Menangkap Bayangan (Bagian Akhir)
“Apa katamu?” Remaja lelaki itu meragukan pendengarannya sendiri.
Ying Ling mengerjap-ngerjapkan matanya yang tampak tak berdosa, lalu berkata lagi, “Aku bilang aku belum pernah mencicipi dua ka—”
“Ssst.”
Tanpa diduga, ekspresi pemuda itu langsung berubah tegang. Ia buru-buru membekap mulut gadis itu dengan tangannya.
“Jangan diteruskan.”
Sambil menggenggam lengan Ying Ling untuk menariknya bangkit dari tanah dan bergegas pergi dari tempat yang ramai dan penuh mata usil, ia merogoh saku celananya untuk mengeluarkan dan mengotak-atik ponsel.
“Tambahkan kontatku.” Ia mendekatkan layar ponselnya ke hadapan Ying Ling, menampilkan sebuah kode QR.
Ying Ling tidak menolak. Setelah keduanya saling bertukar kontak, pemuda itu baru melancarkan perkenalan diri yang tertunda: “Namaku Fuzhi, mahasiswa jurusan jurnalistik di Universitas Guangyue. Aku tahu kau pasti bingung kenapa aku ingin menambah kontakkanmu—”
Dering telepon yang mendadak memotong ucapannya. Fuzhi mengucapkan kata maaf dengan singkat, lalu berbalik untuk mengangkat panggilan tersebut.
“Hm... Minggu depan? Aku tahu... Baik...”
Tak lama kemudian, ia menutup teleponnya dan berbalik dengan tatapan yang menyiratkan sedikit rasa bersalah.
“Maaf, aku ada urusan yang harus diselesaikan sekarang. Nanti setelah selesai, aku akan mengirimimu pesan.”
“Serta, ucapanmu yang tadi, jangan pernah diulangi lagi di luar.”
Ia membalas dengan senyuman tanpa sedikit pun beban. Sinar matahari berputar di atas kepalanya, membingkai garis wajahnya yang keemasan dan memancarkan lingkaran cahaya yang hangat.
Fuzhi pergi dengan langkah yang sangat cepat. Dalam sekejap, sosoknya telah menghilang di tikungan jalan.
Ying Ling berdiri terpaku di tempatnya dalam diam. Menatap foto profil Fuzhi yang berupa gambar kartun ikan koi, ia mengetuk layar beberapa kali dan mengirimkan stiker kepala panda sebagai tanda keramahan.
Tak lama kemudian, sebuah balasan diterima—stiker beruang kecil yang melambaikan tangan mungilnya dengan tulisan "Halo" yang melompat keluar.
Duh, jika dibandingkan seperti itu, apakah gayanya terlalu kaku?
Ataukah ia harus memperbarui koleksi stikernya dan mengunduh beberapa yang lebih imut dan menggemaskan?
Ia langsung menambahkan stiker milik lawan bicaranya itu, lalu balik mengirimkan stiker yang sama.
Begitu tiba kembali di toko, barulah ia sadar sepenuhnya.
Hari ini, bukan saja pelaku gagal tertangkap, pangsit kukus yang diidamkannya pun gagal disantap, dan uangnya terbuang begitu saja secara percuma.
Ia merasa begitu putus asa hingga ingin merangkak dengan suram di atas tanah...
Omong-omong, informasi yang dikumpulkan oleh Yanye belum sempat ia baca.
Ia menahan dorongan untuk merangkak di lantai, lalu membuka dokumen di ponselnya dengan tenang dan memindai isinya sekilas.
“Buronan tanpa nama, nama aslinya Yang Hao. Bukan mahasiswa Universitas Guangyue, saat ini tidak memiliki pekerjaan.”
“Seorang yatim piatu. Orang tuanya menelantarkannya dan melarikan diri ke luar daerah saat ia masih kecil, hingga kini keberadaannya tidak diketahui.”
