Bab 4: Hadiah Tambahan
Teriakan marah Yu Zhihuai itu membuat bukan hanya para satpam hotel, tetapi juga sekelompok besar preman peliharaan keluarga Yu menyerbu, mengepung Lin Xiao dan Zhang Hanshan. Dengan wajah dingin, ia melangkah maju dan berkata, "Aku memberimu kesempatan. Tambah uang hadiah pernikahan jadi enam puluh enam ribu, lalu berlutut dan minta maaf. Maka aku tidak akan menuntut lebih jauh."
Ucapan itu membuat Lin Xiao dan Zhang Hanshan sama-sama tersenyum. Siapakah Lin Xiao? Ketua Paviliun Naga Suci! Nama itu, di seluruh dunia, adalah sosok yang sangat disegani. Namun kini, seorang pria kelas tiga berani memintanya menambah uang hadiah pernikahan, bahkan berlutut dan meminta maaf? Rasanya seperti seekor belalang menantang seekor gajah.
Lin Xiao menatapnya penuh makna, "Kalau aku menolak?"
"Anak ini gila? Berani mempermalukan Tuan Muda Yu seperti itu?"
"Masuk dengan berdiri, keluar dengan ditandu. Itu pasti nasibnya!" Para tamu di sekitar mencibir, menuding Lin Xiao.
Yu Zhihuai mendengus dingin, "Kalau begitu aku tidak keberatan membiarkan anak buahku mematahkan kakimu, agar kau tahu bagaimana bersikap!"
Lin Xiao tak menjawab. Ia melangkah perlahan mendekati Yu Zhihuai. Preman dan satpam yang sudah siap pun langsung menyerbu dengan tinju teracung.
Zhang Hanshan yang di sampingnya mendengus dingin, lalu melesat ke depan Lin Xiao. Siapa pun yang berani maju, langsung dipatahkan tangannya dan tergeletak mengerang di lantai.
Bagi Lin Xiao, para preman itu bagai tak kasat mata. Ia melangkah, satu demi satu, hingga akhirnya berdiri di hadapan Yu Zhihuai. Para preman dan satpam sudah tak berani bergerak lagi; mereka terpaku membentuk garis lurus, mundur ke belakang Yu Zhihuai.
"Gila, orang ini siapa? Kok sehebat itu?"
"Orang begini, di militer pasti jadi raja tentara! Kali ini, Tuan Muda Yu pasti sial!" Orang-orang di sekitar berbisik, wajah Yu Zhihuai makin pucat.
Dia hanya anak manja kelas rendah, belum pernah melihat sosok pembantai seperti Zhang Hanshan. Kakinya gemetar, pinggangnya membungkuk seperti burung unta.
Namun Lin Xiao tak mengacuhkannya. Ia justru menarik paksa Sun Qi yang bersembunyi di belakang Yu Zhihuai.
Suaranya dingin, penuh ancaman yang tak terbantahkan, "Soal adikku, beri aku penjelasan!"
"Suamiku! Tolong aku..." Sun Qi menjerit histeris ke arah Yu Zhihuai.
Tetapi Yu Zhihuai tak berani berkata apa-apa, menunduk memandang ujung sepatunya, selemah sampah.
Suara Lin Xiao kini terdengar seperti vonis kematian, membuat Sun Qi tertegun, "Suamimu tak akan bisa menyelamatkanmu!"
Kedua kakinya lemas, ia jatuh terduduk. Perasaan putus asa merasuk dalam hatinya. Pernahkah ia membayangkan saat Jiang Heng dulu melompat dari gedung, perasaan itu seribu kali lebih menyakitkan daripada yang ia rasakan sekarang.
"Itu adikmu yang mengejarku! Dia yang memberi uang padaku!"
"Itu bukan salahku! Semuanya atas kehendaknya sendiri!" Sun Qi duduk di lantai sambil menangis histeris, gaun pengantinnya yang putih kini kotor dan kusut.
Mendengar pembelaannya, Lin Xiao hanya tertawa. Ia tertawa karena marah. Wanita ini, sampai saat ini pun, masih pandai bersilat lidah, penuh tipu daya.
Lin Xiao mengeluarkan ponsel, membuka rekaman suara.
Rekaman itu ia dapat setelah memperbaiki ponsel Jiang Heng, berisi percakapan Sun Qi dan Jiang Heng.
"Xiao Heng, keluargaku minta tiga puluh ribu hadiah pernikahan, baru izinkan aku menikah denganmu..."
"Memang agak banyak! Tapi ini demi masa depan kita..."
