Bab 142: Ju Luocheng Adalah Raja Cuka
Tang Guo mencibir. Pria seperti ini benar-benar menyebalkan. "Besok pagi aku tidak mau ke kantor. Kalau kamu mau menyuruh orang datang memasang lantai, kenapa kamu tidak memikirkan bagaimana mereka bisa masuk rumah!"
Ju Luocheng menanggapinya dengan acuh tak acuh, meracik mangkuk sausnya sendiri, lalu menepuk kepala Tang Guo secara spontan. "Pergi sana, awasi pancinya. Kalau airnya sudah mendidih, masukkan mi-nya."
"Iya, iya, iya." Tang Guo mendengkus pelan. Dia sedang membahas masalah pria itu, tapi pria itu malah menyuruhnya bekerja.
Karena keesokan paginya tidak perlu pergi ke kantor, Tang Guo sengaja mematikan alarmnya agar bisa tidur sepuasnya, dan meminta Ju Luocheng untuk membangunkannya saat berangkat kerja nanti. Namun, ketika dia terbangun dalam keadaan setengah sadar, dia melihat matahari yang terik di luar balik tirai jendela. Dia meraba meja samping tempat tangannya menggapai jam alarm. Seketika itu juga dia terbangun sepenuhnya—ternyata sudah hampir pukul sebelas!
Tang Guo merasa pusing dan kebingungan sejenak. Apakah tadi Ju Luocheng sebenarnya sudah memanggilnya tapi dia tertidur lagi, atau pria itu sama sekali tidak memanggilnya? Melihat tidak ada panggilan tak terjawab di ponselnya, Tang Guo merasa heran apakah sang tukang benar-benar datang atau tidak. Dengan terburu-buru dia mencuci muka, menyikat gigi, berganti pakaian, lalu turun ke lantai bawah. Dia melihat ruang tamu sudah berubah wujud. Meskipun warna lantainya hampir sama seperti sebelumnya, yaitu kayu solid berwarna gelap, tetap saja bisa dibedakan mana yang baru dan mana yang lama.
Saat Tang Guo masih kebingungan, dia melihat Ju Luocheng keluar dari dapur. "Kamu... hari ini tidak pergi ke kantor?"
"Kamu pikir aku akan tenang meninggalkanmu sendirian di rumah." Ju Luocheng berbalik dan masuk kembali ke dapur, lalu membawa keluar bubur yang terus dihangatkan. "Makanlah sesuatu dulu, makan siang sebentar lagi siap."
Tang Guo langsung merasa salah tingkah. "Lalu kenapa kemarin kamu tidak bilang apa-apa? Lagian, kalau kamu tidak masuk kerja, berarti aku tinggal di rumah... cuma buat tidur seharian gitu?"
"Bukankah itu bagus?" Ju Luocheng sama sekali tidak merasa ada yang salah. "Sekalian buat nambah jam tidurmu."
Tang Guo merasa sangat tidak berdaya menghadapi sikap Ju Luocheng yang begitu santai dan merasa benar sendiri. Dia memilih untuk tidak mempermasalahkan hal itu lagi. Lagi pula, dia sudah izin tidak masuk, dan dia juga sudah tidur sampai menjelang siang. Anggap saja ini sebagai hari libur untuk dirinya sendiri, sebab duduk menyulam setiap hari adalah hal menguji kesabaran.
Tang Guo melangkah di atas lantai baru itu, berpikir bahwa tidurnya benar-benar sangat pulas sampai-sampai tidak mendengar suara apa pun. Selain itu... efisiensi kerja ini luar biasa cepat! Dalam sekejap semua lantai lama sudah dibongkar, diganti yang baru, dan bahkan sudah dibersihkan dengan rapi! Tang Guo baru saja menghabiskan semangkuk penuh bubur dan belum sempat berjalan-jalan sebentar, Ju Luocheng sudah keluar membawa piring makanan. "Cuci tanganmu, bersiaplah untuk makan siang."