“Semasa SMA, ia dikeluarkan karena memiliki kecenderungan melakukan kekerasan serta gemar berkelahi. Semenjak saat itu, entah karena mengalami guncangan apa, kondisi kejiwaannya menjadi kurang stabil. Ia pernah pingsan di rumah setelah tiga hari berturut-turut tidak makan dan minum, sebelum akhirnya diselamatkan oleh... adik perempuannya dan dibawa ke rumah sakit.”
“Setelah keluar rumah sakit, ia menderita kebiasaan tidur di siang hari dan tidak bisa dibangunkan. Ia hanya sadar selama tiga jam di malam hari untuk keluar melakukan aktivitas. Kemampuan mengenali lingkungan sehari-harinya cenderung lemah, dan ia sering kali menuntaskan hajat biologisnya di sembarang tempat di luar...”
Ying Ling bergumam pelan, “Pantas saja dia begitu mencintai bunga dan rumput kecil, sampai-sampai memberikan pupuk gratis untuk mereka.”
Jari-jarinya bergerak mengusap-usap kata "adik perempuan" bolak-balik, sementara benaknya perlahan-lahan menjadi sangat jernih.
Di baris pertama pada halaman terakhir dokumen tersebut, tertulis sebuah kalimat.
“Yang Hao adalah seorang yang antisosial dan hidup saling bergantung dengan adiknya. Ia pernah menghilang selama sebulan penuh, lalu tiba-tiba pulang ke rumah di tengah malam tanpa kurang suatu apa pun, tetapi menolak keras untuk berbicara atau berkomunikasi dengan orang lain. Bulan berikutnya, sang adik berhasil diterima di Universitas Guangyue... bernama Yang Shuning.”
Di bagian akhir, dilampirkan sebuah foto keseharian Yang Hao yang diambil dari sudut pengambilan gambar yang janggal, tampak seperti rekaman kamera pengawas milik suatu toko.
Ia sedang memasukkan beberapa peralatan ke dalam kantong, seperti gunting, selotip, dan sarung tangan. Lengan bajunya sedikit terlipat ke atas akibat gerakan tersebut, secara kebetulan memperlihatkan pergelangan tangannya dengan jelas tanpa ada yang terlewat.
Ying Ling mengamati foto itu lekat-lekat, lalu melompat karena girang!
Sebuah rencana di dalam benaknya perlahan-lahan mulai terbentuk.
Ia berlari menaiki tangga dengan bunyi gedebuk yang bergemuruh dan membongkar lemari sambil bergumam sendiri, “Senter, semprotan anti-kejahatan... bawa pisau kecil juga, lalu... cairan cabai, ah, ini juga harus dibawa.”
“Benar, dan langkah yang paling penting, umpan!”
Ia mengeluarkan ponselnya, mengetik sebuah pesan, lalu mengetuk tombol kirim.
“Selesai.”
Selanjutnya, ia hanya perlu menunggu hingga malam tiba, dan semuanya akan menjadi lebih mudah.
……
Pukul 22.00 WIB
Segalanya teramat sunyi. Langit malam ini tampak biasa saja tanpa hiasan bintang maupun bulan, dan bumi tenggelam dalam keheningan yang misterius serta pekat.
Entah mengalami kerusakan apa, lampu-lampu di pinggir jalan malam ini tidak menyala, membuat seluruh jalanan menjadi sangat gelap gulita.
Di atas pohon, jangkrik-jangkrik mengerik nyaring di antara rerimbunan daun. Di bawah pohon, bayangan hitam melintas dan bergerak menyusup tanpa suara.
Mengingat kembali berbagai permainan komputer yang pernah ia tamatkan sebelumnya, Ying Ling mau tak mau membayangkan dirinya sebagai seorang pembunuh bayaran.
Sensasinya persis sama seperti pengalaman Realitas Virtual sungguhan.
Sebelum ia sempat melamun lebih jauh, suara langkah kaki sudah terdengar dari tidak jauh di sana.
Meskipun wajah orang yang datang itu tidak terlihat jelas di dalam gelap, ia tahu siapa orang itu.
Itu adalah Luo Yaya, umpan bagus yang ia panggil untuk membantunya.
