Bab 60: Bertarung Melawan Cai Yi
Saat Jiang Hongyu yang tengah beraksi mendengar suara itu, ia langsung menghentikan gerakannya dan perlahan-lahan membalikkan badan. Ketika ia melihat mata Liu Tian yang dingin tanpa emosi, pupil matanya langsung mengecil tajam karena terkejut.
“Kau... bagaimana bisa menemukan tempat ini?” teriak Jiang Hongyu dengan suara melengking.
Sementara itu, Yun Yao yang sudah putus asa sebelumnya, begitu melihat Liu Tian, air matanya tak mampu lagi ia bendung. Ia tahu dirinya sudah selamat. Tak peduli apa pun yang terjadi, asalkan Liu Tian ada di sana, ia merasa sangat aman. Itu adalah kepercayaan yang buta namun tulus.
“Bawa pertanyaanmu itu ke liang kubur!” suara Liu Tian terdengar sedingin es. Ia langsung bergerak, melesat ke arah Jiang Hongyu dengan satu tangan terangkat siap menghantam.
Di dalam gua yang tidak terlalu kecil itu, seketika kekuatan magis mengamuk dan energi membadai. Pukulan itu adalah serangan penuh tenaga dari Liu Tian. Begitu telapak tangannya melesat, gua itu langsung bergetar hebat, batu-batu berjatuhan, seolah-olah akan runtuh kapan saja.
Jiang Hongyu sama sekali tak menduga Liu Tian akan muncul secara tiba-tiba dan menyerang secepat itu. Melihat serangan dahsyat itu hampir mengenainya, ia tanpa pikir panjang segera menghindar ke kiri, lalu berguling ke belakang Liu Tian, tubuhnya berlumuran debu, namun ia tak peduli dan bergegas merangkak ke arah pintu gua.
Karena jika serangan Liu Tian itu benar-benar mengenai sasaran, gua itu akan runtuh seketika dan menguburnya hidup-hidup.
Semua itu terjadi begitu cepat. Dari Liu Tian menemukan tempat itu hingga melancarkan serangan maut, semuanya hanya berlangsung dalam sekejap.
Namun, ketika Jiang Hongyu menghindar, orang pertama yang berada di jalur serangan itu adalah Yun Yao. Kekuatan magis yang mampu membelah gunung langsung mengarah kepadanya.
Tepat sebelum mengenai tubuh Yun Yao, Liu Tian mendengus dingin, menggerakkan kekuatan dalam tubuhnya, dan kekuatan magis yang mengamuk itu pun lenyap tanpa bekas.
Tanpa memperdulikan Jiang Hongyu yang melarikan diri, Liu Tian dengan cepat mengenakan pakaian Yun Yao, lalu menempelkan telapak tangannya di punggungnya.
Gelombang kekuatan magis mengalir masuk ke tubuh Yun Yao, menerobos pembatas yang dipasang oleh Jiang Hongyu.
“Liu Tian... hu hu hu...” Begitu pembatas itu terbuka, Yun Yao langsung terjatuh ke pelukan Liu Tian dan menangis sesenggukan.
“Semuanya sudah berlalu, Yun Yao, jangan takut. Selama aku ada di sini, aku tak akan membiarkanmu disakiti sedikit pun. Sekarang aku akan membalas dendammu pada Jiang Hongyu.” kata Liu Tian, membantu Yun Yao berdiri dan bergegas menuju luar gua.
Amarah Liu Tian belum juga padam. Tindakan nekatnya barusan, yang nyaris meruntuhkan gua, memang telah ia rencanakan. Dalam situasi seperti itu, ia tak bisa memberi Jiang Hongyu waktu berpikir sedikit pun. Jika diberi kesempatan, Jiang Hongyu pasti akan menggunakan Yun Yao sebagai sandera, dan saat itu Liu Tian akan terjepit tanpa cara menghadapi situasi.
Karena itu, ia langsung menyerang dengan kekuatan penuh, menciptakan ilusi gua akan runtuh. Hasilnya, Jiang Hongyu benar-benar tak punya waktu mengambil tindakan lain selain menyelamatkan dirinya sendiri dan melarikan diri.
Saat Liu Tian dan Yun Yao tiba di luar gua, mereka mendongak dan mendapati Jiang Hongyu belum pergi. Di sampingnya kini ada seorang pria lain; ternyata itu adalah Cai Yi, yang sebelumnya meninggalkan tempat itu.
Melihat pemandangan itu, seberkas cahaya aneh melintas di mata Liu Tian. Meski tak tahu mengapa Cai Yi berada di sana, ia tak peduli. Tak ada satu pun yang bisa menghalangi niatnya membunuh Jiang Hongyu.
“Liu Tian, hati-hati. Aku tak tahu kenapa, tapi Cai Yi sepertinya telah bersekutu dengan Jiang Hongyu,” seru Yun Yao sambil menarik lengan Liu Tian, matanya penuh kebencian menatap Jiang Hongyu.
