Bab 58: Menghasilkan Uang untuk Menafkahi Istri
Keesokan harinya, Ma Xiuxiu datang lagi. Kali ini ia membawa uang hasil penjualan resep.
“Resep itu, kata kakak iparku, paling sedikit harus dijual seharga tiga puluh tael. Pedagang itu langsung menyanggupi tanpa banyak bicara. Tiga puluh tael perak, dan saat itu juga ia menyuruh pelayan keluarganya datang untuk mempelajarinya.
“Setelah itu aku bilang kepada kakak ipar bahwa kita ingin mundur. Ia boleh membeli resep itu sepenuhnya. Setelah mengajari kakakku, aku tak perlu lagi bolak-balik ke kota.
“Kakak iparku berpikir sejenak, lalu menyetujuinya. Tiga puluh tael perak dibayar utuh, tidak kurang sedikit pun. Ditambah lima tael yang dahulu kita tanamkan, beserta keuntungan beberapa hari ini.
“Tapi keuntungan beberapa hari itu tidak kuambil. Kau bilang harganya bisa dikurangi tiga puluh persen. Kakakku pun tak mau mengambil keuntungan dari orang lain.”
Shen Rong mengangguk. Rupanya pertimbangannya sebelumnya memang tepat.
Orang luar belum menguasai resep itu. Namun, lama-kelamaan kakak ipar keluarga Chen pasti akan mulai curiga. Daripada kelak hubungan mereka memburuk, lebih baik menarik diri lebih awal dengan membawa sedikit uang. Dengan begitu, hubungan kekerabatan pun tetap terjaga.
“Adik ipar kedua sudah bekerja keras.”
Shen Rong menerima bungkusan uang itu dan menghitungnya: dua puluh tiga tael perak. Dua puluh tael merupakan bagian hasil penjualan resep, sedangkan tiga tael adalah uang yang dahulu ditanamkan adik ipar kedua.
Karena kakak ipar keluarga Chen membayar penuh, memberi adik ipar kedua tambahan dua tael pun bukan masalah.
Shen Rong mendapat sejumlah uang. Tadinya ia mengira gagasan Taman Shen cukup bagus, tetapi setelah bertanya ke sana kemari, barulah ia tahu bahwa sang pendeta Tao sudah membeli semua tanah tandus di kaki Gunung Daqing. Kalaupun sekarang ia hendak membeli tanah, tanah tandus yang masih bisa dibeli letaknya jauh dari Gunung Daqing.
Rupanya, orang cerdik memang banyak di dunia ini.
Tak lama kemudian, Kuil Dongyue di kaki Gunung Daqing akhirnya mulai merekrut pekerja.
Para lelaki tua dan muda dari Desa Bunga Persik berbondong-bondong datang.
Pada hari-hari ketika pekerjaan di ladang tidak banyak, penduduk desa sering keluar untuk mencari kerja serabutan. Namun, bekerja tepat di depan rumah sendiri baru kali ini mereka alami.
Tak seorang pun memiliki keterampilan khusus; yang mereka punya hanya tenaga.
Meski penduduk desa ramai-ramai mendaftar, jumlah pekerja kuat dari desa kecil seperti Desa Bunga Persik tetap tidak mencukupi. Untuk sementara, banyak pemuda dari beberapa desa sekitar juga datang.
Sore itu, Shen Rong duduk di tempat teduh di halaman, menjahit baju untuk Changsheng. Changsheng berlari masuk dengan penuh semangat dari luar.
Melihat Shen Rong duduk di bawah atap, ia seperti hendak mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya tak berkata apa-apa. Ia melangkah masuk ke kamar Nenek Keenam.
Tak lama kemudian, Changsheng keluar dengan wajah menyeringai bodoh. Sebutir kurma merah tergenggam di tangannya.
“Bibi Ketiga, aku mau bekerja, mencari uang untuk menafkahi istriku!” serunya sambil terkekeh. Suaranya cukup lantang.
Setelah berseru begitu, mata hitamnya yang berkilau terus menatap Shen Rong, seolah-olah sedang memamerkan betapa hebat dirinya.
Wajah Shen Rong seketika memerah.
Tanpa sadar, ia melirik kamar Nenek Keenam, lalu menengok ke rumah-rumah tetangga di kanan dan kiri. Dengan suara lirih, ia berkata, “Jangan bicara sembarangan. Tidak takut ditertawakan orang?”
Meski berkata begitu, hatinya terasa hangat.
Di kehidupan sebelumnya, sebagai seorang perempuan, ia bekerja mati-matian untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan Gu Zhaoming. Tak pernah ada seorang pun yang mengatakan hal seperti itu kepadanya.
Namun, saat mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Changsheng, ia merasakan sesuatu yang rumit dan sulit diungkapkan.
Shen Rong tahu di mana Changsheng akan bekerja. Itulah topik yang paling sering dibicarakan orang-orang desa.
Namun…
“Changsheng, Kakek dan Nenek akan mengizinkanmu pergi?”
Changsheng mengangguk. Sedikit kebanggaan tampak di wajahnya. “Kakek bahkan memujiku!”
