Bab Empat Puluh Lima: Pengantin Wanita yang Mencari Gara-gara
Sejak kecil aku selalu hidup di bawah bayang-bayang anak teladan itu, mengejarnya berarti aku harus bertahan seperti ini seumur hidup! Lagi pula, seolah-olah aku benar-benar bisa mendapatkan ‘rumput di sekitar sarang’, padahal dia setiap hari meremehkanku! Sudahlah, malas membahasnya. Bai Lu merasa masa kecilnya penuh air mata dan darah, jika bukan karena sekarang dia membutuhkan bantuannya, mana mau dia setiap hari berusaha menyenangkannya!
“Asal kau bahagia saja.” Tang Guo tentu paham hubungan antara Bai Lu dan tetangga kecilnya itu memang tidak akur, lalu ia menoleh ke Xia Ziyao, “Ngomong-ngomong, kau sudah mau menikah, aku bahkan belum pernah lihat seperti apa pacarmu, kenapa hari ini tidak membawanya sekalian?”
“Menyebut dia saja sudah bikin aku kesal!” Wajah Xia Ziyao seketika berubah masam, “Tentu saja aku sudah mengajaknya, aku yang inisiatif memperkenalkannya pada sahabat-sahabatku, eh dia malah cari-cari alasan tidak mau datang, lelaki licik itu entah lagi merencanakan apa… Sudahlah, mungkin memang akhir tahun ini dia sedang sibuk, nanti kalau sudah libur, kita ajak dia jalan bareng.”
Pesta pernikahan Mo Beibei memang sangat mewah, menyewa satu aula besar, barisan depan diisi para pejabat dan pengusaha kaya, juga banyak bintang selebritas. Namun Mo Beibei tidak mengundang banyak teman sekolah, kursi mereka di bagian belakang. Undangan Xia Ziyao sebenarnya diberikan langsung oleh suami Mo Beibei, seharusnya duduk di depan, tapi ia malas bergaul dengan orang-orang itu, jadi ia memilih duduk bersama Tang Guo dan Bai Lu di meja teman-teman sekolah, bertiga asyik ngobrol dan makan tanpa peduli sudah sampai tahap mana acaranya.
Setelah mereka hampir selesai makan, barulah Mo Beibei datang untuk bersulang di meja itu. Tidak banyak yang tersisa, meja teman sekolah juga hanya sedikit orang, Mo Beibei duduk di kursi kosong di samping, tampak ingin mengobrol lebih lama. Di sebelahnya adalah posisi Tang Guo, yang langsung merasa ada maksud tersembunyi dari kunjungan ini.
Benar saja, Mo Beibei langsung membuka perbincangan tentang masa lalu, “Tang Guo, waktu itu kau tiba-tiba pergi ke luar negeri, aku pulang ke asrama tidak menemukanmu sampai kaget, kapan kau pulang juga tak terdengar kabarnya, bagaimana hidupmu di Amerika? Kukira kau akan menetap di sana.”
“Lebih baik di negeri sendiri, kenapa harus bertahan di luar negeri?” Tang Guo sebenarnya tidak suka orang-orang yang selalu bertanya kenapa ia kembali, seolah-olah ia gagal merantau. Orang tua bilang daun yang jatuh akhirnya kembali ke akar, meski ia masih muda, kenapa tidak boleh pulang dan meniti hidup di sini? Haruskah menunggu benar-benar gagal di luar negeri baru boleh pulang? Padahal jika masa depan di sana sangat cerah pun, ia tetap memilih kembali tanpa ragu, walau akhirnya hidupnya justru jadi berantakan.
“Oh begitu.” Mo Beibei tersenyum tipis, matanya menyimpan sindiran. “Dulu kau pergi tiba-tiba, tak ada yang tahu, kukira kau memang merasa di luar negeri lebih baik dan tak mau lagi berhubungan dengan sini.”
Tang Guo sejenak kaku, menarik sudut bibirnya, “Saat itu keputusannya terlalu mendadak, aku sendiri belum bisa bereaksi, dan aku tidak suka perpisahan. Jika aku benar-benar tak mau lagi berhubungan dengan sini, mana mungkin aku langsung pulang setelah selesai kuliah.”
“Jadi sudah cukup lama kau pulang?” Mo Beibei mengangkat alis, “Sekarang kerja di mana?”
Tang Guo kembali terdiam lama, akhirnya menjawab, “Desain Yuan Su.”
