Bab Satu: Maka Aku Melewati Masa Muda Sekali Lagi

Sejak tahun 2002 Perahu-perahu di tepi pantai 3804kata 2026-03-05 10:01:06

September.

Matahari musim panas selalu membawa hawa menyengat.

Pipi Zhao Bi yang hangat karena tersengat mentari perlahan mulai terasa. Ia terbangun. Dirinya tengah berbaring di atas ranjang, berselimut kain tipis, sementara di bawah tubuhnya terhampar tikar bambu yang dingin.

Ia bisa merasakan jelas baju di punggungnya basah oleh keringat yang merembes perlahan.

Pandangan matanya yang masih mengantuk menelusuri sekeliling.

Di langit-langit yang cat putihnya hampir seluruhnya mengelupas, tergantung kipas angin tua yang bergoyang, berderit-derit, mengaduk udara, berusaha keras mengusir panas yang menyesakkan musim panas.

Di dinding samping, noda-noda kuning tersebar di sana-sini, dan tepat di tengahnya menempel poster "Kala Langit Berperasaan", memperlihatkan Raja Tian Liu sedang menunggang motor dengan gagahnya.

Ini kamar asrama untuk enam orang, ranjang susun, di pojok berdiri lemari besi tua.

Di tengah, beberapa meja kayu tua disusun menjadi satu meja besar, di atasnya bertumpuk barang-barang dengan acak.

Tiba-tiba muncul rasa akrab yang mengagetkan. Seperti kenangan yang telah lama disimpan di pojok hati, yang seharusnya buram, kini tersibak dan begitu jelas terpampang di depan mata Zhao Bi.

Inilah tempat ia pernah hidup selama empat tahun, masa muda yang paling sulit dilupakan seumur hidupnya.

Jendela terbuka lebar, waktu sepertinya menjelang senja. Angin sepoi membawa beberapa helai daun hijau yang menari masuk ke dalam ruangan.

Ranting yang berayun memecah cahaya hangat menjadi butiran-butiran halus yang menari-nari jatuh ke lantai.

Di depan jendela tergantung lonceng angin.

Bergoyang perlahan, suara lirihnya menyebar ke seluruh penjuru ruangan.

Plok—

Chen Xinhe membuka tutup teko air panas dari kayu, menaruh beberapa daun teh ke dalam cangkir enamel, lalu menuangkan air mendidih. Daun teh berputar, aroma segarnya langsung menguar.

Ia duduk, tubuh tegak, merapikan kacamata tebal berbingkai plastik, tangan kiri memegang kipas bambu, tangan kanan mencubit kerah kaus dalam, bergantian menggoyang kipas dan menarik-narik kerah untuk menurunkan suhu tubuh.

“Kau sudah bangun.”

Chen Xinhe melihat Zhao Bi duduk di ranjang dengan pandangan kosong, dan mengangguk singkat.

“Xinhe?”

Memerhatikan wajah Chen Xinhe yang masih tampak muda di depannya, Zhao Bi sempat ragu sebelum memanggilnya.

Gerakan kipas di tangan Chen Xinhe terhenti sesaat, lalu ia tersenyum dan mengangguk.

Zhao Bi kembali melirik noda kuning di dinding, dihitungnya, ada tujuh.

Pasti ini jumlah di awal masuk kuliah. Kalau tak salah, waktu lulus nanti jumlahnya jadi sembilan.

Zhao Bi membuka selimut, turun dari ranjang dengan gerakan canggung. Mengenakan sandal jepit, ia berjalan ke jendela, menatap keluar.

Pemandangan kampus yang dulu begitu sering ia lihat kini tersaji jelas di depan mata, suara siaran kampus bergema lantang.

“...Lagu berikut dipersembahkan oleh seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi untuk Lin Wanqiu. Lagu ini berjudul ‘Buah Musim Panas’ yang dipopulerkan Mo Wen dua tahun lalu...”

Mata Zhao Bi mendadak terasa kering, entah karena sudah lama tak mendengar musik dari pengeras suara kampus, atau semata-mata karena lagu itu sendiri.

Dalam keadaan linglung, dia berjalan ke wastafel, memutar keran, menampung air lalu membasuh wajahnya. Ia menatap ke dalam cermin yang agak buram.

Seolah-olah cermin itu menyematkan filter zaman, mengembalikan wajah Zhao Bi ke masa kuliah.

Celana pendek biru, kaus putih longgar. Tubuh muda yang selalu memesona, ia menatap kakinya yang jenjang agak berlama-lama sebelum enggan beralih ke bagian atas.

Rambut belah tiga tujuh, sisi kiri sedikit basah menempel ke dahi, mata jernih berkilauan.

