Bab 14: Pemberian Suci Sang Kaisar Menimbulkan Perselisihan
Zhao Chi duduk di kursi utama, di sebelah kirinya duduk Ny. Yu, sementara di kanannya duduk Selir Jin. Tidak seperti sikap kerasnya terhadap Hua Shu, Ny. Yu tampak sedang bercanda dengan Rui De yang duduk di sampingnya, jarang sekali ia menunjukkan sisi yang begitu hidup, raut wajahnya kali ini terlihat lebih ramah dan penuh kehangatan.
Jin Shu memperhatikan tatapan penuh kasih dari Ny. Yu, lalu teringat kembali sikap perempuan itu pada Hua Shu beberapa hari yang lalu. Ia tidak pernah menyangka bahwa perempuan yang tampak begitu bijaksana dan penuh pengertian ternyata juga seorang ibu yang sangat mementingkan anak laki-laki daripada perempuan.
Di sebelah Rui De duduklah Fan Shu, yang mewarisi ketampanan ibunya, wajahnya bersih dan menarik perhatian. Meski hanya setahun lebih tua dari Hua Shu, namun ia tampak jauh lebih dewasa. Melihat adiknya yang lagi-lagi hampir menangis, ia pun menenangkan hati sang adik dengan kata-kata lembut.
Hua Shu, begitu melihat sang “raja iblis”, langsung merapat ke kakak kandungnya, mencari perlindungan.
Sementara itu, Xiu Shu duduk dengan sopan di samping Hua Shu, matanya penuh dengan rasa iri saat melihat Ny. Yu begitu menyayangi Rui De.
Jin Shu menoleh, melihat Selir Jin yang berbincang-bincang riang dengan Zhao Chi. Ia tahu tidak ada yang berniat memperdulikannya. Tidak ingin mempermalukan diri sendiri, ia pun duduk sendiri, diam-diam mengamati semua orang yang ada di situ.
Meski Zhao Chi biasanya menerapkan aturan ketat bahwa saat makan tidak boleh bicara, namun kali ini, karena seluruh keluarga berkumpul dan sedang merayakan kabar baik, ia tidak menunjukkan sikap kaku. Ia malah beberapa kali memperhatikan istri dan anak-anaknya, bahkan sesekali mengambilkan lauk untuk mereka.
Melihat suaminya tiba-tiba begitu penuh perhatian, Ny. Yu mengucapkan terima kasih, namun matanya tetap dingin dan tak menunjukkan sedikit pun kehangatan. Hanya saat ia berbicara dan bercanda dengan Rui De, rona ceria itu baru muncul di wajahnya. Sebaliknya, Selir Jin tampak sangat berbeda, setiap kali Zhao Chi meliriknya, ia tak lupa membalas dengan senyum genit.
Selir Jin tidak hanya berusaha menyenangkan hati Zhao Chi, tapi juga sesekali menunjukkan perhatian pada Ny. Yu dan anak-anaknya, sehingga ia tampak sangat piawai dalam mengambil hati semua orang.
Setelah semua selesai makan, para pelayan masuk untuk membereskan makanan. Begitu segalanya beres, Zhao Chi memerintahkan para pelayan untuk meninggalkan ruang makan. Semua orang tahu, ini pertanda Zhao Chi akan membahas hal penting.
"Hari ini, pihak istana menitipkan beberapa hadiah untuk keluarga kita, katanya untuk Jin Shu," ujar Zhao Chi. Mendengar itu, semua orang kecuali Jin Shu terkejut. Meskipun mereka tahu Kang Ting sangat disayang oleh Kaisar, tak pernah terlintas dalam benak mereka bahwa hanya dengan sedikit hubungan saja, keberkahan dari istana bisa turun begitu cepat ke keluarga mereka.
Reaksi yang muncul sangatlah wajar. Baik Ny. Yu maupun Selir Jin, di keluarga mereka tak ada yang menjabat lebih tinggi dari Zhao Chi. Mendapat hadiah dari istana saja tak pernah, apalagi bisa melihat wajah kaisar secara langsung. Ini adalah kali pertama dalam hidup mereka menerima barang pemberian istana, siapa yang bisa duduk tenang? Bahkan Ny. Yu yang biasanya dingin, tak bisa menyembunyikan sorot bahagia di matanya.