Ying Ling meningkatkan kewaspadaannya dan menggenggam pisaunya erat-erat. Meminta Luo Yaya untuk menjadi umpan sudah merupakan tindakan yang sangat berisiko, jadi ia harus memastikan keselamatan temannya itu apa pun yang terjadi.
*Pluk, pluk*
Hanya suara langkah kaki Luo Yaya seorang diri yang terdengar di sepanjang jalan tersebut.
Gadis itu menoleh ke sekeliling dengan perasaan cemas. Bayangan pepohonan yang bergoyang tampak bagaikan ribuan tangan gelap yang melambai-lambai di udara, dan sedikit saja suara sudah cukup membuat jantungnya berdegup kencang karena ketakutan.
*Pluk, pluk, pluk*
Semakin ia berjalan, langkahnya semakin cepat, dan ekspresinya semakin diliputi kepanikan.
Pada saat inilah Ying Ling akhirnya menyadari ada sesuatu yang tidak beres—
Suara langkah kaki itu... bukan hanya milik satu orang.
Awan yang bergerak menutupi cahaya bulan, sekaligus menyembunyikan... dua bayangan di atas tanah.
Luo Yaya meremas ujung pakaiannya erat-erat seraya berpura-pura tenang.
“Jangan menoleh, tidak boleh menoleh...”
Ying Ling memperkirakan jaraknya dalam diam, mengamati gadis itu yang semakin mendekati tempat persembunyiannya.
10 meter...
Tangan Luo Yaya mulai gemetar tanpa sadar.
7 meter... 5 meter...
Waktunya telah tiba!
“Aaaaa!” Luo Yaya menjerit nyaring dan langsung berlari seolah sedang melarikan diri dari maut. Di saat yang bersamaan, Ying Ling melompat keluar dari balik pohon bagaikan seekor citah, langsung menerkam ke arah target!
Makhluk yang membuntuti di belakang Luo Yaya untuk bersiap melancarkan serangan itu tampak jelas terkejut, dan sebaliknya langsung berbalik untuk lari terbirit-birit!
“Berhenti!” Ying Ling membuka langkah lebarnya dan langsung mengejar!
Ia mengerahkan seluruh tenaganya, dengan mudah memperpendek jarak di antara mereka, dan setelah memastikan saat yang tepat untuk menambah kecepatan, ia langsung menerjang dengan tegas saat jarak mereka kurang dari satu meter!
Di tengah pergulatan tersebut, ia merenggut jubah orang di bawahnya hingga lepas, memperlihatkan wajah yang sama persis seperti yang ada di dalam foto.
Yang Hao meronta-ronta dengan liar sambil berteriak marah, “Pergi sana!!”
Begitu suaranya reda, Ying Ling langsung melayangkan tamparan telak ke wajahnya!
Yang Hao hampir mengatupkan giginya hingga patah karena geram: “Jalang! Enyah!”
*Plak!*
Satu tamparan kejam mendarat lagi.
Kali ini dengan kekuatan dua kali lipat lebih berat dari sebelumnya.
Ying Ling menahan pergerakan pria itu mati-matian.
“Jangan bergerak! Kalau bergerak lagi, kutampar lagi kau!”
Luo Yaya berjalan mendekat dengan gemetar dari samping. Ketika melihat Yang Hao menatapnya dengan tatapan penuh teror dan sorot mata yang kejam, ia ketakutan setengah mati hingga kembali mundur bersembunyi.
Ying Ling mendengus kecil, lalu mengeluarkan cairan cabai pusaka keluarganya, mengarahkannya ke wajah pria itu dan menekan tombol semprotnya.
Jeritan kesakitan yang sudah bisa diduga langsung menggema menggelegar ke angkasa.
“Aaaaaaaaakh!!” Yang Hao memejamkan mata rapat-rapat dengan wajah yang memerah padam. Ying Ling mengendurkan cengkeramannya dan membiarkan pria itu berguling-guling di atas tanah dalam penderitaan.
“Pengingat hangat, jangan mengucek mata ya.”
Ucapan bernada iblis itu membuat jeritannya semakin terdengar menyayat hati.