Bab 146: Urusan Tentang Berpisah dan Bersatu Kembali

Sampai jumpa, mantan pacarku yang angkuh Jian Yifan 3258kata 2026-03-30 09:04:29

Tang Guor kemudian berpikir bahwa mumpung mereka jarang-jarang keluar bersama seperti ini, jika harus pulang sekarang rasanya pasti akan sangat membosankan. Para senior tadi juga bilang bahwa Ju Luocheng sudah benar-benar menghilang selama enam tahun, jadi kalau mereka langsung pergi begitu saja setelah makan, rasanya akan terlihat terlalu antisosial. "Kalau begitu, kita pergi saja."

Sebenarnya, Ju Luocheng lebih memilih pulang ke rumah dan menikmati waktu berdua saja dengan Tang Guor. Namun, titah istri adalah segalanya. Jadi, karena Tang Guor bilang ingin pergi, maka ia pun menurut. Walaupun masa liburan di Universitas C sudah hampir tiba, para dosen dan petinggi kampus tetap saja sibuk. Begitu acara makan malam selesai, mereka langsung pamit dengan alasan bahwa karaoke adalah dunia anak muda, sehingga mereka memilih pulang lebih dulu.

Meski demikian, ada sekitar tiga puluh orang mahasiswa beserta pasangan masing-masing, yang berarti totalnya ada lebih dari empat puluh orang. Sebagian besar dari mereka yang terjun ke dunia bisnis setidaknya sudah mencapai level *executive*, dan tidak sedikit pula anak-anak orang kaya yang langsung menduduki posisi bos begitu lulus kuliah. Oleh karena itu, setelah melakukan reservasi, pihak karaoke sudah mempersiapkan segalanya dengan matang. Baru saja mereka duduk, keempat meja kopi di lantai atas dan bawah langsung penuh berlimpah dengan berbagai camilan, piring buah, hingga menara es krim.

Tempat karaoke ini terletak di dekat Universitas C, jadi wajar saja jika mereka melayani para mahasiswa. Ruangan VIP-nya juga sangat luas untuk menampung rombongan besar reuni kelas tersebut, bahkan dibagi menjadi dua lantai. Di sudut lantai atas, bahkan diletakkan sebuah meja mahjong. Awalnya, Ju Luocheng menemani Tang Guor duduk di lantai bawah, tetapi tidak lama kemudian, ia ditarik oleh para pria lain ke lantai atas untuk adu minum.

Tang Guor dengan sedikit cemas menarik ujung lengan baju Ju Luocheng. "Jangan minum terlalu banyak ya, perutmu sedang tidak sehat." Namun, setelah mengatakannya, Tang Guor merasa sedikit bersalah. Masalah lambung Ju Luocheng itu, sebagian besar juga disebabkan oleh ulahnya sendiri, bukan?

Mendengar pesan Tang Guor, Ju Luocheng sempat tertegun sejenak, lalu ia tidak bisa menahan senyumnya. Sorot matanya penuh dengan kelembutan. "Baiklah, aku tidak akan minum."

Orang-orang di sekitar yang menonton adegan itu merasa seolah-olah sedang disuapi makanan anjing secara dingin di tengah teriknya musim panas. Meskipun mereka sudah tahu sejak bertahun-tahun lalu bahwa sosok Ju Luocheng yang tadinya sekokoh baja bisa melunak menjadi selembut air begitu berhadapan dengan Tang Guor, tetapi ketika melihat interaksi mereka berdua sekarang, mereka merasa hal itu jauh lebih keterlaluan daripada masa lalu. Tolong berikan sedikit saja harga diri untuk para jomblo!

Ju Luocheng tentu saja tidak peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain. Ia mengangkat tangannya untuk mengusap kepala Tang Guor sebelum akhirnya menyusul yang lain untuk duduk di lantai atas. Dan benar saja, begitu ia mengatakan tidak minum, ia benar-benar tidak menyentuh alkohol sama sekali. Ia hanya memegang secangkir air teh di tengah-tengah sekelompok orang yang sedang asyik adu minum, memberikan kesan bagaikan seorang pejabat senior partai.

Setelah satu putaran minum, tidak ada seorang pun yang berhasil membujuk Ju Luocheng. Akhirnya, seseorang yang sudah tidak tahan lagi bersuara. "Katakan padaku, bos, bolehkah aku tahu bagaimana sebenarnya situasi antara kau dan Tang Guor?"

