Bab 005: Sang Maestro Negara
Daozhang Jiuxiao mengangguk pelan, lalu memimpin mereka menuju ke halaman belakang, bersiap untuk bermain catur go.
Mereka duduk mengelilingi meja. Daozhang memanggil pelayan untuk menata papan catur, lalu memintanya pula untuk merebus teh baru di tempat lain.
“Apakah Tuan Wu pandai bermain catur?” Daozhang memandang Wu Yanzhi, seolah merasakan bahwa ia pun memiliki minat yang mendalam terhadap permainan go.
“Junior ini baru belajar, kepandaianku bermain catur amat dangkal. Mana berani dibandingkan dengan Tuan Xue maupun Daozhang Jiuxiao, apalagi mempertontonkan kelemahan di depan kalian,” jawab Wu Yanzhi dengan nada tenang.
“Hmm, permainan go ini mudah dipelajari namun sukar untuk dikuasai. Tuan Xue adalah seorang ahli besar, layak disebut sebagai pemain kelas negara. Di Tang ini, tak banyak yang mampu menandinginya,” sahut Daozhang Jiuxiao sambil tersenyum.
Tersirat dalam ucapannya, bahwa dirinya pun memiliki kemampuan tinggi hingga bisa bermain seimbang dengan Tuan Xue. Makna di balik perkataan itu, tentu saja tak luput dari pemahaman Wu Yanzhi.
Tuan Xue mengangguk sembari berkata, “Aku tak layak disebut pemain kelas negara. Namun selama belasan tahun di Luoyang, kecuali bermain dengan Daozhang, aku hampir tak berminat bermain dengan orang lain.”
Keduanya pun mulai bertanding catur. Mula-mula, di keempat pojok papan, mereka meletakkan dua buah bidak hitam dan dua bidak putih secara bersilang. Ini disebut sebagai “zuo zi”, yang pada masa itu digunakan untuk mencegah peniruan langkah lawan. Dalam aturan go modern, ketentuan ini telah dihapus agar kreativitas tiap pemain lebih leluasa.
Seperti biasa, Daozhang Jiuxiao memegang bidak hitam dan melangkah pertama. Ia langsung menempatkan bidaknya pada titik tengah papan, tian yuan. Karena hitam selalu melangkah lebih dulu, umumnya orang yang merasa kemampuannya di bawah lawanlah yang memilih hitam.
Wu Yanzhi mengamati, cara bermain seperti ini sangat berbeda dengan go di masa mendatang, di mana biasanya pemain akan menguasai pojok dan sisi terlebih dahulu, sesuai pepatah “pojok emas, sisi perak, tengah ladang ilalang”.
Sembari bermain, Daozhang Jiuxiao bertanya, “Beberapa bulan ini Tuan Xue tak datang, ke manakah gerangan engkau pergi?”
“Sang Maharaja mengutusku ke Xijing, Chang’an, selama beberapa bulan, mengikuti Sutingtai menyelidiki kasus yang melibatkan Simama dari Yongzhou. Baru selesai beberapa hari lalu, maka aku segera kembali,” jawab Tuan Xue.
“Xijing adalah tempat berkumpulnya para cendekia, barangkali Tuan Xue di sana juga sempat berjumpa dengan ahli-ahli go?”
“Ah, aku sempat bermain beberapa kali dengan para ahli. Namun dibandingkan Daozhang, mereka masih jauh di bawah,” ujar Tuan Xue sambil menggeleng, tampak sungguh menyesal.
Wu Yanzhi memperhatikan dengan saksama. Keduanya melangkah cepat, dalam waktu satu setengah jam, satu putaran telah selesai.
Dari perhitungan wilayah, ternyata Tuan Xue menang empat “lu”.
Aturan go pada masa Tang berbeda dengan aturan go modern. Kemenangan dihitung berdasarkan “lu”, yakni jumlah ruang kosong yang dikuasai masing-masing pemain, namun setiap wilayah harus dikurangi dua “lu”, sebab agar sebuah wilayah hidup, ia wajib memiliki dua “mata”, yaitu titik kosong yang tak dapat diserang lawan.
Dua “mata” ini tidak dihitung dalam kemenangan, sehingga membuat aturan menjadi lebih adil.
Dengan aturan demikian, keunggulan pada pojok dan sisi papan pun berkurang.