Mirip Yan Zu.

“Ada apa? Badanmu tidak enak?” tanya Chen Xinhe dengan nada perhatian.

“Tidak apa-apa.”

Zhao Bi kembali dan duduk di bangku panjang yang mengilat karena minyak, melirik kalender di atas meja.

6 September 2002. Kalau tidak salah, ini hari kedua pelaporan mahasiswa baru.

Pernah Holmes berkata, bila semua kemungkinan telah dieliminasi, maka yang tersisa seaneh apa pun pasti kebenaran.

Hanya ada satu jawaban, ia telah kembali ke dua puluh tahun silam.

Ingatan yang tadinya tercerai berai kini menyatu, semuanya terasa nyata, tampaknya ia benar-benar menapaki masa mudanya sekali lagi.

“Minumlah, ini teh dari kampung,” ujar Chen Xinhe sambil menggoyang kipas, membawa sejuk, lalu menuangkan teh ke cangkir untuk Zhao Bi.

“Terima kasih.” Zhao Bi menyesapnya, panasnya teh otomatis membuat ia meludahkannya kembali ke cangkir. Ia melirik Chen Xinhe dengan agak malu.

Tiba-tiba terdengar keributan dari luar, pintu asrama didorong, empat orang masuk beramai-ramai, menenteng barang-barang dalam kantong besar. Hawa panas langsung menyusup ke dalam, udara semakin pengap.

“Aduh, cuaca apaan ini.”

Bai Li Xiu yang mengenakan seragam latihan militer hijau muda melepas topinya, rambut setengah panjangnya tertindih hingga tampak konyol. Ia sambil menggerutu membuka ikat pinggang dan menanggalkan baju, mendekati meja.

“Teh ini bisa diminum?” tanya Bai Li Xiu sambil menunjuk cangkir di depan Zhao Bi.

“Iya, boleh,” balas Zhao Bi dengan tulus.

Tanpa basa-basi, Bai Li mengambil cangkir, menenggaknya sekaligus, lalu berdecak, “Tehnya enak, cuma agak pahit.”

Chen Xinhe merapikan kacamatanya, pipinya sedikit berkedut, kipas di tangannya bergerak tak beraturan.

Setelah meletakkan cangkir, Bai Li kembali ke tempatnya, memilah barang dan berceloteh dengan teman sekamar lain.

Zhao Bi memandangi wajah-wajah muda para sahabat sekamarnya, hati dipenuhi rasa haru dan getir.

Hingga jarum menit di meja berputar setengah lingkaran, suasana baru reda. Pikiran Zhao Bi yang kacau perlahan menyatu menjadi satu benang yang jelas.

Ia tersenyum tipis, berdiri, mengambil seragam latihan militer, memakainya. Seragam hijau tua, model lama. Ikat pinggang dilingkarkan di pinggang, topi militer ditekan di kepala.

“Mau keluar?” tanya Bai Li Xiu yang rebahan di ranjang bawah.

Zhao Bi mengangguk, “Keliling sebentar.”

Gedung asrama tidak terlalu tua, hari ini hari kedua pelaporan, masih ada beberapa mahasiswa baru yang datang bersama orang tua.

Bulan September di Jinling masih terasa panas, Zhao Bi melangkah perlahan di bawah matahari sore di dalam kampus.

Di mana-mana terpasang spanduk, menyambut mahasiswa baru angkatan 2002.

Ia berjalan tanpa tujuan. Rasa familiar yang lama membuat kenangan membanjir seperti air pasang, bergerak dari kepala hingga menimbulkan riak di dasar hati.

Dulu empat tahun terasa sangat panjang, tidur tak pernah cukup, kuliah tak pernah habis, game tak pernah tamat, belajar kilat sebelum ujian tak pernah selesai, dan pastinya, banyak sekali kenangan kocak bersama teman-teman aneh.

Mengingat semua hal sederhana dan remeh itu selalu membuat bibir Zhao Bi membentuk senyum tipis.

Waktu berlalu tanpa ampun, di zaman ketika internet dan penyimpanan belum canggih, banyak gambar dan suara tak bisa diabadikan, banyak orang yang setelah lulus benar-benar tak pernah dihubungi lagi.

Universitas Pendidikan Jinling, tempat yang pernah mengubur empat tahun masa mudanya.

Sampai di gerbang kampus, pandangan terasa lebih lapang, Zhao Bi berhenti di situ.

Lingkungan jalan di depan tidak terlalu rapi, lalu lintas kadang lewat menimbulkan debu. Di seberang sedang dibangun gedung tinggi, bukan hanya satu.

Kriit.

