Bab Tujuh Puluh Enam Pembagian Gaji
Zhao Bi menoleh memandang Lin Feifei dan berkata, “Tak perlu ada ganti rugi, selama sebulan ini dia sudah bekerja dengan sungguh-sungguh. Buatkan sebuah pengumuman. Tuliskan secara rinci masalah Wang Jie, lalu sebarkan ke semua penanggung jawab Fat Kids tingkat kampus ke atas. Jika ada yang mengulangi, tindak tegas sesuai kontrak, dan ingatkan mereka untuk lebih sering mempelajari kontrak saat ada waktu luang.”
“Baik,” jawab Lin Feifei sambil mengangguk.
Zhao Bi menyimpan raut wajah seriusnya, lalu tersenyum sambil melirik Baili yang sedang duduk di samping dan berkata, “Bawa ke sini.”
“Siap!”
Baili melepas kacamata hitam bergaya yang dipakainya, merapikan kerah bajunya, lalu dengan percaya diri membawa sebuah kantong. Dengan gaya yang sangat sombong, ia menumpahkan isi kantong itu ke atas meja.
Tumpukan uang seratus ribuan yang tebal!
“Hari ini kita bagikan gaji bulan November!” seru Baili dengan suara lantang, seolah-olah ia sendiri yang memberikan gaji pada orang lain.
Di dalam kantor, belasan orang menatap uang-uang itu dengan mata berbinar. Bulan lalu mereka memang sudah pernah menerima gaji, tapi waktu itu Fat Kids masih baru berdiri dan berkembang sangat pesat.
Hampir seluruh keuntungan dipakai untuk ekspansi, sehingga hampir tak ada sisa untuk dibagikan. Namun sekarang Fat Kids sudah berjalan stabil, jejaknya tersebar di seluruh universitas di Jinling.
Keuntungan pun kini sangat menggiurkan. Di Fat Kids, hanya Wang Nan, Baili, dan beberapa orang lain yang memiliki hak bagi hasil sesungguhnya.
Namun porsi mereka tidak besar, apalagi untuk orang-orang yang bergabung belakangan seperti Lin Xin dan Chen Maoran, penghasilan utama mereka tetap dari gaji, sementara bagi hasil murni dihitung dari performa keuntungan.
Untuk perwakilan kampus dan perwakilan asrama, skemanya masih sama seperti dulu. Perwakilan kampus mendapatkan dua persen dari keuntungan kampusnya, sedangkan perwakilan asrama mendapat bagian dari keuntungan penjualan di asrama mereka. Posisi-posisi lain yang relatif tetap, tetap digaji bulanan, sedangkan posisi yang sangat dinamis dibayar harian.
Perwakilan tetap mendapat bagian terbesar—ini adalah prinsip dasar yang menjaga sirkulasi sehat Fat Kids. Zhao Bi tidak akan sembarangan mengubahnya, dan tidak mengizinkan siapa pun di Fat Kids untuk mengusiknya.
Bagaimanapun, perwakilan inilah yang sejak awal mendukung Fat Kids di tiap kampus. Kepercayaan itu timbal balik: mereka berani bergabung pertama kali, Zhao Bi pun akan membalas kepercayaan mereka.
“Feifei, berikan slip gaji pada mereka,” ujar Zhao Bi pada Lin Feifei.
Sebagai penanggung jawab ‘Sekretariat’ dan ‘Keuangan’ Fat Kids, Lin Feifei sudah sangat menjiwai perannya, selalu mengindahkan perintah Zhao Bi.
Wang Nan, yang dulu adalah ‘pemimpin lama’, kini sudah tidak terlalu berkuasa, sesuatu yang sering ia keluhkan dan candai secara pribadi.
Lin Feifei lalu membagikan slip gaji. Sensasi melihat uang kontan seperti ini jelas jauh lebih dahsyat dibandingkan apa pun yang pernah dirasakan para mahasiswa yang belum benar-benar terjun ke masyarakat.
Itulah efek mewah yang diinginkan Zhao Bi. Dengan uang, semangat bekerja pun menggebu.
Tak lama kemudian suasana menjadi ramai. Ada yang menerima tiga ribu, ada yang lima ribu, dan yang terbesar adalah penanggung jawab Universitas Kota Xianlin, yang mendapat hampir tujuh ribu, karena bulan ini Xianlin mencatat keuntungan tertinggi.
Gaji sebesar itu pada tahun 2002 jelas sangat luar biasa. Satu bulan bisa mencukupi biaya hidup mahasiswa selama setahun; siapa pun pasti akan tergiur.
