“Aku pernah datang ke tempat ini dulu, waktu itu ada papan nama bertuliskan Surga Dunia! Suasananya luar biasa...” Pak Ma menggigit sebatang cerutu yang tinggal separuh, mendekatkannya ke laras senapa
"Peringatan, peringatan, di arah jam tiga, ada makhluk terbang raksasa mendekat, evolusi biasa, ancaman ringan!"
Saat suara wanita manis itu muncul di benaknya, seorang prajurit logam bernama Nante yang tubuhnya dilapisi emas mencolok sedang berdiri di atas bola kristal raksasa, kedua tangannya bertolak pinggang, dengan sikap jumawa seakan menguasai dunia, sambil... buang air kecil.
Namun sedetik kemudian, sebuah hantaman keras mengenai punggungnya.
Sepasang sayap hitam sepanjang dua meter lebih mengibaskan debu, tampak sangat mengerikan.
Nante terjatuh ke tanah.
Dia hanya sempat berkata, "Sial, kena ke tanganku..."
Ini adalah alun-alun landmark pusat Kota Dashun, tempat sebuah penyergapan akan segera terjadi.
Empat puluh meter jauhnya, pintu keluar stasiun kereta bawah tanah C1 di Jalan Zhongshan tampak sunyi, tangga-tangganya dipenuhi rerumputan liar.
Beberapa orang merayap di tanah mengamati pertempuran antara manusia burung itu. Seorang prajurit bersenjata perak bergerak sedikit, wanita berambut pirang di sampingnya mendengus, "Ngapain buru-buru!"
Wanita itu menyipitkan satu matanya ke teropong bidik, jari telunjuk perlahan menempel pada pelatuk. Moncong senapan hitamnya bukan diarahkan ke burung hitam itu, melainkan ke reruntuhan di kejauhan, di mana seekor anjing raksasa bermantel hitam seperti anak sapi bergerak lincah menghindar.
Di belakang anjing itu ada lebih dari seratus manusia aneh berpakaian compang-camping, mereka membawa tongkat, batu bata, melintasi mobil-mobil rus