"Situasi yang bagaimana?" Ju Luocheng duduk di atas sofa dengan sikap yang sangat anggun dan mempesona. Ia menatap daun teh yang naik turun di dalam cangkirnya, lalu balik bertanya dengan santai.

"Maksudku... bukankah dulu kau sempat dicampakkan..." Orang itu mengucapkannya secara refleks, tetapi kemudian mendadak tertekat dan terbatuk kecil. "Maksudku, bukankah kalian saat itu sudah putus? Bagaimana bisa kalian berhubungan lagi, bahkan sampai sudah mengurus surat nikah? Efisiensi kalian luar biasa sekali."

"Dia bodoh, tentu saja aku tidak mungkin ikut menjadi bodoh. Apa pun yang menjadi milikku, tentu tidak akan kulepaskan bagaimanapun caranya." Mengenai masa lalu, meskipun Ju Luocheng sudah tidak memasukannya ke dalam hati, ia tetap tidak ingin mengungkitnya lagi. Bukan karena alasan dirinya dicampakkan, melainkan karena... kesalahpahaman Tang Guor ditambah dengan perilakunya yang langsung kabur setelah salah paham benar-benar sangat konyol. Terlalu memalukan jika diceritakan pada orang lain!

Kata-kata Ju Luocheng yang diucapkan dengan begitu tenang justru membuat para pria di sekitarnya merasa sangat kagum. Ia tidak ambil pusing dengan hal-hal sepele, tahu persis apa yang diinginkannya, bertindak dengan mantap dan tegas, serta memiliki jiwa besar. Pantas saja, meskipun mereka seusia, Ju Luocheng sudah mampu mengendalikan sebuah grup korporasi besar di dalam genggamannya. Terlahir dengan sendok emas memang hal yang membuat orang iri, tetapi kemampuan Ju Luocheng untuk mempertahankan posisi tersebut membuktikan bahwa ia sama sekali tidak menyia-nyiakan sendok emas itu, dan kemampuannya sendiri sungguh membuat orang merasa iri.

Para pria di lantai atas berbincang dan tertawa akrab, sekalian memanfaatkan kedok reuni kelas untuk memperluas jaringan sosial mereka. Di lantai bawah, tidak begitu banyak orang. Selain empat orang mahasiswi kelas mereka yang berdandan menor, sisa perempuan yang ada adalah para pasangan yang ikut. Tang Guor sendiri adalah tipe orang yang butuh waktu lama untuk akrab dengan orang baru. Ia tidak pandai berbicara dan tidak tahu bagaimana cara bergaul dengan orang asing. Jadi, ia hanya duduk dengan tenang di sudut ruangan, mendengarkan mereka bernyanyi. Seorang wanita di sebelah dengan ramah menyodorkan segelas jus kepadanya. Tang Guor buru-buru menerimanya sambil mengucapkan terima kasih. Wanita itu tersenyum tipis dan berkata, "Suamimu tampan sekali. Dulu sewaktu aku melihat foto bersama masa kuliah suamiku, aku langsung melihatnya. Di antara sekumpulan pria sebanyak itu, pesonanya sama sekali tidak bisa disembunyikan!"

Tang Guor tersenyum malu-malu. Pesona Ju Luocheng... jangankan di antara sekelompok pria, bahkan jika ia dibuang ke objek wisata saat liburan pun, sosoknya akan langsung terlihat dalam sekali pandang. Sinarnya terlalu menyilaukan, bayangkan saja, ia adalah sosok yang berada di level idola kampus. Dulu, dirinya hanya tidak sengaja menumpahkan kuah sayur ke pakaian pria itu, tetapi ia langsung menjadi sasaran kebencian sebagian besar mahasiswi di kampus yang menuduhnya sengaja mencari perhatian demi menarik perhatian Ju Luocheng! "Penampilannya memang cukup menonjol dan mudah menarik banyak perhatian, jadi menjadi separuh jiwanya tentu membawa tekanan yang sangat besar."

"Ucapanmu ini terdengar seperti pamer yang disengaja, merintih tanpa alasan!" Meskipun ucapan wanita itu terdengar seperti meremehkan Tang Guor, tetapi jelas sekali bahwa ia sama sekali tidak berniat buruk.

