Bab 90: Tak Ada Pria yang Benar-Benar Baik
Ia benar-benar tidak mengerti mengapa sepupunya tiba-tiba datang ke Haizhou.
“Benar, Yani yang akan datang. Dia ingin mencari pekerjaan di Haizhou, jadi akan menginap di rumah kita beberapa hari,” kata Zhang Qiuyun.
Setelah berkata begitu, ia menatap Lin Xiao dengan tajam. “Yani naik pesawat besok pagi sekitar jam sembilan. Ingat, jangan sampai terlambat.”
“Aku ingatkan padamu, dia tidak semudah kami untuk diajak bicara. Kalau kau datang terlambat dan membuatnya kesal, lalu dia memukulmu, jangan salahkan aku tidak memperingatkanmu sebelumnya.”
“Oh, aku mengerti,” Lin Xiao hanya bisa mengangguk.
Jiang Rou sebenarnya ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya ia hanya membawa Lin Xiao naik ke atas.
Keesokan paginya tepat pukul sembilan, Lin Xiao sudah tiba di bandara. Dalam hatinya ia diam-diam mengeluh, sebab ia paling tidak suka urusan menjemput orang seperti ini.
Pukul sembilan tiga puluh, para penumpang mulai keluar satu per satu. Tak lama kemudian, Lin Xiao melihat seorang perempuan berusia sekitar dua puluh tiga atau dua puluh empat tahun, berpenampilan sangat mencolok dan seksi, berjalan keluar.
Atasan wanita itu hanya sehelai kaus putih tipis, dan bawahannya celana pendek jins super mini. Setiap langkahnya mengundang banyak pasang mata. Melihatnya, Lin Xiao langsung tahu bahwa inilah Yani.
Tanpa banyak bicara, Lin Xiao segera mendekatinya. “Yani, aku Lin Xiao. Bibimu memintaku menjemputmu.”
“Lin Xiao?” Yani meneliti Lin Xiao dari atas ke bawah, matanya memancarkan rasa jijik. “Jadi kau suami kakakku yang tak berguna itu?”
Lin Xiao mengernyit, tapi belum sempat berbicara—
Tiba-tiba, Yani sudah melempar koper ke tangannya.
“Kalau kau sudah datang, angkat koperku,” katanya tanpa basa-basi. “Kau bawa mobil atau naik taksi ke sini?”
“Dan, jangan terlalu dekat denganku. Aku tidak mau tertular aura miskin dan pengecut darimu.”
Sembari berkata demikian, Yani mengambil sebungkus rokok dari tasnya, menarik sebatang dan menyelipkannya di bibir, lalu melambaikan jarinya pada Lin Xiao.
Namun Lin Xiao sama sekali tidak memedulikannya, ia langsung menarik koper itu dan berjalan maju.
Ia sudah menduga perempuan ini sulit dilayani, tapi tidak menyangka akan sesulit ini—baru bertemu saja sudah langsung menghina dirinya.
Jika bukan karena Yani sepupu Jiang Rou, Lin Xiao pasti sudah pergi sejak tadi.
“Hei, apa maksudmu ini?” seru Yani, tertinggal beberapa langkah. “Kau tidak dengar aku bicara? Tidak lihat gerak-gerikku? Tidak paham situasi?”
Yani cepat-cepat mengejar Lin Xiao, wajahnya penuh kekesalan.
Tetapi Lin Xiao tetap tidak menghiraukannya, terus saja berjalan ke depan. Wanita seperti ini tidak boleh terlalu dimanjakan, pikirnya.
Melihat sikap Lin Xiao, Yani makin murka.
“Dasar tak berguna, apa-apaan sikapmu itu? Kau tahu siapa aku? Tahu dulu aku melakukan apa?” bentaknya. “Kalau kau berani kurang ajar lagi, jangan salahkan aku menamparmu.”
Lin Xiao berhenti. “Yani, aku menjemputmu demi kakakmu. Kalau kau tidak mau, silakan naik taksi sendiri.”
“Aku ke sini untuk menjemput, bukan untuk dihina. Kalau kau tetap begini, aku tidak akan layani lagi.”
“Sungguh tidak sopan,” tambahnya.
Yani makin kesal mendengar kata-kata Lin Xiao.
Ia memang tidak kenal siapa-siapa di Haizhou. Kalau Lin Xiao benar-benar meninggalkannya di sini, repot juga. Tapi ia tetap merasa tidak puas.
Biasanya, setiap pria yang bertemu dengannya selalu berusaha menyenangkan hatinya, takut membuatnya marah. Tapi kenapa kakak ipar yang tak berguna ini malah begitu?
Jangan-jangan, ia minder karena aku terlalu cantik?
Mungkin saja!
