Bab 6: Xiao Chen? Memohon Menjadi Murid!
Di dalam kuil, nyala api jingga berkobar dengan hebat, cahayanya menari-nari dan bayangan samar jatuh di wajah setiap orang, kadang terang kadang redup.
Melihat pemuda berbaju hitam yang melangkah masuk, hati Bai He seolah diterjang gelombang setinggi langit.
"Apakah ini yang disebut pepatah, 'mencari hingga lelah tanpa hasil, ternyata datang tanpa usaha'? Ataukah memang ini yang dinamakan takdir?!"
Memandangi Xiao Chen yang perlahan berjalan melewati dirinya, lalu duduk bersila di sudut kosong kuil dan mulai bermeditasi, hati Bai He sulit untuk tenang.
"Hmm?"
Seolah menyadari tatapan Bai He, alis Xiao Chen sedikit berkerut, menoleh sekilas padanya.
Bai He pun memperlihatkan deretan giginya yang putih, membalas Xiao Chen dengan senyum lebar.
"Apakah anak muda ini mengenalku?"
Melihat Bai He yang tersenyum cerah padanya, Xiao Chen merasa heran, namun setelah dipikirkan, ia memang tidak pernah bertemu dengannya.
"Lupakanlah, aku masih harus segera memulihkan luka, besok pagi baiknya berangkat lebih awal."
Setelah merenung dan tak mendapatkan petunjuk, Xiao Chen hanya bisa menggelengkan kepala.
Ia telah dikejar oleh Zhao Lin’er, putri mahkota kerajaan, bersama rombongan para pertapa sejauh ribuan mil, hingga kini terluka. Walau telah menahan laju luka dengan kekuatan batin, bila terus memaksa diri, akibatnya bisa menjadi fatal. Apalagi malam telah tiba, Gunung Hitam dipenuhi binatang buas dan serangga berbisa, sangat berbahaya, sehingga ia terpaksa mencari tempat bersembunyi untuk sementara waktu.
Ia tidak ingin orang-orang di kuil tahu siapa dirinya, juga tak ingin terlalu banyak berinteraksi. Ia hanya ingin pergi diam-diam esok pagi, agar tidak menyeret orang-orang tak bersalah di kuil ini ke dalam masalah. Soal anak muda itu, mungkin saja wajahnya mirip dengan seseorang yang dikenal anak itu.
Xiao Chen merenung.
"Bagaimana caranya agar aku bisa mendekatkan diri dengan Xiao Chen?"
Di depan api unggun, memandangi Xiao Chen yang duduk bersila, Bai He mengernyit, diam-diam memikirkan caranya.
Dari kisah aslinya di kehidupan sebelumnya, Bai He tahu bahwa Xiao Chen adalah seseorang yang tegas dan tanpa ampun pada musuh, namun setia dan tulus pada sahabat. Tapi dirinya dan Xiao Chen sama sekali tak berhubungan, bahkan bisa dibilang orang asing. Walau kini Xiao Chen belum terkenal, dan tidak akan curiga pada niatnya, jika ia langsung bersujud meminta menjadi murid, itu akan terasa janggal dan kemungkinan besar akan ditolak. Ia harus meninggalkan kesan lebih dulu, perlahan mendekatkan diri.
Tapi bagaimana caranya?
Kening Bai He semakin berkerut.
"Tunggu! Aku tahu!"
Tiba-tiba, dari sudut matanya ia melihat bungkusan di belakangnya, berisi kue tipis buatan tangan kakaknya untuk bekal di perjalanan.
Sudut bibir Bai He tak sadar tersenyum.
Perlahan ia mengambil selembar kue itu dari bungkusan, lalu berdiri dan berjalan ke arah Xiao Chen.
"Nih, silakan, Kakak Xiao!"
Bai He menyodorkan kue tipis itu pada pemuda berbaju hitam di hadapannya.
"Kenapa kau memberikannya padaku? Sepertinya kita belum pernah bertemu, bukan?"
Alis Xiao Chen sedikit berkerut, menghembuskan napas berat, lalu membuka matanya dan memandang Bai He.
"Apakah karena orang asing maka harus saling bersikap dingin? Apakah orang asing tidak boleh saling peduli?" Bai He balik bertanya.
