Bab Tiga Puluh Tujuh: Badai di Balai Lelang (10)
Lin Yue sendiri tidak menyangka Li Qianzhou akan menyatakan cinta di saat seperti ini, apalagi dengan menggunakan liontin naga dan phoenix seharga sembilan juta sebagai hadiah pengakuan cintanya.
Benar-benar rela menghabiskan uang!
Lin Yue mendesah sinis dalam hati. Ia justru lebih tertarik melihat sikap Zhuang Mengdie, penasaran bagaimana wanita sombong itu akan bereaksi. Ucapan cinta barusan membuat Li Qianzhou merasa sangat percaya diri; baginya, gadis biasa pasti akan takluk dengan rayuan semacam itu. Dan di matanya, Zhuang Mengdie pasti akan segera bertekuk lutut di bawah serangan manisnya.
Namun, kalimat Zhuang Mengdie berikutnya membuat senyum di wajah Li Qianzhou membeku.
"Sepertinya ini bukan kamu yang beli, ya? Bukankah gurumu yang menghabiskan sembilan juta untuk membelinya? Bagaimana bisa kamu katakan ini milikmu?"
Zhuang Mengdie memandang Li Qianzhou dengan penuh keraguan. Tidak sedikit pun terlihat gairah atau kegembiraan di wajahnya, reaksi yang lazimnya ditunjukkan seorang gadis saat menerima pernyataan cinta. Ia tampak sangat tenang, bahkan bisa dibilang dingin.
Mendengar ucapan Zhuang Mengdie, para penonton di sekitar tidak bisa menahan tawa. Tamparan keras! Tamparan verbal ini sungguh telak.
Rasakan itu! Benar-benar pantas! Biar tahu rasa, sekarang kamu terjebak dengan kesombonganmu sendiri!
Sembari merasa puas, orang-orang di sekitar pun menanti reaksi Li Qianzhou. Mereka ingin melihat bagaimana ia akan menangani pertanyaan tersebut.
"Ini... guruku membelikannya untukku..."
Wajah Li Qianzhou sempat menunjukkan kecanggungan, lalu ia berusaha kembali tenang, namun ucapannya dipotong oleh Zhuang Mengdie.
"Memberikan barang pemberian orang lain kepada orang lain, perilaku seperti ini sepertinya tidak pantas, bukan?"
Zhuang Mengdie menatap Li Qianzhou. Saat ini, ia telah kembali pada sifatnya yang angkuh dan manja. Tatapannya penuh dengan penghinaan dan ejekan. Benar, menggunakan barang pemberian guru sendiri untuk merayu orang lain sama sekali tidak menunjukkan ketulusan.
Lagi-lagi tamparan yang sangat keras. Bagus sekali! Tamparan yang sangat berkelas! Orang-orang di sekitar bersorak dalam hati; akhirnya ada seseorang yang membalaskan rasa kesal mereka. Lin Yue yang menyaksikan dari samping pun merasa puas. Ternyata wanita manja ini tidak sepenuhnya buruk!
"Yang kuberikan bukan sekadar hadiah, melainkan hatiku. Aku tahu Nona Mengdie menyukai sepasang liontin naga dan phoenix ini, jadi aku sengaja membawakannya. Tolong jangan salah paham, kumohon terimalah," ujar Li Qianzhou yang memang sudah berpengalaman dalam hal merayu wanita.
Persetan dengan hatimu! Aku tahu kau hanya mengincar tubuhnya! Lin Yue hampir meledak karena kejijikan melihat betapa tidak tahu malunya pria itu.
Zhuang Mengdie menatap Li Qianzhou dengan tatapan meremehkan, lalu berkata dingin: "Tolong bawa kembali, aku tidak pantas menerimanya."
Li Qianzhou yang memiliki muka tebal tetap bersikeras meski telah ditolak: "Ini hanyalah bentuk ketulusanku, tidak bisakah kau tidak menolaknya?"
"Tanpa jasa, aku tidak berhak menerima pemberian. Meski aku menyukai liontin ini, aku tidak akan menerima cara pemberianmu seperti ini." Nada bicara Zhuang Mengdie semakin dingin dan angkuh.