Sebab sebesar apapun wilayah yang dikuasai, tetap harus dikurangi dua “lu”, yakni dua ruang kosong yang tidak dihitung.
Teori “pojok emas, sisi perak, tengah ladang ilalang” dalam catur go kuno tak berlaku mutlak. Justru, wilayah tengah papan menjadi lebih penting dibandingkan go modern, sehingga permainan menjadi lebih seimbang.
Tak terasa, waktu telah beranjak siang.
Daozhang Jiuxiao secara khusus mengundang Wu Yanzhi untuk makan siang bersama.
Saat itu, para pendeta Tao masih diperbolehkan makan daging. Di Biara Xuantian ini, kecuali pada hari-hari besar upacara, mereka tetap menghidangkan santapan daging setiap beberapa hari.
Kedatangan Tuan Xue membuat pihak biara tentu harus menyiapkan hidangan dan minuman terbaik. Namun, dua pengurus utama biara: Shangzuo dan Jianzai, kebetulan sedang tak berada di tempat. Inilah salah satu alasan Daozhang mengajak Wu Yanzhi menemani.
Daozhang Jiuxiao menatap hidangan yang telah disiapkan para pelayan, tersenyum puas.
Setengah ekor domba panggang dipotong menjadi dua mangkuk besar; dua ekor ayam hutan direbus bening dengan tambahan sedikit rempah—dang gui, huang qi—harumnya sungguh menggugah selera; di samping itu, sepiring besar daging asap perut babi, berwarna keemasan, menguar aroma menggoda.
Untuk santapan vegetarian, ada semangkuk besar teratai rebus, serta sepiring jahe muda yang diasinkan dan dimaniskan. Jahe muda ini telah diawetkan sejak tahun sebelumnya, disimpan dalam gentong besar—merupakan salah satu hidangan favorit Tuan Xue!
“Wah, Daozhang benar-benar menyiapkan jamuan yang begitu mewah!” puji Tuan Xue, tetap menjaga kesopanan.
Sebagai pejabat tinggi berpangkat lima, ia telah terbiasa menghadiri pesta besar di istana, sehingga hidangan seperti ini tak lagi membuatnya terkesan. Namun, dapat bermain go, bercakap-cakap, dan minum bersama Daozhang Jiuxiao—itulah kenikmatan sejati di dunia ini!
“Ah, biara kami sederhana, tiada hidangan layak untuk menyambut Tuan Xue. Mohon maklum! Tuan Xue, hari ini ingin minum arak apa?” tanya Daozhang.
“Seperti biasa saja, arak Songlao buatan biara ini sungguh lezat, biarlah kita minum itu. Beberapa guci yang kubawa pulang tempo hari, habis diminum bersama para sahabat tua.”
“Wah, Tuan Xue, kalau sudah habis kenapa tak bilang? Di sini masih ada belasan guci besar, nanti kuberikan beberapa untuk dibawa pulang!” katanya, lalu memanggil pelayan untuk menyajikan arak.
“Aduh, mana enak begitu! Aku sudah membawa pulang tiga kali.”
“Tuan Xue, kita sudah bersahabat lebih dari dua puluh tahun, mengapa harus sungkan? Dahulu, ketika Tuan Xue datang ke ibu kota mengikuti ujian negara, juga tinggal di biara ini, sama seperti Wu Lang sekarang!”
“Benar juga! Hidup ini sekejap belaka, bagai kuda putih melintas celah, tak terasa telah dua puluh tahun berlalu. Selama bertugas di Jian’nan dan Hedong, aku mengalami banyak pahit getir. Bahkan, tak sempat bertemu ayah-bunda untuk terakhir kalinya.
Untunglah tujuh delapan tahun silam, berkat bantuan Tuan Di, aku bisa masuk ke ibu kota dan diangkat menjadi pengawas yushi. Kini, dapat mencapai jabatan ini, aku sudah merasa cukup. Sayang, Tuan Di kini diasingkan menjadi kepala daerah di tempat jauh, entah kapan ia akan kembali ke ibu kota.”
Tuan Xue menggeleng, menarik napas panjang.
“Tuan Xue, kudengar Baginda masih sangat menyukai Tuan Di. Wu Sansi berkali-kali ingin membunuh Tuan Di, tapi selalu ditolak. Tampaknya ia masih berpeluang kembali ke Shendu dan menjadi perdana menteri,” ujar Daozhang.