Tang Guo hampir tersedak oleh air liurnya sendiri. "Kalau sudah mau makan siang, mental seperti apa yang membuatmu menyuruhku menghabiskan semangkuk besar bubur tadi?"
Ju Luocheng tampak sangat tenang. "Tidak bentrok kok. Bubur itu sarapan, yang ini makan siang."
Tang Guo hampir berlutut. Penjelasan yang luar biasa ajaib! Karena dia bangun kesiangan, bukankah seharusnya dalam keadaan normal dua waktu makan digabung menjadi satu? Kenapa dia harus makan dengan porsi dua waktu makan sekaligus? "Aku menolak untuk berbicara denganmu, sampai jumpa."
Ju Luocheng mengulurkan tangannya yang panjang, menarik bagian belakang kerah baju Tang Guo, dan langsung menyeretnya mendekat. "Makan yang benar. Nanti setelah makan, kita jalan-jalan keluar sebentar. Akhir-akhir ini terlalu sibuk sampai tidak sempat menemanimu. Hari ini kebetulan ada kesempatan, jadi aku akan menemanimu dengan baik."
Langkah kaki Tang Guo langsung terhenti. Butuh waktu lama baginya sebelum mendengkus dingin dan duduk di dekat meja makan. "Tapi aku hanya mau setengah porsi nasi saja, dan jangan paksa aku makan banyak lauk. Terlalu kenyang itu tidak baik untuk lambung!"
Ju Luocheng mengiyakan dan mengambilkan setengah mangkuk nasi untuk Tang Guo. "Nanti sore kalau kamu kelaparan, jangan bilang aku menyiksamu."
Tang Guo memakan udang saus bawang putih yang baru saja dimasak oleh Ju Luocheng sambil mendengkus pelan. Dia tidak akan kelaparan, lagian kalau lapar, bukankah dia bisa mencari makanan sendiri! Kencan pada dasarnya hanya berarti jalan-jalan dan menonton film. Saat keluar dari bioskop, Tang Guo tiba-tiba teringat sesuatu. "Sepertinya proyek Kak He Fan akan benar-benar selesai dalam beberapa hari lagi dan dia bersiap kembali ke Amerika. Mumpung hari ini kamu ada waktu luang, bagaimana kalau aku menelepon Kak He Fan dan mengajak kita semua makan malam bersama nanti?"
Meskipun Ju Luocheng sama sekali tidak ingin ada orang lain yang mengganggu waktu berdua antara dia dan Tang Guo, tapi karena pria itu adalah kakak dari keluarga sahabat yang selalu merawat Tang Guo dengan baik, dia akan bersedia menemuinya kali ini. "Baiklah, telepon saja dia dan tanyakan apakah dia punya waktu luang."
Tang Guo tersenyum cerah sambil membuat gestur OK, lalu memanggil nomor Chi Hefan. Baru saja tersambung, suara ceria Chi Hefan langsung terdengar dari seberang. "Aduh, Tuan Putri Tangguo, sungguh langka sekali. Kamu bahkan berinisiatif menghubungiku!"
Tang Guo mendengkus pelan. "Baguslah aku meneleponmu, jadi jangan permasalahkan apakah ini langka atau tidak. Apakah kamu punya waktu luang hari ini?"
Chi Hefan menyipitkan matanya sedikit. "Kalau kamu mau mentraktirku makan, maka aku ada waktu."
"Sombong sekali kamu." Tang Guo merasa tidak berdaya. "Bukannya aku yang traktir, tapi ada orang lain yang mau traktir. Mau datang atau tidak?"
"Ada makanan gratis, kenapa tidak datang?" Meskipun saat melihat nama Tang Guo tertera di layar ponselnya Chi Hefan sudah bisa menebak untuk apa gadis itu mencarinya, tetapi mendengar ucapan tersebut tetap membuat hatinya sedikit terasa perih. Pergi menemui suami dari gadis yang dicirikannya, adakah yang lebih menyedihkan dari ini? "Di mana dan jam berapa?"