Tang Guor menggaruk kepalanya dan terus tersenyum bodoh. Kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya memang benar begitu. Meskipun Ju Luocheng begitu menyilaukan dan menarik perhatian banyak orang, lalu apa pedulinya? Lagi pula, pria itu hanya menyukainya seorang!

Sambil berbincang, beberapa mahasiswi dari kelas Ju Luocheng datang dan duduk di sisi yang lain. "Namun, Tang Guor, aku benar-benar penasaran, pelet macam apa yang kau berikan pada Ju Luocheng? Dulu kau pergi begitu saja ke luar negeri untuk kuliah, mencampakkan Ju Luocheng, dan sekarang kau malah mendadak muncul lagi di sisinya lalu menikahinya. Kau hebat sekali."

Meskipun diucapkan dengan nada menggoda, sama sekali tidak ada nuansa bercanda dari kalimat tersebut. Sebaliknya, nada bicaranya terdengar cukup agresif dan membuat pendengarnya merasa tidak nyaman. Tentu saja, tidak akan ada orang yang merasa nyaman jika mendengar sindiran semacam itu. Para istri yang datang mendampingi tidak mengetahui kejadian di masa lalu, dan kini setelah mendengar keributan di sisi sini, mereka semua menoleh untuk melihat.

Suara musik pengiring dari pengeras suara masih mengalun, membawa suasana ramai dari lantai atas, sementara suasana di lantai bawah justru terasa sedikit membeku. Tang Guor sedikit melengkungkan bibirnya, sementara hatinya merasa jengkel. Ju Luocheng saja tidak mempermasalahkannya, memangnya kau ini siapa berani-beraninya bilang aku hebat... Tang Guor membayangkan bagaimana Ju Luocheng dengan metode dingin dan liciknya berhasil mengubah dirinya menjadi seorang wanita bersuara, lalu sempat membuatnya menderita cukup lama. Jika ia benar-benar hebat, ia pasti sudah melawan sejak dulu. Bukankah karena dirinya terlalu penakut, jadi apa pun yang dikatakan pria itu selalu diturutinya! "Soal ini, kau harus bertanya langsung pada Ju Luocheng. Aku sendiri juga tidak tahu, mungkin dia memang menyukai tipe wanita sepertiku yang biasa-biasa saja ini!"

Wanita itu jelas tidak menyangka bahwa Tang Guor bisa memberikan jawaban yang begitu tidak tahu malu di hadapan begitu banyak orang asing. Namun, Tang Guor memang sengaja ingin pamer. Dirinya memang tidak melakukan apa-apa, tetapi Ju Luocheng bersikeras menyukainya, jadi ia juga bisa apa! Sambil membatin seperti itu, Tang Guor hampir saja tertawa. Jika ia benar-benar mengucapkan isi hatinya itu secara lantang, rasanya ia benar-benar sudah kelewatan tingkat kepedeannya.

Melihat tujuannya yang ingin membuat Tang Guor merasa salah tingkah justru dibalas telak oleh satu kalimat, ditambah ekspresi Tang Guor yang setengah tersenyum seolah tidak peduli, wanita itu merasa sangat marah hingga hampir muntah darah. Ia memikirkan dirinya sendiri yang merupakan lulusan berprestasi dari Universitas C, kini sudah menduduki level *eksekutif*, memiliki penampilan, bentuk tubuh, kemampuan, serta latar belakang keluarga yang semuanya sempurna. Lalu, lihatlah Tang Guor. Meskipun penampilannya lumayan, tapi sikapnya selalu seperti anak kecil. Entah Ju Luocheng sedang mencari pacar atau sedang merawat anak. Ditambah lagi, dulu Tang Guor pergi tanpa pamit dan mencampakkan Ju Luocheng—sungguh sebuah tindakan yang tidak bertanggung jawab dan menimbulkan luka yang sangat mendalam. Namun, Ju Luocheng yang biasanya selalu memasang pasang wajah merendahkan pada siapa pun, justru menunjukkan kasih sayang yang begitu mendalam pada Tang Guor dan bahkan masih tetap bersedia hidup bersamanya!