Sebuah bus berhenti di simpang, turun seorang pemuda kurus bercelana jeans, rambut belah tiga tujuh. Di tangannya menggenggam pager, buru-buru berlari ke bilik telepon umum.

Selesai menelpon, ia menunggu di situ, tak lama kemudian muncul seorang gadis berambut panjang keluar dari gerbang kampus, menoleh ke sana kemari lalu berlari girang ke arah pemuda itu.

Sungguh pemandangan yang hangat, cinta polos di era sederhana.

Saat itu banyak yang bilang cinta tanpa pager itu tak bernyawa. Tahun itu, ponsel memang mulai banyak di kalangan mahasiswa, tapi pager belum sepenuhnya punah, masih ada beberapa yang memakai.

Anak-anak kampus biasanya hafal letak semua bilik telepon di sekitar jalur bus, supaya bisa berkomunikasi dengan pager secara real-time.

Apalagi untuk pasangan yang beda kampus.

Ritual penuh liku demi bertemu sesaat itu jelas tak bisa dibandingkan dengan sekadar telponan lewat ponsel dan janjian.

Zhao Bi jongkok menatap pasangan itu.

Bagi mereka, kehidupan kampus adalah dunia yang luar biasa indah.

Begitu pula bagi Zhao Bi saat ini.

Merasa tubuh penuh energi, hatinya pun diam-diam bergolak liar.

Sialan... masa muda...

Ia sekarang baru delapan belas tahun, tubuh muda butuh cinta.

Tiba-tiba ia ingin sekali menjalin cinta yang manis.

Pasangan itu berjalan menjauh di sepanjang jalan, jalanan kotor itu di mata Zhao Bi justru seperti garis tegas pemisah zaman.

Jika tahun delapan puluhan dan sembilan puluhan adalah masa negara membangun industri, maka selepas milenium adalah era baru bagi negeri ini.

Ekonomi melonjak pesat, informasi menguasai dua puluh tahun berikutnya.

Kini, dengan sudut pandang Tuhan, semuanya jelas. Namun dulu, saat terhanyut dalam arus zaman, orang-orang hanya bisa terbawa tanpa tahu arah.

Zhao Bi menatap sepanjang jalan, tiada ujung.

Sebuah tujuan mulai terukir jelas di benaknya, kelak hidupnya harus seperti jalan ini.

Lurus dan terang.

Ia berdiri dan melangkah keluar kampus.

Tahun 2002, kota universitas ini belum sepenuhnya modern, banyak sudut masih alami.

Gedung-gedung dua tiga lantai, berpola masa lalu, dinding semen mengelupas, bata merah tampak di bawahnya. Seprai dijemur di atap, melambai tertiup angin.

Uap panas mengepul dari kukusan di warung, aroma bakpao memenuhi hidung. Anak SD berselempang scarf merah dan ransel besar, ramai berkumpul di depan gerobak seblak.

Orang-orang berdesakan, sebagian pakai payung, sebagian lain berlarian dan sibuk di bawah mentari senja.

Ada yang bertengkar sambil melontarkan kata kasar, ada yang menawar sayur dan buah dengan harga receh, ada ibu sederhana menggandeng anak kecil berhenti di depan penjual arum manis, ada petugas keamanan mengatur dengan wajah tegas, ada pelayan rumah makan ikan bakar berlalu cepat membawa nampan, ada pasangan mahasiswa melompat kecil sambil berpegangan tangan...

Matahari terbenam, sinar jingga mewarnai jalanan, kehidupan sederhana khas zaman itu perlahan menghampar.

Zhao Bi melangkah pelan di jalan penuh kenangan ini, hatinya dipenuhi rasa haru.

Akhirnya ia berhenti di warung mi, memesan semangkuk bihun daging bebek seharga tiga yuan. Benar-benar harga ramah kantong.

Mungkin karena sang pemilik warung terpikat ketampanan Zhao Bi, porsi daging bebek dalam mangkuknya pun lebih banyak dari biasanya.

Selesai makan malam, hari pun mulai gelap. Setelah membeli beberapa perlengkapan harian, Zhao Bi kembali ke kampus.

Tanpa sadar, ia memilih jalan kecil yang sepi, jalan pintas menuju gerbang Universitas Pendidikan Jinling. Biasanya, tak banyak yang lewat sini.

Di kehidupan sebelumnya, demi menghemat waktu, setiap kali ia dan teman-teman asrama begadang di warnet, pasti melewati jalan ini.

Dari mulut gang, ia memandang ke dalam, di kiri kanan berjajar pohon besar yang rimbun.

Lampu jalan tua lebih tinggi dari pepohonan, berkedip-kedip redup.

Udara terasa sunyi, bayangan buram mewarnai malam seolah menjadi film hitam putih lawas.