Tang Guo melirik jam tangannya. "Kami sedang berada di Gedung Kaisheng. Ini sudah lewat pukul lima, jadi kita janjian jam enam saja... Ah, apakah kamu masih di kantor? Kalau jam enam baru jam pulang kerja, kalau begitu kita janjian jam setengah tujuh saja."
"Tuan Putri Tangguo, kakakmu ini adalah orang level pimpinan, mana mungkin tidak boleh bolos kerja demi menemani tuan putri kecilku makan!" Chi Hefan berjalan keluar sambil menggoyangkan kunci mobilnya. "Lagian proyeknya kan sudah mau tahap akhir, apa lagi yang harus aku kerjakan? Tunggu sebentar, aku segera sampai."
"Tunggu!" Tang Guo tiba-tiba teringat hal penting. "Kamu ingin makan apa?"
"Kamu mau makan apa?" Chi Hefan balik bertanya. "Makan apa pun yang kamu inginkan."
"Kalau begitu aku yang tentukan." Tang Guo tahu bahwa Chi Hefan tidak begitu pemilih soal makanan, dan setiap kali makan selalu dirinya yang menentukan, jadi dia tidak banyak bicara lagi dan langsung menutup telepon. "Sudah kubilang, Kak He Fan akan segera sampai."
Ju Luocheng melirik Tang Guo sekilas. "Meskipun dia itu seorang kakak, tapi tidak boleh bicara dengan nada seakrab itu. Aku cemburu!"
Tang Guo diam-diam menepuk jidatnya. Tadi saat dia menelepon, pria itu terus memandangnya. Dia pikir pria itu mau mengatakan apa, ternyata malah mempermasalahkan hal semacam itu. "Omong-omong, di sebelah mana ucapanku terdengar akrab? Bukankah itu percakapan yang sangat normal!"
"Tapi kakakmu itu terus memanggilmu tuan putri kecil..." Ju Luocheng dengan jujur mengakui sifat kekanak-kanakan dan rasa cemburunya. "Dia bahkan bilang kamu adalah tuan putri kecil miliknya. Kamu jelas-jelas milikku!"
Tang Guo merasa sangat pasrah. Membicarakan hal semacam ini, apa tidak terasa membosankan? "Ju Luocheng, kamu ini sudah keterlaluan... Ngomong-ngomong, bagaimana kamu bisa tahu apa yang dikatakan oleh Kak He Fan, dan bahkan mendengarnya dengan begitu jelas."
"Ponselmu itu..." Ju Luocheng benar-benar tidak tahan untuk berkomentar. "Meskipun tidak dinyalakan pengeras suaranya, efek suaranya tidak jauh beda dengan pengeras suara!"
Tang Guo diam-diam mengelus dahi. Hal ini sebenarnya sudah dia ketahui, tapi dia tidak menyangka kebocorannya akan separah ini. Dia benar-benar harus mengganti ponselnya dan memensiunkan ponsel tua ini dengan hormat. "Kami sudah terbiasa memanggil seperti itu sejak kecil. Lagi pula, Kak He Fan... meskipun tubuhnya tinggi besar, jiwanya sangat feminin. Kalau kamu terus cemburu buta, aku akan marah!"
Ju Luocheng mendengkus pelan. Berani-aninya gadis ini marah padanya demi pria lain, benar-benar minta dihukum. "Tidak boleh marah... Baiklah, aku tidak cemburu lagi!"
Tang Guo kembali merasa bahwa Ju Luocheng terkadang cukup lugu juga. Makanan favorit Tang Guo tentu saja adalah hotpot. Dan apa yang dikatakan Chi Hefan bahwa dia akan segera sampai ternyata benar-benar terjadi; hanya butuh waktu sepuluh menit baginya untuk muncul di hadapan Tang Guo. Anehnya, kedua pria ini sudah sering mendengar tentang satu sama lain dari mulut Tang Guo sejak delapan tahun lalu, dan dalam beberapa tahun terakhir setelah mengambil alih perusahaan dan terjun ke dunia bisnis, mereka juga sedikit banyak mengetahui kekuatan masing-masing. Namun, ini memang pertama kalinya mereka saling bertemu secara langsung.
