Bab 15: Penggerebekan Besar (1)
Halaman (1/3)
Masa Perang Melawan Jepang
Saat membuka mata untuk kedua kalinya, Luo Li menyadari bahwa dirinya berada di dalam sebuah ruang bawah tanah yang gelap. Di atas kepalanya tertumpuk lapisan batang jagung yang tebal.
Pada saat yang sama, berbagai informasi dengan cepat mengalir ke dalam pikirannya.
Tahun yang sedang dijalaninya adalah 1941. Pada masa itu, pasukan Jepang mulai melancarkan penyisiran besar-besaran. Desa Tuntun, tempatnya berada, juga menjadi sasaran penyisiran mereka.
Karena pasukan Jepang muncul secara tiba-tiba, penduduk desa tidak sempat melarikan diri dan hanya bisa bersembunyi di berbagai tempat. Orang tua pemilik tubuh ini menyembunyikannya di ruang bawah tanah rumah, sementara mereka sendiri bersembunyi di tempat lain.
Setelah menerima seluruh informasi, sebuah baris tulisan muncul di depan matanya.
[Ujian Lencana: Selamatkan lebih banyak orang]
Luo Li mengembuskan napas. Detik berikutnya, perutnya mulai keroncongan tanpa henti.
Luo Li mengusap perutnya dan menenangkan diri. “Tidak apa-apa, sebentar lagi kita makan.”
Tatapannya tertuju pada batang-batang jagung di atas. Dengan bantuan alat yang ada di dekat tangannya, ia mengerahkan tenaga cukup lama sebelum akhirnya berhasil menyingkirkan batang-batang itu dan membuat celah yang cukup untuk dilewati.
Ia menjejakkan kedua kakinya, mencengkeram kayu penyangga di kedua sisi, lalu mendorong tubuhnya ke atas. Setelah itu, ia merangkak naik ke tumpukan batang jagung.
Setelah menyingkirkan penghalang paling atas, cahaya matahari menembus melalui celah di bagian atas.
Luo Li mencoba mengangkat penutup di atasnya dengan kedua tangan. Ia mengangkatnya beberapa kali, tetapi tampaknya ada sesuatu yang menindihnya.
Dengan napas terengah-engah, Luo Li terpaksa mengubah cara. Ia mulai menggeser penutup itu sedikit demi sedikit.
Untungnya, sisi penutup yang lain bisa digerakkan. Meski terasa berat, benda itu tetap dapat disingkirkan.
Setelah dengan susah payah memindahkan seperlima bagian penutup, tiba-tiba sebuah tangan menjuntai dari tepinya.
Perubahan mendadak itu membuat Luo Li tersentak. Dengan bantuan cahaya matahari, ia melihat lengan yang tiba-tiba muncul itu dipenuhi lebam dan luka yang saling bersilang.
Firasa buruk muncul di hati Luo Li. Dengan mengerahkan seluruh tenaganya, ia mendorong penutup itu hingga terbuka cukup lebar untuk dilalui satu orang.
Begitu merangkak keluar dari ruang bawah tanah, Luo Li langsung terperangah oleh pemandangan di hadapannya.
Di samping ruang bawah tanah terbaring seorang perempuan yang tubuhnya penuh luka. Beberapa dahan tertancap di tubuhnya, batu-batu dijejalkan ke dalam mulutnya, dan kedua matanya terbelalak. Seluruh wajahnya dipenuhi noda darah yang telah mengering.
Tidak jauh dari sana, seorang laki-laki terbaring dengan separuh kepalanya telah hancur remuk.
Luo Li merasakan nyeri menusuk di dadanya. Detik berikutnya, tubuhnya bergerak tanpa kendali dan menerjang perempuan di sampingnya.
“Ibu.”
Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya mengalir dari sudut matanya.
Sambil memeluk perempuan di hadapannya, ia menatap laki-laki yang terbaring tidak jauh dari sana dan memanggil dengan suara pilu, “Ayah.”
Halaman (2/3)
Itulah pertama kalinya Luo Li merasa tidak mampu mengendalikan tubuh ini. Seluruh tubuhnya menggigil hebat. Ia tahu betul, rasa sakit yang dirasakannya berasal dari kedalaman jiwanya—kesedihan yang begitu dalam hingga terasa menghancurkan.
Entah berapa lama waktu berlalu sebelum Luo Li akhirnya kembali menguasai tubuhnya.
Rasa sakit yang mencekik terus menyerangnya tanpa henti. Luo Li mengatupkan gigi, lalu melepaskan mantel berlapis yang dikenakannya dan menyelimutkannya pada tubuh perempuan itu.
Menahan kesedihan di dalam hati, ia mencabut satu demi satu dahan yang tertancap di tubuh perempuan tersebut dengan kedua tangan yang gemetar. Setelah itu, ia mengeluarkan batu-batu dari mulutnya satu per satu.
Setelah semuanya selesai, Luo Li menutup mata perempuan itu dengan tangannya dan membantunya memejamkan mata untuk selamanya.
Ia menatap laki-laki yang juga memiliki dahan tertancap di tubuhnya. Sambil mengatupkan gigi, Luo Li berdiri, meski kedua kakinya telah gemetar tanpa henti.
Ia berjalan ke hadapan laki-laki itu, lalu lututnya melemas dan ia berlutut.
Kedua tangannya mengepal erat, kemudian dihantamkannya ke tanah. Dengan sisa kekuatan yang dimiliki, ia mencabut dahan-dahan dari tubuh laki-laki itu satu demi satu.
Saat melihat separuh kepalanya yang telah hancur menjadi serpihan, Luo Li merasa kepalanya seakan pecah karena sakit.
Berbagai uraian dalam buku-buku sejarah bermunculan satu per satu di benaknya.
