Bab Empat Puluh Tiga: Titik Puncak
“Uuh... uuh...”
Suara melengking hantu terdengar, seekor makhluk aneh mendapati keberadaan Liu Tian, meraung dan menyerangnya, sementara wanita itu juga melihat Liu Tian, lalu berseru dengan penuh kegembiraan, “Liu Tian, hati-hati! Makhluk-makhluk ini adalah orang-orang yang sudah lama mati. Namun, karena tempat ini dipenuhi aura pembunuhan yang berat selama bertahun-tahun, jasad-jasad ini pun bermutasi. Meski mereka melupakan semua yang dipelajari semasa hidup, tubuh mereka justru menjadi sangat keras.”
Liu Tian segera paham sedikit banyak setelah mendengar penjelasan itu. Ia pun mengaktifkan ilmu batin, mengalirkan kekuatan magisnya dengan deras.
“Api Sembilan Matahari Membakar Langit!”
Liu Tian berteriak nyaring. Dalam kedua tangannya muncul kobaran api yang membara. Begitu api itu muncul, suhu di sekelilingnya langsung naik drastis. Liu Tian mengayunkan tangannya, melemparkan api itu ke arah makhluk bermutasi tersebut.
“Uurgh...”
Makhluk itu menjerit pilu, dan dalam waktu singkat, tubuhnya pun hangus terbakar hingga tak bersisa.
Liu Tian tahu betul, jasad-jasad bermutasi seperti ini termasuk golongan roh jahat. Karena mereka adalah roh jahat, tentu sangat takut terhadap kekuatan yang sangat murni dan panas. Kebetulan ilmu Sembilan Matahari milik Liu Tian adalah ilmu tingkat tinggi dengan kekuatan yang sangat ampuh untuk menumpas roh jahat.
Dengan cepat Liu Tian bergerak ke sisi wanita itu. “Yun Yao, kau tidak apa-apa?” tanya Liu Tian.
“Untung saja kau datang. Kalau tidak, aku pasti sudah mati di sini,” jawab Yun Yao dengan napas lega.
Di tempat itu ada tujuh makhluk roh jahat. Satu telah dimusnahkan oleh Liu Tian, masih tersisa enam lagi.
“Serahkan saja padaku,” kata Liu Tian.
Makhluk-makhluk roh jahat ini tidak terlalu kuat. Barangkali semasa hidupnya pun kekuatan mereka tidaklah hebat, jika tidak, mereka tidak akan mudah terpengaruh aura pembunuhan yang begitu pekat.
“Api Sembilan Matahari Membakar Langit!”
Liu Tian kembali melancarkan ilmu itu. Api yang menyala-nyala melahap keenam makhluk roh jahat.
“Uurgh... uurgh...”
Jeritan memilukan terdengar berturut-turut, membuat bulu kuduk merinding bagi siapa pun yang mendengarnya.
“Celaka, cepat lari!” seru Liu Tian tiba-tiba. Ia merasakan aura pembunuhan di kedalaman depan sana bergejolak hebat. Bersamaan dengan itu, gelombang energi jahat yang sangat kuat menerpa, membuat tubuh Liu Tian seketika merasakan kedinginan luar biasa. Instingnya berkata, makhluk itu benar-benar bukan lawan yang mudah. Tanpa ragu, ia pun menarik Yun Yao dan melarikan diri ke arah semula mereka datang.
“Aaargh...”
Di belakang mereka, suara raungan mengerikan terdengar. Sepintas, tampak bayangan besar dan kekar yang bergerak cepat. Liu Tian dan Yun Yao tidak berani berhenti, mereka berlari secepat angin menyusuri jalan yang sama.
Raungan marah terus menggema tanpa henti dari belakang.
“Bagaimana ini? Jangan-jangan dia mengejar kita?” tanya Yun Yao dengan cemas.
“Mana aku tahu? Semoga saja dia tidak keluar dari sana. Ayo, kita percepat lari!” sahut Liu Tian sambil terus berlari.
Keduanya berlari sejauh beberapa kilometer tanpa henti. Aura pembunuhan pun mulai menipis, menandakan mereka hampir keluar dari wilayah itu.
“Sepertinya sudah tidak terdengar suara lagi,” kata Yun Yao sambil menoleh ke belakang.
Mendengarnya, Liu Tian pun ikut menoleh. Benar saja, makhluk besar tadi ternyata tidak mengejar. Ia hanya berdiri di kedalaman sana, terus meraung dengan kemarahan.
“Aneh, kenapa dia tidak keluar mengejar, ya?” gumam Liu Tian.
Yun Yao mendengarnya dan langsung memelototi Liu Tian, “Kenapa? Kau malah berharap dia keluar dan membunuh kita berdua?” Setelah berkata begitu, ia pun berdiri terengah-engah, jelas lelah setelah lari tanpa henti.
“Aku tahu sekarang, aura pembunuhan di sini terlalu tipis. Sementara makhluk itu bermutasi karena aura pembunuhan. Jika keluar dari wilayah ini, kekuatannya akan sangat menurun,” ujar Liu Tian setelah berpikir sejenak. Ketegangan yang tadi melanda hatinya perlahan sirna, dan saat ia mulai santai, baru ia menyadari seluruh tubuhnya sudah basah oleh keringat.
