Bab Sembilan Puluh Tujuh: Aku Memang Menyukaimu
Tang Guo saat ini benar-benar panik, sampai-sampai ia lupa rasa pegal di lehernya karena menengadah terus-menerus menatap Ju Luocheng. Begitu membuka mulut, ia langsung tergagap, “A-aku... aku juga tidak tahu, aku hanya mendengar orang lain membicarakannya.”
Ekspresi Ju Luocheng seketika menjadi lebih buruk. “Boleh aku tahu siapa yang kamu maksud dengan ‘orang lain’ itu?”
“Aku benar-benar tidak tahu...” Tang Guo merasa situasinya sekarang tampak sangat buruk, seolah-olah ia telah melakukan sesuatu yang sangat bodoh. “Waktu itu aku sedang di bilik kamar mandi, lalu mendengar ada orang di luar yang sedang menggunjing. Dan... waktu di kantor, setelah ibunya Chu Bei datang membuat keributan, aku juga mendengar seseorang membicarakan hal yang sama di kamar mandi.”
Ju Luocheng benar-benar ingin menyingkirkan semua orang yang suka bergosip itu. Saat ia kena hukuman bermain truth or dare, wajahnya memang tidak sedap dipandang. Meski para tamu di bawah tidak tahu apa yang terjadi, siapa pula yang menyatakan cinta dengan muka cemberut? Orang-orang itu pasti bodoh sekali. Tapi kemudian Ju Luocheng sadar, kebodohan terbesar justru berdiri di depannya saat ini! “Kamu tidak bisa tanya langsung ke aku? Tanyakan apa yang sebenarnya terjadi, apa kamu bakal mati kalau tanya? Waktu itu aku lihat kamu cukup berani, kok di saat genting malah ciut, langsung kabur. Pas ujian olahraga juga nggak pernah lari secepat itu!”
Melihat Ju Luocheng sudah emosi, Tang Guo pun tak berani macam-macam. Salah paham yang dibuatnya bukan cuma terlambat enam hari atau enam bulan, ini sudah sampai enam tahun! “A-aku... aku sebenarnya mau tanya kamu, tapi saat aku cari kamu, aku dengar kamu dan Shen Xinan sedang mengobrol di luar. Shen Xinan kebetulan membahas soal aku mirip Mu Wanxi, dan kamu bilang... memang ada sedikit kemiripan, tapi kalau dia bisa menyaingi Mu Wanxi di bidang lain, aku pasti sudah bersyukur. Makanya aku yakin apa yang kudengar memang benar. Coba kamu bilang itu bukan suara kamu, aku yakin tak mungkin aku salah dengar!”
Ju Luocheng hanya bisa terdiam, merasa mulutnya memang sial. “Emangnya aku salah bicara? Lainnya nggak usah dibahas, soal kecerdasan saja, kalau kamu bisa setengahnya Mu Wanxi si laki-laki tomboy itu, pasti nggak bakal melakukan hal sebodoh ini!”
Tang Guo langsung cemberut, air matanya meluncur tak tertahankan. Ju Luocheng pun panik, “Kamu nangis kenapa? Sekarang aku yang marah, kamu malah nangis, lihat apa yang sudah kamu lakukan! Kalau sesuai rencana, mungkin anak kita sudah bisa disuruh beli kecap! Tapi sekarang... jangan nangis, aku cuma ngomong saja... Oke, oke, aku nggak akan ngomong lagi, jangan nangis...”
Ju Luocheng bingung harus berbuat apa, berusaha menenangkan Tang Guo. Rasanya seumur hidupnya ia benar-benar kalah oleh Tang Guo. Seharusnya sekarang ia yang perlu dihibur, bukan malah membujuk Tang Guo agar berhenti menangis. Entah kenapa, Ju Luocheng tak pernah tahan melihat air mata Tang Guo. Siapa pun yang salah, asal Tang Guo menangis, semuanya jadi salahnya. Awalnya ia marah karena Tang Guo pergi, makanya bersikap dingin. Kini setelah salah paham terungkap... meski marahnya makin menjadi, setidaknya ia tahu alasannya.
Tang Guo menangis lama, baru akhirnya berhenti. Sambil tersedu-sedu ia menatap Ju Luocheng dengan wajah memelas, “Maaf...”
