Bab 52: Menemukan Jalan Hidup di Ujung Tanduk
Halaman (1/3)
Melihat orang-orang berpakaian hitam hampir menyadari keberadaannya, Shen Rong berkeringat dingin karena panik.
Dia sama sekali tidak boleh menunggu kematian di sini!
Dia belum sempat melihat Gu Zhaoming jatuh ke dalam lumpur, dan belum sempat mengantarkan Changsheng pulang dengan selamat.
Dia harus tetap hidup!
Shen Rong mengerahkan seluruh tenaganya untuk bersembunyi ke arah akar pohon.
Ketika mendekati dinding batu, dia melihat sebuah celah samar di dinding batu tepat di atas pangkal pohon besar itu. Lebar celah tersebut tidak terlihat jelas karena sebagian besar tertutup sulur-sulur tanaman yang lebat.
Dengan tangan gemetar dan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, Shen Rong berpegangan pada batang pohon, perlahan-lahan mengangkat tubuhnya, lalu berusaha meraih ke atas.
Sulur-sulur itu berada kira-kira dua chi di atas batang pohon. Setelah duduk di atas batang, dia dengan gugup menyingkirkan sulur-sulur tersebut. Barulah dia menyadari bahwa celah di baliknya jauh lebih besar daripada yang dia bayangkan. Ketika Shen Rong mendongak dan melihat keadaan di dalamnya, dia begitu terkejut sampai hampir menjerit!
Ternyata langit masih berpihak kepadanya!
Celah di balik sulur-sulur itu ternyata cukup lebar untuk dimasuki satu orang. Bersembunyi di dalamnya sama sekali bukan masalah.
Menahan kegembiraannya, Shen Rong menjulurkan tubuh dan perlahan merangkak masuk ke dalam celah. Dia tidak berani berdiri, takut menimbulkan suara sekecil apa pun yang dapat menarik orang-orang berpakaian hitam itu kemari.
Setelah seluruh tubuhnya masuk, dia berbalik dan menggunakan sulur-sulur tersebut untuk menutupi celah itu rapat-rapat.
Barulah Shen Rong mengembuskan napas lega. Saat itulah terdengar suara percakapan dari samping.
“Bos, di bawah sana ada sungai bawah tanah. Dua warga desa itu mungkin jatuh ke dalamnya.”
Suara itu terdengar sangat dekat. Shen Rong menahan napas dan tidak berani bergerak sedikit pun.
“Pergi! Turun dan lihat. Dua warga desa itu harus mati!”
Suara dingin terdengar, disusul suara gaduh rerumputan dan semak-semak yang bergesekan. Kurang dari seperempat jam kemudian, semuanya kembali sunyi.
Shen Rong memasang telinga dan mendengarkan beberapa saat. Setelah memastikan orang-orang itu telah pergi, barulah dia benar-benar menghela napas lega. Namun, sesaat kemudian, dia kembali merasa cemas. Bagaimana dia bisa meninggalkan tempat ini?
Melihat area ini cukup luas, Shen Rong menggerakkan pikirannya dan masuk ke ruang pribadinya.
Di dalam ruang itu, Changsheng sedang memanggil-manggilnya.
“Bibi Ketiga, Bibi Ketiga!”
“Changsheng, aku di sini.” Begitu masuk ke dalam ruang, Shen Rong tiba-tiba merasa rasa sakit di tubuhnya berkurang, mungkin karena dia akhirnya bisa bersantai.
Changsheng menoleh. Setelah melihat bahwa itu benar-benar Bibi Ketiga, dia menepuk-nepuk dadanya.
“Bibi Ketiga, kenapa Bibi menghilang?”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Shen Rong teringat ketika dulu membawa keponakannya masuk ke sini untuk menghindari bahaya. Keponakannya pernah berkata bahwa tempat ini adalah kesaktian Dewa Gunung. Seketika, Shen Rong pun menemukan alasan yang tepat.
“Tadi Kakek Dewa Gunung menyelamatkan kita. Aku pergi berterima kasih kepadanya, jadi agak terlambat kembali.”
Mata Changsheng langsung membelalak. Dia memandang kabut putih di sekelilingnya, lalu melihat tanaman ginseng yang tingginya hampir setara dengan manusia. Untuk beberapa saat, dia tidak mampu berkata-kata.
Shen Rong memeriksa tubuh Changsheng dari kepala sampai kaki. Dia melihat bahwa anak itu hanya mengalami beberapa luka lecet ringan. Luka di lengannya juga tidak dalam dan sudah berhenti berdarah. Shen Rong pun merasa lega.
Dari keranjang obat di punggung Changsheng, dia mengambil beberapa tanaman obat, mengunyahnya hingga hancur, lalu menempelkannya pada luka di lengan Changsheng.
Saat mereka jatuh dari tebing tadi, keranjang obat Changsheng tidak terlepas. Karena memiliki penutup, isinya pun tidak banyak yang berkurang.
Setelah mengoleskan obat, Shen Rong menarik tangan Changsheng.
“Changsheng, Kakek Dewa Gunung berkata bahwa kita sudah tidak dalam bahaya. Dia akan mengantar kita keluar. Pejamkan matamu!”
“Oh.” Changsheng menurut dan memejamkan mata.
Shen Rong diam-diam menghela napas lega.
