Bab 26: Pertemuan Singkat Menyemai Benih Petaka
Mendengar ucapan Nyonya Jin itu, hati Xu Mao seperti disayat pilu. Awalnya ia mengira seumur hidup mereka tidak akan pernah bertemu lagi, namun tak disangka perempuan itu kini berdiri di hadapannya, mengucap kata-kata penuh kerinduan. Sepuluh tahun berlalu tanpa kabar, seharusnya ada banyak hal yang ingin ia sampaikan, namun kini segalanya telah berubah. Jika ia bicara terlalu banyak, rasanya hanya akan menjadi tidak sopan.
Tak berdaya, Xu Mao hanya bisa menatap Nyonya Jin dengan senyum tipis. “Mingruo, dengarlah suara hiruk-pikuk di luar sana. Mana mungkin ini hanya mimpi?”
Suara yang selalu ia rindukan kini bergema di telinganya, membuat hati Nyonya Jin bergetar hebat. Saat ini, ia malah berharap semua ini hanyalah mimpi, agar tak perlu merasakan kegelisahan dan ketidakpastian yang membelit.
Nyonya Jin menata perasaannya, merapikan rambut di pelipis lalu menunduk memberi hormat. Ia tersenyum tipis, berkata, “Barusan aku bicara ngawur, mohon Maafkan aku, Tuan Xu.”
Xu Mao hanya bisa tersenyum pahit mendengar itu. Ia tahu kini status mereka berbeda jauh, namun ia pun tak sanggup menahan kerinduan di hati. Akhirnya, ia tak kuasa menahan diri dan bertanya, “Selama bertahun-tahun ini, apakah kau selalu membenciku?”
Nyonya Jin menatap langsung ke matanya, memperhatikan setiap ekspresinya, takut kehilangan satu pun gerak-geriknya. Setelah terdiam lama, ia merasa dirinya menjadi canggung, lalu menggeleng pelan, “Kita berdua sama-sama terpaksa, tak ada yang bisa disalahkan. Hanya saja cinta kita terlalu dalam, jodoh kita terlalu singkat, takdir tidak berpihak. Semua itu sudah lama kulepaskan, tak ada lagi soal benci atau tidak. Tuan Xu, kau terlalu memikirkannya.”
Mengingat masa kecil mereka yang akrab dan tak terpisahkan, hati Nyonya Jin terasa getir. Namun ia sadar, tak ada jalan untuk kembali, sehingga ia berusaha bersikap dingin.
Melihat sikap dingin Nyonya Jin, Xu Mao pun sadar bahwa membicarakan masa lalu hanya akan menambah luka. Maka ia pun melepaskan perasaannya dan dengan tulus berkata, “Bisa bertemu sahabat lama, hati ini sungguh bergetar. Barusan aku memang melewati batas. Kini melihat Mingruo dalam keadaan baik, tak ada lagi yang perlu kukhawatirkan. Tempat ini ramai, aku khawatir orang salah paham dan merusak nama baikmu. Aku pamit.”
Setelah berkata demikian, Xu Mao memberi hormat, lalu dengan tegas berbalik hendak pergi tanpa menoleh lagi.
Melihat itu, Nyonya Jin ingin rasanya menampar dirinya sendiri. Sepuluh tahun tak pernah lupa, cinta begitu dalam, namun kini ia justru tak mampu menahan diri, perasaan tak rela membuncah dari dalam hati.
Akhirnya ia tak tahan, berseru, “Sanlang, tunggu dulu...”
Panggilan “Sanlang” itu membuat Xu Mao spontan berhenti melangkah. Ia berbalik, menatap Nyonya Jin dengan penuh kasih.
“Kau memanggil siapa Sanlang?”
Suara yang tiba-tiba terdengar itu membuat keduanya terkejut. Tampak seorang perempuan berpakaian mewah, didampingi pelayan, melangkah melewati gerbang batu dan masuk ke halaman. Tatapan matanya pada Nyonya Jin begitu dingin menusuk.
“Bu...Nyonya...” suara Xu Mao terdengar jelas gugup.
