Bab 4: Tuan Muda Bagai Giok, Lembut Seperti Angin Musim Semi
Setelah suasana hati Nyonya Jin sedikit tenang, waktu sudah menunjukkan tiga perempat jam setelah magrib. Di luar angin bertiup kencang, tak lama kemudian hujan deras turun menghantam atap tanpa ampun. Melihat Qi Fang belum juga berhasil memanggil Kang Ting, Zhao Chi baru teringat pada putrinya yang terbaring di ranjang dengan demam tinggi. Saat ia menyentuh dahi Jin Shu, barulah ia sadar situasinya gawat, segera memerintahkan Ping Rui yang menunggu di luar untuk memanggil beberapa pelayan lagi masuk ke kamar membantu.
Mereka sibuk mengambil baskom, menuangkan air, mengganti kain penahan keringat, membuat suasana di kamar Jin Shu mendadak ramai untuk pertama kalinya.
Hari mulai gelap ketika akhirnya Qi Fang membawa Kang Ting yang baru saja pulang dari Balai Tabib Kekaisaran. Karena tidak pantas bagi perempuan menemui tamu lelaki, Zhao Chi menyuruh Ping Rui mengantar Nyonya Jin kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Di luar hujan turun bak dicurahkan dari langit, payung kertas mana sanggup menahan derasnya air. Ketika Kang Ting melangkah masuk ke rumah, seluruh tubuhnya basah kuyup, ujung jubahnya masih meneteskan air, namun tidak sedikit pun tampak berantakan; wajahnya tetap tenang dan lembut, menampilkan sikap santun penuh wibawa.
Zhao Chi melihat Kang Ting, tak bisa menahan rasa kagumnya. Setengah tahun tidak bertemu, orang ini justru semakin berwibawa. Ada orang-orang yang memang terlahir sebagai sosok luar biasa, Kang Ting adalah satu di antara mereka.
Karena keluarganya turun-temurun bertugas di Balai Tabib Kekaisaran, Kang Ting sejak kecil belajar ilmu pengobatan pada ayahnya sekaligus menjadi pembantu apoteker, sering keluar masuk istana, hingga wajahnya pun dikenal oleh Kaisar Tua.
Kang Ting sejak kecil sudah tampan, rendah hati, dan tahu tata krama. Jalan menjadi tabib begitu berat, namun ia tak pernah mengeluh. Kaisar Tua melihat seorang bocah tujuh atau delapan tahun yang selalu berpegang teguh pada niatnya, perlahan menaruh perhatian khusus padanya.
Seiring waktu, kasih sayang Kaisar Tua kepada Kang Ting pun semakin besar. Ia kerap tanpa sadar membandingkan putra dan cucunya sendiri dengan Kang Ting. Setiap kali membandingkan, betapa ia ingin menampar keturunan sendiri. Kenapa anak sebagus ini bukan darah dagingnya sendiri?
Karena rasa iri, Kaisar Tua pun berpikir, "Jika aku tak bisa melahirkan anak seperti ini, maka kubuat saja dia rusak oleh kasih sayang." Maka dimulailah perlakuan istimewa yang berlebihan. Asalkan Kang Ting berhasil menyembuhkan selesma dan batuk para selir, makanan lezat, barang berharga, ramuan langka, semua dikirimkan ke keluarga Kang dalam jumlah besar. Kaisar Tua benar-benar memperlakukan Kang Ting seperti cucu kandung, membuat para pejabat dan bangsawan melirik iri kepada keluarga mereka.
Dalam menghadapi limpahan anugerah istana, Kang Ting yang berakar kuat selalu bersikap tenang dan rendah hati, fokus menekuni ilmu pengobatan, menaruh kepedulian pada rakyat banyak.
Kang Ting yang berhati lapang dan terbuka seperti ini, sungguh berhasil merebut hati Kaisar Tua. Begitu Kang Ting berusia enam belas, putri sulung dari Putri Agung pun dinikahkan dengannya. Namun jodoh mereka singkat, setelah menikah tiga tahun, sang istri tiba-tiba jatuh sakit parah dan tak tertolong, menyisakan Kang Ting seorang diri di dunia.