Untung saja Changsheng agak bodoh dan tidak tahu menanyakan apa-apa. Kalau orang lain, belum tentu dia bisa mengelabui mereka semudah ini.
Shen Rong menggenggam tangan Changsheng, tetapi tidak langsung keluar. Dia berkata, “Changsheng, kau tidak boleh menceritakan kejadian hari ini kepada siapa pun di luar. Bagaimana kalau orang-orang berpakaian hitam itu menemukan kita lagi dan menebas kita dengan pedang? Kita bisa mati. Selain itu, kau juga tidak boleh menceritakan tempat persembunyian yang diberikan Kakek Dewa Gunung kepada kita. Kita tidak boleh menyeret Kakek Dewa Gunung ke dalam masalah.”
“Mm!” Changsheng mengangguk dengan sungguh-sungguh, masih dengan mata terpejam.
Kali ini, Shen Rong menggandeng Changsheng keluar dari ruang tersebut.
Ketika membuka mata, mereka berdua sudah berada di dalam celah batu. Celah itu memang hanya selebar satu orang, tetapi memanjang jauh ke dalam dan entah berapa panjangnya.
Mulut celah tertutup sulur-sulur tanaman, sehingga keadaan di dalam tidak terlihat jelas. Namun, tampak seberkas cahaya redup dari dalam.
Shen Rong membawa Changsheng berjalan masuk.
Ketika mereka baru berjalan setengah jalan, Shen Rong dapat melihat dengan jelas bahwa ujung celah itu berada kurang dari satu zhang di depan.
Dia menatap dinding batu yang menyatu rapat di atas sana dan merasa agak heran. Tempat seperti ini seharusnya tidak memungkinkan cahaya masuk.
Benar saja, setelah berjalan beberapa langkah lagi, dia menemukan seberkas cahaya redup memancar dari dinding batu di sebelah kanan. Cahaya itu menembus dari celah-celah dinding.
Ada cahaya, berarti ada jalan keluar!
Menyadari kemungkinan itu, hati Shen Rong berdebar penuh harapan.
Dia mempercepat langkah menuju dinding batu tersebut. Benar saja, di tempat dinding itu bersentuhan dengan tanah, dia menemukan celah dengan lebar dan tinggi hampir satu chi.
Shen Rong melirik Changsheng. Dirinya sendiri masih bisa merangkak masuk ke lubang itu, tetapi tubuh Changsheng yang besar jelas tidak akan semudah itu.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Shen Rong menatap tanah di bawah kakinya.
“Changsheng, gunakan cangkul obatmu untuk menggali. Lihat apakah lubang ini bisa diperbesar sedikit.”
“Oh.”
Changsheng mengeluarkan cangkul kecil dari keranjang obatnya, lalu mulai menggali dengan susah payah.
Tak lama kemudian, lubang itu benar-benar menjadi jauh lebih besar. Setelah memperkirakan ukurannya dan merasa lubang tersebut sudah cukup besar, Shen Rong menyuruh Changsheng menyimpan cangkul kecilnya.
“Changsheng, aku masuk lebih dulu. Kau masuk setelahku, mengerti?” Setelah memberi instruksi, Shen Rong memiringkan tubuh dan merangkak menuju lubang.
Tubuh Shen Rong kecil, sehingga dia segera berhasil masuk.
Begitu berada di dalam, dia menyadari bahwa tempat itu adalah sebuah gua. Di bagian atas terdapat sebuah lubang, dan cahaya tadi masuk dari sana.
Shen Rong belum sempat mengamati keadaan gua dengan saksama. Ketika menoleh, dia melihat Changsheng tersangkut di mulut lubang dengan keranjang obat masih di punggungnya.
Shen Rong tidak tahu harus tertawa atau menangis.
“Changsheng, keranjangmu terlalu besar. Letakkan dulu di luar lubang. Setelah kau masuk, nanti akan kubawakan kemari.”
Keranjang sebesar itu memang tidak mudah dibawa masuk. Kalau Shen Rong tidak memiliki ruang pribadi, dia pasti akan kesulitan membawanya.
“Oh!”
Changsheng juga menyadari bahwa keranjang di punggungnya adalah penyebab dia tersangkut dan tidak dapat masuk.
Dia kembali merangkak keluar, melepaskan keranjang itu, lalu meletakkannya di sisi lubang. Setelah itu, dia perlahan-lahan merangkak masuk. Kali ini, tanpa beban yang menghalangi, dia dapat masuk dengan lancar.
Setelah Changsheng masuk, Shen Rong menjulurkan separuh tubuhnya keluar dari lubang, memasukkan keranjang itu ke dalam ruang pribadinya, lalu baru menariknya keluar kembali setelah dirinya berada di dalam.
Shen Rong belum sempat berbalik ketika mendengar Changsheng bergumam, “Ada orang.”
Shen Rong seketika terkejut. Dia langsung teringat pada orang-orang berpakaian hitam yang memburu mereka.
Dia mengulurkan tangan, menarik Changsheng ke belakang, lalu menoleh dengan cepat. Di bagian terdalam gua, di bawah sebuah batu raksasa, terbaring seorang pria berpakaian merah di tempat yang nyaris tidak mencolok. Matanya terpejam dan tubuhnya tidak bergerak sedikit pun, seolah-olah orang mati.
Huh!
Shen Rong menarik napas dalam-dalam. Untunglah pakaian orang itu bukan hitam, melainkan merah!