Ju Luocheng sambil menyodorkan segelas air dan tisu basah untuk menghapus air matanya, berkata, “Tak perlu minta maaf, biasanya itu ucapan buat kasih kartu teman baik.”
Tang Guo langsung diam. Ia benar-benar ingin tahu sudah berapa banyak kebodohan yang dilakukannya. “Tapi... kalau waktu itu kamu merasa aku tak sebaik Mu Wanxi, kenapa tetap bersama aku?”
“Perhatikan kata-kata kamu, bukan waktu itu, sekarang pun aku tetap begitu, apalagi setelah tahu tingkat kecerdasanmu sungguh menyedihkan.” Ju Luocheng menatap mata Tang Guo yang masih berair dengan pasrah, “Tapi aku kan sudah bilang, aku memang buta, dan kebutaan itu tak bisa disembuhkan. Aku suka kamu, mau apa lagi?”
Tang Guo sebal, tapi juga diam-diam tersentuh. Meski Ju Luocheng suka meremehkan kecerdasannya dan hal lain, tapi... setidaknya ia mengaku ia suka. Setelah emosinya reda, Tang Guo membersihkan wajahnya. Ju Luocheng tiba-tiba menariknya keluar untuk berjalan-jalan.
Tang Guo tahu, di sekitar sini hanya ada kampus Universitas C sebagai tempat jalan-jalan. Tapi saat mereka berjalan berdampingan di jalanan kampus, hatinya dipenuhi nostalgia. Meski ia hanya tinggal di kampus ini kurang dari dua tahun, tapi rasanya seluruh masa muda dan kisah cinta pertamanya terekam di sini. Dulu saat datang bersama Chi Hefan untuk mengenang masa lalu, ia tidak terlalu tersentuh. Namun sekarang, hanya karena berjalan bersama Ju Luocheng, semua kenangan itu membanjiri hatinya.
Sebagai universitas bergengsi yang sudah berdiri lebih dari seratus tahun, kampus Universitas C sangat luas. Namun seolah-olah setiap sudutnya menyimpan kenangan mereka. Selama hampir dua tahun berpacaran, rasanya mereka sudah menjelajahi setiap sudut kampus. Mereka berjalan santai keliling kampus, hingga akhirnya berhenti di tepi Danau Cinta yang terkenal. Tentu saja nama itu bukan nama resmi, tapi karena pemandangannya indah, letaknya strategis, dan banyak bangku yang tersedia, tempat itu jadi lokasi kencan favorit pasangan muda. Lama kelamaan, semua mahasiswa pun menyebutnya Danau Cinta.
Dulu, mereka juga sering datang ke sini setelah makan malam, duduk di bangku panjang, meski tak banyak bicara, tetap ada rasa manis yang mengelilingi mereka. Kali ini, mereka duduk di batu pinggir danau. Tang Guo menatap permukaan air yang tenang, merasa suasana di antara mereka jadi sangat hening hingga menakutkan. Sekarang sudah jam pelajaran, jadi tempat ini cukup sepi, nyaris tidak ada orang lewat. Tang Guo merasa sedikit khawatir, jangan-jangan Ju Luocheng yang terlalu marah akan mendorongnya ke danau?
Melihat Tang Guo sedikit bergeser ke belakang, Ju Luocheng mengerutkan kening, tak senang. “Kamu kenapa?”
“Ah?” Tang Guo langsung duduk tegak. “Nggak apa-apa, aku cuma takut jatuh, jadi agak mundur.”
Ju Luocheng melirik permukaan air yang masih lebih dari satu meter jauhnya, sudut bibirnya berkedut. “Otakmu memang kurang, rupanya otak kecilmu juga bermasalah. Otakmu cuma buat bobot tubuh saja ya?”
Tang Guo tak tahan lagi, langsung menarik tangan Ju Luocheng dan menggigitnya. Siapa yang dibilang otaknya tidak berkembang, orang macam ini memang menyebalkan!
Ju Luocheng meringis karena sakit, tapi tak peduli, membiarkan Tang Guo menggigit beberapa saat. Lalu ia mengetuk kening Tang Guo dengan jarinya. “Awas, air liurmu mau netes, makin kelihatan seperti kurang waras!”
Tang Guo buru-buru melepaskan tangan dan mulutnya, menyeka sudut bibir dan sadar ia baru saja dipermainkan lagi. Ia mendengus kesal, “Sehari saja tidak mengejek aku, kamu pasti nggak betah ya!”
