Bab Empat Puluh Lima: Pemuda yang Angkuh dan Sombong
Tepat setelah Lin Yue mengucapkan terima kasih dan bersiap untuk pergi, orang di hadapannya mengulangi perkataannya tadi, "Di sini benar-benar tidak ada porselen biru-putih era Ming Xuande, sebaiknya kau cari di tempat lain saja."
Sikap orang di hadapannya itu membuat Lin Yue sangat kebingungan. Kenapa begitu yakin?
Dan kenapa harus mengulanginya lagi?
Dengan perasaan bingung, Lin Yue berpamitan kepada orang tersebut, lalu berjalan kembali ke arah asalnya.
Sambil memandangi punggung Lin Yue, pria berusia lima puluhan yang ditanyai oleh Lin Yue itu menghela napas dan berkata, "Aku memberitahumu yang sebenarnya karena kau sopan. Mana ada porselen biru-putih dari era Dinasti Ming Xuande di sini, semuanya palsu, palsu."
Sambil berkata demikian, secercah kelegaan dan kegembiraan melintas di mata lelaki tua itu.
Namun, Lin Yue tidak menyadari tatapan lelaki tua tersebut.
Setengah jam dalam perjalanan pulang, Lin Yue dengan terpaksa mengakui bahwa dirinya yang payah dalam hal arah ini kembali tersesat.
Lorong-lorong di sini tampak bagaikan dicetak dari cetakan yang sama, mustahil untuk dikenali. Lin Yue berjalan mengikuti kata hatinya, berbelok ke kiri dan ke kanan hingga akhirnya kebingungan. Semakin jauh ia berjalan, semakin terasa ada yang salah; ia bahkan merasa arah yang ditujunya sudah keliru.
Selama empat puluh menit berikutnya, Lin Yue menggunakan cara yang sangat bodoh dengan berjalan lurus ke satu arah. Ia tidak percaya dirinya tidak bisa keluar.
Empat puluh menit kemudian, ia akhirnya percaya bahwa dirinya benar-benar tidak bisa keluar.
Lorong itu ternyata serong dan sama sekali mengarah ke satu arah yang sama!
Pada akhirnya, Lin Yue jongkok di atas sebuah batu biru yang besar, menatap langit tanpa bisa berkata-kata.
Kenapa dirinya begitu payah dalam menghafal jalan?
Kenapa bisa begitu???
Lin Yue hampir meremehkan dirinya sendiri setengah mati. Sejak kecil, sudah entah berapa banyak penderitaan yang ia alami karena buta arah. Saat kuliah, ia bahkan tidak berani berjalan keluar lingkungan kampus lebih dari lima ratus meter, jika tidak, ia tidak akan bisa kembali. Ia juga tidak berani pergi ke tempat-tempat yang tidak memperlihatkan area kampus, karena tanpa petunjuk arah, ia pasti akan tersesat.
Sialan, buta arah!
Sambil mengomel, Lin Yue bangkit berdiri kembali. Ia berniat mencari tempat untuk meminta setetes air, lalu menanyakan arah jalan.
Lain kali jangan pernah memaksakan diri bersikap gengsi. Jelas-jelas seorang yang buta arah, kenapa pula masih begitu percaya diri bisa keluar sendiri!
Sambil memperingatkan dirinya dalam hati, Lin Yue mengetuk pintu rumah bercat gelap yang paling dekat dengannya.
Tidak lama kemudian, pintu rumah itu terbuka. Yang membukanya adalah seorang remaja berusia sekitar tiga belas atau empat belas tahun.
"Halo, bolehkah aku meminta sedikit air di rumahmu untuk diminum?"
Anak-anak zaman sekarang memiliki kewaspadaan yang sangat tinggi. Lin Yue memasang ekspresi seramah mungkin, berharap tidak diusir begitu saja.
Namun, tidak butuh waktu lama baginya untuk menyadari ada yang tidak beres. Alih-alih mendapati kewaspadaan di mata sang remaja, ia justru melihat sikap dingin.
Sebuah sikap dingin seorang jenius.
Tatapan yang hanya dimiliki oleh seorang jenius sejati di dunia.
Memandang rendah seluruh dunia tanpa terusik oleh apa pun.
Lin Yue tertegun. Ada apa ini? Mungkinkah remaja di hadapannya ini adalah seorang jenius dalam bidang tertentu?
Bahkan sebelum ia sempat memikirkannya, remaja itu memberi jalan dan berkata dengan suara yang tanpa emosi sedikit pun, "Silakan masuk."
Setelah berkata demikian, tanpa memedulikan Lin Yue, ia berjalan sendiri masuk ke dalam halaman.
Lin Yue pernah melihat jenius yang angkuh karena kepintarannya. Meskipun kampus tempatnya kuliah dulunya hanyalah perguruan tinggi tingkat tiga, tetap saja ada orang-orang jenius di sana. Ada seorang jenius akademik di kamar asramanya; meskipun perilakunya tidak seangkuh remaja di hadapannya ini, kurang lebih keadaannya tidak jauh berbeda.
Dengan perasaan biasa saja, Lin Yue melangkah masuk ke halaman. Halaman itu dilapisi dengan batu bata biru, dan di tengahnya diletakkan sebuah kendi besar yang terisi penuh dengan air. Akan tetapi, ketika ia mengarahkan pandangannya ke bawah emperan rumah, ia seketika terpaku.
