Bab Sembilan: Saat Genting
“Siapa itu?”
Sebuah suara sintetis elektronik yang tajam tiba-tiba terdengar di belakang mereka, membuat Melinda dan Coulson yang sedang setengah berjongkok langsung melompat berdiri, berbalik sambil mengarahkan senjata ke sumber suara.
Kotak kayu kecil yang tadi diletakkan Coulson di samping meja kerja entah sejak kapan telah terbuka sendiri, menebarkan cahaya redup yang misterius dari dalamnya.
“Siapa yang berani menyentuh jantungku?”
Suara tajam dan menusuk itu kembali terdengar, lalu sebuah lengan berwarna perak menyembul keluar dari kotak kayu itu.
Melinda dan Coulson saling melirik sekilas, tanpa sempat berpikir panjang, mereka langsung melepaskan tembakan ke arah kotak tanpa ragu.
“Dor! Dor!”
Suara tembakan bertalu-talu menggema, percikan api meletik dari moncong senjata mereka tanpa henti.
Menyerang lebih dulu selalu menjadi prinsip yang mereka anut, sekaligus cara tuntas menyingkirkan bahaya.
Namun pemandangan berikutnya membuat ekspresi keduanya membeku seketika.
Peluru-peluru yang mereka tembakkan ke arah kotak, sebelum sempat menyentuh lengan itu, sudah dihentikan oleh cahaya redup yang membungkus kotak. Dalam cahaya tersebut, peluru-peluru seolah terjebak dalam lumpur, tak sampai setengah detik sudah jatuh berguguran ke lantai.
“Manusia yang tak tahu diri... dan senjata-senjata kuno yang sudah usang.”
Suara aneh yang terdengar seperti hasil gabungan elektronik itu kembali berbisik di telinga Coulson dan Melinda, dan setelah itu, mereka menyaksikan pemandangan yang mungkin seumur hidup takkan terlupa.
“Coulson, benda apa ini sebenarnya?” seru Melinda, panik.
Bersamaan dengan teriakan itu, sesosok makhluk perak melangkah keluar dari cahaya kotak. Tubuhnya berkilau perak, dipenuhi roda gigi dan rantai mekanis, jari-jarinya tajam seperti pisau, wajahnya halus, dan di atas kepalanya melayang sebuah bola logam perak, menyerupai... eh, boneka.
Benar, boneka!
Meski tampak seperti boneka, Melinda dan Coulson sama sekali tak menganggap makhluk itu tak berbahaya. Sepuluh jari tajamnya saja sudah cukup membuat bulu kuduk berdiri. Bila makhluk ini dilepas di tempat ramai, mereka tahu, ini pasti alat pembunuh yang mengerikan.
Terlebih lagi, boneka itu menatap mereka tajam dengan mata biru yang bersinar.
“Mel, lupakan apa tepatnya benda ini. Kita harus segera menghabisinya,” teriak Coulson penuh ketakutan, mengganti magazin dan langsung menembak makhluk itu bertubi-tubi.
Melinda pun bereaksi sama cepat, menargetkan boneka perak dan menekan pelatuk tanpa ragu.
Namun, lagi-lagi peluru yang mereka tembakkan tak bisa menembus lapisan cahaya yang membungkus boneka perak itu, dan jatuh sebelum menyentuh tubuhnya.
“Mel, senjata kita sama sekali tak mempan terhadapnya.” Setelah dua magazin peluru habis ditembakkan, Coulson berteriak putus asa, meski ia tak berani berhenti menembak.
“Coulson, kita tak bisa mengalahkannya. Kita harus mundur sekarang juga!” seru Melinda, menyadari situasi makin buruk.
“Baik.”
Dengan jawaban itu, mereka mulai bergerak mundur ke arah pintu seraya terus menembak.
“Waktu terus berjalan, boneka sihir sudah kehilangan kesabaran.”
Baru beberapa langkah mereka mundur, tiba-tiba boneka perak itu mengayunkan tangannya, dan bola logam melayang di atas kepalanya seketika melesat ke atas kepala Coulson dan Melinda.
“Celaka,” wajah Melinda seketika berubah tegang.
Saat ia hendak meloncat menghindar, tiba-tiba ia merasakan daya hisap misterius yang begitu kuat, membuat tubuhnya menempel erat pada Coulson tanpa bisa melawan.
