Bab Satu: Dipaksa Menikah dengan Bujang Tua Berusia Lima Puluh Tahun
Bibi Song berlari tergesa-gesa dan segera menarik tangan Qi Tiantian.
"Aduh, akhirnya kau pulang sekolah juga! Tiantian, jangan terburu-buru pulang ke rumah! Ayahmu sedang mabuk lagi, dia sedang mengamuk dan memukuli ibumu! Kalau kau pulang sekarang, kau pasti akan kena getahnya."
Qi Hao adalah ayah Qi Tiantian. Dia tidak punya kemampuan apa-apa, bahkan tidak bisa membaca satu huruf pun. Kegemarannya hanyalah mabuk, dan setelah mabuk, dia akan melakukan kekerasan dalam rumah tangga.
Terakhir kali Qi Hao mengamuk, Qi Tiantian tidak ada di rumah. Ibunya dipukuli hingga kepalanya berdarah-darah, bahkan kakinya patah dan butuh waktu setengah bulan untuk sembuh.
Begitu mendengarnya, Qi Tiantian menjatuhkan keranjang di punggungnya dan berlari pulang seperti orang kesurupan.
Bibi Song buru-buru menahan Qi Tiantian yang nekat. "Anak ini... padahal kau tahu kalau pulang nanti kau akan dijadikan sasaran amarahnya. Ibumu itu juga tidak bisa diandalkan, setiap kali kau mencoba melerai, dia malah bersembunyi di samping dan membiarkan ayahmu yang berengsek itu memukulmu sebagai pelampiasan. Kenapa kau tidak pernah belajar?"
Qi Tiantian mengatupkan bibirnya, ingin membantah Bibi Song, namun teringat akan ibunya, dia tetap memilih berkata, "Bibi Song, sudahlah. Bagaimanapun juga dia ibuku! Bagaimana mungkin aku tidak peduli padanya?"
Bibi Song tahu dia tidak bisa menahan Qi Tiantian, dia hanya bisa menghela napas pasrah.
Sepatu kain Qi Tiantian menginjak jalanan berlumpur yang penuh lubang. Kakinya dipenuhi noda lumpur kuning yang kotor. Akhirnya sampai di depan rumahnya, pintu rumah sudah dikelilingi oleh para tetangga yang gemar menonton keributan. Begitu melihat Qi Tiantian kembali, mereka memberi jalan agar dia bisa lewat.
Dia berlari menaiki tangga dengan tergesa-gesa, tepat saat melihat Qi Hao sedang mengangkat kursi dan hendak menghantamkannya ke kepala ibunya, Liu Chunhua. Qi Tiantian berlari cepat dan menghalangi di depan Qi Hao.
"Jangan pukul Ibu!"
Wajah Liu Chunhua penuh dengan air mata dan ingus. Saat melihat putrinya, dia seperti melihat penyelamat, lalu merangkak bersembunyi di belakang Qi Tiantian. Sebagai wanita dewasa berusia 45 tahun yang gemuk dan berkulit gelap, tubuh Liu Chunhua yang besar tentu tidak bisa ditutupi sepenuhnya oleh tubuh Qi Tiantian yang kurus kering seperti lidi!
Qi Hao tidak peduli. "Minggir kau! Kalau tidak, aku akan menghajarmu juga!"
"Tidak mau!"
"Kalau mau memukul Ibu, pukul saja aku dulu!"
Sosok Qi Tiantian yang kurus berdiri di depan ibunya, meski terlihat rapuh, dia tampak memiliki kekuatan yang tak terbatas!
Tiba-tiba dia didorong dari belakang hingga terhuyung ke depan. Dia merasakan sesuatu yang keras menghantam keningnya, diikuti rasa sakit yang luar biasa! Pandangannya mendadak gelap.
Tanpa sempat berpikir panjang, tinju Qi Hao menghujani kepala dan wajahnya!
Qi Tiantian merasa pening hingga melihat bintang-bintang. Dia mengepalkan tinjunya ingin membalas, namun sebelum tangannya terangkat, Liu Chunhua menekannya ke bawah.
Liu Chunhua berkata, "Putriku, apa yang kau lakukan? Kau masih ingin melawan ayahmu? Itu bisa membuatmu terkutuk!"
Qi Tiantian mengertakkan gigi, hatinya penuh kebencian. Dia benci mengapa dunia ini begitu tidak adil. Mengapa pria harus memukul wanita? Mengapa anak perempuan hanya punya satu jalan keluar saat berumur 18 tahun, yaitu menikah?
"Bu, minggir!"
"Tidak bisa," Liu Chunhua mencengkeram Qi Tiantian dengan erat. "Bagaimana mungkin seorang anak memukul ayahnya? Bagaimana kau bisa menikah nanti? Kalau tidak laku, bukankah kau akan menjadi beban?"
Qi Tiantian merasa sesak.
Qi Hao tidak peduli apa yang dikatakan ibu dan anak itu. Setelah puas menghujani kepala Qi Tiantian dengan tinjunya, dia bangkit dengan malas dan masuk ke kamar untuk tidur mendengkur.
Seluruh tubuh Qi Tiantian terasa sangat sakit hingga dia tidak punya tenaga untuk berdiri. Pipinya terasa panas membara. Dia tak kuasa menahan diri untuk menyentuh pipinya, dan saat tersentuh, dia hanya bisa meringis.
Sakit. Sangat sakit hingga menusuk jiwa!
Qi Tiantian berusaha bangkit dengan putus asa, menggigit bibirnya hingga terluka. Kapan hari-hari seperti ini akan berakhir?
