Bab Dua Puluh Enam: Wajah Sebenarnya Seorang Sahabat
Setelah beberapa detik hening, suara di seberang akhirnya perlahan terdengar, “Tang Guo, tolong jangan hubungi aku lagi ke depannya.”
“Apa?” Tang Guo langsung bingung, dan… kenapa nada bicara Mo Mo terasa begitu dingin, sama sekali berbeda dengan gadis manis yang dulu suka manja dan bersikap imut itu.
“Kamu belum tahu?” Mo Mo tertawa pelan, “Aku dikeluarkan dari perusahaan, setelah dicek rekaman CCTV mereka tahu aku yang membawa wanita gila itu ke atas.”
“Ah?” Tang Guo semakin terkejut. Awalnya dia kira Mo Mo hanya izin tidak masuk karena ada urusan, tak menyangka ternyata dia dipecat, dan bahkan karena masalah yang berkaitan dengannya. “Kamu tidak menjelaskan ke pihak perusahaan? Kamu juga tidak tahu kalau wanita itu datang untuk mencari gara-gara padaku. Bagaimana kalau besok aku ke kantor dan menjelaskan, aku sendiri tahu soal itu, mungkin mereka akan mengerti.”
“Masalahnya bukan soal aku membawa wanita gila itu untuk cari gara-gara. Aku sudah tahu peraturannya, tapi tetap membawa orang luar masuk ke perusahaan.” Mo Mo terdiam sesaat, “Tang Guo, aku benar-benar tidak tahu apakah kamu benar-benar polos atau hanya pura-pura bodoh, kok bisa-bisanya kamu begitu mudah percaya pada orang lain.”
Mendengar nada bicara Mo Mo yang terasa jauh, Tang Guo baru menyadari, mungkin sikap dingin itu bukan karena ia marah dipecat. “Maksudmu apa?”
“Sejak awal aku memang menipumu. Aku tak pernah ingin jadi temanmu. Aku mendekatimu karena tahu nilai akhir kamu peringkat pertama, sementara aku kedua di bagian desain. Selama aku bisa menyingkirkanmu, posisi itu jadi milikku!” Mo Mo tertawa lagi, “Lagipula aku tahu wanita gila itu memang datang cari gara-gara, hanya saja awalnya aku tak tahu dia datang untukmu. Waktu dia menekan lantai kita dan aku tanya mau ketemu siapa, dia sebut namamu, jadi aku pikir itu kesempatan bagus. Aku ceritakan soal itu padamu karena khawatir ketahuan wanita itu aku yang bawa. Aku kira kamu bisa membantuku jadi saksi kalau aku tidak tahu apa-apa. Hanya saja aku tak menyangka rekaman kantor bisa merekam suara juga, kalau tidak, menurutmu aku tidak akan membela diri?”
Ucapan Mo Mo bagai petir di siang bolong bagi Tang Guo. Setelah Mo Mo selesai bicara dan Tang Guo lama tak bereaksi, Mo Mo mendengus dingin lalu menutup telepon. Mendengar nada sibuk di ujung sana, Tang Guo baru lama kemudian menurunkan ponselnya.
Sebenarnya ia memang menganggap Mo Mo sebagai teman, tapi ternyata... Meski tak separah perasaan ketika dulu tahu Ju Luocheng hanya menganggapnya sebagai pengganti, kali ini tetap membuatnya sedih dari lubuk hati. Awalnya ia kira akhirnya mendapat teman sejati di dunia kerja, tak disangka itu cuma perasaannya sendiri.
Tang Guo tiba-tiba sangat merindukan dua sahabat dekatnya semasa kuliah. Saat itu segalanya terasa begitu murni. Namun... kepergiannya yang mendadak tanpa sepatah kata pun, pasti membuat mereka kecewa. Mereka dulu begitu akrab, sampai tak ada rahasia di antara mereka. Maka setelah kembali ke kota ini, meski tahu kedua sahabatnya masih di sini, ia tak berani menghubungi mereka.
Keesokan paginya, saat Tang Guo bangun, matanya masih membengkak dan merah, walau sudah dikompres es tetap tak banyak membantu. Ia merasa sudah saatnya membeli alat make up. Usia dua puluh lima tahun masih tak bisa merias diri, pantas saja tak punya pacar... Eh, bukan, pantas saja pacarnya malah mencari wanita lain.
