Bab 9: Teman Seperjalanan Adalah Musuh (Mohon Lanjutan Cerita)
Halaman (1/3)
An Shunlin tidak tahu apa yang dipikirkan Lu Guoliang. Ia berkata, “Wah, Jalan Jinhuan, ya? Aku juga tinggal di sekitar sana. Tak usah mentraktirku. Nanti saat tokomu buka, aku pasti membawa teman-temanku untuk mencicipinya.”
“Tapi kuperingatkan dulu, kalau nanti rasanya tidak enak, aku tidak akan membayar.”
Melihat wajah An Shunlin yang tersenyum lebar, Lu Guoliang benar-benar ingin menamparnya. Masa mau makan gratis saja harus sesombong itu?
Namun, yang keluar dari mulutnya justru, “Tentu saja. Enak atau tidak, makanan kali ini pasti aku yang traktir.”
Lu Guoliang kembali mencari becak roda tiga pengangkut barang di dalam pasar. Dengan membayar lima belas yuan, ia meminta kendaraan itu mengantarkan barang ke tokonya.
Setelah mendapatkan dua lemari pendingin bekas tersebut, Lu Guoliang berpikir untuk mengirimkannya pulang lebih dulu, lalu kembali lagi mencari barang-barang lain.
Ia lebih dulu mengendarai sepeda motornya ke toko di Jalan Jinhuan. Xia Qiusheng dan Wang Daguo sudah selesai membersihkan halaman dan sedang memeriksa jalur kabel listrik serta pipa air di dalam rumah.
Bos Lu Guoliang memang orang yang baik, jadi mereka pun bekerja dengan sungguh-sungguh.
Melihat Lu Guoliang pulang lebih awal, mereka sempat merasa heran. Tak lama kemudian, Lu Guoliang memberi tahu bahwa ia baru saja membeli dua lemari pendingin dan akan menurunkannya di toko terlebih dahulu.
“Bos Lu, kebetulan Anda sudah kembali. Tadi kami berdua memeriksa seluruh tempat. Beberapa kabel sudah lapuk, kulit pelindungnya bahkan terkelupas. Semuanya harus diganti dengan yang baru, kalau tidak bisa berbahaya.”
“Untuk pipa air dan keran, coba Anda tentukan ingin memasangnya di mana agar lebih praktis. Dengan begitu, kami bisa menghitung kebutuhan material dan mengubah jalurnya,” ujar Xia Qiusheng.
Wang Daguo adalah seorang teknisi listrik, sedangkan Xia Qiusheng ahli dalam mengubah jalur pipa air. Dengan kerja sama mereka, pekerjaan semacam ini sama sekali bukan masalah.
Lu Guoliang tidak membuang waktu. Ia berkeliling rumah bersama mereka berdua. Berdasarkan gambaran yang telah ia simulasikan dalam benaknya, ia menentukan tiga titik keluarnya pipa air.
Xia Qiusheng mengeluarkan kertas dan pena. Berdasarkan penjelasan Lu Guoliang, ia menentukan seluruh material yang dibutuhkan, termasuk keran, sambungan tiga arah, sambungan pengecil, beberapa meter pipa air, serta berbagai barang kecil seperti stopkontak dan kabel listrik berukuran kecil.
Lu Guoliang melihat daftar itu dan merasa jumlahnya terlalu banyak. Kalau hanya dituliskan di kertas, rasanya tetap sulit menjelaskannya.
“Pak Xia, Pak Wang, setelah lemari pendinginnya diturunkan nanti, tolong luangkan waktu untuk menemaniku ke toko perlengkapan di sebelah. Kita lihat materialnya bersama-sama.”
“Baik,” jawab mereka berdua dengan cepat.
Setelah becak roda tiga yang membawa dua lemari pendingin itu tiba, mereka bertiga bersama sang pengemudi mengangkat lemari-lemari tersebut ke dalam toko secara berpasangan. Lu Guoliang membayar lima belas yuan, lalu tukang becak itu pergi mencari pekerjaan lain.