*
Liu Chunhua mengambil sapu tangan dari dapur dan menempelkannya di wajah Qi Tiantian, lalu membantunya berdiri dengan hati-hati. "Putriku, apakah sakit?"
Qi Tiantian hanya mengatupkan bibirnya.
Liu Chunhua langsung menangis. "Putriku, Ibu juga tidak punya pilihan! Kakiku belum sembuh, jalanku masih pincang. Kalau kepalaku yang dipukul, Ibu bisa mati! Kalau Ibu mati dan kau ditinggal sendirian, apa yang akan kau lakukan? Ibu memikirkanmu juga!"
Qi Tiantian merasa ada yang tidak beres, tetapi kepalanya mulai terasa kacau dan tidak bisa berpikir. Dia menggelengkan kepala, mencoba mengusir rasa tidak nyaman itu.
Liu Chunhua salah mengartikan maksud Qi Tiantian, mengira putrinya telah memaafkannya. Dia tersenyum dan memuji, "Ibu tahu kau pasti mengerti perasaan Ibu. Benar-benar putri yang baik!"
Qi Tiantian menatap senyum penuh persetujuan ibunya, kepalanya berdengung, dan dia tanpa sadar menuruti kata-kata ibunya, "Asalkan Ibu tidak apa-apa, itu sudah cukup."
Liu Chunhua merangkul bahu putrinya dan membawa Qi Tiantian keluar kamar. Keduanya duduk di bangku kecil cukup lama sebelum Liu Chunhua menceritakan alasan Qi Hao mabuk. Ternyata, seorang bujangan tua berusia 50 tahun di desa telah melirik Qi Tiantian dan sengaja mengajak Qi Hao minum, bahkan berjanji akan memberikan uang mahar sebesar seratus ribu jika Qi Tiantian mau dinikahkan dengannya.
Seratus ribu! Itu adalah jumlah yang fantastis!
Qi Tiantian mengingatkan, "Bu, usianya bahkan sudah pantas menjadi kakekku..."
Liu Chunhua menghela napas panjang. "Ibu juga merasa dia terlalu tua, bagaimana mungkin membiarkanmu menikah dengannya? Ibu tidak mau! Tapi ayahmu malah mengamuk, dia membanting tungku batu bara dan mencekik leher Ibu hingga hampir mati! Kalau kau tidak segera pulang, Ibu tidak tahu harus berbuat apa!"
"Bukankah kau menyayangi Ibu? Kau tidak ingin Ibu dipukuli terus oleh ayahmu, kan?"
"Ibu mohon, menikahlah saja!"
"Anggap saja ini demi Ibu, ya?"
Dada Qi Tiantian terasa sesak, dia menatap Liu Chunhua dengan tatapan kosong.
Namun, kebiasaan ayahnya mabuk dan memukul orang sudah ada sejak dia lahir, bukan baru terjadi hari ini. Bahkan jika dia menikah demi ibunya, ayahnya akan tetap mabuk dan melakukan kekerasan di masa depan.
Bukankah ibunya lebih tahu akan hal itu daripada dirinya?
Liu Chunhua tidak menyadari Qi Tiantian sedang melamun, dia masih terus berakting dan meratapi nasibnya yang malang.
Kepala Qi Tiantian mulai terasa kacau kembali. Suara aneh seperti mantra terus bergema di kepalanya, mengatakan, "Setujui saja," "Cepat setujui." Seolah sihir yang menusuk otak, membuat Qi Tiantian yang tak tahan akhirnya mengangguk dalam kebingungannya.
Liu Chunhua sangat gembira hingga melompat kegirangan, sama sekali tidak mempedulikan wajah putrinya yang penuh luka demi dirinya, dan segera meninggalkan pekarangan rumah.
*
Keesokan harinya, saat Qi Tiantian hendak pergi mencari rumput untuk babi, dia ditahan oleh Liu Chunhua.
Liu Chunhua berkata, "Jangan terburu-buru, temui seseorang dulu."
Hati Qi Tiantian seketika memiliki firasat buruk. Dia menatap Liu Chunhua dengan tajam, berharap itu bukan seperti yang dia pikirkan. Namun, saat melihat tatapan menghindar dan sikap canggung ibunya, hatinya jatuh ke titik terendah.
Dia berbalik untuk pergi, tetapi ditarik dengan kuat oleh Liu Chunhua.
Liu Chunhua memohon dengan wajah memelas, "Putriku, ini sudah disepakati ayahmu. Kalau kau pergi, ayahmu akan memukulku sampai mati!"
Qi Hao berjalan keluar dengan sandal jepit, sambil memaki, "Kenapa kalian berdiri di sana? Apa kalian tidak tahu sebentar lagi Pak Zhang akan datang?"
Pak Zhang adalah bujangan tua berusia 50 tahun di desa itu, calon suaminya.
Kemarin dia setuju karena sedang linglung, dan hari ini orang itu langsung datang ke rumah? Apakah ayah dan ibunya begitu tidak sabar?
Qi Tiantian mencengkeram sabitnya dengan erat. "Siapa Pak Zhang itu?"
Matanya berkaca-kaca, dia berharap dirinya salah paham, berharap mendapatkan jawaban yang berbeda dari yang ada di pikirannya.
Namun, orang tuanya dengan kejam memberitahunya.
Qi Hao memaki dengan kasar, "Jangan berpura-pura bodoh! Pak Zhang adalah calon suamimu. Nanti saat dia datang, bersikaplah yang cerdas! Lakukan apa pun yang dia suka! Kalau kau berani merusak pernikahan ini, aku akan mematahkan kakimu!"