Bab Delapan Puluh: Arogan di Bulan November
Di permukaan, Zhao Bi tampak kesulitan, namun di dalam hatinya ia begitu gembira. Benar, dialah yang menyuruh Qiu Baiwei untuk menceritakan segala hal, menambah bumbu di sana-sini setiap kali Chen Gong menanyakan tentang anak gendut itu.
Alasannya sederhana, Zhao Bi memang ingin tampil di acara televisi, ia ingin terkenal.
Jangan tanya apakah sebagai mahasiswa sikap ini terlalu mencolok, maaf saja, yang diinginkan Zhao Bi memang mencolok. Keberanian di bulan November.
“Tidak masalah.” Chen Gong langsung menyetujuinya di tempat.
Selesai makan, Chen Gong dan Wang Wei berdua pergi bersantai ke klub, saling menggandeng satu sama lain. Zhao Bi sama sekali tak berminat ikut-ikutan, ia kembali ke Xunlong lalu mengajak Bai Li kembali ke kampus bersama.
Sedangkan Wang Nan, tentu saja dibiarkan tetap di sana. Tempat tinggalnya pun sudah diatur Zhao Bi, tidak terlalu jauh dari situ. Baru saja ia sewa tempat itu.
Kejadian terakhir dengan Chen Yin memberinya pelajaran. Agar tidak sampai harus menggelandang di jalanan Jinling saat malam hari, ia menyewa apartemen dua kamar yang tak terlalu mahal per bulannya.
Setelah melemparkan kunci pada Wang Nan, ia langsung pergi tanpa peduli pada keluhan ataupun gumaman Wang Nan.
Keesokan paginya, untuk pertama kalinya Zhao Bi tidak membolos kuliah, ia duduk di barisan belakang bersama teman sekamarnya, mendengarkan pelajaran dengan serius. Seusai kuliah, mereka berenam pergi bersama ke kantin.
Sudah lama sekali seluruh penghuni kamar tidak bersama-sama ke kantin, belakangan ini masing-masing sibuk sendiri-sendiri.
Enam orang mencari meja kosong, hanya Chen Xinhe yang membawa tas, jadi kelima lainnya yang tidak membawa buku dengan santainya mengambil satu buku dari tasnya untuk ditaruh di meja sebagai penanda tempat.
Tak lama, mereka semua kembali setelah mengambil makanan. Pada jam seperti ini kantin sangat ramai, dipenuhi suara gaduh yang berbaur menjadi satu.
“Jarang-jarang kita ke kantin bareng, rasanya seperti masa muda,” kata Lou Feng dengan nada nostalgia, seolah-olah sudah pernah makan asam garam kehidupan.
“Sudahlah, lebay banget,” Bai Li membalas tanpa basa-basi, “Baru tahun pertama kuliah sudah sok dewasa, gimana nanti?”
“Iya, cuma urus koperasi kecil saja sudah segitu sombongnya,” Luo Hao menimpali sambil tertawa.
“Diam kau!” Lou Feng agak malu, mengambil sebiji bawang putih dan menyumpalkannya ke mulut Luo Hao.
“Ngomong-ngomong, kalian berdua gimana akhir-akhir ini? Sudah dapat cinta belum?” Tu Hao menyendok irisan kentang, bertanya dengan ceria. Ia masih ingat kejadian saat tamasya tempo hari, setiap mengingatnya selalu tertawa sendiri.
“Cinta apaan, sendiri itu lebih enak, tahu!” Luo Hao mendongakkan kepala, membalas.
“Kudengar Lou Feng sering sms-an sama kakak tingkat itu,” tanya Chen Xinhe sambil tersenyum.
“Ngomong-ngomong soal itu, aku jadi kesal,” Bai Li berkata sengit, “Lou Feng ini benar-benar kakakku, diajarin nggak pernah bisa, sudah dibilang jangan jadi pengejar cinta, tiap chatting malah makin menempel. Bisa nggak sih punya pendirian, tunjukkan dong rasa percaya dirimu!”
Lou Feng mendengus, “Kau tahu apa? Aku mau mendekati kakak tingkat itu terserah aku! Hari ini lagi senang, ya mendekat, besok lagi nggak mood, ya nggak usah. Penuh pengendalian diri!”
Hampir saja Zhao Bi menyemburkan nasi, ia dapat pelajaran baru hari ini.
“Sudahlah, benar-benar tak ada harapan,” Bai Li menggelengkan kepala seperti melihat orang bodoh.
“Halo semuanya!” Qiu Baiwei dan Yao Beibei datang membawa nampan makanan, menyapa teman-teman kamar 404 dengan ramah.
Hari ini Qiu Baiwei mengenakan baju yang pernah dibelikan Zhao Bi untuknya. Celana overall kuning muda, di dalamnya kaos lengan panjang putih bertuliskan huruf-huruf Inggris.