“Iya.” Ju Luocheng mengaku tanpa ragu, lalu menarik Tang Guo ke pelukannya. “Selama bertahun-tahun nggak ada yang bisa kujadikan sasaran ejekan, hidupku terasa berat.”
Sekejap hidung Tang Guo terasa asam, matanya kembali memerah. “Jadi sebenarnya aku ini gampang dibully, kan?”
“Orang yang bisa kubully banyak, tapi aku bahkan malas bicara dengan mereka.” Ju Luocheng memeluk Tang Guo erat-erat, merasa hatinya penuh. Seolah-olah hanya dengan Tang Guo di sampingnya, ia bisa merasa seperti manusia seutuhnya. Sejak lahir, ia sudah disiapkan jadi pewaris masa depan Grup J. Saat anak-anak lain masih bermain, ia sudah harus duduk di rumah menerima pelatihan pewaris, harus selalu selangkah di depan orang lain.
Anak orang hebat, anak emas, pewaris keluarga kaya sejak lahir, semua julukan itu memang membuat orang iri. Tapi tak ada yang tahu betapa beratnya semua itu. Orang hanya tahu iri pada segala kelebihannya, tapi tak paham betapa menyedihkannya tidak punya masa kecil. Ayahnya sibuk bekerja, ibunya sibuk dengan urusan sosial yang tak ada habisnya. Masa kecilnya lebih banyak dihabiskan bersama guru privat dan para pembantu. Ia memang lebih cerdas, belajar bukan masalah baginya, tapi sejak TK sudah belajar pelajaran SD, di SD belajar pelajaran SMP, hidup seperti itu lama-lama membuatnya bosan, lelah, dan merasa berat.
Orang bilang ia dingin dan sombong, tapi sebenarnya ia hanya tidak tahu cara bergaul karena seluruh waktunya hanya untuk belajar. Sampai akhirnya ia bertemu Tang Guo... “Sejujurnya, awal aku mendekatimu memang karena wajahmu, tapi bukan karena aku suka Mu Wanxi. Dia bagiku hanya teman sejak kecil, sama saja seperti Pei Yufeng dan Shen Xinan, tidak ada bedanya. Namun rasanya aneh, tiba-tiba bertemu seseorang yang mirip teman sendiri tapi kepribadiannya sangat berbeda, jadi muncul keinginan untuk mengenal lebih dekat. Intinya, aku merasa itu menarik.”
Tang Guo tidak menyangka Ju Luocheng akan bicara seperti itu, ia pun terdiam di pelukannya, mendengarkan dengan tenang. “Tapi semakin sering bertemu, aku jadi ingin menggodamu. Melihatmu lincah kesana kemari membuatku senang, kalau tak melihatmu, suasana hatiku jadi buruk. Dari situ aku sadar, mungkin perasaanku padamu berbeda. Sebelum bertemu kamu, aku tidak tahu seperti apa rasanya suka pada seseorang, meski saat itu aku sudah dua puluh tahun, aku jarang bergaul dengan lawan jenis, jadi urusan begini aku benar-benar awam.”
“Kemudian saat tahu kamu ikut acara pertemanan bersama Xia Ziyao dan Bailu, aku merasa sangat kesal sampai ingin memukul orang. Baru saat itu aku sadar, mungkin aku memang menyukaimu.” Ju Luocheng teringat kejadian waktu itu, tak bisa menahan tawa. “Dalam pelajaran aku memang selalu unggul, tapi urusan perasaan, aku masih berpikiran seperti anak SD. Karena suka, jadi suka mengganggu dan mengusili, berharap bisa menarik perhatianmu, makanya aku selalu mencari cara agar kamu muncul di sekitarku. Semua itu baru aku mengerti saat di perjalanan hendak menangkapmu ikut acara pertemanan itu.”
Tang Guo mengenang masa lalu, meski sebelum pacaran Ju Luocheng sering mengusili dirinya, tapi sebenarnya perlakuannya tidak pernah menyakitkan. Hanya saja karena Ju Luocheng terlalu suka bersikap buruk, ia jadi merasa di-bully. Lalu Tang Guo teringat sesuatu. “Katanya semua artis besar itu kamu minta bantuan Pei Yufeng buat mendatangkannya, dan kamu bahkan bikin mereka semua hampir pingsan karena kesal?”