“Oh, begitu? Tapi itu tak masalah. Tak ada yang bisa menghentikanku. Jiang Hongyu, bersiaplah untuk mati!” Hardik Liu Tian, lalu melesat ke arah Jiang Hongyu. Kekuatan magisnya meluap, telapak tangannya menghantam ke arah Jiang Hongyu, gelombang mengerikan menyapu udara hingga ruang kosong pun bergemuruh. Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan itu.
Jika serangan itu mengenai sasaran, Jiang Hongyu pasti terluka parah, bahkan mungkin tewas.
“Braaak!”
Sebuah ledakan hebat menggema, seperti petir yang menggelegar di langit. Namun, setelah serangan itu, Jiang Hongyu tidak roboh seperti yang diduga.
Ketika dilihat lebih dekat, ternyata serangan Liu Tian itu ditahan oleh Cai Yi. Cai Yi menarik kembali tangannya, wajahnya sempat memucat, namun dengan cepat kembali normal. Jelas ia hanya mampu menahan serangan itu dengan susah payah.
Melihat situasi itu, mata Liu Tian berkilat tajam, ia bertanya, “Cai Yi, apa maksudmu ini? Kau ingin menjadi musuhku?”
“Kakak Cai Yi, apa kau tidak tahu siapa Jiang Hongyu sebenarnya? Aku tak tahu apa yang ia janjikan padamu, hingga kau rela membelanya,” Yun Yao membentak.
“Tentu aku tahu siapa dia. Tapi, bertahun-tahun lalu aku berhutang budi padanya. Aku tak punya pilihan lain,” jawab Cai Yi, kemudian memandang Liu Tian, “Liu Tian, selama kau bisa mengalahkanku, hidup-matinya Jiang Hongyu tak ada urusanku.”
Mendengar itu, sorot membunuh melintas di mata Jiang Hongyu yang berdiri di belakang Cai Yi.
Liu Tian menyipitkan mata, menatap Cai Yi dan berkata, “Sepertinya aku memang harus mengalahkanmu.”
Seketika, Liu Tian mengerahkan seluruh kekuatan dalam tubuhnya. Dengan gerakan tangan yang cepat, ia membentuk segel dan jurus “Sembilan Matahari Membakar Langit” pun dilepaskan.
Suhu udara di sekitar mendadak memanas, kobaran api menjulang tinggi, suhu yang mengerikan seolah sanggup membakar segalanya, hingga ruang kosong pun bergetar dan terdistorsi.
Menghadapi serangan Liu Tian yang sedemikian kuat, Cai Yi tak berani lengah. Ia membalas dengan jurus “Penguasa Mutlak Dunia”.
Aura penuh wibawa menyebar ke seluruh penjuru, memenuhi ruang itu. Aura tersebut begitu kuat hingga memaksa siapa pun untuk tunduk. Di tengah aura itu, Cai Yi bagai seorang kaisar agung yang hanya bisa dipandang dengan penuh takzim.
Cai Yi melancarkan satu pukulan ke arah Liu Tian. Tampaknya hanya satu, tapi di ruang itu bermunculan ribuan bayangan tinju. Setiap bayangan terasa nyata dan di mana pun aura wibawa itu menyebar, di sana pula muncul bekas tinju, berubah nyata dan siap menghantam.
Menghadapi serangan seperti itu, Liu Tian pun merasakan tekanan aura wibawa yang nyaris membuatnya bertekuk lutut.
“Aaaargh! Aku, Liu Tian, tidak tunduk pada langit, tidak sujud pada bumi, hanya menghormati orangtua dan menghargai sahabat. Tak ada yang bisa membuatku menyerah!” teriak Liu Tian lantang.
Setelah jurus “Sembilan Matahari Membakar Langit” dilepaskan, kedua tangannya bergerak cepat, setiap kali ia mengayunkan tangan, sebuah telapak tangan raksasa seukuran satu meter terbentuk dari kekuatan magis, melesat ke depan dengan kekuatan mengerikan.
Dalam waktu singkat, delapan puluh satu kali ia mengayunkan telapak tangan, delapan puluh satu telapak raksasa itu membentur ribuan bayangan tinju.
Suara dentuman bertalu-talu bergema, bagaikan genderang raksasa surga, mengguncang ruang itu hingga bergetar hebat. Tanaman, pohon, bahkan lembah di sekitar mereka hancur berkeping-keping, ruang kosong pun retak oleh gelombang dahsyat itu.
Setelah serangan selesai, Liu Tian berdiri tegak laksana dewa perang, matanya penuh semangat bertarung, seluruh tubuhnya dipenuhi tekad tak kenal menyerah.
Sementara itu, Cai Yi terpaksa mundur tiga langkah akibat guncangan hebat itu sebelum akhirnya mampu menstabilkan diri. Hasil pertarungan pun jelas terlihat.
“Kau memang sangat kuat,” kata Cai Yi menatap Liu Tian. Meski berkata demikian, sinar mata Cai Yi justru menunjukkan hasrat bertarung yang membara, tak kalah dari Liu Tian.
“Kau juga hebat,” sahut Liu Tian.
“Kalau begitu, ayo lanjutkan! Aku ingin tahu sekuat apa dirimu sebenarnya!” teriak Cai Yi penuh semangat.