Saat Lu Guoliang hendak membawa Wang Daguo dan Xia Qiusheng ke toko perlengkapan di sebelah untuk membeli material, tiba-tiba seorang perempuan gemuk muncul di depan pintu. Dengan sikap akrab, ia menyapa mereka sambil tersenyum, “Wah, sedang merenovasi, ya!”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Lu Guoliang meliriknya. “Ya, baru mulai direnovasi. Anda siapa?”
“Aku pemilik kedai hotpot iga sapi di sebelah. Setelah tokomu selesai direnovasi, mau dipakai untuk usaha apa?” tanya perempuan gemuk itu lagi.
Lu Guoliang menangkap maksudnya. Ini sedang menyelidiki pesaing?
“Membuka kedai barbeku,” jawabnya.
“Oh, kalian juga membuka usaha barbeku.” Ekspresi perempuan gemuk itu tampak jelas menegang.
Namun, ia segera berpura-pura tidak peduli dan berkata, “Sekarang usaha di kawasan pabrik sedang sulit. Orang yang makan di luar juga tidak banyak. Di sepanjang jalan ini, pelanggan barbeku sudah disedot oleh Barbeku Jinliu dan Barbeku Dajiale. Anak muda, membuka kedai barbeku di sini benar-benar tidak mudah.”
“Begitu, ya? Aduh, aku baru datang dan tidak tahu keadaan di sekitar sini. Pantas saja harga sewa toko ini sangat murah. Rupanya karena alasan itu.” Lu Guoliang sengaja menunjukkan wajah cemas.
Perempuan gemuk itu mengangguk. “Benar, bukan? Di sepanjang jalan ini, yang datang makan hanya orang-orang dari dua kompleks perumahan di sekitar sini. Sekarang kondisi ekonomi juga sedang buruk. Banyak pabrik menurunkan gaji para pekerjanya. Banyak orang tidak tega mengeluarkan uang untuk makan di luar. Ada beberapa pemilik usaha makanan yang sudah tidak sanggup bertahan dan ingin menjual tokonya, tetapi selama dua atau tiga bulan pun belum ada yang mengambil alih.”
Itu memang benar. Sebelumnya Lu Guoliang juga pernah melihat beberapa toko di sepanjang jalan memasang papan bertuliskan “Toko Dijual”, tetapi harga yang diminta terlalu tinggi sehingga ia tidak menggubrisnya.
Menjelang akhir pembicaraan, perempuan itu kembali menghela napas dan berkata, “Aduh, langit benar-benar tidak memberi jalan hidup. Sekarang berdagang memang sulit. Entah kapan semua ini akan berakhir!”
Wang Daguo dan Xia Qiusheng saling berpandangan, tidak tahu harus menanggapi bagaimana.
Di dalam hati, mereka juga memikirkan satu hal: jangan-jangan Bos Lu akan mendengar betapa sulitnya keadaan di sini lalu mundur begitu saja.
Perempuan gemuk itu tampaknya memang hanya datang untuk mengobrol beberapa patah kata. Tanpa menunggu jawaban Lu Guoliang, ia berkata, “Kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian. Aku juga akan kembali membereskan toko. Sehari belum tentu bisa menerima beberapa meja pelanggan, tetapi pintu tetap harus dibuka. Kalau tidak, biaya operasional pun tidak akan tertutup.”
Lu Guoliang keluar dari toko dan melihat bahwa perempuan itu benar-benar telah kembali ke kedai “Hotpot Iga Sapi” di sebelah.
“Bos Lu, jadi pekerjaan ini tetap dilanjutkan atau tidak?” tanya Wang Daguo dengan agak cemas. Ia takut tidak jadi mendapatkan pekerjaan.
Lu Guoliang tersenyum. “Kenapa tidak? Uang sewanya sudah kubayar, dan renovasinya juga hampir selesai. Masa hanya karena beberapa kata darinya aku menyerah di tengah jalan?”