Setelah menenangkan diri cukup lama, Luo Li perlahan bangkit. Dari dalam rumah, ia menemukan dua lembar tikar jerami dan beberapa pakaian. Ia memakaikan pakaian itu kepada perempuan tersebut, kemudian menyelimuti mereka masing-masing dengan tikar jerami.
Setelah semuanya selesai, matahari senja pun perlahan tenggelam.
Begitu keluar dari halaman, Luo Li baru menyadari seperti apa keadaan di sekelilingnya.
Seluruh desa telah dihantam gempuran senjata. Rumah-rumah yang porak-poranda menghitam karena asap dan kobaran api. Sepanjang perjalanan, yang terlihat hanyalah potongan-potongan tubuh dan anggota badan yang berserakan. Darah telah mewarnai tanah menjadi merah.
Ketika sampai di panggung pertunjukan yang paling disukai penduduk desa, Luo Li tidak mampu menahan rasa mual. Di sana terbujur mayat-mayat yang seolah menyatu menjadi satu hamparan; beberapa di antaranya bahkan separuh tubuhnya hangus terbakar.
Semakin mendekat, bau amis darah semakin pekat.
Luo Li akhirnya tidak sanggup bertahan dan jatuh terduduk di tanah.
“Binatang. Mereka semua binatang.” Kedua mata Luo Li memerah, dan untuk waktu yang lama ia tidak mampu bangkit.
Pada saat itulah terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari belakang.
Luo Li menoleh dan hendak melihat siapa yang datang. Namun, pada saat yang sama, tubuhnya tiba-tiba kehilangan tenaga dan ia pun jatuh.
Ketika sadar kembali, Luo Li hanya melihat hamparan putih di hadapannya. Ia mengedipkan mata kuat-kuat. Perlahan, penglihatannya pulih dan ia akhirnya dapat melihat tempat dirinya berada.
Benar saja, dalam setiap ujian, ia selalu mengalami adegan pingsan yang sama.
“Kau akhirnya sadar.”
Mengikuti arah suara itu, Luo Li melihat orang di hadapannya. Matanya langsung membelalak. Bukankah itu Cui Cui? Bagaimana mungkin ia juga muncul dalam ujian ini?
“Jangan takut. Kami adalah Tentara Rute Kedelapan. Kami tidak akan menyakitimu.”
Halaman (3/3)
Cui Cui menenangkan Luo Li dengan lembut. Pasukan Jepang telah membantai seluruh penduduk desa mereka, dan hanya beberapa orang yang masih hidup.
Ketika melihat keadaan Desa Tuntun yang mengenaskan, Cui Cui membutuhkan waktu lama untuk memulihkan diri. Sementara gadis di hadapannya benar-benar mengalami semua itu. Bagaimana mungkin ia tidak merasa iba?
Luo Li baru saja hendak duduk, tetapi seluruh tubuhnya tiba-tiba terasa seperti ditusuk-tusuk.
“Aduh.”
Cui Cui segera menopang tubuh Luo Li. “Jangan bergerak sembarangan. Tubuhmu kehilangan banyak tenaga, jadi tidak akan mudah pulih. Istirahatlah dan pulihkan tubuhmu terlebih dahulu. Mengenai hal-hal lain, nanti kita bicarakan.”
“Ini tempat apa?” Baru membuka mulut, Luo Li menyadari bahwa tenggorokannya serak parah.
“Ini Gunung Qibo. Tenang saja. Selama kami ada di sini, kalian akan baik-baik saja.”
Gunung Qibo? Mengapa tempatnya di sini?
Jangan-jangan ujian lencana menyesuaikan diri dengan tempat seseorang berada? Namun, pada ujian peninggalan budaya sebelumnya, ujian itu benar-benar dimulai pada zaman ketika benda tersebut diciptakan.
Jadi, ujian peninggalan budaya ternyata dapat berubah secara acak.
Melihat Luo Li mengernyitkan dahi, Cui Cui mengulurkan tangan dan mengusap kepalanya. Ia kemudian memeluk Luo Li dan menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.
“Jangan takut. Kami ada di sini.”
Karena pelukan yang datang tiba-tiba itu, tubuh Luo Li menegang. Namun, di bawah bujukan Cui Cui, hati yang semula tegang perlahan menjadi tenang.
Luo Li memejamkan mata, tetapi pikirannya terus memikirkan cara melewati ujian ini. Bagaimanapun, orang-orang di luar masih menantinya untuk menyelamatkan nyawa mereka.
Menurut persyaratan ujian, ia harus menyelamatkan lebih banyak orang agar dapat melewatinya. Namun, berapa banyak orang yang dianggap cukup? Tidak ada jawaban untuk pertanyaan itu.
Berdasarkan informasi yang diketahui saat ini, ia masih belum menemukan cara untuk menyelesaikan ujian ini sepenuhnya.
Untungnya, tubuh Luo Li sangat kuat. Hanya dalam waktu dua hari, ia telah pulih.
Selama menjalani hari-hari bersama Cui Cui, Luo Li akhirnya mengetahui bahwa pasukan tempat Cui Cui bertugas merupakan bagian dari Batalion Pertama Resimen ke-258 Tentara Rute Kedelapan.
Komandan batalion mereka adalah Bai Zejun, sedangkan instruktur politiknya bernama Fan Xuewen.
Meskipun belum pernah bertemu sang komandan batalion, Luo Li pernah berjumpa dengan Fan Xuewen.
“Kau ingin bergabung dengan kami?”
Cui Cui menatap Luo Li yang menunjukkan tekad bulat.
“Ya. Aku ingin menjadi salah satu dari kalian.”
Cui Cui tersenyum dan merangkul Luo Li. “Tentu saja kau boleh bergabung dengan kami. Ayo, akan kuantar kau menemui sang instruktur.”