Xiao Chen sempat terdiam.
"Aku hanya merasa Kakak Xiao sangat mirip dengan seseorang yang sangat penting bagiku. Bisa bertemu di tanah luas seperti ini, berarti kita memang berjodoh!"
Tatapan Bai He pada Xiao Chen tampak melamun, senyumnya hangat, dan nada bicaranya mengandung kenangan.
"Benarkah? Kau benar-benar punya kerabat yang mirip denganku?"
Alis Xiao Chen mengerut. Ia ingin bertanya lebih jauh, namun akhirnya mengurungkan niatnya.
Dunia ini luas dan penuh keajaiban, mungkin saja memang ada seseorang yang mirip dengannya...
Memegang kue di tangannya, Xiao Chen diam-diam berpikir.
Meski wajahnya tetap tenang, namun di dalam hati yang biasanya setenang danau, kini mulai muncul kesan mendalam dan sedikit rasa suka pada Bai He.
Kembali ke tempat duduknya, wajah Bai He memancarkan kegembiraan.
"Berhasil!"
Manusia memang makhluk aneh. Mereka membenci dianggap sebagai pengganti orang lain, namun jika ada yang memperlakukannya seperti seseorang yang berarti dan memberikan perhatian serta kehangatan, meski perhatian itu sepele dan tak berarti, tetap saja menumbuhkan kesan baik di hati.
Bai He memang tidak tahu teori psikologisnya, tapi hal itu tidak menghalanginya untuk memanfaatkannya.
"Sekarang Xiao Chen pasti sudah mengingatku, bahkan mulai menaruh sedikit simpati. Langkah selanjutnya adalah meminta menjadi muridnya!"
Memandangi api unggun di depannya, Bai He memikirkan rencananya.
Tunggu, tadi sepertinya ada noda darah di baju Xiao Chen. Itu berarti ia memang sedang dikejar Zhao Lin’er, dan ke sini untuk memulihkan luka. Dengan wataknya, setelah sembuh, agar tidak menyeret orang lain dalam bahaya, ia pasti akan pergi diam-diam besok pagi.
Mata Bai He berkilat, menebak rencana Xiao Chen, dan memang demikian adanya!
Besok pagi ketika Xiao Chen pergi sendiri, itulah saat paling tepat untuk meminta menjadi murid!
…
Keesokan harinya, saat langit masih gelap, Xiao Chen sudah terbangun.
Perlahan membuka mata dan menghembuskan napas berat yang dikumpulkan semalaman, ia pun berdiri.
Saatnya untuk pergi!
Diam-diam ia melangkah ke depan pintu. Tieshan, yang tidur sambil duduk di pintu, langsung terbangun. Sebagai pemburu berpengalaman, ia memang hanya tidur-tidur ayam di alam liar, sedikit suara saja sudah membuatnya siaga.
"Siapa?"
Tieshan menoleh, ternyata hanya Xiao Chen.
"Kakak Xiao, mau ke mana? Tidak ikut bersama kami?"
Melihat Xiao Chen hendak pergi, Tieshan mengernyit, bertanya heran.
"Tidak, jika kalian ikut, itu akan membahayakan kalian."
Xiao Chen menggeleng, menunjuk noda darah kering di bajunya. Malam tadi, dalam cahaya api yang redup, Tieshan tidak melihatnya, kini baru sadar.
Mata Tieshan membelalak, ia tidak berkata apa-apa lagi. Sebagai orang yang sudah makan asam garam, ia mengerti maksud ucapan Xiao Chen—ia sedang dikejar musuh!
Dengan sedikit rasa menyesal, Tieshan kembali menyandar di pintu dan memejamkan mata.
Wajah Xiao Chen tetap tenang saat keluar, melangkah puluhan langkah menjauh dari kuil tua yang rapuh.
Baru saja ia hendak mengerahkan tenaga dalam untuk bergegas pergi, tiba-tiba terdengar suara panggilan tergesa dari belakang.
"Kakak Xiao! Tunggu aku!"
Xiao Chen menoleh, alisnya mengerut.
Ternyata dia? Anak muda yang semalam itu.
…