Di bawah emperan rumah, dipenuhi oleh berbagai peralatan pembuatan porselen. Terdapat beragam jenis cetakan, serta tanah kaolin dan batu porselen yang telah digiling, dibersihkan dari kotoran, diuleni secara merata, dan dicampur menjadi tanah liat porselen yang siap digunakan untuk membuat barang keramik. Bukan hanya itu saja, terdapat pula alat-alat yang dibutuhkan untuk setiap tahapan proses pembuatan porselen seperti pelapisan kotak pelindung, perbaikan cetakan, pencucian bahan, pembentukan badan tembikar, pencetakan dengan cetakan, dan lain sebagainya. Jika ditambah dengan sebuah tungku pembakaran porselen, tempat ini bahkan bisa dijadikan sebuah pabrik pengolahan porselen skala kecil.
Tempat apa sebenarnya ini?
Lin Yue dipenuhi rasa terkejut dan membatin dalam hati: Jangan-jangan aku telah berjalan masuk ke pusat pembuatan porselen di Jingdezhen.
Pada saat ini, ia melihat noda tanah di pakaian sang remaja, lalu tertegun sejenak.
Mungkinkah remaja di depannya ini tadi sedang membuat porselen?
Seakan ingin membuktikan dugaan Lin Yue, remaja itu berjalan ke samping tumpukan tanah liat porselen yang telah disiapkan, menggunakan sebuah alat untuk memotong-motong tanah liat tersebut, lalu menyusunnya menjadi bentuk silinder.
Lin Yue tahu bahwa hal ini dilakukan untuk memudahkan penyimpanan dan proses pembentukan tembikar sesaat lagi.
Menyaksikan teknik remaja itu yang begitu terampil, Lin Yue merasa sangat terkejut.
Sangat terampil!
Pada saat itu, Lin Yue memperhatikan tatapan mata si remaja yang luar biasa fokus, seolah-olah tidak ada satu hal pun di dunia ini yang dapat mengalihkan perhatiannya. Sikap penuh kesungguhan itu bahkan membuat Lin Yue merasa malu pada dirinya sendiri.
Itulah tatapan mata yang hanya muncul ketika seseorang mencintai sesuatu hingga tingkat yang paling ekstrem.
Pada saat ini, di dalam mata sang remaja hanya ada tanah liat porselen yang ada di tangannya.
Meskipun tenggorokannya terasa sangat kering karena haus, Lin Yue tetap menahan niatnya untuk mengganggu remaja tersebut dan dengan tenang memperhatikan gerakannya. Setiap gerak-gerik sang remaja tampak begitu harmonis dan alami, mengalir bagaikan air tanpa ada kesan kaku sedikit pun.
Melihat sikap dan gerakan sang remaja, Lin Yue seketika merasakan kedamaian batin yang menyegarkan. Remaja di hadapannya ini mengubah proses pembuatan porselen yang membosankan menjadi sebuah proses artistik, di mana setiap gerakannya adalah sebuah kenikmatan untuk disaksikan.
Gerakan remaja itu sangat terampil, namun justru menghadirkan kesan ketenangan yang luar biasa di benak Lin Yue.
Ketenangan batin!
Sebuah istilah tiba-tiba melintas di dalam benak Lin Yue.
Hanya dengan pikiran yang bebas dari segala gangguan, seseorang baru bisa mencapai kondisi seperti ini, dan memancarkan ketenangan yang mendalam di tengah aktivitas yang bergerak.
Perlahan-lahan, Lin Yue tiba-tiba menemukan sebuah saluran pelampiasan emosi. Kekosongan yang tenang muncul di dalam hatinya, dan kondisi batin yang setenang air sumur kuno pun mendadak tercipta!
Lin Yue tidak merasa heran di dalam hatinya, melainkan dengan tenang meresapi perasaan tersebut. Ia merasa dirinya dan remaja di hadapannya seolah-olah telah terhubung oleh suatu ikatan tertentu. Keduanya sama-sama begitu tenang, seakan menyatu dengan rumah ini dan seluruh dunia.
Di antara mereka berdua seolah-olah terbentuk sebuah medan energi, yang terus-menerus mendorong keduanya menuju dunia yang penuh ketenangan.
Kau tenang, aku tenang.
Kau semakin tenang, aku semakin tenang.
Pada saat ini, Lin Yue yang sedang berada dalam kondisi batin setenang air sumur kuno sama sekali tidak merasakan adanya pengurasan energi mental, kepalanya juga sama sekali tidak terasa sakit. Sebaliknya, cara berpikirnya menjadi semakin jernih, dan pikirannya semakin terang.
Sementara itu, gerakan sang remaja menjadi semakin cepat, seolah-olah berada di luar kendali, namun di saat yang sama tampak seolah-olah semuanya berada di dalam kendali penuh sang remaja.
Remaja itu memasukkan tumpukan tanah liat ke dalam roda putar besar, menyalakannya, dan membiarkan tanah liat berputar bersamaan dengan kecepatan putaran roda yang konstan. Setelah itu, remaja tersebut mengambil alat pembentuk tembikar dan dengan cepat membentuk tanah liat itu menjadi sebuah badan vas porselen.
Luar biasa cepat, dan bentuk badan porselen itu sangat sempurna. Baik dari segi proporsi maupun kesimetrisan, bentuk wadah maupun nilai seninya, semuanya tampak begitu sempurna.
Selanjutnya adalah tahap pencetakan dengan cetakan. Remaja itu mengambil cetakan yang telah disiapkan sebelumnya, lalu membentuk badan porselen tersebut menyerupai wujud sebuah botol keramik.
Tahap berikutnya adalah pengeringan rongga untuk membiarkan air di dalam badan porselen mengalir keluar, karena pada tahap ini badan porselen masih terlalu lunak.
Waktu berlalu perlahan diiringi gerakan terampil sang remaja. Keduanya tidak menyadari jalannya waktu, dan sepenuhnya tenggelam dalam hubungan tersembunyi di antara mereka berdua.