Makan manusia tanpa menyisakan tulang belulang.
"Yingying... Yingying, kamu di sana?"
Ponsel Ying Ling bergetar dua kali.
Ia mengunyah permen karet yang rasanya sudah hilang beberapa kali, lalu merogoh saku, mengambil ponselnya dan menyalakan layar. Sebuah notifikasi langsung muncul di bilah status.
Pengirimnya adalah seseorang yang disimpan dengan nama "Teman SMA/156/36C/Polos dan Kaya/Fang Zhizhi".
Luar biasa, layak untuk dikenang. Bagaimanapun, ini adalah pesan pertama dari manusia hidup yang ia terima setelah menggantikan Nona Besar Keluarga Le, Le Ying, memasuki permainan horor ini.
"Yingying... bisakah kamu menemani aku mengobrol?"
"Di luar... tiba-tiba ada seorang wanita berambut panjang yang mondar-mandir..."
"Suara sepatu hak tinggi terus terdengar di koridor... apa dia sedang memperhatikanku?"
"Aku sangat ketakutan... sungguh aku takut sekali!"
Ying Ling menunduk memandang sepatu olahraganya, lalu dengan cekatan mengetik di layar. Jari-jarinya ramping dan halus, seolah menari di atas nada, "Bukan aku, hari ini aku pakai adidas."
Di seberang sana, status "Sedang mengetik..." dan nama kontak itu muncul bergantian selama belasan detik, barulah pesan kembali masuk.
"Yingying... jangan bercanda, ini tidak lucu..."
"Tunggu! Aku merasa suara itu semakin mendekat!"
"Kamu... kamu bisa datang ke asrama Gedung B menjemputku? Aku takut sendirian..."
Dalam suasana remang-remang, cahaya penuh dari ponsel sedikit menyilaukan mata. Ying Ling menurunkan tingkat kecerahan, lalu memandang permintaan tolong itu dan mengejek pelan sebelum membalas, "Tapi aku masih harus jalankan misi, bantu hantu wanita cari anaknya~ Baterai ponselku cuma sisa 98%, aku pamit dulu ya."
Ia pun menyisipkan stiker kucing mengedipkan mata.
Belum sempat layar padam, Fang Zhizhi langsung panik dan memborbardir pesan, "Jangan! Yingying! Tolong aku!"
"Aku akan suruh ayahku serahkan tanah itu pada Paman Fang, setuju?"
"Kamu kan putri sulung Keluarga Fang! Kalau kamu bisa bantu keluargamu dapatkan tanah itu, bukan jadi jasa besar? Paman Fang pasti senang!"
"Asal kamu mau bantu, aku janji akan menepati ucapanku!"
"Kumohon, Yingying!"
Melihat kata-kata itu saja, Ying Ling bisa membayangkan gadis manja itu pasti sedang bersembunyi di bawah ranjang, gemetar ketakutan.
Membayangkan itu, suasana hatinya jadi sangat bagus.
"Kalau aku jadi kamu, aku akan segera keluar dari bawah ranjang dan bersembunyi di kamar mandi balkon."
"Ha? Yingying... kok kamu tahu aku sembunyi di bawah ranjang?"
"Nebak pakai jempol kaki." Melihat balasan Fang Zhizhi yang santai, Ying Ling mengingatkan dengan baik hati, "Mau lanjut ngobrol sama aku, atau mau selamatkan diri dulu?"
"Baik! Yingying tunggu, aku ke kamar mandi dulu, nanti kabari kamu! Jangan tinggalkan laman chat ya!"
Ying Ling tidak membalas. Dengan satu sentuhan lembut, layar ponsel pun padam.
---
Ia meraba saku bajunya, mengambil sesuatu berbungkus hijau dengan dua jari.
"Segarkan napas, kita jadi lebih dekat~" gumamnya sambil membuka bungkus dan memasukkan permen karet ke mulut.
Baru dikunyah beberapa kali, ponselnya bergetar hebat!
Ia menggenggam ponsel erat-erat, takut kalau-kalau terjatuh karena getaran itu.
Puluhan pesan masuk berebut memenuhi layar, seperti mantra kematian yang mendesak. Ia menajamkan pandangan, nama Fang Zhizhi memenuhi layar.
"Yingying! Aku tamat... aku benar-benar tamat!"
"Tadi waktu aku ke balkon, aku buka pintu, dan... dan..."
"Aku melihat seorang wanita berbaju merah membelah perut orang dengan kapak!"
"Aku melihatnya satu, dua kali... orang itu sudah tak bergerak! Tapi dia masih menebas!"
"Aku melihat sendiri... usus orang itu terburai ke lantai..."
"Saat itu, entah kenapa kakiku tak bisa bergerak... kepalaku juga sakit sekali!"
"Begitu sadar, aku... aku melihat..."