*Semua pria memang menjijikkan. Berani-beraninya ingin mengejarku, huh!*
Li Qianzhou yang tidak peka terhadap situasi mengira Zhuang Mengdie hanya malu-malu, lalu melanjutkan: "Meskipun nilainya mungkin tinggi, ini tidak ada bandingannya dengan rasa kagumku pada Nona Mengdie. Kuharap kau bisa menerima hadiah ini demi ketulusanku. Sepasang liontin ini memang disiapkan untukmu. Nona Mengdie tentu tidak ingin melihat liontin naga dan phoenix yang melambangkan cinta ini dicemari oleh orang awam sepertiku, bukan? Hanya bidadari sepertimu yang pantas memiliki benda surgawi ini. Terimalah, Nona Mengdie."
Rayuan semanis itu membuat orang-orang di sekitar merasa mual. Tak disangka Li Qianzhou bisa mengucapkannya dengan begitu tenang dan penuh kepura-puraan. Sungguh luar biasa.
Lin Yue merasa ingin muntah. Jika kata-kata itu diucapkan oleh seseorang yang benar-benar mencintai, mungkin tidak akan terasa berlebihan. Namun, keluar dari mulut Li Qianzhou, kata-kata itu sungguh menjijikkan. Ia bahkan ingin menendang pria itu hingga tersungkur dan menghajarnya habis-habisan. Lin Yue harus mengakui kesabarannya cukup tinggi; orang lain mungkin sudah sejak tadi menyerbu pria itu.
Begitu Li Qianzhou selesai bicara, Zhuang Mengdie melontarkan kalimat yang sangat telak:
"Karena kau sendiri mengaku sebagai orang awam dan menyebutku bidadari, seharusnya kau tahu betapa besar perbedaan di antara kita. Lalu kenapa kau masih ingin mengejarku seperti katak yang ingin memakan daging angsa? Liontin naga dan phoenix ini memang akan tercemar di tanganmu, tapi meskipun begitu, aku tidak akan menerimanya. Pulanglah ke tempat asalmu, jangan ganggu aku lagi!"
Zhuang Mengdie sama sekali tidak berbasa-basi. Ia tidak menunjukkan rasa kasihan sedikit pun dan berbicara setajam mungkin.
Bagus! Sungguh ucapan yang luar biasa! Kalimat tentang katak yang ingin memakan daging angsa itu sungguh tepat! Wanita yang sangat tangguh! Namun, justru itulah yang membuatnya menarik.
Para penonton yang suka keributan segera bersorak dan bertepuk tangan meriah setelah Zhuang Mengdie selesai bicara.
Puas! Sungguh sangat puas!
Lin Yue pun ingin sekali memaki Li Qianzhou tepat di depan wajahnya, namun kesempatan itu belum tiba. Lain kali jika ada kesempatan, ia pasti akan menghajar pria itu hingga ibunya sendiri tidak akan mengenalinya, lalu memaki habis-habisan untuk memberikan pukulan mental yang tak terlupakan.
Lin Yue merasa dirinya terlalu jahat, namun orang seperti Li Qianzhou memang pantas diperlakukan lebih jahat. Sedikit kejahatan pada orang seperti dia adalah sebuah kebajikan.
Betapa pun bodohnya Li Qianzhou, ia akhirnya sadar bahwa Zhuang Mengdie sama sekali tidak tertarik padanya, bahkan sangat merendahkannya. Ia melihat ejekan tajam di mata wanita itu. Mendengar sorakan penonton, wajah Li Qianzhou berubah pucat pasi, lalu menjadi sangat bengis.
*Sialan! Hari ini aku sudah ditampar guruku, sekarang dihina oleh wanita jalang ini. Memangnya kau pikir kau siapa? Bahkan jika kau merangkak di kakiku pun, aku tidak akan sudi melirikmu!*
Chen Fei yang sedari tadi duduk diam di sudut merasa malu karena muridnya dipermalukan di depan umum, terlebih lagi karena muridnya sendiri yang menyodorkan wajah untuk ditampar. Sungguh menyedihkan! Chen Fei merasa nasibnya sedang sial. Ia tadinya berharap muridnya bisa merebut hati cucu Zhuang Dongfeng dengan liontin seharga sembilan juta itu. Jika mereka berhasil bersama, uang itu tidak akan sia-sia. Ia selalu mengincar kekayaan Zhuang Dongfeng; jika ia bisa mendapatkan resep rahasia keramik dan teknik perbaikan keramik warisan keluarga mereka, itu akan jauh lebih menguntungkan.