Bab Dua Puluh Sembilan: Memberi Pelajaran dengan Menghukum yang Lemah
Para dokter di sisi Gu Yuemian juga berpakaian lengkap, dengan topi dan masker bedah yang menutupi sebagian besar wajah mereka, hanya menyisakan sorot mata yang penuh konsentrasi. Mereka sesekali bertukar informasi penting, lalu memberikan peralatan bedah satu sama lain. Seluruh tim bekerja layaknya mesin yang beroperasi secara presisi; setiap orang berjuang demi keberhasilan operasi tersebut.
"Pisau bedah."
Dengan tenang, ia mengulurkan tangan kepada asisten di sampingnya. Nada suaranya datar tanpa emosi, mencerminkan ketenangan seorang dokter yang sedang fokus menjalankan tugasnya. Dokter asisten dengan sigap memberikan alat yang diminta. Sembari melakukannya, ia tak kuasa menatap Gu Yuemian dengan kekaguman, hatinya dipenuhi rasa hormat atas keahlian profesional wanita itu. Meski udara di ruang operasi terasa hampir membeku, suara Gu Yuemian tetap menjadi titik fokus yang menjaga ketenangan mental semua orang.
"Perhatikan pembuluh darahnya, saya butuh pandangan yang lebih jelas di sini."
Ia memberi instruksi kepada dokter yang memegang mikroskop. Matanya tidak beralih dari area operasi, sementara gerak tangannya tetap stabil dan presisi. Ekspresi wajah Gu Yuemian tampak serius dan teliti, tatapannya terkunci pada tindakan halus di bawah tangannya. Seiring berjalannya operasi, ia sesekali memberikan arahan tambahan guna memastikan setiap langkah memenuhi standar tingginya.
Dokter dan perawat lain di ruang operasi bergerak dengan sangat hati-hati. Mereka mengikuti setiap petunjuk Gu Yuemian dengan patuh, dan setiap keputusannya dieksekusi dengan cepat dan tepat. Seluruh tim layaknya mesin yang bekerja dengan presisi, dan Gu Yuemian adalah inti dari mesin tersebut.
Saat operasi memasuki tahap krusial, Gu Yuemian menarik napas dalam-dalam. Ia menenangkan diri dan melakukan beberapa tindakan penting di saat yang paling menentukan. Suaranya terdengar tegas, "Baik, sekarang lakukan penjahitan."
Suasana di ruang operasi seolah sedikit mencair setelah perintah tersebut. Setelah menyelesaikan langkah terakhir, pandangan Gu Yuemian akhirnya terlepas dari mikroskop. Ia mengangguk kepada timnya sebagai tanda terima kasih atas bantuan mereka.
"Terima kasih atas kerja keras kalian," ujarnya.
Kemudian, ia perlahan melepas baju bedah dan sarung tangannya dengan senyum lelah namun puas. Gu Yuemian menarik napas panjang, membiarkan dirinya sedikit relaks setelah konsentrasi tinggi yang baru saja dilaluinya. Ia melepas lampu kepala, meletakkannya di meja samping, lalu melangkah perlahan keluar dari ruang operasi.
Memasuki ruang ganti, Gu Yuemian menanggalkan baju bedah yang penuh noda darah. Ia berdiri di depan cermin, menatap wajahnya yang tampak letih. Ia mencuci tangan dan wajahnya perlahan; air dingin yang menyentuh kulit membuatnya merasa sedikit lebih terjaga.
Setelah berganti pakaian, tangannya secara tidak sengaja menyentuh ponsel. Layar menampilkan serangkaian panggilan tak terjawab dan pesan. Ia mengernyit, kecemasan mulai menyelimuti hatinya. Saat membuka ponsel, ia melihat nama Xu Hairuo muncul berulang kali dalam daftar panggilan tak terjawab. Jantung Gu Yuemian mencelos; ia tahu Xu Hairuo tidak akan menelepon sesering itu tanpa alasan yang mendesak.
Tepat ketika Gu Yuemian hendak menghubungi balik Xu Hairuo, terdengar ketukan pintu yang terburu-buru. Ia mendongak dan mendapati Wakil Direktur Zhuang masuk tanpa diundang, berdiri di ambang pintu dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Wakil Direktur Zhuang selalu tampil dengan jas putih yang rapi dan sikap yang tampak elegan, namun matanya sering kali memancarkan kelicikan yang terselubung. Rambutnya tersisir rapi tanpa cela, sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis, dan langkahnya yang mantap memberikan kesan orang yang tidak terburu-buru.
"Dokter Gu, sepertinya operasinya berjalan dengan baik."
Wakil Direktur Zhuang melangkah masuk ke ruang ganti sambil menatap sekeliling. Gu Yuemian mengangguk kecil, merespons dengan sopan, "Terima kasih, Wakil Direktur Zhuang."
