Bab 156: Masing-Masing Sibuk dengan Urusan Sendiri (2)
Pintu besi besar yang tinggi dan tebal itu perlahan terbuka di hadapan mereka. Di kejauhan, dua pemuda berpakaian hitam berlari mendekat untuk menyambut. Lin Jingbian, yang baru saja kembali ke perguruan dengan perasaan emosional, menunjuk ke sebuah bangunan di dekatnya dan memberi tahu Tao Qingfei tentang berbagai hal menarik yang dulu ada di sana.
Tepat pada saat itu, mobil tiba-tiba berhenti. Lin Jingbian mengangkat kepalanya dan melihat gurunya telah melepas sabuk pengamannya bersiap untuk turun. Eh? Jarak ke dalam sana masih sangat jauh!
Lin Jingbian bertanya, "Guru, ada apa?"
Ia hanya mendengar Chen Xiansong berkata, "Dia tidak pergi, masih di gerbang, aku akan pergi melihatnya." Belum sempat suaranya mereda, sosoknya sudah turun dari mobil dan berteleportasi menghilang.
Lin Jingbian terdiam.
Kedua anak buah yang baru saja berlari ke dekat mobil untuk menyambut Sang Pengusir Iblis Agung dari marga Chen itu turut terpaku, lalu menatap Lin Jingbian di dalam mobil. Lin Jingbian membatin, untuk apa kalian melihatku? Dia begitu enggan berpisah dengan iblis agung itu, bahkan takut menjatuhkan jika digenggam di tangan, sebagai murid apa daya yang bisa kulakukan? Aku bahkan sudah bukan lagi orang tersayang di hatinya.
Tao Qingfei di samping tiba-tiba berkata dengan nada pelan, "Gurumu sangat lembut dan penuh perhatian pada pacarnya."
Lin Jingbian mengangguk, lalu menghela napas, "Aku tadinya mengira hanya Lu Weizhen seorang yang gila, tetapi sekarang guru juga hampir terobsesi. Lebih baik hidup melajang seperti kita."
Tenggorokan Tao Qingfei terasa tercekat.
Chen Xiansong berjalan kembali ke tempat semula, namun tidak melihat bayangan siapa pun. Orang lain mungkin tidak dapat merasakan keberadaan Liuwu, tetapi sejak keluar dari labu, indranya terasa jauh lebih tajam dari sebelumnya. Selain itu, mereka telah hidup bersama siang dan malam serta sangat mengenal satu sama lain, sehingga ia hanya perlu menggunakan hatinya untuk merasakan, maka ia dapat menangkap keberadaannya.
Ia berdiri sejenak, lalu berjalan menuju jajaran pohon lebat di depan, tiba di bawah sebuah pohon besar, dan mendongak.
Di antara dahan dan daun yang lebat, di atas cabang pohon yang tinggi, sesosok tubuh kecil yang meringkuk, bukankah itu Liuwu?
Detak jantungnya yang sempat berdegup kencang karena menyadari wanita itu belum pergi, belum sepenuhnya pulih. Ia menatapnya tanpa berkata apa-apa.
Lu Weizhen memeluk kedua lututnya, berjongkok di atas dahan pohon dengan mata yang masih merah dan ekspresi canggung. "Untuk apa kamu berlari ke mari? Aku ingin beristirahat sebentar lalu pergi."
Chen Xiansong melirik ketinggian dan arah pohon itu, yang kelihatannya memang pas untuk melihat ke arah gerbang halaman. Ia menundukkan kepalanya, menghela napas, dan tampak tersenyum tak berdaya. Lu Weizhen merasa sangat kehilangan muka.
Chen Xiansong merentangkan kedua tangannya dan berkata, "Turun."
Secara tidak sadar, Lu Weizhen memalingkan wajah. "Tidak mau!"
Chen Xiansong terdiam.
Ia berkata, "Jangan membuat ulah, untuk apa memanjat pohon! Turunlah, aku akan menangkapmu."
Namun, Lu Weizhen selalu merasa bahwa begitu ia melompat turun, pria itu pasti akan langsung mengusirnya. Tidakkah ia melihat bahwa ada orang-orang dari resor liburan yang datang untuk menyambut mereka? Ia hanya berjongkok di sana, menatap pria itu sejenak sambil membatin, bagaimana bisa ada orang yang begitu sedap dipandang, begitu dapat diandalkan, dan begitu memesona hingga membuat orang tak sanggup mengalihkan pandangan?
Dengan suara lembut ia berkata, "Chen Xiansong, aku pun tidak tahu mengapa aku begitu enggan berpisah. Setiap kali, aku selalu merasa bahwa aku bahkan belum sempat menyukaimu dengan seutuhnya, tetapi kita sudah harus berpisah lagi."
Chen Xiansong menurunkan tangannya, menunduk, dan menatap pepohonan di hadapannya tanpa melihat ke arahnya.
Wanita itu melanjutkan, "Sejak keluar dari labu, aku berpikir bahwa aku harus menemanimu selama-lamanya, harus memperlakukanmu dengan sangat-sangat baik, kebaikan yang tak terkatakan, agar setiap hari kamu merasa bahagia dan gembira. Jadi, aku juga tidak ingin mengingkari janjiku."
Chen Xiansong terdiam sejenak, kembali merentangkan kedua tangannya, dan berkata, "Turun."
Lu Weizhen terdiam seribu bahasa, merasa bahwa jika ia turun sekarang, berarti ia telah kalah.
"Turun," ucap pria itu. "Tidak jadi pergi, aku akan membawamu masuk."
Lu Weizhen tertegun, "... Eh?"