Alis Melinda berkerut, ia merasa seolah tubuhnya diikat erat oleh puluhan rantai baja, sehingga tak mampu bergerak sedikit pun.
“Mel, kita dalam bahaya besar,” gumam Coulson dengan nada cemas, matanya menatap boneka perak yang kini menyorotkan cahaya aneh dari matanya.
“Membunuh itu permainan yang menyenangkan.”
Suara boneka perak itu terdengar lagi di telinga mereka, dan mereka melihat makhluk itu perlahan mendekat.
“Coulson, apa yang harus kita lakukan?” Melinda menatap boneka perak yang kian mendekat, peluh dingin mulai membasahi keningnya.
“Aku tidak tahu.” Untuk pertama kalinya Coulson merasakan keputusasaan yang mendalam.
“Menghancurkan kalian, lalu menyusunnya kembali.”
Boneka perak berdiri di depan mereka, mengucapkan kata-kata itu, lalu kedua tangannya terulur...
“Arrgh—!” Menghadapi kedua tangan tajam boneka perak itu, Melinda membelalakkan mata ketakutan, menjerit putus asa.
Sementara Coulson hanya bisa memejamkan mata, seolah pasrah menerima nasib.
...
Lima menit sebelumnya, di sebuah pabrik tua pinggiran Kota New York, belasan pria kulit putih berbaju jas hitam sedang berhadapan dengan seorang pria eksentrik.
“Serahkan barang itu, Nak. Mungkin aku masih bisa memberimu kematian yang tidak terlalu menyakitkan,” gertak pria berjas hitam yang memimpin, menatap pria berkostum aneh itu dengan tajam.
“Ha! Kau benar-benar menakutiku,” jawab Patch sambil menggoyangkan jubah penyihir hitamnya, berpura-pura ketakutan.
Benar, pria berkostum aneh itu adalah Patch. Sebenarnya Patch hanya mengenakan jubah penyihir biasa, tapi di abad dua puluh satu, di mata para pria berjas itu, penampilannya jelas sangat aneh.
“Nak, jangan coba-coba menguji kesabaranku!” Pemimpin kelompok itu mulai marah, wajahnya mengeras, dan suaranya makin berat.
Begitu kalimatnya selesai, semua bawahannya serempak mengeluarkan pistol dan mengarahkan larasnya ke Patch.
Melihat itu, Patch hanya mengangkat bahu, tampak sama sekali tak gentar.
Tingkah Patch membuat pemimpin itu makin murka. Ia membentak, “Nak, aku hanya tidak ingin barang itu berlumuran darah. Kalau kau—”
Namun ucapannya terpotong oleh Patch yang tiba-tiba berseru, “Celaka!”
Dahi Patch berkerut, ia memijat kening dan berteriak keras.
“Ada apa? Mau menyerah, ya?” pemimpin itu mengejek, menyangka Patch mulai gentar.
“Aku malas bermain-main dengan kalian.”
Patch memalingkan kepala, menatap dingin ke arah mereka dan berkata, “Sampai di sini saja, dan kalian...”
“Sudah waktunya mati!”
Baru selesai bicara, Patch mengayunkan tangannya, dan puluhan api hitam melesat menyerang para pria berjas itu.
“Aaaah!” Tanpa sempat bereaksi, mereka sudah dilahap api hitam, jerit pilu bergema di seluruh pabrik.
“Lemah seperti semut...” lirih Patch, melirik sejenak ke arah tumpukan lelaki yang kini terbakar api hitam. Ia kembali mengusap kening, bergumam, “Masalah tak kunjung usai!”
“Teleportasi!”
Begitu ucapannya selesai, terdengar suara ledakan kecil dan asap muncul begitu saja. Patch hilang tanpa jejak.
Di dalam pabrik yang telah usang itu, kini hanya tersisa belasan tumpukan abu hitam.
...
Ketakutan? Putus asa?
Melinda dan Coulson tak tahu lagi apa nama perasaan yang mereka alami. Mereka hanya bisa merasakan maut perlahan-lahan mendekat.
Menghadapi sepuluh jari boneka perak yang tajam bagai pisau, mereka benar-benar sudah kehilangan harapan.
Namun pada saat itulah, terdengar suara keras di telinga mereka.
“Oriana, hentikan!”
Jari-jari tajam boneka perak itu berhenti seketika, hanya satu sentimeter dari leher mereka.