Bab 88: Doflamingo, Mari Kita Bermain!
"Buah Operasi... uhuk, uhuk... sudah aku berikan pada Luo untuk dimakan. Sudah sejak lama aku menyuruhnya lari keluar dari kandang busuk ini. Sekarang seharusnya dia sudah berada di kapal pengawas milik Angkatan Laut."
"Hahaha... uhuk... Doflaminggo, kau sudah tak bisa menyentuh sehelaipun rambutnya."
Doflaminggo seketika murka setelah mendengar ucapan Rosinante, lalu berbalik dan berteriak pada semua anak buahnya,
"Segera siapkan kapal untuk berlayar! Kalau benar kabarnya, meski harus menenggelamkan kapal pengawas itu, aku tetap harus menangkap Luo kembali!"
"Untuk apa kau ingin menangkap Luo? Dia hanya anak-anak, apa yang bisa ia lakukan untukmu? Kenapa kau tak bisa membiarkannya pergi?!"
Rosinante berpegangan pada peti harta karun, dengan susah payah berdiri tegak, menodongkan pistol ke lengan Doflaminggo, dan tubuhnya bergetar hebat karena emosi.
"Kau tanya untuk apa? Karena dia sudah memakan Buah Operasi, tentu saja harus aku didik baik-baik, lalu mati demi aku!"
Doflaminggo berbalik menatap Rosinante, sama sekali tak peduli pada pistol yang diarahkan padanya, bahkan dengan angkuh merapikan dasi di lehernya.
"Luo takkan pernah menuruti perintahmu lagi, Doflaminggo!
Ia telah menaklukkan takdir kematian tiga tahun yang menantinya! Ia bukan lagi anak yang kehilangan arah dan hanya ingin menghancurkan segalanya di sisimu!
Ia takkan mendapat apapun yang berarti darimu!
Lepaskan dia! Dia sudah bebas, Doflaminggo!"
Tatapan Doflaminggo dingin menatap adik kandungnya yang berteriak-teriak padanya. Perlahan ia mengeluarkan pistol pembunuh ayah mereka, menodongkannya pada Rosinante.
"Kau sangat mirip dengan Ayah, Rosinante.
Aku tahu kau takkan pernah menembakku, tapi kenapa kau rela melakukan segalanya untuk menghalangiku?!
Kenapa kau memaksaku untuk kedua kalinya membunuh keluarga sedarahku sendiri?!"
"Duarr!"
Suara tembakan menggema, Rosinante pun gugur!
(PS: Tentu saja ini hanya bercanda! Hahaha! Kalian tertipu!)
...
Rosinante melihat seberkas putih bersih—seorang pria yang berdiri membelakanginya, tubuhnya tak terlalu tinggi, mantel keadilan berkibar terkena angin!
Di saat genting, Mok Xingchen membakar sangkar burung Doflaminggo dengan Api Sejati Tiga Rasa,
lalu muncul di sampingnya, mengangkat pistol yang mengarah pada Rosinante ke langit.
"Kau ini, Ayam Kecil, apa kau ingin merebut tahta?"
Doflaminggo menunduk melihat pemuda di depannya yang tingginya hanya setara dadanya,
mata di balik kaca mata hitamnya menyipit. Meski Mok Xingchen tersenyum, auranya menekan hingga ia merasa sangat tidak nyaman.
"Hahaha... Angkatan Laut generasi baru yang jadi panutan, Mok Xingchen!
Aku tahu siapa kau, jadi kau juga ingin menghalangiku?"
Mok Xingchen menatap kaca mata Doflaminggo, lalu berkata pelan,
"Ada satu hal yang paling aku benci sepanjang hidupku!"
"Apa...?!"
Tiba-tiba, kaki kanan Mok Xingchen yang diselimuti energi sejati berubah menjadi putih murni, lalu melayangkan tendangan cambuk keras ke perut Doflaminggo.
Karena pergelangan tangan Doflaminggo yang memegang pistol telah digenggam erat Mok Xingchen, ia tak sempat terlempar oleh kekuatan tendangan itu.
Namun, kekuatan yang menembus tubuh Doflaminggo itu malah membuat para anak buahnya terhempas berantakan!
"Uwaaah!"