Namun, di dalam hati, ia mulai waspada. Wakil Direktur Zhuang tidak pernah datang mencarinya tanpa alasan; setiap kunjungannya selalu memiliki maksud tertentu. Gu Yuemian tidak ingin terlalu banyak berurusan dengannya dan segera berbalik menuju pintu ruang ganti. Ia memegang ponselnya, bersiap menelepon balik Xu Hairuo, namun ucapan sang wakil direktur menghentikan gerakannya.
"Dokter Gu, jangan terburu-buru pergi."
Wakil Direktur Zhuang tersenyum, namun sorot matanya mengandung niat buruk. "Malam ini kita masih memiliki beberapa kasus gawat darurat yang perlu ditangani, kamu harus lembur sebentar."
Gu Yuemian berbalik menghadapnya. Ia tetap mempertahankan senyum di wajahnya, namun kekesalan tampak jelas di matanya. "Wakil Direktur Zhuang, saya sudah melakukan operasi selama beberapa jam hari ini."
Nadanya tenang, berusaha tetap sopan, namun keningnya sedikit berkerut, menunjukkan bahwa batinnya sedang tidak tenang. "Saya perlu istirahat."
Wakil Direktur Zhuang melangkah mendekat. Senyum lembut masih terpatri di wajahnya, tetapi tatapannya mengungkapkan perhitungan yang licik. "Dokter Gu, rumah sakit membutuhkanmu. Kamu tidak mungkin membiarkan pasien yang sedang sekarat, bukan?"
Suaranya mengandung nada perintah yang kental. Menghadapi desakan Wakil Direktur Zhuang, Gu Yuemian sedikit melangkah mundur untuk menjaga jarak. Tatapannya tegas saat ia kembali menegaskan pendiriannya.
"Wakil Direktur Zhuang, saya rasa saya sudah mengatakannya dengan sangat jelas. Saya butuh istirahat."
Namun, ekspresi Wakil Direktur Zhuang dengan cepat berubah dingin. Senyumnya lenyap, digantikan oleh kemarahan. Nadanya berubah tajam dan agresif.
"Dokter Gu, jangan pikir kamu bisa tetap bekerja dengan aman di rumah sakit ini hanya dengan mengandalkan beberapa operasi kecil itu."
Suara Wakil Direktur Zhuang meninggi. Setiap katanya terasa seperti jarum yang menusuk telinga Gu Yuemian. Wajah Gu Yuemian meredup, kilatan amarah sempat melintas di matanya, namun segera ia redam.
Beberapa perawat muda yang kebetulan lewat menyaksikan kejadian itu. Mereka berbisik-bisik, merasa tidak puas dengan kekejaman sang wakil direktur. Seorang perawat memberanikan diri untuk maju membela Gu Yuemian.
"Wakil Direktur Zhuang, Dokter Gu sudah melakukan dua operasi rumit hari ini. Dia benar-benar kelelahan sekarang," suaranya sedikit bergetar. "Dokter juga manusia dan butuh istirahat, bukan? Lagipula, rumah sakit ini tidak hanya memiliki Dokter Gu..."
Perawat lain pun mengangguk, mata mereka penuh perhatian terhadap Gu Yuemian. Mereka tahu betul bahwa Gu Yuemian adalah orang yang baik hati, berdedikasi tinggi kepada pasien maupun rekan kerja. Dedikasinya terlihat jelas oleh semua orang.
Wajah Wakil Direktur Zhuang sedikit berubah. Ia jelas tidak menyangka akan ada yang berani membela Gu Yuemian. Tatapannya memancarkan ketidaksenangan.
"Ini rumah sakit, bukan tempat kalian untuk mengobrol santai," ucapnya tajam, langsung menyasar perawat yang tadi berbicara. "Setiap orang punya tanggung jawab masing-masing."
Wakil Direktur Zhuang berkata dengan dingin, setiap katanya menekan hati orang-orang yang hadir di sana. "Tidak perlu kalian mengajari saya bagaimana cara bekerja."
Di bawah tatapan tajamnya, para perawat itu perlahan mundur dan menundukkan kepala, tidak berani menatapnya lagi.
"Sepertinya kalian benar-benar tidak punya kerjaan, sampai-sampai punya waktu untuk berkumpul dan berdiskusi di jam kerja."
Mata Wakil Direktur Zhuang menyapu para perawat satu per satu. Bahu yang menciut dan tatapan mata yang menghindar menunjukkan rasa takut mereka yang nyata.
"Jika begitu, bulan depan kalian tidak perlu datang bekerja lagi, supaya kalian tidak perlu membuang waktu di sini tanpa melakukan apa-apa."