Mungkin sebelumnya mereka belum benar-benar paham skala Fat Kids, tapi kali ini mereka mendapat pemahaman baru. Ternyata usaha yang selama ini mereka kerjakan sudah tumbuh sebesar ini.
Apalagi jumlah mahasiswa di seluruh Jinling mencapai lima-enam ratus ribu orang, yang termasuk sepuluh besar di seluruh negeri. Pasar yang sangat menjanjikan.
Zhao Bi yakin, ketika Fat Kids benar-benar meresap di hati semua orang, pasti akan terjadi lompatan besar.
“Keberhasilan Fat Kids tak lepas dari kerja sama kalian semua. Ini baru awal perjalanan, aku yakin masa depan akan lebih baik. Mari kita terus berjuang bersama,” seru Zhao Bi dengan lantang sambil berdiri.
“Ketua memang luar biasa!”
Hubungan mereka dengan Zhao Bi memang cukup dekat. Kini semua memandangnya dengan senyum lebar, penuh semangat dan antusias.
“Sudahlah, jangan gombal terus,” ujar Zhao Bi sambil tertawa. Ia melanjutkan, “Sini, aku mau tunjukkan sesuatu yang keren.”
Semua penasaran mendekat. Zhao Bi duduk, membuka folder video di komputernya.
Isi videonya sederhana: kompilasi potongan dari tiga episode pertama program [Tebak Tulisan]. Malam Rabu adalah hari tayang perdana acara itu, dan ratingnya langsung cukup bagus.
Acara ini memang terbilang segar dan menarik, dan host-nya dipilih sesuai permintaan Zhao Bi yang menginginkan tipe seksi, dengan baju kerja ketat dan stoking hitam yang menggoda banyak perhatian.
Tentu saja, itu bukanlah intinya.
Malam itu juga sudah ada yang mengirim SMS lewat platform pesan milik Xunlong Technology. Pihak stasiun TV pun dengan jujur mengundi pemenang dari kumpulan SMS yang benar, dan esok paginya hadiah sudah diantar ke penonton yang beruntung.
Proses pengantaran hadiah didokumentasikan lengkap oleh kru stasiun TV, lalu diedit dan langsung ditayangkan pada awal acara malam itu juga.
Efisiensi dan kredibilitas seperti ini membuat para penonton merasa kagum, sehingga dua hari berikutnya program ini benar-benar meledak.
Jumlah penonton meningkat tajam. Barusan saja, Chengong menelepon Zhao Bi dengan nada penuh semangat, jelas sekali ia kini sedang berjaya di stasiun TV.
Pihak Xunlong pun berhasil menahan beban, dengan dukungan dari perusahaan seluler dan pembaruan perangkat lunak, sejauh ini belum pernah terjadi server mengalami crash.
“Acara apa ini? Lumayan menarik juga, sebelumnya belum pernah lihat,” kata Chen Maoran setelah video usai.
Lin Xin matanya tak beranjak dari kaki sang host, lalu menimpali, “Memang acara yang bagus.”
“Jadi, Ketua ingin kita menonton ini untuk apa?” tanya seseorang.
“Inilah kaitannya dengan proyek investasiku yang baru,” ujar Zhao Bi dengan senyum tipis. “Apa kalian memperhatikan sesuatu?”
Semua saling pandang, tak mengerti. Saat itu, Baili yang duduk di samping memandang mereka dengan sinis dan berkata, “Bodoh sekali, sudah sekian lama gabung Fat Kids, tapi penglihatan seperti itu saja tak punya?”
“Pak Show, silakan mulai pertunjukannya,” seru Lin Xin sambil bertepuk tangan.
Yang lain, sudah lama mengenal Baili, ikut tepuk tangan menyambut.
“Kalian tahu SP, kan?” tanya Baili langsung dengan istilah teknis.
“Jangan sok misteriuslah,” ejek Lin Xin.
“Dasar kampungan,” gumam Baili, lalu melanjutkan, “Kalian tak sadar nomor SMS yang diterima di video itu? Tepat sekali, itulah arah perkembangan terbaru kerja sama ketua kita dengan stasiun TV, SP. Singkatnya SP itu…”
Baili pun mulai menjelaskan, membuat yang lain melongo kebingungan. Begitu ia selesai bicara, mereka masih mencerna informasi yang terasa sangat banyak dan baru.
Hal ini memang menyentuh titik buta pengetahuan mereka semua, apalagi soal sistem operasinya yang hingga kini belum mereka pahami.
“Jadi, direktur stasiun itu paman ketua kita?” tanya Wang Nan, menangkap bagian paling penting.