Lin Xiao sendiri tidak tahu apa yang bersarang di benak Yani. Kini ia sudah tiba di depan mobil Geely-nya.
Saat melihat mobil Lin Xiao, Yani kembali mengerutkan kening.
Mobil buruk begini, mana nyaman diduduki?
Lin Xiao tidak memedulikannya, memasukkan koper ke bagasi lalu membuka pintu hendak masuk.
Namun, belum sempat ia masuk, terdengar suara rem. Sebuah Porsche merah menyala berhenti tepat di depan mereka.
Jendela mobil terbuka, memperlihatkan wajah seorang pemuda yang agak pucat.
“Halo, cantik. Mau aku antar?” katanya. “Kau secantik ini, masa naik mobil jelek begitu? Duduk di mobil buruk itu sama saja menghina kecantikanmu.”
Pemuda itu tampak berusia dua puluh lima atau dua puluh enam tahun, ekspresinya penuh canda. Sambil berbicara, matanya liar meneliti tubuh Yani yang menggoda.
Niatnya jelas, siapapun bisa menebak.
Yani sama sekali tidak terganggu, malah tersenyum manis. “Boleh, terima kasih, Mas Ganteng.”
Dia berjalan ke arah Lin Xiao, kembali menampilkan ekspresi jumawa.
“Aku tidak mau naik mobil jelekmu. Aku akan naik Porsche saja. Ingat nomor platnya, lalu ikuti dari belakang. Kau harus menjagaku, mengerti?”
“Ingat, kalau aku sampai tertimpa sesuatu, kau juga akan celaka.”
Selesai bicara, ia langsung membuka pintu Porsche dan masuk ke dalam.
Lin Xiao sampai ternganga. Perempuan ini...
“Hei, kampungan, sampai jumpa!” seru pemuda itu dengan penuh kemenangan. Ia mengacungkan jari tengah pada Lin Xiao, kemudian menekan pedal gas, dan Porsche itu melesat pergi.
Menggoda perempuan orang lain adalah kegemarannya. Setiap kali berhasil, ia selalu merasa puas.
Lin Xiao yang miskin itu, meski punya sepupu secantik Yani, toh tetap saja cukup dengan satu rayuan, perempuannya sudah naik ke mobilnya.
Beginilah kerasnya dunia.
Lin Xiao hanya bisa menghela napas, lalu menyalakan mobil dan mengikuti dari belakang.
“Cantik, umurmu berapa? Yang tadi itu pacarmu?” tanya pemuda itu sambil menyetir dan melirik Yani.
Yani menggeleng. “Bukan. Mana mungkin aku suka dia? Dia cuma kakak iparku, hanya menjemputku saja.”
Sambil berbicara, ia kembali menyelipkan rokok di bibir. Melihat itu, si pemuda buru-buru mengeluarkan korek api dan menyalakan rokoknya.
Yani sangat puas. Anak muda ini tahu cara memperlakukan orang.
“Namaku Dong Feiqiang. Kalau boleh tahu, siapa namamu, cantik? Bagaimana kalau kita makan dulu, lalu aku antar pulang?” kata pemuda itu lagi.
“Baik, aku Yani. Terima kasih, Bang Qiang,” jawab Yani, tersenyum puas.
Dong Feiqiang makin senang. Sepertinya gadis ini takkan bisa lepas dari genggamannya.
Lebih dari satu jam kemudian, mereka sampai di Shangri-La.
Baru saja turun dari mobil, Lin Xiao dengan mobil Geely-nya sudah tiba.
Melihat itu, Dong Feiqiang langsung kesal. Mobil buruk begitu bisa juga melaju cepat?
Yani mengerutkan kening. “Aku mau makan dengan Bang Qiang. Kau pulang saja.”
Dong Feiqiang pun menimpali dengan santai, “Kampungan, Nona Yani benar. Kau pulang saja, tenang saja, adik iparmu akan aku jaga baik-baik. Selesai makan, pasti aku antar pulang.”
Lin Xiao tak tahan lagi, mengerutkan alis. “Yani, kau baru tiba di Haizhou, sebaiknya ikut aku pulang dulu. Sekarang ini tidak aman, banyak orang jahat. Kau perempuan sendiri, hati-hati jangan sampai tertipu.”
“Sialan, siapa yang kau bilang penipu? Siapa yang jahat?” Dong Feiqiang marah. Ini sudah keterlaluan, merusak suasana saja.
Wajah Yani pun menjadi dingin. “Tak berguna, kau bicara sama siapa? Kenapa cara bicaramu seperti itu, kau tidak tahu sopan santun?”
“Aku sudah dua puluh tiga tahun, bukan anak kecil lagi. Aku berhak berteman dengan siapa saja. Sekarang juga enyah dari sini, hilang dari hadapanku!”