Melihat ekspresi mereka, Zhao Chi tak bisa menahan rasa bangganya. "Tak perlu terlalu berlebihan begitu, kalian benar-benar kurang berwawasan," ujarnya.
Jin Shu semakin paham dengan watak Zhao Chi yang gemar berlagak. Baru saja ia terlihat haru, kini di depan istri dan anak-anaknya sudah berubah menjadi sosok yang penuh wibawa.
Belum sempat Jin Shu menyelesaikan sindirannya dalam hati, Zhao Chi sudah mengambil kotak hadiah itu dan memanggil, "Jin Shu."
"Ada apa, Ayah?" sahut Jin Shu.
Dengan hati-hati, Zhao Chi menyerahkan kotak itu padanya, lalu berkata, "Karena anugerah ini berasal dari dirimu, biarlah kamu yang membukanya."
Jin Shu menerima kotak itu dengan sedikit rasa penasaran, lalu membukanya dengan santai, sementara semua mata tertuju pada tangannya.
Di dalam kotak itu terdapat sebuah tusuk konde kristal bermotif jamur lingzhi, sepasang anting kristal bermotif anggrek, sebuah gantungan kristal bermotif burung phoenix, untaian tasbih kristal, dan sebuah tempat tinta kristal. Kelima benda itu bening, bersih, dan halus, masing-masing memiliki ukiran yang sangat indah dan menakjubkan.
Zhao Chi, Ny. Yu, dan Selir Jin memandangi isi kotak itu dengan takjub, tak menyangka seumur hidup bisa melihat benda-benda semacam itu, apalagi di rumah sendiri. Anak-anak pun tak mampu menahan kekagumannya, serentak berseru penuh semangat.
Jin Shu tahu bahwa kristal sangat langka pada masa itu, namun sebagai orang yang berasal dari dunia modern, barang-barang di hadapannya tidak terlalu membangkitkan minatnya. Namun melihat tatapan orang-orang di sekitarnya, Jin Shu mendapat ide: barang pemberian istana ini tentu tak bisa dijual, daripada hanya disimpan di kotak, lebih baik digunakan untuk mengambil hati para “pemimpin” keluarga.
"Ayah, Ibu, Bunda, Jin Shu bisa sampai di hari ini semua berkat kebaikan kalian. Anugerah sedemikian besar, mana mungkin aku nikmati sendiri?" Setelah berkata demikian, Jin Shu memberikan gantungan kristal kepada Zhao Chi dengan kedua tangan, lalu menyerahkan tasbih kristal kepada Ny. Yu, dan tusuk konde kristal kepada Selir Jin. Di dalam kotak kini tinggal anting kristal bermotif anggrek dan tempat tinta kristal yang memang akan diberikan kepada Kang Ting.
Melihat dirinya mendapatkan hadiah, Zhao Chi sangat gembira. "Jin Shu sungguh anak yang tahu diri, sungguh kebanggaan keluarga!"
Jin Shu sudah terbiasa dengan perubahan suasana hati Zhao Chi yang kadang menganggapnya sebagai pembawa masalah, kadang sebagai sumber kebahagiaan. Semua tergantung suasana hati Zhao Chi. Sementara itu, Ny. Yu dan Selir Jin yang menerima hadiah itu pun memandanginya seperti harta karun, memainkannya dengan penuh hati-hati.
Suasana menjadi hangat dan penuh kegembiraan. Namun saat itu, Rui De yang masih kecil tiba-tiba datang ke hadapan Jin Shu, menunjuk kotak di tangan kakaknya dan memerintah, "Aku mau kotak itu."
Jin Shu mengira adiknya hanya penasaran dengan isi kotak, jadi tanpa banyak pikir langsung memberikannya. Ternyata, anak itu malah asyik bermain dengan kotak dan isinya, sama sekali tak berniat mengembalikannya.
Karena di dalam kotak itu masih ada hadiah untuk Kang Ting, Jin Shu khawatir barang itu akan rusak jika terus dimainkan, maka ia mendekati Rui De dan berkata, "Rui De, tolong kembalikan barang-barangnya."
Namun adiknya sama sekali tak menghiraukannya, malah terus membolak-balik kotak itu dengan riang, sesekali melirik ke arah Jin Shu dengan ekspresi penuh kemenangan.
Melihat kelakuan adiknya, Jin Shu pun menyadari bahwa anak bandel memang ada di zaman mana pun.