"Aku rekomendasikan sebuah platform, pinjamlah dulu, cicil saja. Nanti aku jadi istrimu, aku akan bantu membayar..."
Suara Sun Qi mengalun dari ponsel.
"Pantas saja orang itu datang menuntut, rupanya si wanita ini menipu pernikahan demi uang!"
"Tuan Muda Yu ternyata dapat perempuan murahan seperti ini, malu-maluin keluarga Yu!" Suara-suara tajam itu menusuk wajah Yu Zhihuai, hingga ia melupakan rasa takut dan menatap Sun Qi dengan amarah.
"Katamu kalian hanya teman? Perempuan sialan, kau berani menipuku?"
Sun Qi buru-buru merangkak ke kaki Yu Zhihuai, "Rekaman itu palsu! Suamiku, percayalah padaku!"
"Basi! Aku percaya apa! Dasar perempuan sialan, tak kerja kok bisa punya mobil dan jam mewah."
"Kau bilang uangnya dari saham? Ini saham yang kau maksud? Huh!" Yu Zhihuai menendang Sun Qi hingga terjatuh.
Lin Xiao menatap mereka dan berkata sinis, "Jangan buru-buru! Ini belum selesai!"
Ia membuka rekaman kedua.
"Jiang Heng, kubilang padamu! Aku sekarang sudah punya pacar! Jangan ganggu aku lagi!"
"Apa? Hadiah pernikahan? Kapan aku ambil hadiah pernikahanmu?"
"Itu uang yang kau keluarkan karena mengejarku, untuk menyenangkan hatiku, jadi penjilat, itu semua kemauanmu sendiri, tahu?!"
"Lagi pula, aku bukan tak memberimu apa-apa. Kau ke luar sana juga harus bayar, kan?"
Rekaman itu membuat seisi gedung pernikahan heboh. Semua memandang Sun Qi, dalam benak mereka terlintas nama seekor binatang betina yang bertelur.
Wajah Yu Zhihuai pun berubah hijau, rambut di kepalanya seolah ikut menghijau.
"Aku habiskan banyak uang, beli rumah semewah itu, cuma untuk menikahi perempuan seperti kau?"
"Ceraikan! Keluar dari rumahku tanpa sepeser pun! Di rumahku, tak ada uang untukmu!"
Yu Zhihuai merobek bunga pengantin dari jasnya, lalu pergi.
Namun, meski bercerai, apa artinya? Mulai saat ini, keluarga Yu akan jadi bahan tertawaan di seluruh Haizhou. Yu Zhihuai pun akan jadi olok-olok di kalangan anak orang kaya. Bermain elang setiap hari, tapi akhirnya matanya dipatuk oleh elang itu sendiri.
Seiring kepergian Yu Zhihuai, para tamu pun meninggalkan gedung. Yang tersisa hanya Sun Qi, Lin Xiao, dan Zhang Hanshan.
Sun Qi menatap Lin Xiao dengan kosong, "Sekarang kau puas?"
Lin Xiao menggeleng dingin, "Belum. Aku ingin kau berlutut di depan makam adikku, bertobat seratus hari. Kalau tidak, aku akan membuatmu hilang tanpa jejak!"
Mata Sun Qi memerah, ia menatap Lin Xiao penuh dendam.
Ia tahu, sebentar lagi kisah hari ini akan menyebar ke seluruh Haizhou melalui berita gosip. Ia masih punya sedikit uang, cukup untuk kabur ke kota lain dan mengulangi tipu dayanya pada korban baru.
Namun Lin Xiao memaksanya berlutut di makam selama seratus hari, cukup memberi waktu gosip itu berkembang dan menyebar ke seluruh negeri.
Seratus hari, urusan ini akan jadi buah bibir nasional. Ia pun akan jadi musuh semua pria kaya, seumur hidupnya sulit mendapat suami kaya.
Itu artinya ia kehilangan masa depan, jalan rejekinya tertutup. Lebih pedih dari kematian.
Dengan rambut terurai, seperti orang berduka, ia menatap Lin Xiao, "Kenapa kau menyiksaku seperti ini?"
"Kenapa kau mencelakai adikku?" Lin Xiao balik bertanya.
Sun Qi terdiam, tak tahu harus menjawab apa.
"Saat kau mencelakainya, nasibmu sudah ditentukan!"
Setelah berkata demikian, Lin Xiao berbalik pergi, meninggalkan Sun Qi duduk di aula pernikahan yang kosong.
Saat ia melangkah keluar, satu kalimat melayang, "Ingat! Seratus hari! Kurang sehari pun tak bisa!"