“Ayo, kita pergi ke toko perlengkapan untuk membeli barang-barang.” Ia berjalan memimpin di depan.
Xia Qiusheng dan Wang Daguo segera menyusul.
Lu Guoliang masih memikirkan perempuan gemuk tadi. Perempuan itu memang cerdas, bahkan terlalu cerdas.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Dari perkataan dan sikapnya, jelas ia ingin mengatakan bahwa usaha makanan di jalan ini tidak memiliki masa depan. Ia juga sengaja mengarahkan Lu Guoliang kepada dua kedai, Barbeku Jinliu dan Barbeku Dajiale, tetapi sama sekali tidak mengakui bahwa buruknya usaha kedai hotpot miliknya juga disebabkan oleh pelanggan yang tersedot ke kedai-kedai barbeku.
Ia bahkan menggunakan kisah tentang kedai makanan lain yang tutup atau dijual untuk menakut-nakutinya. Terus terang, ia hanya ingin membuat Lu Guoliang mundur karena merasa keadaan terlalu sulit.
Lu Guoliang memahami bahwa barbeku, hotpot iga sapi, masakan tumis, dan sebagainya semuanya termasuk dalam industri makanan.
Perempuan gemuk itu benar dalam satu hal: jumlah orang di jalan ini memang terbatas. Jika hari ini mereka makan barbeku, mereka tentu tidak akan makan masakan tumis atau hotpot.
Bagi perempuan gemuk tadi, meskipun Lu Guoliang tidak membuka kedai hotpot, ia tetap merupakan “musuhnya”.
“Tokonya bahkan belum buka, tetapi musuh sudah muncul. Ini ada-ada saja.” Lu Guoliang merasa agak kesal.
Pesaing memang selalu menjadi musuh. Pepatah lama itu ternyata benar adanya!
Namun, ia tidak akan gentar hanya karena sedikit kesulitan. Yang kuat bertahan dan yang lemah tersingkir memang sudah menjadi hukum pasar!
Sesampainya di toko perlengkapan, Lu Guoliang masuk dan memanggil pemiliknya.
Kemudian ia meminta Wang Daguo dan Xia Qiusheng menyebutkan satu per satu barang yang perlu dibeli.
Seperti yang telah diduga Lu Guoliang, karena ia membeli begitu banyak barang sekaligus, pemilik toko menyambutnya dengan sangat ramah. Setelah mengetahui bahwa Lu Guoliang baru saja menyewa rumah milik Wu Xinfa dan hendak membuka kedai barbeku, sang pemilik toko bahkan memberitahunya banyak kabar tidak resmi.
…
Di dalam kedai hotpot iga sapi, pemiliknya, Chen Xing, yang tak lain adalah perempuan gemuk tadi, sedang dengan bangga menceritakan kelakuannya kepada suaminya.
“Suamiku, dia mau membuka kedai barbeku. Tadi sudah kubilang kepadanya bahwa membuka kedai barbeku di jalan ini sama saja membuang-buang uang. Barbeku Jinliu dan Barbeku Dajiale sudah menyedot semua pelanggan. Usaha makanan lain juga tidak mudah. Kita sendiri cuma bertahan mati-matian…”
“Pokoknya, kalau nanti dia benar-benar buka dan tidak ada yang datang makan, kalau ada yang protes, biar mereka mendatangi dua kedai itu. Kita tinggal menonton keramaiannya.”
“Benar. Sialan, jumlah orang di jalan ini cuma segitu, tetapi kedai makanan yang buka sudah sebanyak ini. Kalau terus begini, kedai kita bukan hanya tidak menghasilkan uang, malah harus terus nombok.” Sang suami juga seorang pria gemuk, meskipun sedikit lebih kurus daripada istrinya. Namanya Yu Jinghai.
Saat berbicara, matanya menyipit menjadi satu garis seperti mata istrinya. Ditambah lagi dengan daging berlebih di wajahnya, ia memberikan kesan muram dan tidak tampak seperti orang baik.
Halaman (3/3)