Bab 33: Penguasa Kegelapan
“Penyihir kecil, datanglah padaku.”
Sebuah suara pendek namun berat dan bergema terdengar di telinga Pachi. Setelah mendengarnya, wajah Pachi seketika menjadi muram. Mengikuti arah suara itu, Pachi langsung melihat gelombang yang terlihat jelas di udara. Saat ia mencoba menelusurinya lebih jauh, kepalanya mendadak kosong.
Sebab ia melihat sesuatu yang paling tidak ingin dilihatnya.
“Dormam?” Pachi terkejut dan penuh curiga. Tak pernah disangkanya bahwa sosok yang mengintainya ternyata adalah Penguasa Kegelapan Dormam.
Sebelumnya ia pernah mengintip Dormam bersama Coulson dan Melinda. Mungkinkah Dormam kini hendak membalas budi? Pachi tak kuasa menahan diri untuk bergumam dalam hati dengan nada bercanda.
Namun ia tahu, candaan tetaplah candaan. Jika Dormam berhasil menemukan dirinya melewati sekian banyak dimensi di celah kekosongan ini, pasti ada alasan lain yang lebih berat. Dormam jelas punya tujuan tersendiri.
“Tapi, bagaimana Dormam bisa menemukan tempatku ini?” Mendadak pertanyaan itu terlintas di benak Pachi dan membuatnya cemas.
Tempat persembunyian di celah kekosongan ini memang bukan yang paling rahasia, namun mustahil orang biasa bisa menemukannya begitu saja. Lagi pula, ruang ini adalah wilayah eksklusif yang sepenuhnya dikuasai Pachi. Tanpa izinnya, bahkan para entitas tertinggi jagat raya pun tak mungkin menembus masuk tanpa suara.
Pachi tidak percaya Dormam lebih kuat dari mereka. Jadi, pasti ada muslihat yang digunakan.
“Haruskah aku menemuinya?”
Sambil bergumam pelan, Pachi berjalan mondar-mandir dengan dahi berkerut. Ia tampak ragu.
Namun tak lama kemudian, ia tiba-tiba berhenti. Seolah telah menemukan jawabannya, kerutan di dahinya sedikit mereda. Ia berbisik, “Dormam?”
“Meski aku tak tahu apa niatmu, aku tetap memutuskan untuk menemuimu sekali ini.”
Baru saja selesai bicara, tubuh Pachi membeku, lalu ia perlahan menutup mata. Sebagian besar kekuatan mentalnya keluar dari tubuh, mengikuti jejak yang tadi ditinggalkan Dormam.
Saat menyusuri kekosongan yang suram dan kelabu, Pachi sempat merasakan hambatan hebat sebelum akhirnya tiba di suatu tempat asing...
…………
“Jadi ini dunia kegelapan?” gumam Pachi seraya meneliti sekelilingnya.
Tak terhitung planet dan asteroid tak berbentuk, yang sudah terkorosi, melayang di dunia gelap gulita. Di seluruh penjuru, Pachi sama sekali tak merasakan tanda-tanda kehidupan.
Ini adalah dunia yang diliputi kegelapan dan dilanda kehancuran, sunyi tanpa harapan.
“Benar, inilah duniaku.”
Saat Pachi sedang mengamati sekitarnya, tiba-tiba terdengar suara menggelegar di belakang. Ia buru-buru berbalik dan mendapati wajah raksasa yang aneh menghadapnya.
Wajah itu dipenuhi guratan-guratan yang saling bersilangan, mirip batu cadas di gunung gundul. Sepasang mata besar berwarna ungu gelap menatap Pachi tanpa berkedip.
“Dormam!” pekik Pachi tanpa sadar.
“Ya, itu aku.”
Mulut Dormam, hitam laksana lubang tanpa dasar, bergerak perlahan saat berbicara.
Belum selesai ia berkata, mulut raksasa itu kembali bergerak: “Penyihir kecil, kau datang ke duniaku hanya dengan proyeksi mental, apakah kau takut aku akan membunuhmu?”