Mendengar Xu Mao memanggil demikian, Nyonya Jin langsung mengetahui siapa yang datang—Putri Changle, putri kesayangan Raja Bijaksana.
Nyonya Jin segera berlutut memberi salam, hatinya diliputi kecemasan. “Hormat kepada Putri Changle.”
Melihat ekspresi mereka berdua, amarah Putri Changle semakin membara. Tak peduli pada harga diri Nyonya Jin, ia langsung memarahi Xu Mao, “Tak tahu dari mana datangnya perempuan rendahan seperti ini! Kau berdiri sedekat itu dengannya, tak takut mencoreng martabatmu sendiri, mempermalukanku?”
Mendengar hinaan itu, Xu Mao merasa sakit hati, namun ia tak berani membela Nyonya Jin karena takut pada kekuasaan Putri Changle.
Wajah Nyonya Jin menegang, namun karena perbedaan derajat, ia hanya bisa berlutut menerima makian.
“Mau berdiri di sini sampai kapan? Harus menunggu orang datang melihat, baru sadar sudah mempermalukan diri sendiri?” Putri Changle sangat ingin menyingkirkan perempuan di hadapannya, namun mengingat ia berada di kediaman orang lain, ia menahan diri.
Xu Mao tak punya pilihan, akhirnya ia berjalan ke sisi Putri Changle dengan takut-takut, tak berani menoleh lagi pada Nyonya Jin. Putri Changle mengibaskan lengan bajunya dengan keras, menatap Nyonya Jin yang masih berlutut dengan penuh makna, lalu melangkah pergi dari halaman dengan angkuh.
Nyonya Jin baru berdiri setelah rombongan itu pergi. Wajahnya kini tak lagi cerah seperti biasanya, hanya menyisakan kesedihan. Ia kembali ke kamar dengan langkah lesu lalu menutup pintu.
Sementara itu, pasangan suami istri itu berjalan ke taman belakang di dekat batu besar. Begitu melihat sekeliling sepi, Putri Changle tak peduli meski para pelayan masih di sana, langsung menampar Xu Mao hingga wajahnya menoleh ke samping.
Xu Mao tak berkata sepatah kata pun, alisnya pun tak bergerak, seolah sudah terbiasa dengan semuanya.
“Kau ini benar-benar tak tahu malu! Bertahun-tahun berlalu, masih saja merindukan perempuan murahan itu! Kalau dulu bukan karena kasihan melihat dia kehilangan ibunya, sudah lama aku habisi dia, tak akan ada dia di sini hari ini!”
Putri Changle jelas mengenal “saingannya” itu. Tadi ia sengaja menghina Nyonya Jin hanya untuk mempermalukannya.
Mengingat kejadian barusan, Putri Changle kembali memaki, “Masih saja memanggil Sanlang dengan penuh perasaan! Dasar perempuan jalang, orang seperti itu memang cocok dikirim ke tangan para tentara, mereka pasti suka sekali...”
Semua kata-kata kejam ia tujukan pada Nyonya Jin, tapi melihat Xu Mao tetap diam, amarah Putri Changle semakin menjadi. Ia memaksa Xu Mao berlutut di depannya di sana juga.
Walau ada ungkapan bahwa lutut laki-laki terbuat dari emas, namun bertahun-tahun siksaan telah membuat Xu Mao terbiasa, ia tak membantah, hanya berlutut tanpa sedikit pun harga diri.
“Awalnya kupikir dia menikah dengan pejabat kecil dan jadi istri kedua, seumur hidup kalian takkan pernah bertemu lagi. Siapa sangka, kalian berdua malah memanfaatkan celah untuk saling menatap mesra diam-diam. Apa, kalian masih ingin kabur bersama, mempermalukan aku sebagai putri di seantero Bianjing?”
Xu Mao tetap menunduk diam, membiarkan Putri Changle melampiaskan amarah.
“Barusan bukan penuh perasaan memanggil Mingruo, Sanlang? Ke mana sekarang semua gairah itu? Kau memang lelaki tak berguna!”
Semakin lama makin geram, Putri Changle melampiaskan amarahnya dengan memukul Xu Mao tanpa ampun.