Tang Guor melihat ekspresi kaku wanita itu, lalu diam-diam mengalihkan pandangannya. Wanita yang sedang cemburu itu sungguh mengerikan, sebaiknya ia pergi mencari Ju Luocheng saja atau tidak? Meskipun wanita itu merasa sangat kesal, ia tetap merasa gentar pada Ju Luocheng. Sekesal apa pun ia pada Tang Guor, ia tidak memiliki keberanian untuk melakukan apa pun pada istri kesayangan Ju Luocheng di bawah pengawasan pria itu sendiri. Dengan wajah cemberut, ia pun bangkit dan pergi.

Melihat wanita itu berjalan menjauh, Tang Guor menjulurkan lidahnya, mendengus kecil, dan membatin, "Ju Luocheng saja tidak mengatakan apa-apa, tapi para pengagum rahasia yang gagal ini malah begitu sibuk merasa cemas untuknya."

Gumamab Tang Guor tentu saja tidak terdengar sampai jauh, tetapi wanita yang duduk di sampingnya itu mendengarnya dengan jelas. Sebelumnya, karena teman sekelas Ju Luocheng datang dan melontarkan kata-kata aneh, wanita itu mungkin khawatir Tang Guor merasa canggung sehingga ia memilih tidak berbicara. Namun, saat ini ia tidak bisa menahan diri untuk tertawa kecil. "Sepertinya tekanan itu memang sangat besar."

Tang Guor ikut merasa senang dan mengangguk. "Betul sekali! Menjadi kekasih dari seorang pria pujaaan publik membutuhkan mental yang sangat kuat!"

Ju Luocheng merasa tidak betah duduk lebih lama di lantai atas bersama sekelompok pria paruh baya, dan ia juga merasa khawatir meninggalkan Tang Guor sendirian di lantai bawah. Setelah berbasa-basi sejenak, ia berniat turun ke bawah. Ia sama sekali tidak memedulikan ejekan dari teman-temannya dan langsung melangkah turun. Dari jauh, ia melihat Tang Guor sedang duduk di sudut ruangan, tertawa dan mengobrol akrab dengan wanita lain. Sudut bibirnya pun terangkat membentuk senyuman. Padahal tadi ia sempat khawatir apakah gadis ini akan merasa canggung dan tidak nyaman karena dikelilingi orang-orang asing di bawah sini, ternyata gadis ini justru bersenang-senang dengan sangat baik.

Ju Luocheng baru saja hendak menghampirinya ketika langkahnya dihadang oleh seseorang. Dengan sedikit kebingungan, ia mendongak menatap wanita yang menghentikan jalannya. "Ketua kelas, ada apa?"

"Teman lama, sudah lama kita tidak bertemu, tidak bolehkah aku mengajakmu mengobrol sebentar?" Wanita itu menggoyangkan gelas di tangannya. "Mari minum."

"Tidak." Ju Luocheng mengangkat tangan untuk menepis gelas yang disodorkan. "Aku tidak minum."

Ketika Tang Guor berpesan kepada Ju Luocheng sebelumnya, wanita itu kebetulan duduk di dekat mereka dan mendengar semuanya. "Aku tidak menyangka kau ternyata adalah seorang suami yang takut istri. Minum satu gelas saja apa susahnya."

"Dia melakukannya demi kebaikanku." Ju Luocheng sama sekali tidak mempermasalahkan sebutan itu. Takut istri memangnya kenapa? Setidaknya dirinya punya istri! Terlebih lagi, Tang Guor sebenarnya tidak pernah mengekang dirinya. Alasan gadis itu melarangnya minum adalah karena rasa peduli, betapa perhatiannya itu!

Senyuman di wajah wanita itu semakin kaku. "Sejujurnya, apakah kau tidak mempermasalahkan kejadian di masa lalu? Masalah dia yang mencampakkanmu demi kuliah ke luar negeri dulu sudah menjadi rahasia umum di seluruh kampus."

"Lalu kenapa? Hubungan asmara putus nyambung di antara sepasang kekasih adalah hal yang lumrah, bukan? Lihat saja An Zi dan Tang Yanan, dari tahun pertama kuliah sampai sekarang mereka sudah tidak tahu berapa kali putus nyambung. Sekarang mereka bahkan tinggal menetap bersama di luar negeri, bukankah kehidupan mereka juga sangat bahagia."