Rambutnya diikat sanggul, beberapa helai menjuntai di kedua sisi kening, terlihat sangat manis dan muda.
Melihat Qiu Baiwei datang, kelima orang lain pun tidak terkejut, mereka semua menyambut dengan senyum. Berkat Zhao Bi, mereka berlima beruntung bisa melihat sisi lain gadis seperti Qiu Baiwei.
Tidak ada kecanggungan, lagipula mereka sudah sering makan bareng. Yao Beibei duduk di samping Bai Li, ia sudah tahu reputasi Bai Li sebagai lelaki playboy, perasaan sukanya dulu sudah lama padam. Kini ia menganggap Bai Li hanya teman biasa.
Qiu Baiwei tentu saja duduk di samping Zhao Bi, tetap mempertahankan gelar raja makan. Di piringnya ada tiga lauk daging, baru duduk saja langsung tanpa basa-basi mengambil satu bola daging milik Zhao Bi yang hanya tersisa dua biji.
Karena kehadiran dua gadis itu, meja yang biasanya penuh kata-kata kasar dan candaan mendadak jadi lebih sopan, semua mendadak berbicara seperti orang terpelajar.
“Tengok! Lihat TV itu!” Luo Hao tiba-tiba berteriak, menunjuk ke arah televisi.
Semua pun menoleh ke televisi yang tergantung tinggi, sedang menayangkan sebuah wawancara. Tokoh utamanya jelas Zhao Bi, duduk di bangku pinggir Danau Caiyue, diwawancara oleh reporter kampus.
Meskipun kualitas gambar tidak terlalu bagus, pesona Zhao Bi tetap terpancar jelas dari layar.
“Kapan itu?” tanya Bai Li pada Zhao Bi.
Zhao Bi hanya mengangkat bahu, tenang menjawab, “Beberapa hari lalu.”
Bukan cuma kamar 404 yang kehebohan, seluruh kantin yang melihat tayangan itu jadi terdiam dan menyimak dengan saksama.
Itu adalah wawancara tentang anak gendut, dan setiap kalimat Zhao Bi begitu berbobot.
Ternyata, bisnis anak gendut itu sudah tersebar ke seluruh kampus Jinling? Pendiri utamanya ternyata mahasiswa tingkat satu? Dan wajahnya setampan itu?
“Mahasiswa ini cakep banget, tahu jurusannya apa nggak? Barusan aku nggak dengar.”
“Kelihatannya dia hebat sekali!”
“Wah, jajanan anak gendut yang tiap hari aku makan ternyata sehebat ini?”
Kantin semakin ramai, terutama para kakak tingkat perempuan yang heboh menunjuk-nunjuk ke arah televisi. Menghadapi semua itu, Zhao Bi tetap tenang.
Sungguh lucu, sama sekali tidak terlihat bersemangat.
“Zhao Bi, kau memang keren,” Lou Feng mengacungkan jempol dengan sedikit iri.
“Andai aku punya wajah seperti itu,” Luo Hao menghela napas.
“Mana nih bosnya, ganti saluran, ganti saluran!” Bai Li menepuk meja, berseru.
“Saat wawancara kau nggak keramas ya?” Qiu Baiwei memindahkan seledri dari piringnya ke piring Zhao Bi.
Dia memang selalu jeli melihat hal-hal kecil.
“Itu khusus untuk saat bertemu denganmu saja aku keramas,” Zhao Bi menjawab bercanda.
“Aku sudah kenyang, kau bagaimana?” Dengan lirikan mata, Luo Hao yang memperhatikan semua itu bertanya pada Lou Feng.
“Aku juga kenyang,” Lou Feng mengangguk.
“Mau pergi duluan? Rencana pahlawan penyelamat waktu itu agak gagal, nanti siang kita coba lagi?” bisik Lou Feng pelan.
“Oke, aku percaya padamu sekali lagi!” Luo Hao menggertakkan gigi, mengangguk mantap.
Guru Luo memang hitam, memang besar, memang doyan bawang putih.
Tapi ia juga ingin merasakan cinta yang manis.
Makan siang berakhir diiringi tawa dan rasa iri teman-teman, Yao Beibei yang pipinya makin tembam tidak ikut dalam pertunjukan duet Zhao Bi dan Qiu Baiwei.
Ia membereskan piring sendirian dan pergi lebih dulu, punggungnya tampak begitu kesepian. Bai Li sempat ragu, namun akhirnya mengangkat piring dan mengejarnya.
Apa boleh buat, dia memang seperti pendingin ruangan sentral, tak tahan melihat gadis sendirian. Kalau sudah seperti itu, nalurinya langsung muncul, tanpa bisa dikendalikan.
Selesai makan, Zhao Bi sebenarnya ingin mengajak Qiu Baiwei bermain ke pusat kota, mumpung siang itu mereka berdua sama-sama tidak ada kelas. Tapi Qiu Baiwei malah menariknya pergi menghadiri seminar.