Bab Sembilan Puluh Lima: Ketua, Aku Sangat Kaya
“Belakangan ini, perusahaan telekomunikasi sedang ingin memperluas jangkauan di kampus, jadi mereka butuh banyak agen mahasiswa. Aku bisa mendapatkan lisensi itu, rencananya nanti Fatboy akan membentuk departemen khusus untuk urusan kartu telepon,” ucap Zhao Bi dengan singkat.
“Jadi, Ketua juga kenal dengan wakil direktur perusahaan telekomunikasi di Jinling?” tanya Chen Maoran dengan terkejut.
“Pernah ngobrol beberapa kali. Nanti, setelah izin perusahaan SP-ku keluar, aku akan tandatangani kontrak dengan dia. Kartu telepon itu cuma salah satu layanan tambahan mereka,” jawab Zhao Bi dengan santai. Namun, orang-orang lain di ruangan itu jadi tak tenang mendengarnya. Ternyata selama ini Zhao Bi telah diam-diam membangun jejaring besar di luar, bahkan bisnisnya sudah sampai pada tahap ini. Meski mereka sangat percaya pada kemampuan Zhao Bi, tetap saja mereka merasa terkejut.
“Sudahlah, aku cuma mau kasih tahu lebih awal. Ini masih butuh waktu beberapa hari. Nanti saat waktunya tiba, aku akan ajak kalian ke perusahaan telekomunikasi untuk negosiasi,” lanjut Zhao Bi, lalu menoleh pada Lin Feifei.
“Feifei, tolong data siapa saja yang berminat mengurus kartu telepon, buat daftarnya. Nanti aku tentukan siapa yang jadi penanggung jawab.”
“Baik,” Lin Feifei mengangguk.
Tak ada lagi yang dibicarakan Zhao Bi, semua orang pun kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Tentu saja, banyak di antara mereka yang mulai berpikir untuk mendaftar ke bagian kartu telepon.
“Feifei, tolong carikan, apakah di Fatboy ada mahasiswa tingkat dua bernama Duan Tianyi dari jurusan manajemen bisnis?” tanya Zhao Bi pelan.
Lin Feifei mengangguk, duduk di depan komputer, dan tak lama kemudian berkata, “Ada. Dia salah satu perwakilan asrama H.”
“Kenal dia? Orangnya seperti apa?” tanya Zhao Bi lagi.
Lin Feifei menggeleng sambil berkata, “Mana mungkin aku kenal, perwakilan kan banyak.”
Zhao Bi tertawa kecil, lalu menyerahkan ponselnya, “Masukkan kontaknya.”
Duan Tianyi tidak meninggalkan nomor ponsel, hanya nomor kamar asrama. Saat Lin Feifei mengetik, ia bertanya, “Ketua, ada urusan apa dengan dia? Ada masalah apa?”
“Tidak ada apa-apa,” jawab Zhao Bi sambil menggeleng.
Nama Duan Tianyi itulah yang disebutkan oleh mahasiswa di ruang bimbingan tadi. Zhao Bi sempat mendengar dia akan berjualan makanan malam, makanya ia iseng menanyakan, ternyata memang ada di Fatboy.
Zhao Bi tak pernah menganggap dirinya orang baik, tapi kadang-kadang, jika sudah melihat dan mampu membantu, ia merasa harus turun tangan.
Ia keluar dari kantor, lalu menelepon Duan Tianyi. Tak banyak yang dikatakan, hanya memperkenalkan diri, lalu mengajaknya bertemu di sebuah warung sate di luar kampus.
Malam itu, warung sate dipenuhi orang. Zhao Bi dan Duan Tianyi duduk berhadapan di sebuah meja di pinggir jalan.
Di atas meja ada dua botol bir dan setumpuk sate.
Duan Tianyi tampak agak canggung menatap Zhao Bi, tidak tahu kenapa ia dipanggil, juga tak tahu harus bicara apa dalam situasi seperti itu.
“Ketua, apa saya berbuat salah?” akhirnya Duan Tianyi bertanya pelan.
“Tidak, tenang saja,” jawab Zhao Bi sambil menuang bir ke gelas Duan Tianyi, lalu berkata, “Ayahmu datang hari ini, kan?”
“Iya,” Duan Tianyi kaget, “Ketua kok tahu?”
“Tadi aku juga di ruang bimbingan, mungkin kamu tidak sadar. Sekarang, di mana orang tuamu?”
“Beliau sudah pulang.”
“Naik pesawat?”
“Kereta.”
“Begitu ya,” Zhao Bi terdiam sejenak. “Dari sini ke kampungmu butuh waktu lama ya?”
“Sekitar empat puluh jam,” jawab Duan Tianyi.
