Bab Tiga Puluh Delapan Perlakuan Istimewa Saat Hari Raya
Setelah mengantar dokter tua itu pergi, Shen Qinghe baru mulai memasak.
Mengetahui bahwa penyakit ibunya akan perlahan membaik selama dirawat dengan sungguh-sungguh, Shen Qinghe merasa lega. Kini ia memiliki tabungan, dan selama ia terus menyulam untuk toko sulaman, keluarga mereka bisa makan daging setiap tiga atau lima hari sekali.
Ia tidak berani terlalu berhemat. Ibunya menjadi lemah justru karena tidak tega makan dan selalu memberikan makanan bergizi kepada anak-anaknya.
Lin Qiyue kembali ke kamarnya. Biasanya, pemilik asli tubuh ini tidak pernah masuk ke dapur untuk membantu, jadi ia merasa lebih baik mempertahankan citra tersebut.
Shen Yu meminta Shen Ting untuk menjaga di samping tempat tidur nenek, sementara ia sendiri masuk ke dapur untuk membantu. Meski baru berusia lima tahun, ia sudah pandai menanak nasi.
Shen Qinghe bekerja dengan cekatan. Ia memotong setengah bagian daging menjadi irisan tipis, mencampurkan bagian lemak dan daging, lalu membumbuinya. Di dalam mangkuk besar, ia menaruh sayur asin di bagian bawah dan menyusun irisan daging di atasnya. Sayur asin kukus daging ini memiliki aroma yang semerbak dan merupakan hidangan khas daerah mereka.
Shen Yu telah mencuci beras dan menaruhnya di mangkuk besar dengan takaran air yang pas. Shen Qinghe memasukkan kedua mangkuk besar itu ke dalam panci untuk dikukus bersamaan, sementara Shen Yu bertugas menjaga api. Setelah itu, Shen Qinghe membuat sup daging tanpa lemak dengan taburan daun bawang, sepiring tumis sayuran hijau, dan sepiring lobak kering yang asin dan renyah.
Sisa daging dipotongnya menjadi bongkahan setebal satu inci, dibumbui, dan dibiarkan untuk dimasak dengan teknik ungkep setelah makan nanti. Daging ungkep ini disiapkan untuk makan esok hari.
Kurang dari satu jam, Shen Qinghe telah menyajikan hidangan di meja. Aroma daging memenuhi seluruh ruangan. Tiga jenis masakan dan satu sup, lengkap dengan nasi putih. Ini adalah kemewahan yang biasanya hanya mereka dapatkan saat hari raya.
Setelah meminum obat dan beristirahat di tempat tidur selama setengah jam, Ibu Shen merasa sudah lebih baik dan menyatakan sanggup bangun untuk makan.
*
Sesaat setelah keluarga itu selesai makan, ada tamu yang datang. Mereka adalah dua orang terpelajar dari desa yang sama yang menuntut ilmu di Akademi Rongshan, beserta orang tua mereka.
Kabar mengenai Lin Qiyue yang mendapatkan hadiah kompetisi dan menarik perhatian Tuan Chen Liu sudah menjadi buah bibir di seluruh desa. Setelah melontarkan berbagai pujian berlebihan, kedua terpelajar itu pun menyampaikan maksud kedatangan mereka.
"Nyonya Shen, bisakah Anda mengajari kami kaligrafi gaya Song?"
Lin Qiyue menggelengkan kepala. "Maaf, saya tidak menerima murid."
Ia tidak melihat tanda-tanda bahwa kedua terpelajar ini mau merendahkan diri untuk berguru pada seorang wanita. Lagi pula, ia sama sekali tidak tertarik pada mereka. Ditolak secara langsung tidak membuat kedua terpelajar itu tampak kecewa, karena hal itu memang sudah mereka duga sebelumnya.
Namun, tujuan mereka hari ini bukan itu.
Salah seorang terpelajar berkata, "Nyonya Shen, para siswa di akademi kami semua mengagumi karya Anda setelah melihatnya. Mereka bilang, jika bisa menyaksikan langsung bagaimana Anda menulis, pasti akan sangat membantu perkembangan kami."
Terpelajar lainnya menambahkan, "Kami pun ingin melihatnya secara langsung. Sayang sekali saat itu kami tidak bisa mendekat. Kini kami telah datang, bisakah Nyonya Shen memberikan kesempatan itu kepada kami?"
Salah seorang ibu di antara mereka tersenyum menimpali, "Istri Shen Yan, mereka ini teman sekelas sekaligus saudara satu desa dengan Shen Yan. Jarang sekali mereka memiliki semangat belajar yang tinggi, terimalah permintaan mereka."
"Mereka bahkan bisa membantu Anda menyiapkan tinta."
Karena sudah sampai pada titik ini, Lin Qiyue berpikir tidak ada salahnya menulis sedikit, toh tidak akan memakan banyak waktu.
Sesampainya di ruang kerja, Lin Qiyue mengambil selembar kertas latihan milik Shen Yu dan membentangkannya di atas meja. Kedua terpelajar itu segera mengeluarkan kertas Xuan panjang yang telah mereka siapkan.
"Nyonya Shen, mohon tuliskan di sini."
"Tuliskan saja, 'Semoga berkah seluas samudra, semoga usia sepanjang pegunungan'."
Lin Qiyue merasa geli. Bagaimana bisa kedua orang ini mengira dirinya begitu mudah ditipu?
"Apakah setelah selesai menulis, saya juga harus membubuhkan tanda tangan?"
"Apakah harus seperti permintaan Tuan Tua Chen, hanya menuliskan dua karakter 'Qiyue' saja pada tanda tangannya?"