"Wanita itu menyeringai, mulutnya berlumuran darah! Air mata darah mengalir dari matanya, menatapku sambil tersenyum!"
"Yingying! Yingying, apa yang harus kulakukan?! Aku lihat... dia seperti... seperti membawa kapak mendekat!"
Dari kata-kata yang terputus-putus itu, Ying Ling akhirnya bisa memahami situasi.
Ia memijat pelipis, lalu bertanya, "Kalau dugaanku benar, kamu kembali bersembunyi di bawah ranjang, kan?"
Langsung mendapat jawaban pasti, "Iya! Betul!"
Benar-benar anak bandel.
Dan kurang pintar.
"Sekarang... sekarang aku harus bagaimana?" Gadis yang diteror ketakutan itu spontan menggantungkan seluruh harapannya pada satu-satunya kontak yang membalas.
"Aku sudah coba kirim pesan ke banyak orang, tapi tak ada yang balas. Mungkin sengaja, mungkin juga semua sudah mati... Sekarang, cuma kamu harapanku, Yingying. Kalau kamu selamatkan aku, aku akan jadi budakmu!"
Mendengar tawaran itu, mata Ying Ling langsung berbinar.
"Baiklah, sekarang apapun yang aku bilang, jangan membantah. Ikuti saja, kalau tidak aku tak bisa bantu."
"Siap! Tenang saja!"
"Sama seperti yang kubilang tadi, pergi bersembunyi di kamar mandi."
Baru saja Fang Zhizhi menyanggupi, ia kembali ragu, "Tapi..."
Belum selesai kalimatnya, Ying Ling langsung memotong, "Kalau gitu silakan main sendiri. Nanti kalau aku keluar, akan kukirim lebih banyak kalung dan anting buatmu. Oh ya, maaf, kamu lebih suka emas atau perak?"
---
"Jangan!"
Ancaman itu ternyata sangat efektif.
"Aku pergi sekarang, Yingying tunggu!"
Namun hanya Ying Ling yang tahu, ucapannya itu tidak sekadar menakut-nakuti. Ia sungguh siap meninggalkan gadis itu jika terus mengulur waktu.
Orang yang suka berlama-lama memang menyebalkan.
Kalau bukan demi tanah itu... eh, bukan, demi budak... eh, bukan juga, kalau bukan karena dia teman SMA Le Ying, ia takkan buang-buang waktu sebanyak ini.
Tak lama kemudian, Fang Zhizhi berjongkok gemetar di sudut kamar mandi, giginya menggigit bibir sampai pucat, memaksakan diri mengetik, "Yingying, aku sudah di sini, lalu bagaimana?"
Balasan Ying Ling membuatnya seketika lemas di tempat.
"Jangan kunci pintu, biarkan pintu kamar mandi terbuka."
Fang Zhizhi langsung menolak, "Tidak! Itu sama saja dengan bunuh diri!"
"Tiga kali cukup, ini kesabaran terakhirku. Mau dengar silakan, tidak ya terserah."
Wajah Fang Zhizhi kehilangan warna, melihat sikap Ying Ling yang seperti akan meninggalkannya, rasa takut berubah jadi kemarahan yang tak bisa dijelaskan, ia mengetik dengan marah hingga hampir melubangi layar, "Le Ying? Maksudmu apa? Aku percaya padamu makanya minta tolong, sekarang kamu malah sok tak peduli? Kamu pikir, sebagai perempuan, bisa lari sendirian tanpa kerja sama? Jangan mimpi!"
"Putri keluarga Le ternyata cuma begini saja!"
"Kamu sengaja mau mencelakakanku! Biar semua mati, tinggal kamu yang selamat, makanya kamu suruh aku ke kamar mandi tanpa kunci! Kamu jahat sekali!"
Kata-kata kasar itu terpampang di layar, menyorot dingin ke mata Ying Ling.
Gadis itu, dalam satu menit, mengirimkan tiga puluh pesan hinaan.
Ying Ling berpikir sejenak, lalu saat suasana di seberang agak tenang, ia membuka koleksi stiker dan membalas dengan emoji kacang kedelai berkeringat.
"Le Ying! Tunggu saja! Kalau aku selamat, kamu akan menyesal!"
"Apa sih yang kamu sombongkan?!"
Kasihan ponselnya kembali bergetar tanpa henti.
Inilah yang disebut satu serangan sederhana bisa memancing jurus pamungkas lawan dan menembus pertahanan seratus persen.
"Aku tiba-tiba berubah pikiran," ujar Ying Ling sembari menekan tombol kirim.
Fang Zhizhi melihat pesan aneh itu, memutar bola mata, "Kamu memang gila!"
Sudut bibir Ying Ling melengkung membentuk senyuman menyeramkan, matanya yang bercahaya menatap tajam ke arah avatar Fang Zhizhi.