Ia nyaris tidak mempercayai pendengarannya sendiri dan langsung melompat turun dari pohon. Chen Xiansong menyambutnya tepat di dalam pelukannya. Wanita itu mengerjap-nergjap dengan mata yang masih merah menatapnya, sementara sang pria justru tersenyum, senyuman tulus yang begitu ceria, seraya berkata, "Sekarang, sekalipun kamu ingin pergi, aku tidak akan melepaskanmu."
Hati LuWeizhen terasa seperti dipenuhi oleh kembang api besar yang mekar, tetapi ia masih memiliki keraguan dan bertanya dengan ragu-ragu, "Apakah pantas?"
Chen Xiansong menjawab, "Hanya saja kamu harus sedikit bersabar. Setelah masuk nanti, jangan melihat, jangan mendengar, jangan bertanya, dan jangan berjalan sembarangan. Cukup ikuti aku."
Lu Weizhen langsung mengangguk. "Aku tidak masalah, tapi kamu... apakah akan merasa tidak nyaman?" Bagaimanapun, posisi mereka berdua berbeda.
Chen Xiansong berkata, "Tidak ada hal yang tidak boleh diutarakan kepada orang lain. Aku bertindak dengan jujur serta memisahkan urusan pribadi dan publik, bagaimana bisa tidak nyaman?"
Lu Weizhen mengangguk dengan penuh semangat. Jika pria itu ingin membawanya masuk, maka apa pun yang dikatakannya adalah benar. Saking bahagianya, ia langsung melingkarkan tangan di leher pria itu dan menciumnya dengan penuh semangat.
Apa daya yang bisa dilakukan Lin Jingbian? Gurunya berlari mengejar wanita, ia hanya bisa mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya, berdiri di tempat, berbasa-basi secara blak-blakan dengan kedua anak buah tersebut, mulai dari situasi di dalam resor, distribusi hantu abu-abu di Kota Jiang, hingga cuaca hari ini dan kemungkinan menu makan malam.
Untungnya, gurunya tidak membuang waktu terlalu lama dan lekas kembali. Hanya saja, ketika melihat wanita yang digandeng oleh gurunya, bola mata Lin Jingbian hampir keluar dari rongganya.
Ia hanya bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri saat mereka berjalan mendekat, melihat sosok dewi Liuwu melangkah masuk dengan santai ke sarang utama para pengusir iblis yang berkumpul.
Bagi anak buah yang menyambut dan cucu murid yang terpaut beberapa generasi itu, Chen Xiansong sama sekali tidak perlu menjelaskan identitas Lu Weizhen. Ia hanya berbisik kepada wanita itu, "Masuklah ke mobil."
Maka, Lu Weizhen pun duduk kembali di dalam mobil dan bahkan menyapa Tao Qingfei yang duduk dengan tenang di kursi belakang.
Tao Qingfei bertanya, "Tidak jadi pergi?"
Lu Weizhen menjawab, "Hmm, tidak jadi."
Tao Qingfei berkata, "Kalian berdua memiliki hubungan yang sangat baik."
Lu Weizhen menoleh dan tersenyum sekilas kepadanya, lalu berbisik, "Kalian berdua juga tidak kalah."
Kedua wanita itu saling bertukar pandang, dan Tao Qingfei pun tersenyum tipis.
Di luar mobil, sepasang guru dan murid itu bertukar beberapa patah kata sederhana dengan kedua anak buah tersebut. Seorang anak buah berlari cepat kembali ke gedung utama untuk melapor, sementara anak buah yang lain berjalan di depan untuk memandu jalan.
Lin Jingbian merendahkan suaranya sekecil mungkin. "Guru! Kenapa Anda membawanya masuk juga? Tempat ini dipenuhi oleh orang, semuanya adalah pengusir iblis, ini terlalu berbahaya!"
Chen Xiansong berkata, "Aku tahu batasan, dia juga tahu apa yang dilakukannya, tidak perlu khawatir."
Lin Jingbian merasa ingin menangis tanpa air mata. Aku tidak percaya lagi, Guru, Anda sekarang sudah tidak punya batasan sama sekali. Di dalam kepala Anda hanya ada kelembutan dan keharuman wanita itu.
Kendati demikian, ketahanan mental Lin Jingbian tergolong sangat kuat. Bagaimanapun, ia telah menyaksikan sendiri gurunya melompat ke dalam labunya sendiri demi wanita ini, jadi tindakan melanggar aturan yang dilakukan gurunya sekarang ini sebenarnya bukanlah apa-apa lagi.
Dengan perasaan mati rasa, Lin Jingbian mengikuti gurunya naik ke mobil. Mobil kembali melaju beberapa saat hingga mereka melihat beberapa orang keluar dari bangunan di depan, semuanya adalah wajah-wajah yang dikenal. Chen Xiansong menghentikan mobil, menoleh untuk melirik Lu Weizhen, dan berkata, "Tetaplah di dalam mobil dan jangan keluar."
Lu Weizhen dengan patuh mengangguk.
Chen Xiansong turun dari mobil. Lin Jingbian hendak ikut turun, tetapi teringat sesuatu dan menoleh ke arah Tao Qingfei. Ia tahu wanita itu paling benci berurusan dengan orang asing, maka ia pun terbatuk kecil dan berkata dengan datar, "Kamu juga tetap di dalam mobil."
Di luar dugaan, Tao Qingfei justru tersenyum kepadanya dan mengangguk.
Lin Jingbian turun dari mobil. Sambil berjalan, ia merasa ada sedikit rasa geli yang muncul di hatinya. Ia membatin, untuk apa wanita itu tersenyum? Dia bahkan tampak begitu patuh seperti Lu Weizhen. Tidak, tidak, tidak. Pasti matanya masih buram karena baru bangun tidur. Wanita itu adalah iblis betina, bukanlah gadis manis berhati lembut.