Bab 53: Keberuntungan Kekayaan yang Dibawa Kakek
“Guoliang, pangganglah beberapa sate untuk Ayah terlebih dahulu,” kata Liu Fei.
Ia tahu bahwa sang mertua sudah berangkat sejak pagi, mengalami perjalanan bergelombang selama lebih dari empat jam, dan pastinya belum makan apa pun di sepanjang jalan.
Lu Guoliang tidak memikirkan hal lain dan langsung mulai memanggang sate.
Karena ini adalah ayah kandungnya sendiri, Lu Guoliang langsung memanggang 20 tusuk sate babi, 20 tusuk sate sapi, dan 20 tusuk sate kambing untuknya.
Satu tusuk pun tidak ada sayurnya, karena ayahnya adalah seorang pemakan daging sejati.
“Ayah, makanlah sedikit dulu untuk mengganjal perut. Mumpung sudah sampai sini, nanti malam bantu-bantu pekerjaan kecil ya,” kata Lu Guoliang.
Liu Fei melirik suaminya dengan tatapan jengkel, dalam hati ia berpikir bahwa suaminya ini benar-benar anak kandung yang luar biasa dan sangat berbakti.
Lu Qingshan tidak mempermasalahkannya. Melihat 60 tusuk sate diletakkan bersamaan dan menumpuk seperti gunung kecil di atas nampan, ia merasa jumlah itu terlalu banyak.
“Untuk apa kamu panggang sebanyak ini? Aku tidak akan sanggup menghabiskannya. Alangkah baiknya kalau kau simpan untuk dijual,” ujar Lu Qingshan yang pada akhirnya merasa sayang.
Namun, Lu Guoliang berkata kepadanya, “Sate yang sudah dipanggang ini, kalau sudah dingin akan mengeras, sama sekali tidak enak dan tidak bisa dijual. Cepatlah makan selagi hangat.”
Ia sendiri yang mengambilkan kompor barbekyu kecil untuk ayahnya. Barbekyu hanya enak disantap selagi panas, dan hal inilah yang membuat barbekyu tidak mungkin bisa dipesan melalui layanan antar.
Sekalipun dipaksakan untuk menggunakan layanan antar, tidak mungkin akan mendapatkan ulasan yang baik.
Kemasan vakum pun omong kosong!
“Kakek, cepat makan, ini sangat harum,” ucap Xinsao sambil berdiri di samping dan menyerahkan seusuk sate kambing kepada Lu Qingshan.
Tindakan sang cucu perempuan berhasil membuat pria paruh baya itu tersenyum gembira. Karena putranya saja sudah berkata demikian, jika ia sampai tidak sanggup menghabiskannya, maka itu benar-benar sia-sia. “Sudah kubilang, lain kali jangan memanggang sebanyak ini.”
“Ayah, tidak apa-apa, ini kan barang milik kita sendiri. Makanlah sampai kenyang dulu,” kata Lu Guoliang.
Ia kemudian bertanya kepada ayahnya, “Sudah menelepon Ibu untuk memberitahu bahwa Ayah sudah sampai?”
“Mana sempat aku meneleponnya, lebih baik kamu saja yang memberitahunya,” jawab Lu Qingshan sambil memegang dua tusuk sate dan mulai memakannya.
Begitu sate itu masuk ke dalam mulutnya, ia merasa rasanya sangat lezat.
Ia pun merasa heran di dalam hati, putranya biasanya bahkan tidak pernah memasak, bagaimana bisa ia belajar memanggang sate?
Setelah Lu Guoliang menelepon rumah, ibunya, Zhou Cuizhen, yang mengangkat telepon tersebut. Baru saja Lu Guoliang mengatakan bahwa ayahnya telah tiba di kedainya, Lu Qingshan langsung mengulurkan tangan meminta gagang telepon.