Terbayang gadis muda kemarin, benar-benar penuh semangat muda yang membuat iri. Masa-masa tanpa beban seperti itu seolah sudah sangat jauh darinya. Di dalam lift, Tang Guo bertemu Linda dan menyapa. Linda melirik matanya yang bengkak namun tak berkata apa-apa, hanya mengobrol sebentar sebelum Tang Guo turun di lantai tujuannya.
Linda membawa berkas ke ruang kerja Ju Luocheng, “Pak Ju, ini dokumen yang perlu Anda periksa dan tanda tangani. Jam sepuluh ada rapat pimpinan, dan jam dua belas Anda janji makan siang dengan Pak Zhao dari Perusahaan F.”
“Taruh saja di sini,” jawab Ju Luocheng yang tampak lelah. “Tolong buatkan secangkir kopi.”
“Baik, Pak Ju.” Linda sempat ragu sejenak sebelum melangkah pergi.
Ju Luocheng menyadari keraguan Linda dan kembali mengangkat kepala, “Ada lagi?”
“Begini, Pak Ju. Tadi saya bertemu Nona Tang di lift. Matanya tampak bengkak, sepertinya habis menangis...” Melihat tatapan dingin Ju Luocheng, suara Linda makin mengecil, lalu berhenti dan menunduk, “Maaf, Pak Ju. Saya akan buatkan kopi.”
Tak lama kemudian Linda kembali dengan kopi, tapi ia melihat di meja Ju Luocheng kini ada obat tetes mata dan kantong es. Ia tertegun sejenak, sementara Ju Luocheng tetap menunduk mengerjakan dokumen. “Rapat pimpinan dimajukan jadi jam setengah sepuluh, pindah ke ruang rapat lantai sembilan puluh lima. Nanti tolong carikan waktu untuk mengantar obat tetes mata dan kantong es ini padanya, bilang saja itu milikmu.”
“Baik, saya mengerti.” Linda membawa barang itu keluar dengan perasaan bingung. Sebenarnya siapa Tang Guo bagi Ju Luocheng? Tampak peduli, tapi sengaja meminjam tangan orang lain untuk menolong, sungguh tak sesuai dengan karakter bos mereka yang biasanya tegas dan dingin.
Namun sebagai sekretaris yang baik, Linda tak pernah ingin mencampuri urusan pribadi atasannya. Seperti kemarin saat ia diminta mengambil surat nikah di kantor catatan sipil, ia sangat penasaran siapa wanita yang namanya tertera di surat itu, tapi berhasil menahan diri untuk tidak mengintip ke dalam amplop coklat itu. Wanita... Linda tiba-tiba teringat, mungkinkah itu Tang Guo? Tapi Tang Guo kan punya pacar, meski... pacarnya selingkuh. Yang paling penting, Tang Guo dan Ju Luocheng tampaknya memang saling mengenal sejak lama, bahkan mungkin pernah berpacaran.
Linda menarik napas dalam-dalam, merasa informasi ini terlalu banyak. Lebih baik ia fokus pada pekerjaannya saja, menebak-nebak pun tak ada gunanya.
Saat Tang Guo mendengar suara di luar, ia menebak para pimpinan sudah turun untuk rapat. Ketika ia ke pantry dan bertemu Linda, ia merasa akhir-akhir ini sering sekali bertemu Linda di lantai sembilan puluh lima. Baru hendak menyapa, Linda tiba-tiba menyodorkan sesuatu, “Tadi pagi kulihat matamu merah. Obat tetes mataku bagus, coba pakai. Ini juga ada kantong es, baru saja aku ambil dari atas. Mata merah itu tidak bagus, dan kesehatan mata harus dijaga.”
“Terima kasih.” Tang Guo sempat ragu, lalu menggaruk kepala, “Linda, aku cuma ingin tanya, apa kamu memang bersikap baik pada semua orang? Soalnya aku merasa kamu sering membantuku, padahal kita tidak terlalu dekat. Kenapa ya?”