Doflaminggo menyemburkan darah segar dari mulutnya, tubuhnya melengkung seperti udang direbus, satu lutut tersungkur di tanah.
Mok Xingchen baru kali ini menatap matanya setara, lalu mengucap lembut,
"Aku benci sampah di lautan yang berbicara padaku dari atas!"
"Tidak mungkin!"
Doflaminggo belum sempat bergerak, para petinggi seperti Trebol sudah berteriak kaget dengan wajah pucat, tak percaya pada yang mereka lihat.
Sejak debutnya di Laut Utara, Doflaminggo muda mengembangkan kekuatan Buah Benang hingga puncak berkat bakat luar biasa.
Namun, hari ini ia dikalahkan dengan mudah oleh seorang perwira muda Angkatan Laut, kenyataan yang sulit mereka terima.
Mereka pun serentak menodongkan pistol ke arah Mok Xingchen.
"Duar-duar-duar-duar-duar-duar!"
...
Mok Xingchen sempat berpikir, sewaktu ia menjelajahi Laut Utara dulu, Doflaminggo memang cukup beruntung tidak pernah cari masalah dengannya, sehingga ia malas repot-repot mencarinya.
Namun, kini mereka bertemu, dan dengan kekuatan yang ia miliki, menghabisi keluarga Don Quixote sungguh perkara mudah.
Status Doflaminggo sebagai mantan Naga Langit?
Bagi Mok Xingchen, pegawai tetap saja berani ia bunuh, apalagi yang sudah dipecat?
Lagi pula, menangkap bajak laut adalah tugas Angkatan Laut. Lima Tetua Langit datang pun, ia cukup berkata, "Saya ini hanya Laksamana Muda, mana tahu siapa dia..."
Toh, ketidaktahuan bukanlah dosa!
Awalnya ia ingin memberi kematian yang cepat bagi kelompok Doflaminggo, tapi Trebol si bajak laut menjijikkan malah mengajak teman-temannya menembaki polisi!
Huh, wajah jelek bukan salahmu, tapi kalau sampai menakuti anak kecil, itu memang salahmu!
...
Cahaya keemasan melingkupi tubuh Mok Xingchen. Ia sama sekali tak melirik peluru yang melayang di atas jimat perlindungan Enam Dewa,
namun dengan ramah menunduk dan memberi saran pada Doflaminggo,
"Bagaimana kalau kita mainkan satu permainan kemanusiaan, Ayam Kecil?"
Doflaminggo memang licik. Setelah merasakan kekuatan Mok Xingchen, ia langsung sadar akan perbedaan kekuatan di antara mereka.
Pria besar harus tahu kapan mundur, kapan mengalah!
Doflaminggo tak peduli betapa memalukan posisinya saat ini, ia justru tersenyum lebar,
"Hahaha... Laksamana Muda Mok, menurutmu, bagaimana permainannya?"
"Karena mereka berani menembakku, mulai sekarang, aku akan membantai satu per satu anak buahmu, sampai kau bisa memberiku alasan yang memuaskan.
Jika sampai semua anak buahmu habis dan kau belum memberiku alasan yang pantas,
maka kau...
akan mati juga!"
"Kau tak bisa..."
"Salah jawab!"
Detik berikutnya, Mok Xingchen menghilang dari pandangan Doflaminggo,
begitu cepatnya hingga anak buah Doflaminggo tak sempat bereaksi.
"Cit!"
Terdengar suara tajam pedang keluar dari sarungnya.
Doflaminggo panik berteriak,
"Lari! Cepat lari!"
Namun, kalimatnya baru terucap, Mok Xingchen sudah muncul lagi di hadapannya, dengan lembut meletakkan kepala Trebol di tangannya.
Ia tersenyum,
"Sudah kau pikirkan alasannya, Ayam Kecil?"
...
Terima kasih untuk "Han Kuan si Pecinta Sup Ekor Sapi" atas pedang emasnya, dan juga hadiah-hadiah kecil dari para pembaca semua.
Sebenarnya kemarin aku ingin menulis lebih banyak, tapi akhirnya diajak teman-teman keluar makan malam bersama, dan aku pun mabuk.
Hari ini, demi berterima kasih pada kalian, aku tak jadi naik ke atas gunung, tapi menulis di rumah saja. Setelah ini, seharusnya masih ada satu bab lagi.