“Halo, Cuizhen, aku sudah sampai di kedai Guoliang. Dia benar-benar membuka kedai barbekyu, dan bahkan memanggangkan satu genggam besar sate untukku makan. Jangan salah, rasanya benar-benar enak, nanti saat aku pulang akan kubawakan sedikit untukmu,” kata Lu Qingshan.
Lu Guoliang dan Liu Fei duduk di samping untuk menemani, sementara Xinsao bersandar di pelukan sang ibu, menyaksikan kakeknya menelepon nenek.
Begitu Lu Qingshan menyerahkan ponselnya dan menyuruh Xinsao memanggil nenek lewat telepon, si kecil pun menurutinya dan berteriak memanggil nenek dengan suara nyaring.
Ma Qiurong dan Wang Yinghua melihat lelaki tua bernama Lu Qingshan yang baru saja datang ke kedai itu. Melalui obrolan, mereka juga tahu bahwa ia adalah ayah kandung sang bos.
Melihat keluarga itu sedang mengobrol, keduanya hanya mengangguk sebagai salam dan tidak ikut mendekat untuk nimbrung, lalu melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Zhou Cuizhen yang berada di kampung halaman merasakan gelombang kepuasan yang luar biasa di dalam hatinya ketika mendengar sang cucu perempuan memanggilnya nenek.
Putra bungsunya tinggal jauh di perantauan, sementara ia biasanya selalu berada di rumah mengurus anak dari putra sulungnya, sehingga ia selalu merasa bersalah kepada cucu perempuan bungsu ini.
Memberikan seluruh uang tabungan sebesar dua puluh ribu yuan kepada keluarga anak kedua pun tidak lepas dari niatnya untuk menebus perasaan bersalah kepada sang cucu.
Setelah mengabarkan bahwa dirinya baik-baik saja, Lu Qingshan langsung menyerahkan ponsel itu kembali kepada cucunya dan melanjutkan makannya.
Selesai menyantap makan siang yang terlambat itu, Xinsao juga sudah menutup panggilan teleponnya.
Lu Qingshan melirik Ma Qiurong dan Wang Yinghua yang sedang bekerja, lalu mengambil tasnya dan menyerahkannya kepada sang menantu. “Fei Fei, kedatanganku kali ini tidak membawa hal lain, ini titipan dari ibumu untukmu, terimalah.”
“Apakah ada tempat untuk kalian menyimpan ini dengan aman?” demikian ujar Lu Qingshan.
Begitu mendengar ucapan ayahnya, Lu Guoliang sudah bisa menebak bahwa isi tas itu adalah uang.
Liu Fei yang mendengar penjelasan dari suaminya juga menebak hal yang sama, dan justru karena itulah, perasaannya menjadi semakin rumit.
“Ayah, kami tidak bisa menerimanya. Bawalah kembali uang ini untuk Ibu,” kata Liu Fei.
Lu Qingshan menggelengkan kepala. “Aku sudah membawanya ke sini. Kalau aku membawanya pulang lagi, ibumu pasti akan mengulitiku.”
“Kalau kalian benar-benar tidak mau menerimanya, akan kulempar saja di sini, terserah siapa yang mau memungutnya,” ancam Lu Qingshan mulai bersikap keras kepala.
Lu Guoliang tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi ayahnya, dan akhirnya berkata, “Kalau begitu, barang ini kami simpan dulu, nanti aku akan pergi menyetorkannya ke bank. Kalau keluarga butuh sesuatu, katakan saja padaku.”
“Keluarga tidak butuh, simpan saja untuk dipakai oleh Fei Fei dan Xinsao,” kata Lu Qingshan dengan tegas.
“Hihi, Kakek memang yang terbaik,” puji Xinsao seketika, membuat Lu Qingshan tersenyum lebar hingga tak mampu menutup mulutnya.
Selesai makan, ia menyeka tangannya lalu menggendong cucunya. “Ayo Xinsao, Kakek belikan jajanan enak.”
