Bab 73: Memuji Kecantikan Wanita Tak Pernah Salah
Mo Xingchen kembali ke vila kecil miliknya, lalu berbaring di atas ranjang, mulai merapikan pikirannya. Setelah pergantian tahun, akan masuk tahun 1508 kalender laut, tepat sepuluh tahun sejak dirinya menyeberang ke dunia ini. Ia merasa telah melakukan banyak hal, namun di sisi lain juga merasa seolah belum melakukan apa-apa.
Dulu, saat membaca novel atau menonton anime, ia sering berandai-andai, seandainya suatu hari dirinya bisa menyeberang ke dunia lain, pasti bisa mengubah dunia dan sebagainya. Mengubah dunia—ah, kedengarannya memang mudah, tapi mana semudah itu. Andaikan pun bisa menguasai dunia dengan kekuatan mutlak, lalu apa? Begitu dirinya tidak ada, dunia yang kacau tetap saja akan kacau, karena di lautan luas ini, para pemilik ambisi tak akan pernah habis.
Andaikan ia tetap hidup, terus berlatih hingga bisa awet muda, seratus tahun kemudian, mungkinkah hatinya berubah? Mungkinkah ia menjadi dingin dan acuh? Dua ratus tahun kemudian? Lima ratus tahun? Delapan ratus tahun? Mungkin saja suatu saat dia menjadi Im yang berikutnya, dan itu pun hanya akan menjadi kisah klasik tentang pemuda pembasmi naga yang akhirnya menjadi naga sendiri.
Mo Xingchen percaya, saat Pemerintahan Dunia pertama kali didirikan, pasti mereka juga punya hati yang mulia, berjuang demi keadilan. Toh, tak ada kaisar yang ingin kerajaannya hancur, bukan? Namun, seiring waktu berlalu, sifat asli para penguasa mulai terungkap, hingga akhirnya menjadi seperti sekarang.
Perkembangan dunia biarlah mengalir apa adanya, setiap zaman akan melahirkan tokoh-tokoh besarnya sendiri. Ia hanya perlu memedulikan orang-orang yang benar-benar ia sayangi.
Seiring kekuatan Mo Xingchen bertambah, ia pun mulai memahami hakikat sejati dari latihan kultivasi. Inti dari kultivasi bukanlah kemampuan-kemampuan ajaib yang ditunjukkan, melainkan proses menyempurnakan energi, napas, dan jiwa, hingga akhirnya dapat mengendalikan tubuh sendiri secara utuh. Semakin jauh melangkah, semakin sulit jalan yang harus ditempuh.
Tubuh manusia adalah harta karun yang luar biasa. Ambil contoh otak, 99% orang biasa hanya menggunakan lima persen dari potensi otaknya. Jika persentase itu bisa dinaikkan menjadi dua puluh persen, seseorang akan memiliki kekuatan luar biasa, setidaknya kekuatan mental dan kekuatan batin pasti didapat. Jika bisa mencapai seratus persen, maka ia akan menjadi makhluk setara dengan pencipta dunia.
Namun di titik itu, muncul persoalan baru: tubuh menjadi terlalu lemah untuk menanggung kekuatan mental sebesar itu. Tubuh akan hancur, dan yang tersisa hanya kesadaran saja.
Sekarang, mari kita balik ke tubuh manusia. Berapa miliar sel yang dimiliki? Jika semua potensinya bisa digunakan, seseorang bisa menjadi Pangu yang terlahir kembali! Tetapi, sekuat apa kekuatan mental yang harus dimiliki untuk mengendalikan begitu banyak sel?
Karena itulah, ajaran leluhur sangat masuk akal—energi, napas, dan jiwa harus dilatih bersamaan, juga keseimbangan antara jiwa dan raga, baru bisa mencapai kebenaran sejati. Jika hanya melatih salah satunya, pasti akan timbul masalah besar kelak.
Contohnya, dalam kisah Dewa-dewi yang dulu ia sukai, menjadi pejabat di kahyangan memang menggiurkan, tapi mengapa semua orang enggan? Karena jiwa abadi yang masuk daftar dewa, hidup dan matinya jadi dikendalikan orang lain. Yang paling utama, jiwa abadi itu tidak utuh, jalan menuju kesempurnaan pun terputus.
Semakin tinggi tingkat kultivasi Mo Xingchen, ingatan yang sebelumnya samar mulai muncul dengan jelas. Ia pun teringat garis waktu dunia Raja Bajak Laut ini. Dulu, saat menyuruh Dorag menyelidiki di Laut Utara, ia hanya berpesan agar memperhatikan keluarga Donquixote, dan mencari kabar tentang Buah Operasi. Begitu ada kabar, ia harus segera diberi tahu.