Zhao Bi kembali diam, teringat punggung ayah Duan Tianyi yang tampak goyah tadi.
Kemudian, Zhao Bi bertanya, “Bagaimana, senang bekerja di Fatboy?”
“Senang sekali, aku sangat berterima kasih pada Fatboy,” jawab Duan Tianyi tulus.
“Hanya bilang terima kasih? Ayo, habiskan bir ini,” kata Zhao Bi sambil tertawa, menunjuk gelas di hadapan Duan Tianyi.
Duan Tianyi sebenarnya tidak bisa minum, tapi karena sifatnya yang lembut ia tidak bisa menolak. Ia mengangkat gelas, meneguk habis, lalu mulai batuk-batuk. Wajahnya pun langsung memerah.
Melihat ekspresi Duan Tianyi yang seperti hendak berkorban, Zhao Bi tertawa, “Fatboy sebentar lagi akan punya departemen khusus penjualan kartu telepon. Berminat?”
“Hah?” Duan Tianyi jelas belum bisa mencerna, juga tidak tahu kenapa Zhao Bi tiba-tiba bicara soal ini.
Zhao Bi lalu menjelaskan secara singkat tentang bisnis kartu telepon, “Kalau kamu pindah ke departemen itu, peluang berkembang lebih besar, pastinya penghasilan juga jauh lebih banyak.”
“Kenapa Ketua memilih saya?” tanya Duan Tianyi setelah lama terdiam.
“Karena kamu berutang padaku, harus bayar utang,” jawab Zhao Bi sambil tertawa.
Duan Tianyi kebingungan menatap Zhao Bi, sampai akhirnya Zhao Bi mengeluarkan tiga bundel uang tunai dan meletakkannya di depannya.
“Ketua, ini …?” Duan Tianyi menatap tiga puluh ribu yuan itu dengan ketakutan.
“Aku pinjamkan padamu. Ayahmu sakit kanker, pasti butuh biaya berobat,” ujar Zhao Bi dengan lembut.
Kata-kata itu terasa seperti petir menyambar kepala Duan Tianyi. Ia tak bisa bereaksi, pikirannya kosong.
Zhao Bi lalu menjelaskan bahwa dirinya hanya mendengar sepintas di kantor tadi.
Setelah lama terdiam, mata Duan Tianyi memerah, ia mendorong kembali uang itu, menggeleng, “Terima kasih, Ketua. Tapi aku tak bisa menerimanya.”
Zhao Bi seperti sudah menduga, ia mengeluarkan surat perjanjian pinjaman dan meletakkannya di depan Duan Tianyi, “Tandatangani saja, anggap saja ini pinjaman. Keluarga adalah yang terpenting, kadang, demi kesehatan mereka, kita boleh menunda jadi kuat.”
Duan Tianyi menunduk, tak berkata apa-apa.
Zhao Bi melanjutkan, “Bisnis kartu telepon sangat menguntungkan, asal kamu mau berusaha, uang ini pasti cepat kembali.”
Duan Tianyi menatap Zhao Bi dengan penuh harapan.
“Wah, sudah malam. Aku harus jemput pacarku. Aku duluan, makan malam ini traktiranmu, tak boleh ngeles!” ujar Zhao Bi sambil berdiri.
“Ketua, saya …”
“Kalau butuh uang lagi, bilang saja. Ketua sangat kaya kok. Nanti juga kamu harus kerja keras buatku, aku tak takut kamu berutang padaku,” kata Zhao Bi sambil melambaikan tangan. “Sudah ya, aku pergi dulu.”
Duan Tianyi menatap punggung Zhao Bi yang pergi dengan langkah cepat, akhirnya ia mengambil tiga puluh ribu yuan itu dan menandatangani surat perjanjian pinjaman dengan serius.
Setelah menyimpan surat dan uang itu baik-baik, ia buru-buru membayar tagihan lalu bergegas ke stasiun. Ayahnya naik kereta malam itu.
Qiu Baiwei sedang menghadiri jamuan makan di sebuah restoran di seberang kampus Nan Cai. Saat Zhao Bi sampai dengan sepeda, acara makan malam sudah bubar. Qiu Baiwei diam menunggu di pinggir jalan.
Di bawah cahaya lampu jalan, Qiu Baiwei mengenakan sweater Fatboy, rambut panjang terurai, poni tipis menutupi dahi. Tatapan matanya bercahaya saat melihat Zhao Bi mendekat.
“Maaf, aku terlambat menjemputmu.”
Zhao Bi dengan gaya sok keren memarkir sepedanya sambil memamerkan aksi drifting. Sepeda itu pinjaman dari Bai Li, dan pada boncengannya sengaja ditambahi bantalan extra.