“Kakek, aku ingin makan es krim,” pinta Xinsao sambil merangkul leher Lu Qingshan, sama sekali tidak takut janggut sang kakek menusuk tangannya dan tidak ada rasa canggung sama sekali.
Melihat kakek dan cucu itu berjalan keluar kedai, Liu Fei membuka tas hitam tersebut dan melirik ke dalam. Di dalam sebuah kantong merah terdapat dua bendel uang tunai tebal. Ia menoleh kepada suaminya dan bertanya, “Guoliang, apakah kita benar-benar akan menerimanya?”
“Sekalipun kita menolaknya, Ayah tidak akan membawanya pulang. Simpan saja dulu, nanti aku akan pergi menyetorkannya. Jika ada keperluan mendesak di rumah, kita ambil lagi uangnya,” kata Lu Guoliang.
Hanya itu satu-satunya cara yang bisa dilakukan saat ini.
Ada sebuah bank di jalan tempat kedai mereka berada. Lu Guoliang mengendarai sepeda motor untuk menyetorkan uang itu terlebih dahulu, karena menyimpan uang tunai sebesar dua puluh ribu yuan di kedai benar-benar tidak aman.
Dengan demikian, jumlah simpanan uang tunai di kartu banknya justru bertambah lagi dua puluh ribu.
Entah apakah kedatangan Lu Qingshan membawa keberuntungan bagi mereka, pada malam hari itu, kedai Barbekyu Meixian sangat cepat dipenuhi oleh pengunjung.
Lu Guoliang awalnya mengira kedai mereka tidak akan terlalu ramai malam itu, tetapi melihat sekitar pukul setengah tujuh malam sudah ada 10 meja yang terisi, ayahnya pun ikut sibuk membantu menyiapkan kompor, mengangkat meja, dan membawakan bir dengan penuh semangat.
Setelah lewat pukul 7 malam, gelombang pertama pengunjung mulai beranjak pergi, dan gelombang kedua pun mulai berdatangan.
Liu Fei membuat sebuah grup QQ yang diberi nama Grup Diskon Barbekyu Meixian. Saat menghitung pembayaran pelanggan, ia akan mengeluarkan ponselnya dan meminta para tamu untuk bergabung ke dalam grup tersebut, serta menjelaskan dengan sabar bahwa setelah bergabung, mereka akan menikmati berbagai kegiatan promosi. Jika kedai memiliki informasi diskon di masa mendatang, ia juga akan membagikannya terlebih dahulu di dalam grup.
Bergabung dengan grup bukanlah hal yang merepotkan. Mendengar bahwa bergabung ke dalam grup bisa mendapatkan berbagai keistimewaan, sebagian besar orang bersedia untuk bergabung, meskipun ada pula segelintir orang yang merasa risih dengan hal tersebut.
Bagi orang-orang seperti itu, Liu Fei tidak ambil pusing.
Malam itu mereka sibuk hingga hampir pukul 10 malam sebelum menutup kedai. Mereka melayani 17 meja, ditambah satu meja pada siang hari, sehingga totalnya ada 18 meja.
Liu Fei bahkan sempat bercanda kepada putrinya bahwa ini adalah keberuntungan yang dibawa oleh sang kakek.
Memang benar demikian, kedatangan Lu Qingshan bahkan membawa serta uang tunai dua puluh ribu yuan untuk mereka.
Xinsao terus saja mengacungkan kelingkingnya memuji betapa hebatnya sang kakek.
Malam itu, ia menyuruh istri dan putrinya naik taksi pulang lebih dulu ke kompleks perumahan. Lu Guoliang dan ayahnya membereskan sisa pekerjaan di kedai, lalu mengendarai sepeda motor mengantar sang ayah kembali ke Kompleks Keyuan.
Malam itu, untuk pertama kalinya ia tidak menulis naskah, melainkan mengobrol dengan ayahnya, Lu Qingshan, hingga larut malam.