Linda sempat bingung, sering membantu Tang Guo, kenapa? Ia sendiri ingin tahu. Lagipula, ia bukan Doraemon yang bisa langsung muncul ketika dibutuhkan… Jadi, bosnya yang Doraemon? Linda bergidik, benar-benar tak bisa membayangkan Ju Luocheng yang dingin dan tampan itu sebagai robot biru gemuk yang imut. “Ehm… kita kan rekan kerja, membantu sebisanya saja, tak ada salahnya. Jangan dipikirkan terlalu jauh, ya. Rapat sebentar lagi mulai, aku duluan!”
Tang Guo menggaruk kepala, berpikir, terlalu jauh? Apa yang ia pikirkan? Ia hanya merasa aneh kenapa Linda begitu baik padanya, apa ia salah paham?
Hari-hari Tang Guo di Grup J benar-benar terasa lama. Walau Mo Mo hanya ingin menyingkirkannya dan tidak benar-benar tulus, setidaknya dulu masih ada teman bicara. Setelah kejadian minggu lalu, tiga orang magang lainnya makin menjauhinya, sementara para senior di kantor bersikap seolah semua itu bukan urusan mereka. Mereka tetap memberikan tugas seperti biasa, dan Tang Guo harus mengerjakan semuanya sendiri, lalu pulang sendirian, dan menghabiskan waktu sendiri di rumah.
Ia pun menyadari dirinya nyaris tak punya teman bicara. Kalau begini terus, apa ia bisa kehilangan kemampuan bersosialisasi?
Akhirnya, setelah bersabar sampai akhir pekan, Tang Guo hanya bisa meringkuk di rumah, menonton drama sambil memeluk camilan. Saking bosan, ia pura-pura menjadi tokoh utama wanita, berbicara sendiri dengan tokoh pria di televisi. Setelah beberapa saat, ia sendiri merasa konyol. Kalau ada yang melihatnya, pasti dikira sudah gila.
Saat tengah memikirkan hal itu, tiba-tiba terdengar suara pintu kayu diketuk. Tang Guo sampai hampir melemparkan keripik kentang di pelukannya saking terkejut. Ia berpikir keras, siapa yang mungkin datang? Ia tak punya teman atau keluarga di kota ini. Hanya Chu Bei dan Ju Luocheng yang tahu alamatnya, tapi... rasanya mustahil dua orang itu datang menemuinya.
Masalahnya, pintu kayu itu tak punya lubang intip, jadi tak bisa melihat siapa di luar. Tang Guo pun mendekat ke pintu tanpa berani langsung membukanya. “Siapa?”
“Aku, pemilik rumah.” Terdengar suara nyaring seorang ibu-ibu dari luar. “Guo Guo, buka pintunya, ada yang ingin kubicarakan.”
Tang Guo langsung lega, ternyata pemilik rumah… Bukankah pembayaran sewa baru jatuh tempo tanggal satu Oktober, kenapa dia datang sekarang? Dengan sedikit ragu, Tang Guo menyingkirkan kursi yang biasa dipakai menahan pintu, lalu membuka kunci.
“Tante, ada apa? Sewa kan baru harus dibayar bulan depan?”
“Aku bukan datang untuk menagih sewa.” Si pemilik rumah tampak canggung, lama ragu sebelum akhirnya bicara, “Begini, Guo Guo, maaf ya, rumah ini tidak akan kuswakan lagi.”
“Apa?” Tang Guo langsung bingung. Tak disewakan lagi? Meski agak jauh dari kantor, setidaknya masih di pusat kota, jauh lebih baik daripada harus menumpang kendaraan dua jam lebih dari pinggiran. Lagipula, harga sewanya juga masih terjangkau! Biaya hidup di kota ini sangat tinggi, bahkan tinggal di bawah tanah pun bisa enam ratus hingga delapan ratus sebulan. Walau rumah ini agak tua, tapi di lantai enam, terang, listrik, air, internet lengkap, ada dapur dan kamar mandi sendiri, hanya sewa sedikit di atas seribu, sangat layak. Kalau tidak disewakan lagi, ia harus tinggal di mana? “Tante… ada masalah apa? Kenapa tiba-tiba tak mau menyewakan lagi?”