Mereka adalah pasangan yang sangat saling mencintai. Menghadapi kepergian istrinya secara tiba-tiba, dan dirinya tak mampu berbuat apa-apa, Kang Ting terpuruk selama tiga tahun. Ia kehilangan semangat mudanya, yang tersisa hanyalah awan kelabu dan kehampaan.
Beruntung orang tua dan sahabat-sahabatnya terus memberi dorongan, hingga akhirnya Kang Ting mampu keluar dari masa kelam itu dan kembali meraih impiannya. Melihat hal itu, Kaisar Tua pun akhirnya merasa tenang.
Mengenang peristiwa-peristiwa itu, Zhao Chi merasa tulus kagum: di mana pun Kang Ting berada, ia selalu bersinar seperti permata di kegelapan malam.
Melihat Zhao Chi melamun, Kang Ting lebih dulu membuka suara, "Kakak Zhao, tadi Qi Fang bilang Jin Shu sakit parah, bawa aku melihat keadaan nona itu dulu."
Zhao Chi baru sadar dirinya kehilangan kendali, buru-buru membungkuk memberi hormat, "Adik mulia, aku sangat berterima kasih atas kesediaanmu datang untuk mengobati anakku. Semua salahku, tak sempat menyiapkan kereta kuda, hingga kau kehujanan seperti ini. Bagaimana kalau kubiarkan Qi Fang mengantarmu ke kamar samping untuk mandi dan ganti pakaian lebih dulu?"
Kang Ting menjawab hormat, "Terima kasih atas perhatian Kakak Zhao. Namun ini soal nyawa, aku tak berani membuang waktu. Biarkan aku memeriksa denyut nadi nona itu dahulu, jangan sampai menunda sesuatu yang penting."
Karena Kang Ting sudah berkata begitu, Zhao Chi pun tak berpanjang kata, langsung mengajaknya menuju kamar Jin Shu.
Setelah selesai memeriksa nadi Jin Shu, wajah Kang Ting tampak berat, ia segera duduk menulis resep, lalu berkata pelan, "Kalian ini benar-benar membuatku harus berebut nyawa dengan malaikat maut. Nanti ambil resep ini, cepat suruh orang menyiapkan ramuan dan merebusnya, aku akan menusukkan jarum pada anak ini. Apakah ia sanggup bertahan, itu tergantung takdirnya."
Setelah sibuk satu jam penuh, Kang Ting melihat demam Jin Shu sudah turun, barulah ia merasa lega. Ia membereskan jarumnya, duduk di samping untuk beristirahat sejenak.
Zhao Chi segera mendekat dengan hormat, "Terima kasih, Adik Mulia, atas pertolonganmu. Apakah putriku masih dalam bahaya?"
"Nyawanya sudah terselamatkan, tapi karena masih kecil dan tubuhnya lemah, jatuh ke air kali ini pasti melukai jantung dan paru-parunya, akan meninggalkan penyakit seumur hidup. Mulai sekarang Kakak Zhao harus benar-benar menjaga, kalau tidak anak ini bisa..." Kang Ting menghela napas, merasa kasihan pada Jin Shu. Anak perempuan yang tubuhnya lemah akan sulit menikah, apalagi ia hanya anak selir.
"Aku pasti akan mengingat nasihatmu hari ini," Zhao Chi kembali membungkuk berterima kasih. Beban berat di hatinya akhirnya terangkat. Ia menatap putrinya yang masih terlelap di ranjang, dan untuk pertama kalinya merasa sedikit bersalah.
Karena khawatir Jin Shu akan kembali demam di malam hari, dan besok ia kebetulan tidak bertugas, Kang Ting menawarkan diri untuk tinggal menemani dan merawat Jin Shu.
Mendengar itu, Zhao Chi makin bersyukur, segera mengatur kamar untuk Kang Ting dan memerintahkan pelayan untuk melayaninya. Namun usai itu, ia diam-diam masuk ke kamar Nyonya Jin, tak lama kemudian terdengar suara desahan dan nafas tergesa dari balik pintu, membuat orang yang mendengarnya merasa malu.
Dari kejauhan, Kang Ting mendengar jelas suara tak senonoh itu, dan tak bisa menahan rasa kecewa pada kepribadian Zhao Chi.