Wajah Lin Xiao pun mengeras. “Yani, aku lakukan ini demi kebaikanmu. Jangan sampai kau menyesal karena tak mau mendengar. Kalau sampai kau celaka, jangan salahkan aku tak memperingatkanmu.”
Dong Feiqiang sudah tidak tahan lagi. “Sialan, kau mau sampai kapan ngoceh? Kalau kau masih berani berisik, aku hajar juga kau!”
Ia menunjuk Lin Xiao. “Kau sudah punya istri, jangan coba-coba goda adik ipar sendiri! Jangan kira aku tak tahu apa yang kau pikirkan. Orang macam kau sudah sering aku temui.”
Dong Feiqiang menilai orang lain seperti dirinya sendiri. Karena ia sendiri tidak benar, ia pun menganggap Lin Xiao juga begitu.
Beberapa orang di sekitar mendengar keributan itu, segera mengerumuni mereka dan mulai berbisik-bisik sambil menunjuk-nunjuk ke arah Lin Xiao.
“Dasar tak tahu malu, adik ipar sendiri pun digoda. Memang dunia sudah rusak!”
“Sudah punya istri, masih saja melirik perempuan lain. Dasar laki-laki tak tahu diri.”
“Dia kan sudah punya pacar, apalagi istrinya juga sudah ada. Dasar pria brengsek.”
Yani pun menggigil, bulu kuduknya berdiri. Ia mundur beberapa langkah, lalu menunjuk hidung Lin Xiao dengan penuh rasa jijik.
“Bagus, kau benar-benar tak berguna. Pantas saja kau ngotot terus menempeliku, ternyata ada maunya juga.”
“Kau jangan mimpi, aku bukan perempuan yang bisa kau dapatkan. Aku tidak sudi, kau bahkan tak boleh memikirkannya. Kalau berani, aku akan mengadu pada kakakku.”
Lin Xiao mendengar itu, hatinya penuh amarah.
Apa-apaan ini? Apakah ia orang seperti itu?
“Yani, aku sudah memperingatkan. Terserah kau mau dengar atau tidak. Jagalah dirimu baik-baik.”
Selesai menatap Yani, Lin Xiao menatap Dong Feiqiang. “Dan kau, sebaiknya benar-benar hanya mengajak makan. Kalau sampai macam-macam, jangan salahkan aku bertindak keras.”
Lin Xiao selesai bicara, tak mau lagi berurusan dengan mereka, langsung berbalik pergi.
“Sialan, siapa kau berani mengancamku? Cari mati ya?” Dong Feiqiang naik pitam.
Yani ikut berteriak marah, “Tak berguna, siapa yang harus hati-hati? Justru kau yang harus hati-hati! Kalau bukan di Haizhou, kalau di kotaku, sudah kubuat kau menyesal!”
Lin Xiao tidak memperdulikan mereka lagi, langsung masuk ke mobil dan menghubungi Jiang Rou.
Dengan kejadian seperti ini, mau tidak mau ia harus memberitahu Jiang Rou. Kalau sampai Yani benar-benar tertimpa sesuatu, bagaimana nanti?
Mendengar penjelasan Lin Xiao, Jiang Rou pun terdiam sejenak, lalu berkata, “Lin Xiao, maaf, aku jadi merepotkanmu.”
“Kau jangan pergi dulu, tetap di sekitar Shangri-La. Yani memang sejak kecil keras kepala, tapi dia masih muda, dan bagaimanapun dia sepupuku. Aku tak ingin terjadi apa-apa padanya.”
Lin Xiao merasa makin tertekan. Umur dua puluh tiga tahun, dibilang masih kecil? Lagi pula, ia benar-benar tak mau lagi melihat wajah Yani yang menyebalkan itu.
Namun demi Jiang Rou, ia hanya bisa mengangguk. “Baiklah.”
Lalu, Lin Xiao pun masuk ke Shangri-La.
“Kampungan, kenapa kau ikut masuk lagi?” seru Yani.
“Tak berguna, bukankah sudah kubilang pergi saja? Untuk apa masuk? Sudah kubilang, jangan mimpi mendapatkan aku, apa kau tidak bisa mengerti bahasa manusia?”
Dong Feiqiang dan Yani masih berada di lobi, belum naik ke lantai atas, dan melihat Lin Xiao masuk, mereka langsung berteriak lagi.
“Kau kira aku mau ke sini? Kalau bukan kakakmu yang memintaku mengawasi, aku malas peduli,” sahut Lin Xiao dengan nada datar, bahkan sudah malas marah.
“Dasar tak tahu malu,” balas Yani dengan penuh jijik.