Sebenarnya, saat Kakek Keenam mendengar Changsheng ingin bekerja, inilah yang ia katakan:
“Changsheng sudah berkeluarga dan sudah dewasa. Kalau pergi bekerja, bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Setelah mendapat uang, kau juga bisa menafkahi istrimu…”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimat, Changsheng sudah mengulurkan tangan. “Kalau begitu, itu juga berarti berbuat baik kepada istri. Berbuat baik kepada istri ada kurma merah…”
Kakek Keenam tak tahu harus tertawa atau menangis. Pada akhirnya, ia tetap memberinya sebutir kurma merah.
Changsheng sangat bangga pada kecerdikannya sendiri.
Melihat sikapnya, Shen Rong tentu tak akan merusak semangatnya. Ia mengangguk dan berkata, “Kalau begitu, nanti aku bawakan makanan untukmu?”
Changsheng berpikir sejenak. “Baiklah…”
Malam itu, karena baru pertama kali bekerja untuk orang lain, Changsheng begitu bersemangat hingga tak bisa tidur.
Di bawah cahaya bulan, ia memandangi Shen Rong yang tidur nyenyak di sampingnya, lalu menatap kelambu di atas. Dengan mata terbuka lebar, ia menghitung dalam hati. Setelah sampai seratus, seperti malam-malam sebelumnya, ia diam-diam mendekatkan mulut ke telinga Shen Rong dan berbisik,
“Bibi Ketiga, bangun untuk buang air kecil! Jangan mengompol, bangun dan buang air kecil…”
Changsheng mengulang-ulang kalimat itu di telinga Shen Rong seperti sedang merapal doa. Suaranya makin lama makin keras seiring Shen Rong tertidur pulas, sampai akhirnya Shen Rong terbangun.
Kebiasaan Changsheng itu muncul sejak Shen Rong mengompol.
Shen Rong tak berdaya, tetapi juga tak bisa berbuat apa-apa terhadap Changsheng.
Pagi berikutnya, saat langit masih remang-remang, Changsheng sudah bangun.
Begitu bangun, hal pertama yang dilakukannya adalah melipat selimutnya sendiri. Lalu ia menarik selimut Shen Rong dan mulai melipatnya juga.
Shen Rong sudah terbiasa dengan kebiasaan Changsheng. Bahkan tanpa membuka mata, ia meraih bantal yang tergeletak di antara mereka, memeluknya, lalu melanjutkan tidur.
Untunglah sekarang musim panas. Tanpa selimut tipis, memeluk bantal saja sudah cukup agar ia tidak kedinginan.
Changsheng memandangi Shen Rong, lalu melihat selimut di tangannya. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk melipat selimut terlebih dahulu.
Hari ini adalah hari pertama Changsheng bekerja. Shen Rong pun tidak tidur terlalu lama. Setelah Changsheng selesai melipat selimut, ia bangun untuk mencuci muka dan menyikat gigi.
Untuk sarapan, Shen Rong memikirkan bahwa Changsheng akan bekerja dan membutuhkan tenaga. Kakek Keenam juga akan pergi mencari tanaman obat dan harus berjalan cukup jauh. Maka ia pun menanak nasi.
Ia juga menumis dua macam lauk dan merebus dua butir telur untuk Changsheng dan Kakek Keenam.
Kakek Keenam tidak akan pulang pada siang hari saat mencari tanaman obat, jadi Shen Rong menyiapkan roti pipih untuknya.
Saat Kakek Keenam selesai bersiap-siap, Changsheng sudah berangkat bersama Ergou.
Nenek Keenam hari ini tidak pergi mencari tanaman obat. Sejak pagi, ia berada di ruang obat, mengolah bahan-bahan obat.
Entah bagaimana keadaan Changsheng sekarang.
Biasanya, saat Shen Rong sibuk beres-beres di rumah, Changsheng selalu mengikutinya dari belakang. Ia akan membantunya melakukan ini atau itu.
Kini ia mendadak tak ada, dan Shen Rong merasa agak tidak terbiasa.
Shen Rong mengangkat pandangan ke arah Gunung Daqing, lalu melihat matahari. Karena hari masih terlalu pagi, ia akhirnya masuk ke ruang obat untuk belajar cara mengolah bahan obat dari Nenek Keenam.
Hari ini hari pertama Changsheng bekerja. Entah apakah orang-orang akan menertawakan atau mengganggunya.
Sepanjang pagi, Shen Rong belajar dengan pikiran yang tak sepenuhnya terpusat.
Melihat keadaannya, Nenek Keenam tidak berkata apa-apa. Ia hanya berkata, “Sudah hampir waktunya. Pergilah memasak dulu.”
Shen Rong mendongak. Benar saja, matahari sudah hampir tepat di atas kepala.
Ia segera mencuci tangan, lalu masuk ke dapur untuk mulai sibuk.
Di kaki Gunung Daqing, kebanyakan penduduk desa yang tidak memiliki keterampilan hanya bisa melakukan pekerjaan kasar saat membangun kuil. Changsheng tentu saja juga begitu.
Memikirkan hal itu, Shen Rong menyiapkan sepotong daging berbumbu sebesar telapak tangan. Ia mengirisnya, lalu menumisnya dengan cabai. Ia juga menyiapkan bubur dan roti pipih agar Changsheng bisa makan kenyang dan enak.
Setelah selesai memasak, Shen Rong bahkan belum sempat makan. Ia buru-buru mengangkat keranjang berisi makanan dan bergegas keluar.
Banyak orang mengantarkan makanan. Begitu keluar rumah, Shen Rong berpapasan dengan Liu Jinfeng, istri Ergou yang tinggal di sebelah.