Liu Tian melirik Yun Yao yang berdiri di sampingnya, begitu anggun bak Dewi Langit Kesembilan, lalu bertanya, “Bagaimana kau bisa berada di sini?”
“Aku tanpa sengaja menemukan tempat ini dan merasa ada sesuatu yang janggal, jadi aku masuk untuk memeriksa. Kau sendiri kenapa sampai ke sini?” Yun Yao balik bertanya.
“Sejak memasuki Dunia Kabut, aku sudah merasa ada yang aneh di sini. Pasti ada rahasia besar yang tersembunyi, jadi aku berkeliling, berharap menemukan sesuatu yang berharga. Dan akhirnya aku sampai di tempat ini,” jawab Liu Tian.
Yun Yao mengangguk, “Aku juga merasa Dunia Kabut ini bukan tempat biasa. Bisa jadi ini adalah sebuah ruang nyata, dan lautan aura pembunuhan ini, menurutku, dulu pasti merupakan medan perang. Mungkin inilah medan perang utama, hanya pertempuran raksasa dengan jutaan korban yang bisa menciptakan lautan aura pembunuhan seperti ini.”
“Ada benarnya juga. Oh iya, apa yang terjadi antara kau dan Jiang Hongyu?” tanya Liu Tian tiba-tiba.
Yun Yao sempat terdiam, tak menyangka Liu Tian tiba-tiba menyinggung hal itu, lalu tertawa, “Dia itu terus saja mengejarku, aku sampai sangat jengkel.”
“Kelihatan sekali, dia memang sangat menyukaimu, dan sepertinya dia orang baik juga,” goda Liu Tian sambil tersenyum.
Yun Yao langsung sewot, “Baik? Mata mana yang kau pakai sampai menganggap dia baik? Aku paling tahu siapa dia. Di permukaan, dia memang tampak orang baik, tapi di belakang, kelakuannya sangat licik. Mana mungkin aku mau padanya.”
“Aduh, wanita cantik memang sumber masalah. Sepertinya kita memang harus menjaga jarak kedepannya,” keluh Liu Tian. Begitu teringat tanpa sebab sudah mendapat musuh baru, kepalanya langsung pusing.
“Kenapa? Kau takut padanya?” tanya Yun Yao, menatap Liu Tian.
“Takut padanya? Apa yang pantas ditakuti darinya? Latar belakang keluarganya? Kalau begitu, aku tidak akan sampai menyinggung begitu banyak orang. Aku hanya malas cari masalah. Masalahku saja sudah cukup banyak. Oh iya, bukankah kau sudah bersekutu denganku? Kenapa saat saat genting malah tidak ada?” Liu Tian balik bertanya.
“Aku memang sudah datang, tapi melihat Jiang Hongyu ada di sana, aku memilih pergi. Bukankah aku sudah menyuruh kakak seperguruanku untuk memanggilnya pergi? Lagi pula, aku tahu kau punya banyak teman, pasti tidak akan terjadi apa-apa. Sudahlah, kita pergi dari sini saja,” ujar Yun Yao sambil berjalan keluar.
Liu Tian hanya bisa tersenyum tanpa kata dan ikut berjalan ke arah semula. Belum jauh melangkah, Liu Tian tiba-tiba berhenti. Hatinya tergerak, pedang bermata naga muncul di tangannya dan dilemparkannya ke udara.
“Uuh... uuh...”
Saat itu juga, aura pembunuhan di sekitarnya bergejolak hebat, mengalir deras ke dalam pedang naga itu. Pedang itu seperti lubang hitam, menelan semua aura pembunuhan tanpa terkecuali.
Yun Yao terkejut melihat itu, ia berbalik dan terpaku, matanya membelalak tak percaya.
Ia bahkan tidak tahu harus berkata apa. Satu jam berlalu, aura pembunuhan masih mengalir deras ke pedang naga. Pedang yang semula tak bereaksi, kini mulai bergetar hebat, mengeluarkan suara gemuruh dan bergetar semakin kencang.
Liu Tian sendiri tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tetapi Yun Yao segera berseru dengan cemas, “Liu Tian, cepat, hentikan! Kalau tidak, akibatnya akan sangat buruk!”
Liu Tian baru teringat pedang itu memang bisa menyerap aura pembunuhan, dan tempat ini memang sangat melimpah aura tersebut, makanya ia mengeluarkan pedang itu. Namun, mendengar Yun Yao berkata demikian, ia tanpa ragu mengirimkan seberkas kekuatan magisnya untuk menarik kembali pedang itu.
Begitu pedang naga kembali ke tangannya, aura pembunuhan pun berhenti mengalir, dan pedang itu juga berhenti bergetar.
“Ada apa?” Setelah mengamankan pedang itu, Liu Tian menoleh pada Yun Yao, bertanya.
Yun Yao baru saja menghela napas lega setelah pedang itu diambil kembali. Ia pun bertanya, “Pedang itu kau dapat dari mana?”
Liu Tian terkejut mendengar pertanyaan itu, buru-buru menjawab, “Aku mendapatkannya secara tidak sengaja. Kenapa memangnya?”
Yun Yao terdiam sejenak, lalu berkata, “Kalau aku tidak salah lihat dan tidak salah duga, pedangmu itu seharusnya adalah ‘Pedang Mutlak’.”