Mo Beibei tertawa pelan, “Departemen desain di kantor pusat Grup J, ya… Berarti Ju Luocheng sekarang juga mengelola Grup J. Tapi Tang Guo, aku sungguh merasa sayang padamu, dulu hubunganmu dengan Ju Luocheng sangat baik, semua orang bertaruh kapan kalian putus, beberapa minggu, bulan, setengah tahun atau setahun, tapi nyatanya kalian terus bersama, sangat mesra. Begitu Ju Luocheng mau lulus, semua sudah terbiasa melihat kalian berdua selalu bersama, tapi tiba-tiba kalian berpisah tanpa alasan jelas, kau pergi ke luar negeri tanpa Ju Luocheng tahu… Tapi membicarakan masa lalu sekarang tak ada gunanya. Belakangan aku lihat Ju Luocheng di berita utama lebih sering daripada bintang film, dan dikelilingi banyak wanita cantik. Begitulah orang kaya, dulu saat masih polos mengira cinta itu satu untuk seumur hidup, tapi setelah masuk dunia kerja tahu bahwa kekuasaan itu lebih menggiurkan, siapa yang masih setia pada satu orang saja, apalagi pada orang yang sudah pergi. Katamu Desain Yuan Su di kantor pusat Grup J, bukankah agak canggung bertemu dia? Perusahaan desain di sini banyak, kenapa harus menyiksa diri? Kalau mau pindah kerja bilang saja, aku bisa minta suamiku carikan tempat kerja baru.”
Tang Guo hanya diam, tiba-tiba penasaran jika ia mengaku sudah menikah dengan Ju Luocheng lebih dari tiga bulan, apa reaksi Mo Beibei. Tapi tentu saja ia tidak akan mengatakannya, toh pernikahan mereka hanya formalitas, cepat atau lambat akan berakhir, tak perlu diumbar.
Meja di restoran besar seperti ini letaknya berjauhan, Bai Lu dan Tang Guo duduk di kiri-kanan Xia Ziyao, Bai Lu tidak tahu apa yang dibicarakan Tang Guo dan Mo Beibei, Xia Ziyao sedang menelepon, tidak memperhatikan. Setelah telepon selesai, ia mendengar percakapan terakhir Mo Beibei, kurang lebih bisa menebak arah pembicaraan. Melihat Tang Guo menunduk dengan ekspresi sedikit terluka, Xia Ziyao langsung tak terima, “Tenang saja, sahabatku Tang Guo paling buruk pun tidak akan menikah dengan om-om botak pendek gendut yang umurnya hampir sama dengan ayahnya sendiri, apalagi jadi ibu tiri buat anak yang cuma dua tahun lebih muda dari dia!”
Xia Ziyao memang selalu blak-blakan, tidak kenal kata rendah hati, suaranya pun nyaring. Meski meja berjauhan dan ada musik, beberapa orang di sekitar tetap mendengar ucapannya, dan langsung menoleh. Hubungan Mo Beibei dan suaminya jelas terlihat, tak banyak yang benar-benar percaya itu cinta sejati, tapi kebanyakan tamu di sini pandai bersandiwara, tetap saja mengucap selamat dan memuji mereka serasi. Kini ada yang bicara seterang itu, beberapa tamu yang mendengar langsung menunggu perkembangan selanjutnya.
Mendapat sindiran setajam itu, wajah Mo Beibei langsung berubah, ia marah, “Xia Ziyao, kau sendiri apa lebih baik? Semester tiga sudah berurusan dengan dosen sendiri, kau punya hak apa menertawakanku?!”
“Maaf saja, bukan hanya semester tiga aku dekat dengan dosen, seumur hidupku pun akan bersamanya!” Xia Ziyao mendengus sombong, “Dosenku itu lelaki tampan, mapan, kaya, aku juga cantik dan kaya, kenapa kami tak boleh bersama? Lagipula wanita itu hanya menggantikan ibunya mengajar setahun, bukan dosen tetap, makasih! Oh ya, lebih baik kau jaga sikapmu, suamimu sedang menatap ke sini, kalau kau bikin malu dia di acara seperti ini, bisa-bisa hidupmu nanti makin susah!”
Tang Guo merasa informasi yang ia dapat hari ini luar biasa banyak, tidak menyangka, baru saja ia pergi ke luar negeri, sudah terjadi berita besar seperti ini. Melihat wajah Mo Beibei yang memerah karena marah, Tang Guo buru-buru batuk ringan, “Hari ini hari bahagia, lebih baik kita redakan saja suasana.”