Tang Guo merasa situasi saling berkenalan semacam ini cukup canggung, tetapi dia tetap memperkenalkannya dengan ramah. Kedua pria itu saling mengukur satu sama lain, mengulurkan tangan untuk berjabat tangan sekilas, tersenyum sebagai tanda sapaan, lalu langsung menuju restoran hotpot lantai atas yang paling disukai oleh Tang Guo.
Tang Guo menunduk memesan makanan, sambil bersikap layaknya nyonya rumah yang baik. "Kak He Fan, kamu ingin makan apa?"
"Pesan saja makanan yang kamu sukai." Chi Hefan juga berasal dari Kota Hai, dan setelah pergi ke Amerika, secara alami dia tidak punya kesempatan untuk merasakan cita rasa pedas yang membakar lidah di Kota Jiangcheng. Dia masih belum begitu terbiasa dengan makanan pedas, tetapi seleranya selalu mengikuti Tang Guo. Apa pun yang disukai Tang Guo, itulah yang akan dia makan, sedangkan hal lainnya tidak terlalu penting baginya.
Ju Luocheng menyipitkan matanya sedikit, lalu teringat akan ucapan Tang Guo bahwa jika dia cemburu buta lagi, gadis itu tidak akan mempedulikannya... Pada akhirnya, dia memilih untuk meredam rasa cemburunya.
Tang Guo memesan banyak makanan hingga memenuhi satu meja besar, lalu bangkit untuk pergi ke toilet terlebih dahulu. Begitu melihat Tang Guo pergi, Chi Hefan baru mengangkat kepalanya untuk menatap Ju Luocheng. "Sikap keluargamu terhadap Tangguo pernah sedikit diceritakan oleh Tangguo sebelumnya, jadi aku belum menceritakan urusan kalian berdua kepada keluargaku. Namun, aku berharap kamu bisa segera menyelesaikan masalah ini dan tidak membuat Tangguo merasa serba salah. Sejak kecil hingga dewasa, dia adalah anak kesayangan dari kedua keluarga kami. Bahkan ketika keluarga Tang mengalami masalah di masa lalu dan dia tinggal sendirian di Amerika, menolak menerima bantuan finansial dari keluargaku, orang tuaku tetap pergi menengoknya setiap beberapa waktu sekali... Awalnya kami semua tidak setuju saat dia memutuskan pulang ke negeri ini, tetapi dia tetap bersikeras melakukannya. Meskipun dia tidak banyak bicara, aku tahu bahwa banyak hal yang terjadi dan dia telah menderita banyak ketidakadilan setelah kembali ke sini. Namun, karena kamu telah memilih untuk bersamanya, aku berharap kamu bisa menjaganya dengan baik. Bahkan orang tuamu pun tidak boleh memperlakukannya dengan sewenang-wenang!"
"Sikapku sudah sangat jelas sejak awal. Aku hanya akan bersamanya, dan aku sama sekali tidak akan membiarkan siapa pun membuatnya menderita ketidakadilan!" Ju Luocheng menyipitkan matanya tipis-tipis. Apakah dirinya tadi terlalu sensitif? Nada bicara Chi Hefan saat membicarakan Tang Guo sama sekali tidak terdengar seperti kasih sayang antara saudara kandung. "Sebelumnya memang ada kesalahpahaman yang membuatnya menderita banyak ketidakadilan, tetapi sejak semuanya menjadi jelas, aku tidak akan pernah membiarkannya menderita lagi. Seperti yang kamu katakan, bahkan orang tuaku pun tidak boleh memperlakukannya sembarangan. Sebagai suaminya, aku tentu akan melakukan yang terbaik untuk melindunginya."
Chi Hefan menatap Ju Luocheng, lalu akhirnya menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis. "Aku berharap bisa segera mendengar kabar baik dari kalian, dan saat itu tiba, bawa serta orang tuaku kembali ke negeri ini untuk menghadiri pernikahan kalian."