Pada hari ketika Zhao Bi kembali ke universitas untuk melapor, ia menatap jalanan lurus dari masa lampau itu. Sinar matahari terasa hangat, awan begitu menggemaskan, dan langit biru bersih tanpa noda.
September.
Matahari musim panas selalu membawa hawa menyengat.
Pipi Zhao Bi yang hangat karena tersengat mentari perlahan mulai terasa. Ia terbangun. Dirinya tengah berbaring di atas ranjang, berselimut kain tipis, sementara di bawah tubuhnya terhampar tikar bambu yang dingin.
Ia bisa merasakan jelas baju di punggungnya basah oleh keringat yang merembes perlahan.
Pandangan matanya yang masih mengantuk menelusuri sekeliling.
Di langit-langit yang cat putihnya hampir seluruhnya mengelupas, tergantung kipas angin tua yang bergoyang, berderit-derit, mengaduk udara, berusaha keras mengusir panas yang menyesakkan musim panas.
Di dinding samping, noda-noda kuning tersebar di sana-sini, dan tepat di tengahnya menempel poster "Kala Langit Berperasaan", memperlihatkan Raja Tian Liu sedang menunggang motor dengan gagahnya.
Ini kamar asrama untuk enam orang, ranjang susun, di pojok berdiri lemari besi tua.
Di tengah, beberapa meja kayu tua disusun menjadi satu meja besar, di atasnya bertumpuk barang-barang dengan acak.
Tiba-tiba muncul rasa akrab yang mengagetkan. Seperti kenangan yang telah lama disimpan di pojok hati, yang seharusnya buram, kini tersibak dan begitu jelas terpampang di depan mata Zhao Bi.
Inilah tempat ia pernah hidup selama empat tahun, masa muda yang paling sulit dilupakan seumur hidupnya.
Jendela terbuka lebar, waktu sepertinya menjelang senja. Angin sepoi membawa beberapa helai daun hijau yang menari masuk ke dalam ruangan.
Ranting yang berayun memecah cahaya hangat menjadi butira