“Tak perlu kau sok jadi penengah.” Mo Beibei melemparkan kata itu lalu bangkit dan pergi dengan marah.
Tang Guo sampai melongo, niat jadi penengah malah salah, seharusnya tadi diam saja menonton! Xia Ziyao tertawa ringan, “Dulu itu tugas Bai Lu, sejak kapan kau jadi sebaik ini?”
Tang Guo mengangkat bahu, “Aku putuskan masuk jalan kebajikan, ingin berbuat baik, siapa sangka orang yang kutolong malah marah padaku, lebih baik aku kembali ke duniawi saja!”
“Dasar gila.” Xia Ziyao hanya bisa geleng-geleng melihat Tang Guo, apa selama kuliah di luar negeri otaknya jadi rusak?
Tang Guo justru penasaran, “Ngomong-ngomong… soal dosen itu, bagaimana ceritanya?”
“Apalagi, waktu kuliah dulu ada dosen di Fakultas Bisnis yang terkenal galak, dia selalu ingin jodohkan aku dengan anaknya. Eh, tiba-tiba semester tiga dia pergi studi lanjut, anaknya disuruh gantiin ngajar, aku waktu itu tak tahu itu anaknya… Intinya kami saling suka-tidak suka, sekarang jadi pacarku.” Xia Ziyao mengibaskan tangan, “Tapi aku lebih penasaran sama kau, kenapa berubah jadi seperti ini, biasanya kau tidak mudah kalah, tadi sudah jelas-jelas ditindas, kenapa malah menunduk diam… Ada sesuatu yang bahkan aku dan Bai Lu tidak boleh tahu?”
Tang Guo melihat Bai Lu juga menatapnya penuh perhatian, akhirnya ia tersenyum ringan, “Bukan tidak boleh, tapi aku sendiri seperti merasa mimpi… Nanti akan kuceritakan, toh cepat atau lambat kalian akan tahu.”
Pertemanan yang susah payah dipulihkan, Tang Guo tak ingin rusak lagi karena rahasia. Masalah keluarganya, dan juga hubungannya dengan Ju Luocheng… mungkin jika semuanya diceritakan, beban di hati tidak akan seberat ini.
Karena ucapan Tang Guo itu, Xia Ziyao dan Bai Lu langsung meninggalkan acara bersamanya. Toh perut sudah kenyang, Mo Beibei juga sudah bersulang, tak ada gunanya beramah tamah lebih lama. Karena Xia Ziyao berpakaian tipis, mereka bertiga naik mobil menuju kafe terdekat yang masih buka, masuk ke ruang privat dan duduk bersama.
Tang Guo mulai bercerita, dari ayahnya yang tiba-tiba ingin mengirimnya ke luar negeri, namun ia tetap menyembunyikan alasan sebenarnya—bahwa Ju Luocheng hanya bersamanya karena ia mirip dengan gadis yang dulu disukai lelaki itu. Ia hanya ingin, setidaknya di mata orang lain, ia yang meninggalkan Ju Luocheng, dan dulu mereka memang benar-benar saling mencintai.
Mendengar alasan Tang Guo pergi dulu karena masalah keluarga, Bai Lu yang bukan berasal dari lingkungan itu tidak tahu detailnya. Namun Xia Ziyao yang sejak tingkat empat sudah bekerja di perusahaan keluarga tahu seluk-beluk keluarga Tang. Seketika, semua kemarahan atas kepergian mendadak Tang Guo langsung menguap. Dulu Tang Guo memang pernah bilang pergi karena masalah keluarga, tapi tak pernah menyangka masalahnya sebesar itu. Jika dipikir-pikir, ayahnya mengirimnya ke luar negeri bukan untuk sekolah, tapi untuk melarikan diri.
Suasana pun jadi hening, cukup lama sampai akhirnya Bai Lu bertanya pelan, “Kalau begitu… sekarang hubunganmu dengan Ju Luocheng bagaimana? Kenapa kau bisa kerja di perusahaannya?”
“Aku masuk ke perusahaannya lewat jalur resmi, ikut tes sendiri.” Tang Guo menarik napas panjang sebelum menjawab lagi, “Aku dan dia… September lalu kami sudah menikah.”
“Apa?!” Xia Ziyao dan Bai Lu langsung berseru kaget serempak.