Pada saat itu, sebuah guci arak telah dihidangkan, dan Wu Yanzhi dengan sigap mengambil alih tugas menuangkan arak.
Saat penutup guci dibuka, semerbak aroma pinus langsung menyeruak! Berdasarkan ingatan Wu Yanzhi, arak Songlao ini juga disebut Songlaochun, dibuat dari campuran getah pinus, serbuk sari, daun, dan batang pinus, lalu diramu ke dalam arak beras.
Tentu, tak semua bahan harus dicampurkan, tergantung selera peminumnya—ada pula yang hanya menambah serbuk sari pinus, maka disebut arak Songhua.
Cawan arak dari timah mampu menampung tiga liang; pada masa itu, enam belas liang setara dengan satu jin.
Wu Yanzhi menggunakan kendi bambu untuk menuangkan arak pada kedua sahabat itu.
Maka, mereka mulai bersenda gurau, menikmati hidangan dan minuman sepuasnya!
Biara Tao pada masa Tang sangat makmur, setiap pendeta memiliki tiga puluh mu lahan, selain itu masih ada tanah hibah kerajaan ratusan mu. Selain itu, mereka juga menjalankan usaha rentenir dan perdagangan biasa. Sebagian besar biara bahkan memiliki puluhan hingga ratusan rumah tangga yang bertugas membersihkan lingkungan dan berjaga.
Banyak kepala biara dan para pengurus utama pun bergelar bangsawan, sehingga mendapat tambahan lahan hibah. Dalam kenyataannya, biara adalah sebuah tanah pertanian besar, kepala biara dan para pengurus utamanya adalah tuan tanah kaya raya!
Obrolan pun sampai pada pembahasan Tian Shu yang baru saja rampung dibangun.
“Baginda memang tak sayang menghamburkan uang. Akhir tahun lalu, Aula Mingtang yang menelan biaya ratusan ribu guan, dibakar habis oleh biksu Xue Huaiyi. Kini, Baginda menugaskan Nayan (Shizhong) Yao untuk mengawasi pembangunan ulang. Kurasa, kalau tak ada dua ratus ribu guan, tak mungkin selesai!” kata Tuan Xue sambil menggelengkan kepala.
“Biksu Xue itu memang terlalu iri hati, pantas saja mati dipukuli secara keji. Hanya karena Baginda sedikit akrab dengan tabib istana Shen Nanqiu, ia langsung terbakar cemburu.
Coba pikir, bukankah semua kaisar punya tiga istana dan enam kediaman? Maharani pun seorang kaisar, punya beberapa lelaki pendamping itu wajar—apa yang perlu dipersoalkan?” ujar Daozhang Jiuxiao.
“Benar, Daozhang! Aku dan Tuan Di pun sependapat, Baginda mencari beberapa kekasih lelaki, itu sudah kodrat alam, kita tak perlu banyak bicara, bahkan tak seharusnya ikut campur.
Selama mereka tak mencampuri urusan negara, apa salahnya? Namun, belakangan, Baginda menyuruh Wu Sansi mengatur ulang peleburan Sembilan Dandang. Entah berapa banyak saudagar yang akan menjadi korban kali ini!”
“Oh? Sembilan Dandang itu mau dibuat sebesar apa?”
“Melihat watak Baginda, mana mungkin ukurannya kecil? Paling tidak harus dua puluh sampai tiga puluh ribu jin tembaga agar bisa jadi. Untuk membangun patung dua belas shio di Mingtang saja menghabiskan empat puluh ribu jin tembaga, Tian Shu pun lebih dari lima puluh ribu jin tembaga.
Waktu itu sampai koin tembaga pun dilebur puluhan ribu guan, barulah cukup untuk Tian Shu. Sekarang, entah dari mana akan didapatkan tembaga untuk Sembilan Dandang itu. Karena itu, Baginda memerintahkan Yao Xianggong mengeluarkan maklumat—seluruh daerah penghasil tembaga di negeri ini harus meningkatkan produksi tembaga, besi, dan timah. Siapa pun yang mampu meningkatkan produksi logam, akan diangkat dan dipromosikan!”
Bakat pengolahan tembaga dan besi akan diangkat dan dipromosikan? Mendengar itu, Wu Yanzhi tak kuasa menahan debar di hatinya, rona bahagia pun segera merekah di wajahnya! Siapa sangka, ada peluang seperti ini?