitas yang akan segera tiba?