Ketika Dormam berbicara, tampak gurat mengejek di wajahnya.
Ekspresi itu jelas terlihat di mata Pachi. Ia pun mengerutkan alis, meski hanya sedikit.
Sebenarnya Dormam benar. Pachi memang hanya datang dengan proyeksi mental. Ia tidak berani hadir secara fisik karena khawatir Dormam punya niat buruk.
Dormam jauh lebih kuat darinya. Jika ia datang dengan tubuh nyata dan Dormam berniat membunuhnya, ia pasti tak berdaya.
Pachi sangat menyayangi hidupnya. Ia takkan gegabah menghadapi bahaya sebesar ini. Jika bukan karena ingin mencari jawaban, ia pasti tak sudi datang ke dunia kegelapan.
Lagi pula, aura kacau dan liar memenuhi dunia ini. Bahkan hanya dengan proyeksi mental saja, Pachi sudah merasa tersiksa.
Kalau bukan karena keadaan mendesak, ia tak mau berlama-lama di tempat ini walau sedetik.
“Benar, ke dunia kegelapan, aku rasa sebaiknya aku waspada. Lagi pula aku pun tak tahu apa tujuanmu.”
Karena Dormam sudah menebak, Pachi tak mau menutupi lagi. Ia langsung bicara apa adanya.
Namun, tak lama kemudian, nada bicaranya berubah tajam: “Tapi kau bilang ini duniamu, aku sangat meragukan itu.”
“Kalau boleh bertanya, di mana kau tempatkan para Penguasa Kegelapan lain saat mengucapkan itu?”
“Penyihir kecil, kau membuatku marah.”
Dari mulut Dormam keluar hembusan panas membara seperti magma, membuat proyeksi mental Pachi nyaris tercerai-berai.
“Aku tak bermaksud marah padamu, aku hanya berkata sejujurnya,” sahut Pachi santai. Toh, yang berada di sini hanya proyeksi mentalnya. Andai Dormam menghancurkannya, ia tidak akan terlalu dirugikan. Ia hanya perlu bermeditasi beberapa hari untuk memulihkan kekuatan mental yang hilang.
“Kenyataan, katamu?”
Dormam tertawa kecil, meski matanya masih menatap tajam ke arah Pachi. Namun, guratan di wajahnya mulai tenang.
“Itulah kenyataannya,” Pachi mengangkat tangan dan berkata, “Dormam, aku akui kau memang sangat kuat, tapi kau belum tentu mewakili seluruh dunia kegelapan.”
“Heh, penyihir kecil, kau memang berani.”
Dormam terkekeh, lalu bertanya, “Tapi aku tak ingin membahas itu sekarang. Aku hanya ingin kau menjawab satu hal.”
“Belum lama ini, aku merasakan orang bernama Gu Yi memasuki ruangmu. Aku ingin tahu, apa yang kau lakukan padanya?”
Sambil bicara, kepala raksasa Dormam mendekat, kedua matanya yang bersinar ungu gelap menatap Pachi.
“Gu Yi?” Pachi terlihat sangat terkejut, lalu seolah tersadar akan sesuatu. Ia mendongak menatap Dormam dan berseru, “Ternyata kau menemukan wilayah kekosonganku lewat energi kegelapan yang bocor dari tubuh Gu Yi.”
Pachi menatap Dormam. Setelah diingatkan, ia langsung memahami seluruh rangkaian peristiwa.
Sepertinya, setelah Gu Yi datang ke tempatnya, Dormam langsung menyadarinya. Apalagi setelah ledakan terakhir, Pachi tahu energi kegelapan dalam tubuh Gu Yi banyak yang bocor, dan masih tersisa di wilayah kekosongannya.
Kalau bukan karena itu, Dormam mustahil menemukan tempatnya.
Perkataan Dormam berikutnya pun membenarkan dugaan Pachi. Ia tertawa, lalu suara menggelegarnya kembali terdengar.
“Penyihir kecil, kau benar. Tak kusangka kau cukup pintar juga.”