Soal Rosinante, kalau datang terlalu cepat, orang pasti menganggapnya gila, seolah-olah mendoakan yang buruk. Kalau terlalu lambat, Rosinante sudah mati, mana bisa berbuat apa-apa lagi. Tapi semua itu tergantung takdir, berhasil syukur, gagal pun tak apa. Ia tak percaya, dalam dua belas tahun ke depan, ia tidak bisa jadi yang terkuat!
Kalau begitu, untuk apa susah-susah berlatih? Lebih baik langsung membentur batu sampai mati saja! Memalukan sebagai orang yang menyeberang ke dunia lain!
Ia juga meminta Dorag memperhatikan kabar tentang Robin. Gadis itu sudah pergi lama sekali, lenyap tanpa jejak, andai saja sempat membuat kehebohan, atau setidaknya dapat buronan, itu pun sudah cukup! Sampai sekarang tak ada kabar sedikit pun. Lain kali bertemu, kalau tidak membuat dua tanduk tumbuh di kepalanya, bukan Mo namanya!
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Mo Xingchen membawa seperangkat produk perawatan kulit yang dibeli William di Kepulauan Sabaody, lalu mengajak Brook menuju kantor Laksamana Muda Tsuru.
“Kakak Tsuru! Kau tampak makin cantik hari ini!”
“Oh, Mo kecil sudah kembali. Dasar kamu, aku ini sudah tua, tidak ada cantik-cantiknya lagi.” Tsuru mengangkat kepala menatap tamunya. Meski berkata begitu, perempuan di usia berapa pun pasti senang dipuji cantik. Senyum yang terbit di sudut bibirnya, bahkan lebih sulit ditahan daripada AK.
“Mana mungkin! Tua apanya, ini semua hanyalah pesona yang bertambah seiring waktu, membuatmu makin memesona. Hehe~ Kakak Tsuru, ini oleh-oleh kecil untukmu, semoga awet muda selamanya!”
Mo Xingchen tersenyum sembari menyerahkan kotak hadiah di tangannya.
“Produk perawatan kulit ini mahal sekali, aku sendiri saja enggan membelinya. Sepertinya, kamu pasti ada perlu sesuatu, ya!”
Tsuru melirik logo di kotak hadiah, langsung tahu apa isi di dalamnya. Memang produk kelas atas, entah bagus atau tidak, yang jelas, satu-satunya ciri khasnya hanyalah harganya yang kelewat mahal. Harganya bahkan setara gaji pokok satu bulan seorang laksamana muda. Bukan berarti Tsuru tidak mampu beli, hanya saja ia merasa sayang, toh dirinya bukan gadis muda lagi.
Namun, karena ini hadiah dari adiknya sendiri, Tsuru pun menerimanya dengan lapang dada. Adik sendiri yang memberi, kenapa harus ditolak?
Mo Xingchen berkata dengan nada serius, “Orang bijak bilang, kuda bagus harus dipasangi pelana yang baik, pedang pusaka hanya untuk pahlawan! Aku sendiri tak terlalu paham soal kosmetik, tapi kukira Kakak Tsuru sangat pantas memiliki satu set ini. Jadi, aku tak banyak pikir, begitu lihat langsung beli saja.”
Kemudian, ia langsung berganti wajah menjadi lebih manis, mengangkat satu tangan, ibu jari menjepit ujung kelingking, “Tapi memang ada sedikit urusan kecil, ingin minta bantuanmu, Kakak.”
“Oh, ceritakan saja.” Tsuru meninggalkan meja kerjanya, duduk di sofa dan mulai menyeduh teh, mengisyaratkan Mo Xingchen untuk duduk dan berbincang.
Brook, yang melihat sikap Mo Xingchen yang berubah lagi, hanya bisa mengagumi dalam hati. Laksamana Muda Mo memang luar biasa! Menghadapi orang berbeda dengan cara yang berbeda, selalu luwes, dan membuat orang lain senang hati membantunya. Tidak seperti dirinya, yang hanya bisa berkata: “Nona cantik, bolehkah aku melihat celana dalammu!”
Sungguh, barang bisa dibandingkan, orang bisa jadi minder! Yohohohoho! Aku ini cuma kerangka! Sudah mati sejak lama!
Mo Xingchen lalu menunjuk Brook yang sedang melamun, memperkenalkannya pada Tsuru, “Kakak Tsuru, kerangka ini namanya Brook, wakil kapten Bajak Laut Rumbar. Dulu dia sudah mati, tapi karena makan Buah Yomi Yomi, dia akhirnya jadi seperti ini. Aku ini orang yang menghargai bakat, menurutku dia cukup baik, jadi ingin memberinya kesempatan memperbaiki diri dengan bergabung ke Angkatan Laut. Karena itu, aku datang padamu untuk minta saran, ingin tahu prosedurnya.”
…